Bintang yang Kembali dalam Secangkir Kopi
Hujan di pertengahan November selalu memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan-ingatan lama yang berdebu. Di balik kaca jendela kafe kampus yang berembun, Arlan menatap rinai air yang jatuh menghantam aspal. Di hadapannya, sepiring kentang goreng yang mulai dingin dan sebuah buku catatan kuliah yang terbuka setengah halaman menjadi saksi betapa pikirannya tidak lagi berada di ruangan tersebut.
Satu ingatan yang paling sering mengetuk kepala Arlan setiap kali hujan turun adalah ingatan tentang lapangan sekolah dasar yang becek. Di sana, di bawah pohon mangga di sudut halaman, dua anak laki-laki berusia sepuluh tahun pernah saling menautkan jari kelingking. Mereka berjanji untuk selalu bersama, melewati hari-hari kecil yang terasa begitu raksasa.
Nama anak itu adalah Bima.
Tahun 2014, kelas 5 SD. Bagi Arlan kecil, Bima bukan sekadar teman sebangku, melainkan pelindung sekaligus saudara yang tidak pernah ia miliki dari ibu yang sama. Setiap kali Arlan diejek karena sepatunya yang robek atau kacamata tebalnya yang sering merosot, Bima selalu menjadi orang pertama yang maju menepis tawa teman-temannya.
"Kalo ada yang berani ganggu kamu, bilang sama aku. Kita kan kapten dan wakil kapten tim penjelajah!" begitu kata Bima setiap kali mereka duduk di atas benteng semen dekat gerbang sekolah.
Namun, dunia anak-anak terlalu rapuh untuk menghadapi keputusan orang dewasa. Pada suatu sore di penghujung semester dua, Bima mengetuk rumah Arlan. Wajahnya tidak lagi secerah biasanya. Senyum khasnya yang biasa memamerkan gigi gingsul lenyap digantikan oleh mata yang sembap.
Ibu Bima meninggal dunia karena sakit keras, dan ayahnya yang terlilit hutang terpaksa membawa Bima pindah ke kota lain kota yang sangat jauh di pulau sebelah, tanpa meninggalkan nomor telepon atau alamat yang jelas. Pada masa itu, ponsel pintar belum menjadi barang umum bagi anak-anak usia sepuluh tahun.
Hari keberangkatan Bima adalah hari paling dingin dalam hidup Arlan. Di stasiun kereta yang bising, sebelum Bima melangkah naik, ia merogoh saku celana seragamnya dan mengeluarkan sebuah gasing kayu buatan tangannya sendiri. Gasing itu dicat warna biru dengan garis kuning di tengahnya.
"Satu buat kamu, satu buat aku," bisik Bima seraya menyerahkan gasing biru itu. Dari sakunya yang lain, ia mengeluarkan gasing identik berwarna merah. "Selama kita simpan gasing ini, kita nggak bakal bener-bener berpisah, Lan. Nanti kalau kita udah gede, kita ketemu lagi."
Kereta api itu lalu bergerak perlahan, meninggalkan Arlan yang berdiri gemetar di peron dengan gasing kayu di genggamannya. Suara roda besi yang bergesekan dengan rel menjadi lagu perpisahan yang terus bergema di telinga Arlan hingga bertahun-tahun kemudian.
Waktu berlalu tanpa kompromi. Arlan tumbuh menjadi pemuda yang pendiam, cenderung tertutup, dan mengalirkan seluruh energi emosionalnya ke dalam tulisan dan studi. Ia berhasil menembus salah satu universitas negeri terbaik di kota tersebut, mengambil jurusan Sastra Indonesia.
Namun, di setiap sudut kamar kosnya, gasing kayu berwarna biru itu selalu berada di atas meja belajarnya. Cat birunya sudah memudar, kayunya sedikit terkelupas di beberapa bagian, tetapi Arlan tidak pernah menyimpannya di dalam gudang. Gasing itu adalah jangkar pengingat bahwa di suatu tempat di dunia ini, ada seorang kawan yang pernah membagikan separuh kehangatannya.
Memasuki semester lima, kehidupan kampus terasa kian padat dan melelahkan. Hari itu, hujan deras mengguyur area fakultas sejak siang. Arlan yang lupa membawa payung terpaksa berteduh di kafe pusat kegiatan mahasiswa yang penuh sesak.
Suasana kafe sangat riuh oleh denting cangkir, gelak tawa, dan desis mesin pembuat kopi. Arlan duduk sendirian di meja sudut, menyeruput kopi hitamnya yang mulai hangat-hangat kuku.
"Permisi, kursi di depan kamu kosong? Karena Tempat lain penuh semua," sebuah suara serak memecah lamunan Arlan.
Arlan mendongak dari buku catatannya. Di hadapannya berdiri seorang pemuda dengan jaket almamater yang basah di bagian bahu. Rambutnya sedikit acak-acakan karena terkena air hujan, dan ia memegang nampan berisi segelas kopi panas.
"Oh, iya, kosong. Silakan," jawab Arlan singkat, lalu kembali menundukkan kepala ke arah bukunya.
Pemuda itu duduk, menghela napas panjang seraya melepas jaketnya. Ia lalu merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel. Namun, saat ia menarik tangannya keluar, sebuah benda kecil ikut terlempar dari sakunya dan menggelinding di atas meja kayu yang licin, berhenti tepat di samping cangkir kopi Arlan.
Benda itu adalah gasing kayu kecil berwarna merah, dengan garis kuning di tengahnya yang sudah hampir terhapus usia.
Jantung Arlan serasa berhenti berdetak saat itu juga. Matanya terbelalak menatap benda kecil yang sangat tidak asing itu. Napasnya tertahan. Tangan Arlan yang gemetar pelan-pelan terulur mendekati gasing tersebut, menyentuh permukaannya yang kasar.
"Ah, maaf! Benda itu kadang jatuh kalau aku ambil HP," ujar pemuda di depannya cepat-cepat, lalu buru-buru hendak mengambil gasing tersebut.
Arlan menahan tangan pemuda itu. Matanya perlahan terangkat, menatap wajah di hadapannya dengan cermat. Di bawah penerangan lampu kafe yang kekuningan, ia melihat rahang tegap itu, bentuk alis yang tegas, dan saat pemuda itu terkejut karena tangannya ditahan, bibirnya sedikit terbuka memperlihatkan sebuah gigi gingsul kecil di sebelah kiri.
"Bima...?" suara Arlan bergetar, hampir seperti bisikan yang nyaris tenggelam oleh suara hujan di luar.
Pemuda itu membeku. Tatapan matanya yang semula acuh tak acuh berubah menjadi kebingungan yang mendalam, lalu perlahan berlanjut menjadi guncangan hebat. Ia menatap Arlan dari ujung rambut hingga kacamata tebal yang masih bertengger di hidungnya.
"Kamu... Arlan?" tanya Bima dengan nada tak percaya.
Seketika itu juga, benteng waktu sembilan tahun seperti runtuh dalam satu detik. Riuh kafe yang bising seolah lenyap dari pendengaran mereka. Dua anak laki-laki yang dulu terpisah di peron stasiun kini saling menatap sebagai dua lelaki dewasa di tengah keramaian kampus.
"Bima! Ini beneran kamu?!" Arlan berdiri dari kursinya hingga membentur meja. Kopi di cangkirnya sedikit tumpah, tetapi ia sama sekali tidak peduli.
Bima tertawa pendek tawa yang sama persis seperti sembilan tahun lalu lalu berdiri dan langsung memeluk Arlan erat-erat. Pelukan dua sahabat yang telah mengarungi arus waktu yang panjang dan sepi. Di antara riak air hujan dan bau sangit kopi, dua anak manusia itu meluapkan kerinduan yang mengendap bertahun-tahun.
"Aku nyari kamu, Lan... Aku balik ke rumah lama kamu pas masuk SMA, tapi tetangga bilang keluargamu udah pindah," ucap Bima dengan suara parau di bahu Arlan.
"Aku juga, Bim. Aku nggak pernah ganti nomor yang lama, tapi kamu nggak pernah bisa dihubungi," balas Arlan, matanya terasa panas oleh air mata yang siap menetes.
Malam itu, hujan seolah sengaja menahan mereka di kafe tersebut. Mereka duduk berjam-jam, saling menukar cerita tentang tahun-tahun yang hilang. Bima menceritakan betapa berat hidupnya di kota orang setelah ayahnya wafat beberapa tahun lalu, bagaimana ia harus bekerja paruh waktu untuk membiayai kuliahnya sendiri di jurusan Teknik Sipil, dan bagaimana gasing merah itu selalu berada di sakunya sebagai pemantik semangat saat ia merasa ingin menyerah.
Arlan pun menceritakan jalannya sendiri kesepiannya tanpa kehadiran seorang sahabat sejati, serta gasing biru yang masih setia bertengger di atas meja belajarnya.
"Ternyata takdir punya caranya sendiri ya, Lan," ujar Bima sambil memandangi gasing merahnya yang kini berdampingan dengan gasing biru yang dikeluarkan Arlan dari tasnya. "Kita terpisah pas masih bocah, dan dipertemukan pas udah sama-sama dewasa di tempat ini."
"Mungkin gasing ini emang punya magnet khusus," sahut Arlan tersenyum, menyapu sudut matanya yang basah.
Pertemuan itu terasa seperti keajaiban yang paling indah dalam hidup mereka. Seminggu setelah hari itu, mereka kembali seperti dulu. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di perpustakaan, makan di kantin murah belakang kampus, dan saling mendukung tugas akhir masing-masing. Kehadiran Bima mengembalikan warna dalam hidup Arlan yang selama ini redup, dan keberadaan Arlan menjadi tempat berlabuh bagi Bima yang selama ini berjuang sendirian tanpa keluarga.
Namun, takdir sering kali menjadi penulis skenario yang kejam. Ia memberikan kebahagiaan hanya untuk menguji seberapa dalam kita sanggup merasakannya.
Satu bulan setelah pertemuan tak terduga itu, Bima mulai sering absen dari kuliah. Ia yang biasanya selalu ceria dan penuh energi, perlahan terlihat pucat dan makin kurus. Setiap kali Arlan bertanya, Bima hanya tersenyum tipis dan menyalahkan jadwal kerja paruh waktunya yang terlalu padat.
"Cuma capek biasa, Lan. Kan anak teknik emang harus tahan banting," kelakar Bima suatu sore saat mereka duduk di taman kampus.
Hingga pada suatu hari di akhir semester, Arlan mendapat panggilan telepon dari rumah sakit daerah. Suara perawat di ujung telepon mengabarkan bahwa Bima pingsan di tempat kerjanya dan langsung dilarikan ke ruang ICU.
Arlan berlari menyusuri lorong rumah sakit dengan jantung yang berdegup kencang. Bau karbol yang menyengat dan dinginnya dinding rumah sakit menusuk hingga ke tulang. Saat ia sampai di depan ruangan, seorang dokter keluar dengan wajah lesu.
Dokter itu menjelaskan kondisi Bima yang sebenarnya. Bima mengidap leukimia stadium lanjut yang selama ini ia sembunyikan dari siapa pun. Ia menolak pengobatan intensif karena tidak memiliki biaya dan tidak ingin membebani siapa pun, termasuk Arlan yang baru saja kembali ke hidupnya.
Dengan langkah kaki yang terasa seberat timah, Arlan melangkah masuk ke dalam kamar perawatan. Di atas ranjang putih, Bima terbaring lemah dengan berbagai selang yang menempel di tubuhnya. Wajahnya yang dulu hangat kini pucat pasi, tetapi mata itu masih memancarkan binar yang sama ketika melihat Arlan mendekat.
"Kenapa kamu nggak pernah cerita, Bim? Kenapa?!" suara Arlan pecah. Ia berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan Bima yang dingin dan kurus. "Kita kan sahabat! Kenapa kamu harus nanggung semuanya sendirian?"
Bima tersenyum sangat tipis. Dengan sisa-sisa tenaganya, ia menggerakkan jarinya, mengusap punggung tangan Arlan.
"Aku nggak mau... waktu singkat kita... cuma diisi sama kasihan, Lan," bisik Bima pelan sekali, suaranya putus-putus. "Aku udah seneng banget... Tuhan kasih kesempatan buat aku ketemu kamu lagi... Aku cuma mau kamu kenal Bima yang kuat, bukan Bima yang sakit..."
Air mata Arlan jatuh tak tertahankan, membasahi kain sprei rumah sakit. "Kamu tetep Bima yang paling kuat yang aku kenal. Dari dulu pas SD, sampai sekarang."
Bima memejamkan matanya sejenak, menahan rasa sakit yang amat sangat di dalam dadanya. Kemudian, ia merogoh sesuatu dari bawah bantalnya dengan gerakan lambat. Bima mengeluarkan gasing kayu berwarna merah itu dan meletakkannya di telapak tangan Arlan, tepat di samping gasing biru yang selalu dibawa Arlan dalam tasnya.
"Satu buat kamu... satu lagi... tetep buat kamu," desah Bima, napasnya makin memburu dan melemah. "Jaga dua-duanya ya, Lan..."
"Bim, jangan ngomong gitu! Kamu harus sembuh! Kita kan belum jalan-jalan lagi, kita belum lulus bareng!" jerit Arlan dalam tangisnya.
Bima menatap Arlan untuk terakhir kalinya. Ada kedamaian yang luar biasa di dalam matanya, seolah seluruh beban hidup yang menindih bahunya selama bertahun-tahun kini telah terangkat.
"Makasih ya, Lan... udah jadi sahabat aku. Janji kelingking kita... udah tuntas..."
Monitor detak jantung di samping ranjang mendadak mengeluarkan suara kurva lurus yang memekakkan telinga. Garis hijau di layar menjadi rata. Tangan Bima yang berada di dalam genggaman Arlan terkulai lemas, kehilangan seluruh hangatnya.
"Bima? Bima! Jangan bercanda, Bim! BIMA!"
Jeritan Arlan memecah kesunyian kamar ICU, namun pemuda dengan gingsul di bibirnya itu telah memejamkan mata selamanya. Bima pergi dengan tenang, meninggalkan senyum tipis yang terpatri di wajahnya.
Tahun-tahun berlalu setelah hari yang kelam itu. Arlan menyelesaikan kuliahnya dan kini bekerja sebagai seorang penulis.
Di atas meja kerjanya yang tertata rapi, berdiri sebuah kotak kaca kecil. Di dalam kotak itu, dua buah gasing kayu satu berwarna biru dan satu berwarna merah berdiri berdampingan. Catnya boleh memudar dan kayunya boleh melapuk ditelan usia, namun ikatan di antara keduanya tak pernah runtuh.
Setiap kali hujan turun di pertengahan November, Arlan akan berdiri di depan jendela, memandangi langit yang kelabu sambil tersenyum tipis. Ia tahu, Bima tidak benar-benar hilang. Sahabat kecilnya itu hanya sedang menunggunya di peron yang lain, di ujung perjalanan panjang yang kelak akan diselesaikan oleh Arlan sendiri.