Buk!!! Gadis itu meninjuku dengan keras. Mata basahnya berkilat. Dengan napas memburu, tangannya yang gemetar meraih gawai di dekat kompor.
Bunyi telepon tersambung. Dengan suara serak ia berkata, “Lisa, bisa kesini sebentar? Please!” Dan telepon pun ditutup kembali.
Dua tetes air mata mengaliri riasan tebalnya. Aku melihat sebilah logam di tangannya, lalu ia menghampiriku yang tergolek tak berdaya. Tanpa ampun, tubuhku dilubangi.
Tolong! Aku tak utuh lagi...!
Aku berharap ada yang mendengarku. Sayangnya, aku hanya segenggam adonan kue yang pucat pasi.
*******
Gadis berkebaya pink ini aneh sekali. Kurasa, dia membuat kue bukan karena lapar. Sebab di meja makan berbaris aneka hidangan berbaki-baki, termasuk kue warna-warni. Dan masih ada beberapa box tertutup bertuliskan “Bintang Catering”.
“Harti... Hmm... Ini... Ibu bagikan ke tetangga saja ya?” suara lembut perempuan bergamis ungu dan berjilbab rapi. Rautnya seperti orang yang sedang membawa telur menggunakan sendok, dan takut telurnya pecah.
“Cari panti saja ya, Bu. Aku tidak mau jadi omongan tetangga,” jawabnya dengan lirih. “Tapi tunggu donatku matang ya,” ia menunjuk aku dan kawan-kawan.
“Memangnya kamu nggak capek, Ti?” Ibu menepuk punggung Harti.
“Kan Ibu bilang, kalau sedang emosi, buatlah donat,” Harti tersenyum pahit.
“Sabar ya Sayang,” Ibu ikut tersenyum. “Kadang, yang kita sukai belum tentu baik bagi kita. Begitupun sebaliknya,” lalu Ibu mengusap lengan Harti.
“Dekornya Ibu bongkar saja ya sekarang,” lanjut Ibu sebelum berlalu.
Sunyi. Hanya ada dengung kulkas dan aroma ragi.
Ibu muncul kembali membawa beraneja macam bunga ke ruang belakang. Mungkin gudang. Juga papan billboard estetik yang bertuliskan “Happy Engagement Harti dan Bayu”. Harti memalingkan muka, seperti tak sudi membacanya. Sambil menunduk, dicabutnya bulu mata palsu yang sejak tadi tegak berdiri, dan air matanya mengalir lebih leluasa.
Harti menyeka mata, lalu menonjoki kawan-kawanku. Diam-diam aku bertanya-tanya, andai kawanku tersiram air mata, tidakkah asin jadinya?
********
Harti sedang menggorengku saat sesosok perempuan berdaster hijau muncul di ambang pintu dapur.
"Si Bayu... Kenapa sih dia?"
Harti berlari memeluk perempuan itu hingga daster hijaunya berjejak terigu. "Aku nggak tau, Lisa. Dia bilang nggak jadi datang dan sekarang sulit dihubungi," Harti menumpahkan tangisnya di bahu Lisa.
"Dasar laki-laki red flag!" umpat Lisa.
"Aku juga dimarahin Pak De dan Bude tadi... Katanya aku ceroboh.... Gampang percaya..." ucap Harti di sela-sela tangisnya.
Aku melihat sesosok lelaki masuk menghampiri Lisa. Harti melepaskan pelukan dan mengambil tisu di meja makan.
"Aku pulang dulu, ya. Nanti sore kujemput.” Lelaki itu menyerahkan bayi cantik berbando ungu ke tangan Lisa.
"Oke, Sayang," Lisa mencium tangannya.
Mata Harti tak berkedip menatap pemandangan indah itu. Lalu matanya memandang sang bayi dengan tatapan kagum sekaligus iri.
Aku kasihan melihat Harti. Tapi aku juga jengkel karena ia tak kunjung mengangkatku dari penggorengan.
Syukurlah Lisa menyadari keberadaanku.
"Ya ampun... Beginilah kalau Bu Direktur masuk dapur! Untung nggak gosong! " Lisa mematikan kompor dan mengangkat aku dan kawan-kawan ke peniris gorengan. "Emang bener kata Pakde dan Budemu. Ceroboh!" ledek Lisa sambil tertawa. Harti diam saja. Ia terpaku menatap hidangan yang melimpah tanpa terlihat hendak menyentuhnya.
"Nih, kamu pegang Devi aja. Adonan ini biar kubikin bomboloni, " ujarnya sambil menyerahkan bayi berbando ungu. Segumpal adonan yang tersisa kini dikuasai Lisa. Nasib kawan-kawanku berada dalam otoritasnya.
Tangan Lisa bergerak lebih terampil dari Harti. Sebentar saja, kawan-kawanku sudah berjajar rapi. Mulus menawan, utuh sempurna tanpa lubang. Mengapa aku tidak demikian?
"Beres. Tinggal proofing lagi sebentar." Lisa mencuci tangan dan meraih Devi kembali.
Aku termangu di tray peniris gorengan. Inilah aku, kue bulat yang bolong, retak-retak, dan digoreng terlalu cokelat. Bolong sebesar ini, dengan apa harus kutambal agar utuh sempurna?
Di meja makan, kulihat Harti pun termangu menatap Lisa yang kini sibuk menyusui Devi. Mungkinkah Harti merasakan hal yang sama? Atau lubangnya lebih menganga?
********
Rombongan bomboloni selesai digoreng. Cantik, mengembang dan berwarna keemasan. Aku disisihkan di piring dengan donat lain yang buruk rupa.
Lisa mencomot donat sekaligus bomboloni. "Sorry yaa... Jadi ibu menyusui itu gampang laper," ia terkekeh.
"Kamu sih dari zaman SD juga laperan!" Untuk pertama kalinya kulihat senyum Harti. Lalu mereka berdua tergelak bersama.
"Kamu beruntung ya, Lis. Kapan ya, aku punya anak secantik ini?" Harti membelai pipi bulat Devi. Si pemilik pipi bergerak sedikit sambil tetap memejamkan matanya.
Lisa menghentikan kunyahannya. "Waaah, telima kacih, Ibu Dilektul," Lisa tertawa. "Kamu lupa kamu juga beruntung. Karirmu lancar dan melesat. Amajing!” selorohnya dengan bahasa Inggris yang 'disunda-sundakan'.
“Oh ya, naskah novelmu pas kuliah dulu masih ada di laptopku. Kapan mau diterusin, Lis? Aku ada koneksi ke penerbit,” tawar Harti.
Lisa tertawa. “Mana ada waktu, Lis. Bisa pecah kepalaku nanti,” timpalnya.
“Ambisi jadi novelis sudah menguap ya,” ujar Harti lalu meneguk air putih di meja.
“Sekarang ambisiku cuma satu Bu, yaitu: beres masak sebelum anak-anak bangun,” Lisa terkekeh.
Ibu muncul menghampiri Devi. Bayi gemuk itu tampak lelap kekenyangan. Bando ungu berpita-nya kini terbaring di meja makan.
"Tante tidurkan di kamar, ya. Kamu makanlah, Lis. Tante udah pesan rendang, sup kimlo, mi jawa..." Ibu berkata setengah berbisik, tapi masih bisa kucuri dengar.
Lisa bangkit ke arah kabinet perabotan. Mengambil piring dan mengisinya dengan nasi, capcay dan rendang, kemudian duduk manis di depan Harti. Tiba-tiba terdengar suara Devi menangis kencang dari ruang dalam. Potongan rendang yang sudah naik sendok, rebah kembali di piring.
Ibu masuk kembali ke dapur, menyerahkan Devi ke pelukan Lisa.
Lalu Ibu menghampiri kami, diikuti Harti. Mereka membedaki kami satu persatu dengan gula halus. Sebagian temanku diolesi margarin lalu ditaburi coklat butir.
Sekarang giliran para bomboloni. Aku terkejut melihat tubuh mereka ditusuk-tusuk corong kecil. Dari corong itu keluar selai merah kental. Beberapa dari mereka pecah karena kelebihan isi, sehingga tampak cairan merah berlelehan. Mengerikan.
Kulihat Lisa masih sibuk dengan bayinya, sambil mengangkat gawainya yang berdering. Bercakap sebentar, lalu menutup percakapan dengan wajah sedikit panik. "Wah, aku harus pulang. Ari dan Jordy cakar-cakaran. Rebutan mainan,” tukas Lisa sambil memasukkan gawainya ke tas perlengkapan bayi.
"Tunggu sebentar, Lis," Ibu bergerak ke arah laci kabinet. Mengambil box karton dan kertas nasi, lalu membungkus bermacam makanan dan diberikan pada Lisa. "Ini buat Ari, Jordy dan suamimu."
"Ya ampuuun, makasih banget Tante. Alhamdulillah libur masak dong! Langsung rebahan dan nonton netflix... Hehe... " Lisa tampak girang. Matanya berbinar.
Sementara Harti yang telah selesai menusuk-nusuk para bomboloni, kini mengambil alih piring Lisa dan makan dengan lahap sekali. Barangkali ia menikmati suap demi suap, tanpa ada tangis bayi yang mengganggunya.
Lisa menoleh sebentar setelah tadi berpamitan. “Tante, donat yang agak gosong tadi buat aku aja, ya. Suami suka yang begitu. Wangi, katanya," ujar Lisa. Kulihat Ibu melangkah ke kabinet dan mengambil box baru.
Siang itu, kulihat jendela dapur tampak benderang.
Aku masuk box dengan riang. Bersama kawan-kawan bolongku, kawan senasib sepenggorengan.
Agustus-September 2026