Disukai
0
Dilihat
11
Bayangan di Atas Atap
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Hujan turun sejak pagi ketika aku pertama kali naik ke atap rumah kontrakan itu. Aku hanya ingin memperbaiki antena yang sudah goyang sejak seminggu lalu. Tangga kayu berderit di setiap anaknya. Begitu sampai di atas, aku melihat seseorang sudah duduk di ujung atap, memegang payung kecil yang hampir robek.

Dia menoleh. Wajahnya basah, rambutnya menempel di dahi. “Maaf,” katanya pelan. “Aku kira tidak ada orang yang naik ke sini.”

Aku tidak menjawab langsung. Hanya duduk di seberangnya, membiarkan hujan membasahi baju. “Kamu tinggal di nomor berapa?” tanyaku akhirnya.

“Empat B. Kamu?”

“Tiga A.”

Namanya Nara. Dia baru pindah dua minggu lalu. Setiap sore, kalau hujan tidak terlalu deras, dia naik ke atap untuk menulis di buku kecil. Aku sering melihatnya dari jendela kamarku. Awalnya hanya iseng. Lalu menjadi kebiasaan.

Suatu sore aku membawa dua gelas teh hangat. “Biar tidak kedinginan,” kataku sambil menyerahkan satu gelas.

Dia tersenyum kecil. “Terima kasih.”

Kami duduk berdua tanpa banyak bicara. Hanya suara hujan dan derit seng yang sesekali terdengar. Nara membuka buku catatannya, lalu menutupnya lagi.

“Kamu selalu menulis apa?” tanyaku.

“Hal-hal yang tidak bisa kukatakan di bawah,” jawabnya. “Di atas sini rasanya lebih aman.”

Aku mengangguk. Aku sendiri sering naik ke atap hanya untuk menghindari kebisingan kontrakan. Tetangga yang bertengkar, anak-anak yang berlarian, radio yang dinyalakan terlalu keras. Di atas, semuanya terdengar jauh.

Minggu-minggu berikutnya kami sering bertemu di tempat yang sama. Kadang membawa makanan, kadang hanya duduk diam. Nara bercerita tentang pekerjaan di toko kain yang membuatnya lelah setiap hari. Aku bercerita tentang pekerjaan serabutan yang tidak pernah pasti. Perlahan, percakapan menjadi lebih mudah.

Suatu malam langit cerah. Tidak ada hujan. Nara datang membawa selimut tipis. “Hari ini tidak basah,” katanya sambil tersenyum.

Kami berbaring telentang, menatap bintang yang jarang terlihat di kota. Tangannya dekat dengan tanganku. Aku tidak bergerak. Dia juga tidak.

“Aku takut turun,” bisiknya tiba-tiba. “Karena di bawah, semuanya terasa lebih sulit.”

Aku menoleh. “Kita bisa bawa sedikit bagian atas ini ke bawah.”

Nara tertawa pelan. “Bagaimana caranya?”

“Dengan tidak berpura-pura kuat sepanjang waktu.”

Dia diam lama. Lalu memegang tanganku. Dingin, tapi pasti.

Keesokan harinya Nara tidak naik ke atap. Aku menunggu sampai magrib. Tidak ada. Keesokan harinya juga tidak. Aku mulai khawatir. Akhirnya aku mengetuk pintu 4B.

Nara membuka. Matanya sembap. “Ibu telepon. Ayah sakit. Aku harus pulang kampung sebentar.”

Aku mengangguk. “Kapan berangkat?”

“Besok pagi.”

Malam itu kami naik ke atap untuk terakhir kali sebelum dia pergi. Nara membawa buku catatannya. “Simpan ini,” katanya. “Jangan dibaca sekarang. Nanti saja, kalau aku sudah kembali.”

Aku menerima buku itu. “Kamu pasti kembali?”

Dia mengangguk. “Aku janji.”

Tiga minggu berlalu. Buku itu tetap utuh di mejaku. Aku tidak membukanya. Setiap sore aku masih naik ke atap, duduk di tempat yang sama, menunggu.

Pada suatu sore yang gerimis, pintu atap berderit. Nara muncul, membawa payung yang sama. Wajahnya lebih kurus, tapi senyumnya masih ada.

“Aku kembali,” katanya sederhana.

Aku berdiri. “Ayahmu bagaimana?”

