Disukai
1
Dilihat
5
Pengupas Bawang
Slice of Life
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Saat kulihat goresan lipstik di gigi Bu Eka, aku teringat gigi Atika. Saat kulihat jilbab Bu Dewi miring sebelah, aku teringat Atika. Saat melihat karet melingkar di pergelangan tangan Bu Sri, lagi-lagi aku ingat Atika.

Aku kenal Atika belum lama, tapi aku sudah hafal sifat dan kebiasaannya, sebab sering diajaknya ke mana-mana. Bahkan aku tahu isi kepalanya, dari catatan-catatan kecil yang ia tulis di buku notes belanja.

Selain kebiasaan mencatat itu, Atika ialah sosok ibu-ibu kebanyakan, yang suka meneriaki anaknya dengan mantra andalan: "Tuuuh, kan...!"

Pertemuan kami bermula saat ia belanja di warung Pak Yudi. Sejak itu ia akrab denganku, mengajakku kesana kemari dan bertemu banyak orang. Ke Puskesmas, mengurus BPJS di kantor Dinsos, menghadiri kajian di masjid, atau sekadar belanja ke warteg Bu Ina.

***

Pagi sunyi. Atika meraih buku notes pink di samping sajadah, lalu menulis sesuatu.

“Bawang merah 1kg

Tomat ¼ kg

Seledri 1 ikat

Kluwek ¼ kg”

Ia terdiam sesaat.

“Hari ini bawang habis. Aku harus menyetok bawang kupas untuk memudahkanku memasak. Akan kubeli sepulang antar Arkan sekolah, sekalian beli kluwek untuk rawon. Jika Andi tidak rewel, aku akan menyetrika setelah memasak. Oh ya, selimut juga masih di laundry. Akan kuambil sepulang beli bawang.

Yah, inilah hidupku, si pengupas bawang.

Setiap bangun pagi, rasanya seperti ada setumpuk bawang menunggu dikupas. Kecil, ringan, tapi banyak. Terus, terus kukupas hingga jari penat dan kadang mataku berair. Seringkali di malam hari, bawang itu masih saja tersisa. Dan esoknya, muncul setumpuk bawang baru yang harus kukupas lagi satu per satu.”

Atika melipat mukena dan keluar kamar. Lalu terdengar bunyi air kran dan denting piring yang bersenggolan.

***

Pagi berikutnya, jam dapur menunjuk angka lima. Atika duduk di meja makan. Di sela dengung kulkas, terdengar suaminya membaca Alqur’an. Kopi di hadapan Atika tinggal separuh, berjejer dengan buku notes pink yang penuh coretan.

“Alarm pagiku adalah gong tanda dimulainya perlombaan. Aku mencuci beras bahkan sebelum mencuci muka. Lampu merah rice cooker seperti mata juri yang mengawasi pertandingan: apakah sarapan berhasil matang, atau anak-anak bangun duluan.

Oke. Semoga hari ini lancar.”

Ia menutup buku. Menyimpannya di atas kulkas, lalu membuka pintu freezer. Ia raih sekotak ungkepan, dan beberapa telur yang bergerombol di pintu bawah.

Ayam goreng dan telur dadar masih mengepul saat anak-anaknya bangun. Sebelum memandikan Arkan, Atika mengambil mainan dan mengampar karpet untuk Andi. Membuat pagar dari bantal agar Andi tak merangkak ke mana-mana. Tak lupa, ia menyendok nasi ke piring agar tak panas saat anak-anaknya disuapi. Kadang kulihat ia lupa. Maka, daftar tugasnya bertambah satu: mengipasi nasi, ditemani deru mesin cuci.

Sepulang dari sekolah Arkan, Atika duduk di kursi beranda setelah menidurkan Andi. Ia buka buku notes cantik yang diambil dari atas kulkas. Lalu tangannya menari.

“Delapan tahun ini, sejak Arkan lahir, kusederhanakan ambisiku; dari ‘menulis novel’ menjadi ‘beres masak sepagi mungkin’.”

Tangannya diam sejenak.

“Dua jam setelah bangun ialah saat genting dalam hidupku. Jika sarapan berhasil matang, maka aku akan mencuci dengan tenang. Jika tidak? Maka.... aku akan tetap mencuci. Tidak bisa tidak.” goresnya.

“Paket!” sebuah teriakan menghentikan Atika. Ia bangkit mengambil paket, dan kembali ke kursi.

