Disukai
0
Dilihat
12
Elara
Drama

​Di kamar apartemennya yang terletak di lantai paling atas sebuah bangunan tua, Elara menciptakan sebuah benteng. Bukan benteng dengan parit atau pagar berduri, melainkan benteng kesunyian. Dinding-dindingnya dilapisi busa peredam suara yang biasanya digunakan di studio musik, dan jendela-jendelanya selalu tertutup rapat oleh gorden tebal yang berat.

​Elara adalah seorang penerjemah dokumen teknis. Pekerjaan yang memungkinkannya untuk tidak bicara pada siapa pun selama berhari-hari. Baginya, keheningan adalah oksigen.

​Pagi itu, langit di luar jendela tampak berat dan berwarna abu-abu pekat—warna yang selalu membuat dadanya sesak. Ia tahu apa yang akan datang. Mendung.

​Ia segera mengenakan noise-canceling headphones miliknya, meski tidak ada musik yang diputar. Alat itu adalah pelindung kepalanya. Saat ia masih berusia tujuh tahun, pelindungnya hanyalah sebuah bantal kumal yang ia tekan kuat-kuat ke telinganya di pojok lemari pakaian, berusaha meredam suara piring pecah dan makian ayahnya yang menggelegar seperti guntur di ruang tamu.

Duar!

​Kilat menyambar di kejauhan. Meski suaranya teredam oleh headphone dan dinding kedap suaranya, getaran kecil itu tetap terasa di lantai kayu. Elara tersentak. Gelas di tangannya bergetar. Jantungnya mulai berpacu, memompa adrenalin yang tidak dibutuhkan ke seluruh tubuhnya.

​"Hanya guntur, Elara. Hanya listrik di awan," bisiknya pada diri sendiri. Suaranya gemetar.

​Setiap kali ada dentuman, otaknya tidak memproses itu sebagai fenomena alam. Baginya, itu adalah suara pintu yang dibanting dengan kemarahan. Setiap kali ada orang yang berteriak di jalanan bawah, ia merasa seperti anak kecil yang meringkuk ketakutan, menunggu badai kemarahan orang tuanya mereda. Trauma itu bukan sekadar ingatan; itu adalah hantu yang hidup di dalam saraf-sarafnya.

​Ia memejamkan mata rapat-rapat. Bayangan masa lalu itu muncul: bayangan ibunya yang menangis tersedu dan ayahnya yang tidak bisa mengontrol suaranya. Bagi Elara kecil, rumah bukanlah tempat berlindung, melainkan medan perang tanpa gencatan senjata.

​Tiba-tiba, listrik padam. Apartemennya menjadi gelap gulita. Dan dalam kegelapan itu, indra pendengarannya menjadi sepuluh kali lebih tajam. Dari koridor luar, ia mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru dan suara tawa keras dari tetangga sebelah yang sedang berpesta.

​Bagi orang normal, itu suara kegembiraan.

Ketertiban hidup Elara mulai retak seminggu setelah badai itu. Unit apartemen di sebelahnya, yang telah kosong selama berbulan-bulan, akhirnya memiliki penghuni baru. Elara mengetahuinya bukan dari melihat truk pindahan, melainkan dari getaran yang merambat melalui dinding studionya yang malang.

Duk. Duk. Sreet.

​Itu bukan suara piring pecah. Bukan pula teriakan yang melengking. Itu adalah suara kayu yang dipukul pelan, disusul gesekan panjang yang ritmis. Namun, bagi Elara, setiap bunyi yang tidak terduga adalah serangan. Ia menekan headphone-nya lebih erat ke telinga, hingga daun telinganya terasa panas dan tertekan.

​"Kumohon, berhenti," bisiknya pada dinding yang bisu.

​Tetangga barunya adalah seorang pria bernama Adrian. Elara mengetahuinya secara tidak sengaja saat ia terpaksa keluar untuk mengambil paket di lobi. Adrian sedang berdiri di depan pintunya, berlumuran serbuk kayu halus, dengan senyum yang terlalu cerah untuk seseorang yang hidup di gedung suram ini.

​"Oh, hai! Saya Adrian di nomor 402," sapanya. Suaranya berat dan bertenaga.