“Sudah lebih baik. Ibu bilang aku boleh kembali kalau sudah tidak khawatir lagi.”

Kami duduk berdampingan. Nara membuka buku yang kukembalikan. Di halaman terakhir ada tulisan baru yang dibuatnya sebelum pergi:

Kalau suatu hari aku tidak sempat bilang, ketahuilah bahwa atap ini adalah tempat pertama kali aku merasa tidak sendiri.

Aku membaca dalam hati. Lalu menatapnya. “Sekarang kamu sudah bilang.”

Nara tersenyum. “Sekarang kita bisa turun bersama.”

Kami turun dari atap sambil bergandengan tangan. Hujan masih turun pelan, tapi tidak ada yang membuka payung. Di bawah, suara kontrakan masih ramai. Tapi untuk pertama kalinya, keramaian itu tidak terasa mengganggu.

Sejak hari itu, kami masih sering naik ke atap. Bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk mengingat bahwa ada tempat di mana kami pernah belajar saling percaya. Dan setiap kali hujan datang, aku tahu Nara akan ada di sana, di ujung atap yang sama, menunggu tanpa perlu banyak kata.

Sejak hari itu, atap bukan lagi tempat pelarian. Kami tetap naik ke sana, tapi sekarang dengan alasan yang berbeda. Kadang untuk sekadar minum teh bersama, kadang untuk membaca buku masing-masing dalam diam yang nyaman. Hujan tetap menjadi teman setia, kadang deras, kadang gerimis, tapi tidak pernah lagi terasa seperti alasan untuk bersembunyi.

Nara mulai membuka lebih banyak tentang dirinya. Tentang ayahnya yang keras kepala, tentang ibunya yang selalu khawatir, tentang mimpi-mimpi kecil yang dulu ia pendam. Aku pun bercerita tentang masa laluku—tentang kegagalan yang membuatku lari ke kota ini, tentang rasa takut yang tidak pernah aku akui pada siapa pun. Di atap itu, kami saling membuka luka, dan hujan seolah mencuci semuanya tanpa menghakimi.

Suatu hari, Nara membawa sebuah pot kecil berisi tanaman. “Biar atap ini punya penghuni tetap,” katanya sambil meletakkannya di sudut. Aku tertawa. Tapi sejak itu, kami bergantian menyiraminya. Tanaman itu tumbuh subur, daunnya hijau segar, seolah menantang cuaca yang tidak menentu.

Pekerjaan Nara di toko kain berakhir. Ia sempat murung beberapa hari, tapi kemudian ia mulai menjahit dari rumah. Aku sering melihatnya duduk di dekat jendela, mesin jahit berdentang pelan, sementara aku sibuk dengan pekerjaan serabutanku. Kami tidak selalu bersama, tapi kami tahu satu sama lain ada.

Suatu malam, Nara bertanya, “Kamu pernah berpikir untuk tinggal di tempat yang lebih layak?”

Aku menatap langit-langit atap yang bocor di beberapa tempat. “Sesekali.”

“Aku sedang menabung,” katanya pelan. “Kalau nanti cukup, aku ingin pindah ke tempat yang ada balkonnya. Biar tidak perlu naik tangga kayu yang berderit.”

Aku tersenyum. “Dan aku akan membantu membawa pot tanaman itu.”

Nara tertawa. Tawa yang sudah lama tidak kudengar secerah itu.

Beberapa bulan kemudian, kami mengemas barang-barang. Kontrakan itu tetap ramai seperti dulu, tetangga yang bertengkar, anak-anak yang berlarian, radio yang terlalu keras. Tapi kami tidak lagi merasa terganggu. Kami hanya tersenyum, saling menggenggam tangan, lalu menutup pintu untuk terakhir kali.

Di tempat baru, ada balkon kecil yang menghadap ke arah barat. Sore itu, hujan turun pelan. Kami duduk di sana, dua gelas teh hangat di meja kecil, tanaman dari atap lama tumbuh di pot yang lebih besar.

Nara membuka buku catatannya. Halaman terakhir sudah penuh, jadi ia membuka halaman baru. “Sekarang aku menulis di sini,” katanya. “Tidak perlu naik ke atap lagi.”

Aku menatapnya. “Tapi kalau kangen, kita bisa naik ke atap lagi?”

Nara tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahuku. “Kapan saja.”

Hujan masih turun, dan untuk pertama kalinya, aku tidak ingin ke mana-mana.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi