Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
8
Pria Dalam Lemari
Romantis
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Aku selalu menganggap diriku suami yang baik.

Berangkat pagi, pulang malam, bahkan sering keluar kota berhari-hari demi cicilan rumah dan tabungan masa depan anak kami. Aku merasa sudah menunaikan tugasku. Setidaknya, itulah kesombonganku.

Istriku, Rani, adalah perempuan yang kecantikannya tidak memudar bahkan setelah melahirkan anak pertama kami tiga bulan lalu. Namun, jarak membuat rasa takut kehilangan tumbuh seperti rumput liar di kepalaku. Dalam seminggu, aku hanya pulang saat akhir pekan. Sementara Rani menghabiskan harinya sendirian bersama bayi kami.

Beberapa bulan terakhir, Rani berubah. Setiap kali aku pulang dan ingin menyentuhnya, ia selalu menghindar. "Aku capek sekali mas, ingin tidur," bisiknya pelan.

Puncaknya adalah hari Minggu lalu. Saat ia mengganti pakaian, aku melihat memar keunguan di pinggangnya. Jantungku berdetak keras. Pikiranku langsung melompat pada kesimpulan paling menjijikkan. Aku tidak bertanya. Ego dan kecurigaanku memilih jalan pengecut: aku ingin menangkap basah pengkhianatannya.

Hari Rabu siang, tanpa memberi tahu siapa pun, aku pulang ke rumah.

Suasana rumah sangat tenang. Dari kamar mandi, terdengar suara air mengalir. Rani sedang mandi, sementara bayi kami tertidur pulas di ranjang. Kamar utama terasa begitu asing. Didorong rasa cemburu yang membakar waras, aku melakukan hal paling bodoh. Aku masuk dan bersembunyi di dalam lemari pakaian. Di antara tumpukan baju dan kegelapan, aku menunggu bukti untuk membenci perempuan yang kucintai.

Tak lama, pintu kamar mandi terbuka. Melalui celah tipis pintu lemari, aku melihat Rani keluar. Ia tidak memakai daster longgarnya yang biasa, melainkan pakaian yang rapi. Ia menyisir rambutnya, memakai sedikit bedak.

Darahku mendidih. Dia bersiap menemui seseorang.

Ting! Bel rumah berbunyi. Jantungku nyaris meledak.

Rani bergegas keluar kamar. Melalui celah lemari yang menghadap ke pintu kamar yang terbuka, aku bisa mendengar suara laki-laki di ruang tamu. Mereka berbicara santai. Terlalu akrab. Amarah membuatku ingin mendobrak pintu lemari ini, tetapi aku menahan diri. Aku harus melihat kehancuranku sendiri.

Beberapa menit kemudian, langkah kaki mendekat. Rani kembali ke kamar. Wajahnya tampak cemas, melirik ke arah ranjang bayi, lalu pandangannya beralih tepat ke arah lemari tempatku bersembunyi.

Jantungku berhenti berdetak saat Rani berjalan lurus ke arahku. Langkahnya lambat, namun terasa seperti dentang lonceng kematian. Tangannya terulur, meraih gagang pintu lemari. Aku menahan napas, merapatkan tubuh ke dinding kayu, siap menghadapi kehancuran harga diriku jika pintu ini terbuka.

Oeeek… oeeek…

Suara tangis bayi kami memecah ketegangan. Tangan Rani tertahan di gagang pintu. Ia berbalik cepat, mengabaikan lemari, lalu berjongkok di samping tempat tidur untuk menarik sebuah tas hitam besar dari bawah kolong.

Inilah saatnya. Aku menatap tajam dari celah. Rani membuka ritsleting tas itu. Mataku melebar mencari benda-benda terlarang.

Namun, seluruh duniaku runtuh seketika.

Bukan karena apa yang kutemukan, melainkan karena apa yang kulihat. Tas itu penuh dengan puluhan kerajinan tangan berbahan kertas. Bunga-bunga tiruan, kotak hadiah, dan kartu ucapan yang dirangkai luar biasa rapi.

Rani mengambil tumpukan itu dengan tergesa-gesa, memasukkannya ke dalam kardus besar, lalu membawanya keluar kamar. Melalui percakapan yang sayup-sayup terdengar, pria di luar ternyata hanyalah kurir ekspedisi. "Totalnya tiga puluh paket ya, Mbak Rani. Ini resinya," ujar suara di luar.

Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang menampar wajahku berkali-kali hingga hancur. Aku terduduk lemas di lantai lemari yang gelap. Lemari ini bukan tempat menjebak istriku, melainkan peti mati bagi prasangka burukku.

Setelah kurir pergi, Rani kembali ke kamar. Ia menggendong bayi kami yang masih merengek. Ia duduk di pinggir ranjang, menyusui, sambil menyanyikan lagu pengantar tidur dengan suara serak.

Dari balik celah, untuk pertama kalinya aku benar-benar melihat istriku. Bukan sekadar wajah cantiknya. Aku melihat lingkaran hitam yang sangat pekat di bawah matanya. Aku melihat bahunya yang kurus tampak begitu lunglai. Aku melihat tubuh seorang ibu muda yang sedang berjuang sendirian hingga habis dayanya.

Saat rumah kembali sepi dan Rani membawa bayi kami berjemur ke belakang, aku keluar dari lemari seperti seorang pencuri. Aku meninggalkan rumah tanpa diketahui siapa pun, membawa dada yang sesak oleh rasa hina.

Akhir pekan tiba. Aku pulang dengan tubuh gemetar menahan rasa bersalah. Rani menyambutku dengan senyum hangat yang sama. Senyum yang rasanya sama sekali tidak pantas kuterima.

Malamnya, saat bayi kami sudah terlelap, aku duduk di sampingnya. Aku meraih jemarinya yang biasanya halus. Di sana, aku melihat luka-luka kecil bekas goresan gunting dan luka bakar lem tembak.

Air mataku hampir tumpah. "Tanganmu kenapa, Sayang? Dan... memar di pinggangmu itu?"

Rani terkejut, mencoba menarik tangannya karena malu. "Ah, ini... kemarin tidak sengaja menabrak sudut meja waktu angkat kardus pesanan." Ia menunduk takut. "Maaf ya, Mas. Aku mulai bisnis kerajinan tangan kecil-kecilan. Aku tidak bermaksud tidak menghargai uang nafkah darimu..."

"Kenapa kamu lakukan ini sampai secapek ini?" suaraku tercekat.

"Harga popok dan susu anak kita makin mahal, Mas," ucapnya pelan, setitik air mata jatuh di pipinya. "Aku cuma ingin membantu sedikit. Aku tahu kamu sudah bekerja keras sendirian di luar kota. Aku tidak mau membebanimu lagi. Jadi, aku kerjakan ini kalau anak kita sudah tidur."

"Jam berapa?"

"Kadang... dari jam dua sampai jam empat subuh."

Aku membeku. Di saat aku tertidur pulas di kamar hotel saat dinas luar kota, menuduhnya yang-tidak-tidak, istriku sedang bertarung dengan kantuk dan rasa lelah demi menyambung napas keluarga kami.

Aku langsung menariknya ke dalam pelukan. Aku menangis sejadi-jadinya di bahunya, melepaskan seluruh penderitaan batin yang meremukkan dadaku seminggu ini. Rani kebingungan, mengusap punggungku, mengira aku hanya kelelahan bekerja.

Aku tidak punya keberanian untuk jujur bahwa aku pernah bersembunyi di dalam lemari karena berprasangka buruk padanya. Mungkin suatu hari nanti aku akan mengaku. Namun malam itu, aku sadar satu hal: pengkhianatan terbesar dalam pernikahan tidak selalu berupa kehadiran orang ketiga. Kadang, pengkhianatan itu adalah saat kita berhenti percaya dan lebih memilih memelihara curiga daripada bertanya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi