Budi menatap ke arah rumah tetangga di sebelah utara. Di sana, Ibu Maya sedang menyusun buku-buku di rak kayu yang terletak di teras rumahnya. Cahaya matahari sore yang lembut menerpa wajahnya yang masih muda meskipun sudah berusia tiga puluh lima tahun. Rambut coklatnya yang panjang diikat dengan ikat kepala berbunga kecil, dan tangan kanannya yang memegang buku bergerak dengan lembut seperti sedang menyentuh sesuatu yang sangat berharga.
Sudah lima tahun Budi menikah dengan Tina. Pernikahan mereka dulunya penuh warna – mereka sering jalan-jalan bersama, menonton film setiap akhir pekan, dan saling memberikan kejutan kecil setiap hari ulang tahun. Namun semenjak Tina mendapatkan promosi menjadi manajer di perusahaan tempatnya bekerja, segalanya berubah. Waktunya terbuang untuk kerja, perjalanan bisnis, dan pertemuan yang tak ada habisnya. Malam-malam yang tadinya diisi dengan cerita dan candaan, kini hanya diisi oleh suara keyboard yang mengetuk tanpa henti dan lampu kamar yang menyala hingga larut malam. Budi merasa seperti seorang tamu yang tinggal sementara di rumah sendiri.
Ibu Maya adalah istri Pak Anton, seorang dokter yang bekerja di rumah sakit umum kota ini. Pak Anton sering bekerja shift malam dan akhir pekan, sehingga Ibu Maya seringkali sendirian di rumah. Sejak mereka menjadi tetangga setahun yang lalu, Budi sering melihat Ibu Maya sendirian – kadang membaca buku di teras, kadang merawat taman bunga di halaman depan, dan kadang hanya duduk melihat jalan raya dengan ekspresi kosong di wajahnya.
Awalnya, pertemuan mereka hanya sebatas saling menyapa saat berpapasan di gang kompleks perumahan. "Hai, Mas Budi," ujar Ibu Maya dengan senyum yang hangat tapi menyimpan kesendirian. "Hai juga, Bu Maya," jawab Budi dengan senyum yang sama-sama penuh kesepian. Tapi lama kelamaan, sapaan itu berkembang menjadi obrolan singkat tentang buku yang mereka baca, film yang mereka tonton, atau cerita tentang kehidupan sehari-hari.
Suatu sore, Budi sedang duduk di teras rumahnya memperbaiki jam dinding yang rusak. Ia sudah mencoba beberapa kali tapi belum berhasil. Tiba-tiba, ia mendengar suara dari arah rumah Ibu Maya.
"Mas Budi, apakah kamu kesusahan memperbaiki jam itu?" tanya Ibu Maya yang sedang berdiri di pagar tembok yang memisahkan rumah mereka berdua. "Kalau boleh, saya bisa membantu. Suami saya dulu mengajari saya sedikit tentang perbaikan jam."
Budi merasa terkejut tapi juga senang. Ia mengangguk dan memberikan jam itu kepada Ibu Maya yang menjulurkan tangannya melalui celah pagar. Tangan Ibu Maya yang lembut menyentuh tangan Budi sebentar saat mengambil jam itu. Sentuhan itu terasa hangat dan membuat hati Budi berdebar kencang.
Dalam beberapa menit, Ibu Maya sudah berhasil memperbaiki jam itu. "Selesai, Mas. Coba dinyalakan saja," ujarnya dengan senyum bangga. Budi mencoba menyalakannya dan benar saja, jam itu berjalan dengan normal lagi.
"Makasih banyak, Bu Maya. Kamu benar-benar menyelamatkan jam kesayangan saya ini," ucap Budi dengan penuh rasa terima kasih.
"Dalam hal ini, saya hanya menerapkan apa yang diajarkan suami saya," jawab Ibu Maya dengan senyum yang sedikit patah hati. "Sayangnya sekarang dia jarang punya waktu untuk hal-hal kecil seperti ini."
Dari situlah, hubungan mereka semakin erat. Mereka mulai sering bertemu di pagar tembok yang sama, berbagi cerita dan pengalaman hidup. Ibu Maya bercerita tentang bagaimana rasanya hidup sendirian di rumah yang besar, tentang betapa ia merindukan momen-momen kecil bersama suaminya yang selalu sibuk menyelamatkan nyawa orang lain tapi terlupakan untuk merawat hubungan rumah tangganya sendiri. Budi pun berbagi tentang kesepiannya di tengah kesibukan rumah tangganya yang sepi, tentang betapa ia merindukan perhatian Tina yang semakin fokus pada karirnya.
"Ada kalanya saya merasa tidak berharga sebagai istri," ujar Ibu Maya suatu sore, sambil memetik bunga mawar dari tamannya. "Padahal saya sudah berusaha sebaik mungkin untuk menjaga rumah dan menjadi istri yang baik."
Budi menggeleng perlahan. "Tidak mungkin begitu, Bu Maya. Kamu wanita yang luar biasa – pintar, cantik, dan penuh kasih sayang. Mungkin Pak Anton hanya terlalu fokus pada pekerjaannya sehingga terlupa akan kebutuhanmu sebagai istri."
Kata-kata itu membuat Ibu Maya menatapnya dengan mata yang penuh emosi. Ada kesedihan, ada harapan, dan ada sesuatu yang lain yang membuat hati Budi terasa seperti akan meledak.
