1: Hari Ketika Kursi Itu Kosong
Panggilan itu datang pukul sembilan lewat tiga belas menit.
Tulmok tahu jam itu terlalu rapi untuk kabar baik.
Ruang HRD tidak berubah sejak sepuluh tahun lalu. Dinding krem, meja kayu mengilap, dan jam dinding yang berdetak terlalu keras untuk ruangan sekecil itu. Di seberang meja, Rina—perempuan muda dengan blazer abu-abu—tersenyum tipis. Senyum yang sudah dilatih untuk terdengar manusiawi.
“Mas Tulmok… terima kasih sudah meluangkan waktu.”
Tulmok mengangguk. Tangannya bertaut di pangkuan. Ia sudah duduk di kursi ini sebelumnya untuk mengurus cuti, klaim kesehatan, serah terima jabatan. Tapi hari ini kursi itu terasa lebih rendah.
“Kami ingin menyampaikan keputusan manajemen,” kata Rina, suaranya datar, rapi.
“Ada efisiensi. Restrukturisasi.”
Tulmok menunggu. Ia tidak menyela. Senior mengajarkannya satu hal: jangan memotong kalimat yang sudah diputuskan.
“Mulai akhir bulan ini, posisi Mas Tulmok kami akhiri.”
Kalimat itu jatuh pelan. Tidak menghantam. Justru karena pelan, ia meresap.
Tulmok menghela napas pendek.
“Jadi… saya selesai?”
Rina mengangguk.
“Kami sangat menghargai kontribusi Mas selama ini.”
Kontribusi. Kata yang sering dipakai untuk mengucapkan selamat tinggal tanpa rasa bersalah.
Tulmok tersenyum kecil.
“Baik.”
Tidak ada protes. Tidak ada marah. Hanya satu pertanyaan yang keluar, nyaris otomatis.
“Hari ini saya masih boleh duduk di meja saya?”
Rina tampak ragu sepersekian detik.
“Boleh. Tapi akses kartu akan kami nonaktifkan sore ini.”
Tulmok mengangguk lagi. Ia berdiri, menjabat tangan Rina, lalu keluar. Langkahnya t...