​Elara mematung. Suara bariton itu memicu alarm di kepalanya—mengingatkannya pada frekuensi suara ayahnya saat mulai meninggi sebelum ledakan kemarahan terjadi. Elara hanya mengangguk kaku, menghindari kontak mata, dan bergegas masuk ke dalam kamarnya seolah-olah sedang dikejar hantu. Jantungnya berdebar kencang. Ia mengunci pintu, tiga kali, seperti biasa.

​Namun, Adrian tidak berhenti. Hari-hari berikutnya menjadi ujian bagi saraf Elara. Adrian ternyata adalah seorang perajin instrumen musik petik—lute dan gitar klasik. Ia bekerja di rumah.

​Suatu sore, sebuah dentuman keras terdengar. Brak! Sepertinya sepotong kayu besar jatuh ke lantai kayu.

​Elara tersentak hebat. Pena di tangannya terlepas, menodai dokumen terjemahan yang sedang ia kerjakan. Napasnya menjadi pendek-pendek. Seketika, ia tidak lagi berada di apartemennya yang aman. Ia kembali ke masa lalu, bersembunyi di bawah meja makan, melihat bayangan raksasa ayahnya yang sedang membanting kursi kayu karena makan malam yang terlambat.

​Air mata Elara jatuh tanpa permisi. Tubuhnya menggigil. Trauma itu bukan sekadar ingatan; itu adalah pencuri yang merampas masa kininya.

​Dengan keberanian yang lahir dari keputusasaan, Elara berjalan menuju pintu. Ia harus menghentikan suara itu. Ia harus melindungi dunianya yang sunyi sebelum ia hancur berkeping-keping.

​Ia membuka pintu dengan sentakan dan mengetuk pintu nomor 402 dengan keras—tindakan paling agresif yang pernah ia lakukan dalam bertahun-tahun.

​Pintu terbuka. Adrian berdiri di sana, memegang sebuah pahat kecil. Wajahnya yang semula ceria langsung berubah menjadi penuh penyesalan saat melihat wajah Elara yang pucat dan mata yang sembap.

​"Maafkan saya," kata Adrian sebelum Elara sempat mengucapkan satu kata pun. "Saya menjatuhkan balok mahoni. Suaranya pasti sangat keras di sebelah, ya?"

​Elara terdiam. Ia sudah menyiapkan amarah, tapi ia justru disambut dengan kelembutan yang tulus. "Tolong," suara Elara nyaris tak terdengar. "Jangan ada suara keras. Saya... saya tidak bisa."

​Adrian menatapnya lama, bukan dengan tatapan menghakimi, melainkan dengan pemahaman yang dalam. "Saya mengerti. Kadang suara bukan sekadar suara, kan? Kadang mereka adalah cerita yang ingin kita lupakan."

Sejak hari konfrontasi itu, apartemen nomor 402 menjadi jauh lebih tenang. Namun, kesunyian itu justru terasa aneh bagi Elara. Ada rasa bersalah yang menyelusup di sela-sela dinding kedap suaranya. Ia tahu Adrian adalah seorang seniman, dan seniman butuh ruang untuk berkarya.

​Dua hari kemudian, sebuah amplop cokelat terselip di bawah pintu Elara. Di dalamnya bukan surat ancaman atau keluhan, melainkan selembar kertas dengan gambar sketsa gitar yang belum selesai dan sepasang earplug busa kualitas industri yang sangat lembut.

​“Maafkan kebisingan kemarin. Saya sedang mengerjakan bagian resonansi, dan kayu mahoni memang sedikit keras kepala. Jika Anda punya waktu, saya ingin menunjukkan sesuatu yang tidak berisik. Sama sekali tidak ada dentuman. Hanya serat kayu dan waktu.” — Adrian.

​Elara menatap catatan itu lama. Jantungnya berdebar, bukan karena takut, melainkan karena tantangan. Mengunjungi tetangga berarti membiarkan "dunia luar" masuk ke dalam sistem pertahanannya yang steril. Namun, ada sesuatu dalam nada tulisan Adrian yang terasa... aman. Seperti frekuensi rendah yang menenangkan.