Hari demi hari, kedekatan mereka semakin meningkat. Mereka mulai saling memberikan hadiah kecil – kadang Ibu Maya memberikan buku yang ia pikirkan akan disukai Budi, kadang Budi memberikan tanaman hias yang ia tanam sendiri untuk Ibu Maya. Suatu malam, saat Tina sedang keluar kota untuk menghadiri konferensi bisnis nasional, Budi sedang duduk di ruang tamu membaca buku yang diberikan Ibu Maya. Tiba-tiba, ia mendengar suara mengetuk lembut di jendela ruang tamu.
Ketika ia membuka tirai, ia melihat wajah Ibu Maya yang sedang menatapnya dengan mata penuh kerinduan. "Mas Budi, saya bisa masuk sebentar saja?" bisiknya.
Budi tanpa berpikir panjang membuka pintu. Ibu Maya masuk dan langsung memeluknya erat. Tubuhnya yang lembut dan wangi dengan aroma parfum bunga mawar membuat Budi lupa akan segalanya. Tanpa berkata apa-apa, mereka saling mencium dengan penuh hasrat, seperti dua orang yang telah lama terpisah.
Setelah itu, hubungan mereka berlanjut dalam rahasia yang sangat ketat. Mereka bertemu saat pasangan masing-masing tidak ada di rumah – saat Tina bekerja lembur atau keluar kota, dan saat Pak Anton sedang tugas malam di rumah sakit. Setiap pertemuan mereka penuh dengan kehangatan dan rasa dipahami yang sudah lama mereka cari. Namun di balik semua itu, rasa bersalah semakin membengkak setiap kali Budi melihat foto keluarga di dinding rumahnya, atau setiap kali Ibu Maya menunjukkan foto liburan bersama Pak Anton yang tersimpan di albumnya.
Suatu hari, saat mereka sedang bersama di ruang tamu rumah Budi, Budi melihat sebuah kaca bolong kecil di atas meja tamu. Kaca itu sepertinya terkelupas dari sebuah bingkai foto yang pernah ia jatuhkan beberapa hari lalu. Ia mengambil kaca bolong itu dan melihat ke arah jendela melalui kaca itu. Dunia di luar terlihat sedikit berbeda – warna-warni terlihat lebih intens, tapi ada bagian yang kabur dan tidak jelas.
"Saya sering melihat dunia melalui kaca bolong seperti ini saat saya merasa bingung," ujar Ibu Maya yang melihat apa yang dilakukan Budi. "Terlihat menarik dan berbeda, tapi sebenarnya itu hanya ilusi belaka."
Kata-kata itu seperti batu yang melesat ke dalam hati Budi yang tenang. Ia menyadari bahwa hubungan mereka seperti dunia yang terlihat melalui kaca bolong – terlihat indah dan menarik dari kejauhan, tapi sebenarnya hanyalah ilusi yang akan menghilang begitu kaca itu diangkat. Ia juga menyadari bahwa kaca bolong itu bukan hanya melukiskan dunia di luar, tapi juga mencerminkan keadaan hati mereka berdua – penuh dengan cacat dan kerusakan yang membuat mereka melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat.
Saat itu juga, pintu rumah dibuka dan Tina masuk dengan tangan penuh oleh makanan. "Sayang, aku pulang lebih awal! Aku membeli makanan kesukaanmu dari warung favorit kita lho," ujar Tina dengan senyum ceria yang belum pernah ia lihat selama beberapa bulan terakhir. Di tangannya juga ada sebuah bingkai foto baru yang berisi foto mereka berdua saat masih pacaran. "Aku juga sudah memperbaiki bingkai foto yang rusak tadi. Biar kita selalu ingat kenangan indah kita bersama ya."
Air mata tiba-tiba menggenang di mata Budi. Ia melihat Ibu Maya yang sedang berdiri di belakangnya, mata mereka saling bertemu. Mereka sama-sama mengerti bahwa saatnya telah tiba untuk mengakhiri hal yang salah ini. Kaca bolong di atas meja itu menjadi pengingat bagi mereka berdua bahwa cinta yang dibangun di atas kebohongan dan pengkhianatan hanyalah ilusi yang tidak akan pernah bertahan lama. Yang sesungguhnya berharga adalah cinta yang ada di depan mata mereka, cinta yang mungkin sudah terlupakan namun masih bisa diperbaiki jika mereka mau berusaha.
Budi mengambil tangan Ibu Maya dengan lembut. "Terima kasih untuk segalanya, Bu Maya. Tapi kita harus berhenti di sini. Kita punya keluarga yang mencintai kita, keluarga yang layak kita jaga dengan sepenuh hati."
Ibu Maya mengangguk perlahan, air mata juga mengalir di pipinya. "Kamu benar, Mas Budi. Kita sudah salah jalan terlalu jauh. Sekarang saatnya kita kembali ke jalan yang benar."
Setelah Ibu Maya pergi, Budi mengambil kaca bolong itu dan memecahnya dengan hati-hati di atas ember sampah. Potongan-potongan kaca yang berantakan itu seperti simbol hubungan mereka yang telah berakhir – menyakitkan untuk dipecahkan, tapi perlu dilakukan agar mereka bisa melihat dunia dengan jelas
dan menemukan kembali cinta yang sesungguhnya.