“Aku tak tahu bagaimana dulu ibuku melalui pagi dengan anak hampir selusin. Yang kutahu, setiap sehabis mandi dan rapi, tungku sudah padam dan kakak-kakak mengajakku sarapan. Begitu terus hingga aku lulus SD, lalu pindah ke asrama pesantren dan pulang karena dilamar. Ah, aku jadi sedih teringat Alqur’anku yang jarang kubuka. Kesibukan ini membelengguku.”

Atika berhenti, masuk ke dalam rumah. Ia keluar dengan bak penuh cucian. Ditatanya pakaian di jemuran, lalu duduk lagi.

“Aku baru sadar, mesin cuci, kompor gas, blender, dan rice cooker-ku, tak lebih hebat dari dua tangan ibuku. Aku, dengan alat tempur sebanyak ini, merasa dua puluh empat jam selalu kurang. Haruskah aku bangun lebih pagi lagi? Apakah aku...”

Buku pink ditutup, disimpan lagi di atas kulkas. Atika menghampiri tangisan keras Andi.

***

Hari ini, lampu rice cooker menyala pukul 06.30. Atika terbirit membawa Arkan ke kamar mandi. Andi menangis di gendongan suaminya.

Atika meraih handuk di gantungan. Namun sebuah mobilan terinjak kakinya. Ia jatuh terduduk. Entah siapa yang paling sakit. Kaki Atika, atau handuk yang ditindihnya.

Sebungkus nugget beku terbaring di samping kompor. Dingin dan acuh. Tak peduli kepanikan Atika.

Selang sepuluh menit, Atika menyalakan kompor. Menuang minyak. Potongan nugget terjun ke wajan, saat suara Arkan terdengar. “Bu, kaos kaki mana?”

Ia melesat ke arah jemuran. Kembali lagi, mendapati nugget telah berubah warna. Cokelat kehitaman.

“Ya ampun!” serunya.

Pintu kulkas dibuka. Diraihnya nugget. Dimasukkan ke minyak panas. Tangannya membolak balik sodet. Matanya bolak-balik melirik jam. Sampai para nugget mendarat selamat di saringan.

Ia tersenyum. Tangan kirinya mengelap keringat. Tangan kanan membuka rice cooker. Matanya membelalak. Tampak butiran beras berenang-renang. Atika memeriksa lampu rice cooker. Hijau. Wajahnya pucat.

Atika menyambar jilbab. Lalu mengaduk-aduk laci. “Kunci motor... Kunci motor...” gumamnya.

“Pak.... Ayo! Ke warteg Bu Ina!” suaranya terengah-engah. Ia meraih Andi yang belum dimandikan.

Atika tunggang langgang. Ia telah kalah perlombaan.

***

Subuh ini, lampu rice cooker menyala semerah biasanya. Yang tak biasa adalah, dengung kulkas kali ini berbaur dengan suara Atika melafalkan Alqur’an. Lantang, melebihi suara suaminya di ruang sebelah.

Atika ke dapur setengah jam kemudian. Ia mengiris bawang sambil bernyanyi kecil. Lalu tercium wangi nasi goreng.

“Bu, nggak mau sekolah!” Arkan muncul dengan piyama sekusut wajahnya.

Atika menoleh. Mematikan kompor, mencuci tangan di kran.

“Kenapa?”

“PRku lupa.” Air mata Arkan jatuh.

Atika tersenyum. “Nanti Ibu bantu, ya, Sayang. Tapi, mandi dulu.”

***

Seminggu kemudian.

Kulihat Atika bersandar di kursi meja makan. Ia tersenyum menatap dapur yang mengkilap dan tutup saji yang penuh isi. Matanya melirik setumpuk baju yang telah rapi di meja setrika. Warna-warni, seperti kue lapis yang siap diiris.

Atika meraih buku notes di atas kulkas ini, dan menulis lagi.

“Seminggu ini, aku bisa tidur siang. Aku juga mulai melanjutkan naskah novelku yang delapan tahun terbengkalai di laptop. Padahal tiap pagi aku bangun di jam yang sama. Bahkan waktu masakku mundur setengah jam untuk merutinkan lagi tadarus.

Aneh bukan? Setumpuk bawangku tak berkurang jumlahnya. Tapi pisau yang kupakai mengupasnya, terasa lebih tajam. Kau tahu kenapa?” tulisnya.

Apakah Atika bertanya padaku?

Aku diam. Aku tak bisa memberi jawaban. Sebab, aku hanya sebatang pulpen harga dua ribuan.

September 2026

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)