Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
64
Rahasia Ombak Kenjeran
Romantis

Pantai Kenjeran selalu jadi pelarian akhir pekan. Aku, Hadi, 38 tahun, nelayan di perahu ikan kecil. Istriku, Yuni, 35 tahun, penjual kerupuk di pasar ikan. Kami menikah muda, punya anak perempuan, Lila, 12 tahun, yang pintar nyanyi dangdut. Rumah panggung kami di pinggir pantai, berhadapan dengan rumah tetangga anyar: sepasang ibu-anak, Susi dan putranya, Dika, 15 tahun.

Susi, 33 tahun, katanya baru pindah dari Madura setelah bercerai. Tubuhnya kurus, rambut ikal sebahu, dan matanya selalu sayu seperti ombak pasang. Awalnya, pertemuan biasa: pinjam garam, tukar ikan segar. Lila suka main sama Dika, main layar-layar di pantai. Yuni ajak Susi masak bareng, bikin urap-urap. Aku? Mulai notice Susi saat dia bantu angkat jaring ikan, tangannya kuat meski lembut.

Cinta menyusup diam-diam. Saat bulan purnama, kami duduk di dermaga, ngobrol sambil mancing. "Hidup nelayan capek ya, Mas Hadi," katanya. Aku cerita badai yang hampir bunuh aku tahun lalu. Dia cerita mantan suaminya yang judi, tinggalkan hutang. "Aku iri sama Yuni, punya suami setia," bisiknya. Jantungku berdegup. Malam demi malam, kami curi waktu: jalan pantai saat Yuni tidur, bisik janji kosong di balik pohon kelapa.

Tak ada sentuhan lebih, tapi hati sudah miliknya. Aku bayangin tinggalin Yuni, bawa Lila ke rumah Susi. Yuni curiga, "Kamu sering ke dermaga malam-malam, ada apa?" Aku bilang buru ikan. Lila sakit demam tinggi suatu hari. Susi bawa obat dari puskesmas, urus Lila semalaman. "Kamu hebat, Sus," kataku. Matanya bertemu, penuh arti.

Twist datang seperti ombak tinggi. Saat Lila sembuh, Dika tunjukkan foto lama di ponselnya: "Ini Bapak gue dulu." Wajah di foto? Mirip aku muda, tapi bukan aku. Malam itu, Susi datang panik. "Mas Hadi, Dika bilang kamu mirip bapaknya. Sebenarnya... Dika anakmu." Dunia berhenti. 16 tahun lalu, sebelum nikah Yuni, aku pacaran singkat dengan adik Susi di Madura. Dia hamil, tapi bunuh diri karena malu. Susi ambil anaknya, bilang suaminya sendiri.

"Aku pindah ke sini cari kamu, Mas. Dari cerita adikku. Aku cinta kamu sejak dulu, karena adikku," katanya menangis. Cinta? Bukan asmara biasa, tapi ikatan darah dan dendam tersembunyi. Aku gemetar. "Kenapa baru sekarang?" Dia cerita: cari aku bertahun-tahun, akhirnya tahu dari teman nelayan.

Yuni dengar semuanya dari balik pintu. "Jadi Dika anakmu?!" jeritnya. Lila terkejut, peluk ibunya. Aku jelaskan: tak pernah tahu. Susi minta maaf, "Aku cuma mau Dika kenal bapaknya." Malam itu, keluarga hancur. Yuni packing, bawa Lila ke rumah orangtuanya. Aku sendirian, hadapi ombak yang menderu.

Pagi harinya, aku ke rumah Susi. "Pergi dari sini. Jangan rusak hidupku lebih jauh." Tapi Dika peluk kakiku, "Pak, aku mau tinggal sama Papa." Hati lunak. Kami tes DNA di klinik Surabaya—positif. Susi mundur, "Aku cuma pengantar. Cinta adikku buat kamu, sekarang buat Dika."

Yuni kembali seminggu kemudian, setelah omong panjang. "Aku maafin, asal Dika bagian keluarga." Kami adopsi Dika resmi. Susi pindah ke Semarang, buka warung makan, kirim kabar sesekali. Cinta pada Susi? Hilang, diganti rasa bersalah dan tanggung jawab. Kini, pantai Kenjeran jadi saksi: Hadi, Yuni, Lila, dan Dika mancing bareng. Ombak bisik rahasia yang terungkap, menyatukan bukan memisah.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi