Anggi selalu datang ke gereja tua di ujung Jalan Nyiur bukan untuk berdoa, melainkan untuk menggambar. Bangunan itu punya jendela kaca patri yang memecah cahaya sore jadi serpihan warna-warni di lantai, dan itu subjek favoritnya sejak semester pertama kuliah seni rupa. Ia selalu datang sekitar pukul empat, ketika cahaya matahari miring sempurna dan warna-warna dari kaca patri jatuh paling jelas di lantai kayu yang sudah using.
Yang tidak ia duga, seorang lelaki bernama Dito selalu duduk di bangku belakang setiap ia datang. Bukan untuk berdoa juga, melainkan untuk menghindari suara ayahnya yang menelepon dari rumah, memarahi soal skripsi yang tak kunjung selesai. Selama berminggu-minggu mereka hanya saling melirik tanpa bicara, dua orang asing yang kebetulan memilih tempat sembunyi yang sama.
"Kau bukan jemaat sini," kata Anggi suatu sore, tanpa menoleh dari sketsanya.
"Kau juga bukan," jawab Dito, lalu keduanya larut dalam keheningan.
"Aku dengar goresan pensilmu dari sini. Kau menghapus terlalu sering." ucap Dito memecah keheningan sore itu.
"Aku sedang belajar menggambar cahaya. Susah ternyata, menggambar sesuatu yang terus berubah."
"Kalau begitu, kenapa tidak menggambar yang diam saja?"
"Karena yang diam itu membosankan," jawab Anggi, dan untuk pertama kalinya Dito tertawa cukup keras hingga suaranya menggema di langit-langit gereja yang tinggi.
Begitulah mereka mulai bicara. Anggi seorang muslim yang salatnya sering telat karena keasyikan menggambar. Dan lelaki itu, seseorang yang bernama Dito adalah penganut Advent yang beribadah tiap hari Sabtu, bukan Minggu seperti kebanyakan orang mengira. Hal yang selalu harus ia jelaskan ulang setiap kali orang baru tahu agamanya. Selama tiga bulan, gereja Katolik yang sepi itu jadi tempat netral bagi dua orang yang sama-sama sedang lari dari sesuatu. Anggi dari tugas akhir yang menumpuk, Dito dari keramaian yang entah kenapa selalu terasa melelahkan baginya, meski ia sendiri tidak selalu tahu sebabnya.
"Orang-orang selalu bingung begitu dengar kata Advent," katanya suatu kali, setengah bercanda setengah lelah. "Padahal aku cuma beribadah di hari yang berbeda."
"Aku juga sering ditanya kenapa jam salatku berantakan," balas Anggi. "Kita berdua sama-sama dianggap tidak menjalankan agama dengan benar oleh orang yang tidak benar-benar memperhatikan."
Dari situ mereka jadi lebih akrab, saling bertukar cerita kecil soal keluarga, soal jurusan kuliah, soal kenapa mereka berdua sama-sama merasa nyaman duduk di bangunan agama yang bukan milik mereka. Dito bilang, ada sesuatu yang menenangkan justru karena tidak ada beban untuk "harus benar" di tempat yang bukan miliknya. Anggi setuju, di gereja itu, ia bisa jujur pada dirinya sendiri tanpa rasa harus menunjukkan kesalehan pada siapa pun.
Cerita macam ini biasanya berhenti di titik yang bisa ditebak. Mereka jatuh cinta, keluarga menolak, salah satu mengalah atau semuanya berakhir tragis. Tapi yang terjadi pada Anggi dan Dito justru sebaliknya. Keluarga mereka nyaris tak masalah. Ibu Anggi, ketika akhirnya diberi tahu, hanya mengangkat bahu sambil terus mengulek sambal, "Yang penting dia baik sama kamu." katanya, seolah itu satu-satunya syarat yang benar-benar penting di dunia." Ayah Dito, lewat telepon, cuma menghela napas dan berkata, "Asal kau tetap pegang Sabatmu, itu saja permintaanku. Selebihnya, itu urusanmu dan Tuhan."
Anggi sempat berpikir betapa anehnya ini. Ia sudah menyiapkan berbagai argumen pembelaan, skenario penolakan, bahkan latihan pidato singkat di depan cermin kamar kos untuk meyakinkan orang tuanya. Semua itu ternyata tidak diperlukan.
Konflik sesungguhnya datang dari tempat yang tak diduga siapa pun. Dari diri Anggi sendiri.
Enam bulan setelah mereka resmi bersama, Anggi mendapati dirinya berdiri di depan cermin kamar kos, memandangi mukena yang tergantung di paku pintu, dan untuk pertama kalinya seumur hidup, ia bertanya-tanya apakah ia benar percaya, atau hanya menjalankan agama karena itu yang diajarkan sejak kecil. Pertanyaan itu datang tanpa peringatan, seperti pintu yang tiba-tiba terbuka di tengah rumah yang sudah lama ia kira seluruhnya sudah ia kenal.
Pertanyaan itu muncul justru karena Dito. Caranya menghentikan segala kesibukan tiap petang Jumat menjelang Sabat, tenang dan penuh, seolah waktu sengaja berhenti untuknya. Anggi pernah menemaninya sekali, duduk di ruang tamu kos Dito sambil memperhatikan caranya mematikan ponsel, menutup laptop, menyalakan lilin kecil di meja, lalu duduk diam beberapa menit sebelum mulai membaca. Tidak ada keterpaksaan di wajahnya. Tidak ada rutinitas kosong. Yang ada hanya ketenangan yang entah kenapa, membuat Anggi merasa iri. Iri pada keyakinan yang tampak begitu utuh pada orang lain, sementara imannya sendiri terasa seperti rutinitas yang berjalan otomatis, gerakan tubuh tanpa kehadiran hati yang sepenuhnya.
Ia tidak menceritakan ini pada siapa pun, termasuk Dito. Selama berminggu-minggu. Ia berusaha menyembunyikannya dengan menyibukkan diri pada tugas kuliah, pada sketsa-sketsa baru, pada apa saja yang bisa mengalihkan perhatiannya dari pertanyaan yang terus mengintai di sudut kepala. Sampai suatu malam ia menangis di tengah salat, bukan karena sedih, tapi karena tidak tahu lagi kepada siapa air matanya ia tujukan. Apakah pada Tuhan yang ia yakini, atau pada dirinya sendiri yang merasa tersesat di tengah sesuatu yang seharusnya paling ia kenal.
Dito menemukannya duduk di lantai, dengan sajadah yang masih tergelar dan air mata yang belum kering. Ia tidak bertanya "kenapa menangis" seperti yang diduga Anggi. Ia malah duduk di sampingnya, ikut diam untuk sesaat, membiarkan keheningan mengambil alih ruangan sebelum akhirnya berkata pelan,
"Waktu aku remaja, aku juga pernah begitu. Ikut kebaktian hari Sabat, tapi pikiran melayang ke mana-mana, ke pertandingan bola karena Madrid kurang mencetak gol, ke gebetan, ke apa saja selain yang seharusnya. Ayahku bilang, jangan-jangan justru itu tandanya kau sedang benar-benar mencari, bukan sekadar ikut-ikutan tanpa berpikir."
"Tapi bagaimana kalau yang kucari itu tidak ketemu?"
"Ya dicari terus," kata Dito tanpa nada menggurui, hanya seperti seseorang yang membagikan sesuatu yang ia sendiri pernah alami.
"Aku tidak akan berhenti duduk di gereja Katolik itu tiap sore cuma karena itu bukan gerejaku. Kau juga tidak perlu berhenti mencari cuma karena belum ketemu jawabannya sekarang."
Malam itu mereka tidak menyelesaikan apa-apa. Tidak ada jawaban ajaib yang tiba-tiba muncul, tidak ada keraguan Anggi yang seketika lenyap. Tapi ada sesuatu yang berubah, Anggi tidak lagi merasa sendirian menanggung pertanyaan itu.
Titik baliknya bukan pernikahan, bukan restu keluarga, bukan konflik antaragama seperti yang biasa jadi bumbu cerita semacam ini. Titik baliknya adalah Anggi belajar bahwa perbedaan agama antara dirinya dan Dito ternyata jauh lebih mudah diselesaikan daripada pertanyaan yang tumbuh di dalam imannya sendiri, dan bahwa Dito, alih-alih menjadi jawaban atas pertanyaan itu, justru orang yang paling sabar menemaninya duduk di dalam ketidaktahuan itu tanpa memaksa ia buru-buru menemukan jawaban.
Bulan-bulan berikutnya, keraguan itu tidak hilang sepenuhnya, tapi perlahan berubah bentuk, dari sesuatu yang menakutkan menjadi sesuatu yang bisa ia ajak bicara, seperti tamu lama yang akhirnya diberi tempat duduk di ruang tamu, bukan lagi dibiarkan mengetuk pintu dari luar.
Dua tahun kemudian, ketika akhirnya mereka menikah dengan dua rangkaian upacara, dua kebiasaan yang harus saling menyesuaikan jadwal (Jumat sore untuk Dito bersiap Sabat, Jumat malam untuk keluarga Anggi berkumpul), dan satu resepsi yang penuh tawa karena dua keluarga besar dari dua latar berbeda saling bertukar lelucon tentang menantu masing-masing. Anggi menitipkan satu permintaan kecil pada Dito.
"Temani aku ke gereja itu sesekali. Bukan untuk menggambar. Cuma untuk duduk saja."
"Kau mau pindah agama?"
"Tidak," jawab Anggi sambil tersenyum. "Aku cuma suka caramu diam di tempat ibadah yang bukan milikmu. Aku ingin belajar diam seperti itu."
Dan begitulah, di gereja tua di ujung Jalan Nyiur, lonceng masih berdentang tiap pukul enam sore, bersahutan dengan azan magrib dari masjid seberang jalan, dua suara yang tidak pernah benar-benar sama, tak pernah berjalan pada nada yang serupa, tapi entah kenapa, di telinga dua orang yang duduk berdampingan di bangku paling belakang, terdengar seperti sedang bicara satu sama lain, saling menyahut tanpa harus sepakat, meski doa yang mereka panjatkan tak pernah searah.