​Dengan langkah ragu, Elara mengetuk pintu 402. Kali ini pelan, hampir tak terdengar.

​Pintu terbuka. Harum kayu pinus dan pernis menyambut indra penciumannya. Ruangan itu berantakan, tapi dengan cara yang artistik. Potongan-potongan kayu bersandar di dinding seperti barisan orang yang sedang mengantre.

​"Selamat datang di bengkel sunyi saya," sambut Adrian. Ia tidak berteriak. Ia berbicara dengan volume yang pas, seolah tahu bahwa telinga Elara adalah instrumen yang sangat sensitif.

​Adrian mengajak Elara duduk di sebuah kursi kayu tua. Di hadapan mereka, ada sebuah bodi gitar yang setengah jadi. Adrian tidak mengambil palu. Ia mengambil sebilah amplas yang sangat halus.

​"Dengarkan ini," bisik Adrian.

​Ia mulai menggosok permukaan kayu itu dengan gerakan melingkar yang lambat. Sshhh... sshhh... sshhh...

​Suaranya lembut, seperti bisikan angin di antara dedaunan atau suara napas seseorang yang sedang tidur lelap. Elara terpaku. Selama ini, telinganya selalu bersiaga menangani "ledakan". Ia lupa bahwa suara juga bisa berupa belaian.

​"Ini adalah bagian dari proses," kata Adrian tanpa menghentikan gerakannya. "Kayu ini dulu adalah pohon yang besar. Ia pernah diterjang badai, disambar petir, dan mungkin saja ia punya retakan di dalamnya karena tekanan alam. Tapi lihat, saat kita mengamplasnya dengan sabar, retakan itu menjadi karakter. Ia menjadi bagian dari suara yang indah nantinya."

​Elara menelan ludah. Ia merasa kayu itu adalah dirinya. "Bagaimana jika... retakannya terlalu dalam?" tanyanya, suaranya nyaris pecah. "Bagaimana jika kayunya sudah hancur sebelum sempat menjadi gitar?"

​Adrian berhenti mengamplas. Ia menatap Elara dengan mata yang penuh empati, bukan belas kasihan. "Kayu yang hancur bisa menjadi mozaik, Elara. Tidak ada yang benar-benar sia-sia. Suara keras di masa lalu memang merusak pendengaran kita terhadap kedamaian, tapi itu tidak berarti kita tidak bisa belajar mendengar melodi baru."

​Malam itu, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Elara melepaskan headphone-nya sebelum tidur. Ia membiarkan jendela sedikit terbuka. Di luar, hujan turun. Bukan badai, hanya rintik kecil yang mengetuk kaca jendela dengan ritme yang teratur. Tik. Tik. Tik.

​Ia memejamkan mata. Ingatan tentang piring pecah itu mencoba muncul, bayangan ayahnya yang berteriak mulai terbentuk di kegelapan. Namun, Elara membayangkan tangan Adrian yang mengamplas kayu. Ia mencoba mengubah suara guntur di kepalanya menjadi suara gesekan amplas yang lembut.

​Sshhh... sshhh...

​Ia tertidur. Tanpa mimpi buruk.

Malam itu, ramalan cuaca terbukti benar. Langit di atas kota berubah menjadi ungu gelap, seolah-olah semesta sedang menahan napas sebelum sebuah ledakan. Elara berdiri di tengah ruang tamunya, meremas jemarinya hingga memutih. Di atas meja, noise-canceling headphones miliknya tergeletak diam. Benda itu tampak seperti jangkar yang ingin ia lepaskan, namun badai di luar sana terasa seperti monster yang siap menerkam.

​Duar!

​Petir pertama menyambar. Suaranya memantul di antara gedung-gedung tinggi, menciptakan gema yang membuat kaca jendela apartemen Elara bergetar.

​Elara tersungkur di lantai. Napasnya tercekat di tenggorokan. Seketika, dinding apartemennya seolah runtuh dan berubah menjadi dinding rumah masa kecilnya. Ia mencium bau alkohol. Ia mendengar suara piring keramik yang pecah menghantam lantai dapur. Ia mendengar suara ayahnya yang menggelegar, menembus pintu kamarnya yang rapuh.

​"Tolong... berhenti," isaknya, menutup telinga dengan telapak tangan. "Berhenti..."

​Tiba-tiba, ada ketukan di pintu. Bukan ketukan amarah, melainkan ketukan yang ritmis. Tok. Tok-tok. Tok.

​Elara merangkak menuju pintu dan membukanya dengan tangan gemetar. Adrian berdiri di sana, membawa sebuah instrumen yang sudah selesai ia kerjakan—gitar mahoni yang tempo hari mereka amplas bersama.

​"Elara, jangan tutup telingamu," kata Adrian dengan nada tenang namun tegas. "Dengarkan suara yang lain. Suara ini milikmu sekarang."

​Adrian duduk di lantai koridor, tepat di ambang pintu Elara. Ia mulai memetik senar gitarnya. Suara yang keluar bukanlah dentuman. Itu adalah melodi rendah yang hangat, sebuah lagu tanpa kata yang seolah menyelimuti suara guntur di luar.

​Jreng... ting...

​Setiap kali petir menyambar, Adrian membalasnya dengan chord yang lebih kuat, lebih berani. Ia tidak mencoba menelan suara badai; ia mencoba menemaninya.

​Elara perlahan melepaskan tangannya dari telinga. Ia mendengarkan pertempuran antara guntur yang merusak dan petikan gitar yang menyembuhkan. Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang sangat sederhana: Guntur hanyalah suara. Ia tidak punya tangan untuk memukulnya. Ia tidak punya mulut untuk memakinya.

​Trauma itu adalah sisa-sisa listrik masa lalu yang masih mengalir di sarafnya, tapi Adrian menunjukkan bahwa ia bisa mengubah frekuensi itu menjadi sesuatu yang indah. Elara memejamkan mata, membiarkan melodi gitar itu menjadi jembatan bagi dirinya untuk menyeberangi jurang ketakutannya.

Pagi harinya, matahari terbit dengan cahaya yang luar biasa jernih. Udara terasa segar, bersih dari debu dan ketakutan semalam. Elara terbangun di sofa, masih mendengar sisa-sisa melodi di kepalanya.

​Ia berjalan menuju jendela dan, untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia membukanya lebar-lebar. Suara klakson mobil di bawah, suara burung yang berkicau di dahan pohon, dan suara tawa anak-anak yang berangkat sekolah masuk ke dalam ruangannya.

​Suara-suara itu tidak lagi terasa seperti serangan. Mereka terasa seperti kehidupan.

​Elara mengambil noise-canceling headphones miliknya. Ia menatap benda itu sebentar, lalu menyimpannya di dalam laci paling bawah. Ia tidak membuangnya—benda itu adalah saksi bisu perjuangannya—tapi ia tidak lagi membutuhkannya sebagai perisai harian.

​Ia melangkah keluar, menuju pintu nomor 402. Ia membawa sebuah tanaman kecil dalam pot yang ia beli beberapa bulan lalu namun selalu ia sembunyikan di sudut gelap.

​"Adrian?" panggilnya saat pintu terbuka.

​Adrian tersenyum, matanya tampak lelah tapi cerah. "Bagaimana tidurnya?"

​"Nyenyak," jawab Elara, dan ia benar-benar memaksudkannya. "Terima kasih untuk semalam. Terima kasih telah mengajariku cara mendengar lagi."

​Elara menyadari bahwa masa lalunya yang kelam mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang. Luka itu seperti serat kayu pada gitar Adrian—ia akan selalu ada di sana, menjadi bagian dari strukturnya. Namun, luka itu tidak lagi membuatnya rapuh. Luka itu kini menjadi resonansi yang membuat lagunya lebih dalam, lebih bermakna.

​Ia berjalan menyusuri koridor apartemen dengan langkah yang ringan. Di luar, seseorang menjatuhkan tumpukan buku dengan bunyi Brak! yang keras.

​Elara tersentak sedikit, refleks lama yang masih tertinggal. Namun, ia tidak lari. Ia hanya menghela napas panjang, tersenyum kecil pada dirinya sendiri, dan terus melangkah maju menuju kebisingan dunia yang indah.

​Selesai.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)