Permukaan air yang tenang, mendadak berkecipak. Membuat Katya yang tenggelam dalam lamunan, terlonjak. Buru-buru disusutnya sudut matanya yang basah dan menyambar kamera. Dengan jantung berdegup kencang, Katya membidik gelombang air yang makin membesar di permukaan danau.
Bersiap....
Tapi… sampai sekian menit kemudian, tak ada sesuatu pun yang terjadi. Loch Ness tetap muram dan sedikit berkabut. Tak ada sosok mengerikan berwujud naga prasejarah yang muncul dari dasar danau.
Dengan dada berdebar was-was, Katya mengawasi Loch Ness hingga ke tengah danau. Tapi lagi-lagi, hanya kesunyian yang tertangkap matanya menyelimuti tempat itu.
Mendadak, suara tawa yang menyebalkan memecah keheningan. Katya terkejut. Langsung menoleh dan segera saja sadar apa yang sebenarnya terjadi. Dia berbalik dengan marah.
“Brengsek, Dave! Sekali lagi begitu, aku ceburin kamu ke Loch Ness saat itu juga!” umpat Katya jengkel. “Nessie pasti gembira bisa dapat santapan lezat hari ini.”
Lagi-lagi cowok itu terbahak, seraya keluar dari persembunyiannya di rerimbunan semak, di belakang Katya. Beberapa batu kerikil dalam tangannya dipermainkannya lempar-tangkap. Dia menyeringai pada gadis yang tengah menatapnya berapi-api itu.
Katya melengos.
“Poor, Kate.” Dihempaskannya tubuh di samping gadis itu. “Sayang sekali, Nessie gak sebego itu, dia tau bisa sakit perut kalo nekad makan aku.” David meringis. “Lagian apa iya, monster itu suka makan orang??”
“Mau cobaa??!!”
Katya membuat gerakan seperti akan mendorong cowok itu ke danau. David mengelak sambil ketawa. Katya makin kesal. Menekuk mukanya dan memandang lurus, menolak menatap cowok di sampingnya. David meliriknya, lalu menghela napas.
“Don’t be angry, Kate. Dengar... sudah sekian abad, bahkan sampai hari ini, keberadaan Nessie masih teka-teki. Nggak ada yang bisa benar-benar memastikan kalau makhluk prasejarah itu benar-benar nyata. It’s a folk, Babe.”
“565 masehi, St.Columba,” cetus Katya seperti mengingatkan David. “Pendeta bukan tukang bohong, kan?”
“Ah, catatan biografi pendeta St.Columba yang ditulis St. Adamnan; St.Columba memergoki seekor binatang raksasa mengganggu seorang muridnya yang sedang berperahu di Loch Ness dan menyuruh makhluk itu pergi dan tak menganggu manusia lagi! Dan Nessie yang malang patuh dan menghilang....”
“Sampai berabad-abad kemudian.” Katya melirik David, “Keliatannya meski nggak mau ngaku, ada yang mengerjakan pe-er sejarah-nya dengan baik.”
David tergelak mendengar sindiran Katya.
“Kate, tahun 565 masehi! Sudah lebih dari seribu tahun lalu!” ujar David. “Apa pun mungkin saja ada jaman itu.” David memandang Katya serius. “Tapi... apa pun yang ada pada jaman itu, bisa saja sekarang sudah punah, kan?”
“Insting pertama makhluk hidup,” ingat Katya. “Tersimpan di gen kita turun-temurun.”
David nyaris tersenyum mendengar teka-teki Katya.
“Bertahan hidup,” sahutnya mengikuti permainan Katya.
Katya mengangguk, “Beberapa tumbuhan sengaja menggugurkan daunnya supaya bisa berbunga yang akan menciptakan bakal tumbuhan baru. Beberapa hewan bisa berhibernasi. Bahkan manusia juga melakukannya, Dave.”
“Apa? Berhibernasi?” goda David. “Sori, tapi betapa pun lucunya, aku gak mau disamain sama Winnie the Pooh, tuh.”
“Winnie the Pooh??” Katya mengerutkan kening bingung, sebelum kemudian tersadar kalau David cuma menggodanya. Katya mendelik. “David, aku bukan ngomongin beruang madu!”
David terkekeh. Winnie the Pooh memang karakter kartun dari beruang madu.
“Iya, deh, sepupu jauhnya: si beruang kutub, yang berhibernasi,” katanya di sela tawa. “Hobi yang unik, tidur sepanjang musim dingin. Dan aku gak bisa membayangkan aku seperti itu.”
“David....”
“OK, OK, sori... menggodamu sudah jadi kebiasaan sih.” David nyengir. “Aku tau yang kamu maksud, Kate. Insting terbesar manusia adalah bertahan hidup dan menghindari kepunahan. Itu sebabnya orang tua kita punya kita....”
“Regenerasi,” angguk Katya.
“Jadi yang ingin kamu katakan dari tadi itu... kalau apa pun yang mungkin ada di dalam sana...,” David melemparkan sebuah batu ke danau sekuat tenaga, “bisa jadi adalah cicit kesekiannya makhluk yang dilihat St.Columba?”
“Siapa yang tahu.” Katya mengangkat bahunya. “Dengan kenyataan makhluk hidup yang bertahan ialah makhluk hidup yang bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Bisa saja kan, keturunan Dinosaurus jenis Plesiosaurus yang diduga nenek moyang Nessie, melakukan hal yang sama?”
“Ah, Darwinisme. Seleksi alam.” David manggut-manggut. “Aku bukan penganut teori Darwin dan gak tertarik untuk mendebatkannya.”
David melirik Katya sekilas, sebelum matanya meraup pemandangan di depannya.
“Aku cuma gak habis pikir dengan kegilaan yang sudah berlangsung berabad-abad ini. Bukannya hilang seiring waktu, malah semakin kuat.” David mendecih. “Dan lucunya orang-orang di sini percaya itu juga. Bukan hanya turis yang hobi bawa kamera atau camcoder kemana-mana, seperti takut kecolongan moment berharga bisa mengabadikan Nessie saja.”
“Ouh, jangan mencemooh, Dave!” kecam Katya sengit. “Dasar orang London skeptis! Belajarlah menghargai tanah leluhur ibumu."
“Sweety,” potong David sabar. Senang melihat Katya mengerut ngeri mendengar panggilan ‘manisnya’. “Kamu lebih nggak taunya dari aku soal negeri bag pipe ini. Jangan-jangan yang kamu tau cuma soal rok tartan— motif kotak-kotak,” godanya.
“Heii!” Katya mendelik. “Aku emang gak setau kamu soal negeri para Highlander ini, tapi di Indonesia, hal-hal yang aneh masih hidup berdampingan dengan teknologi modern, My Lord.”
David tergelak. Tangannya otomatis melayang mengacak rambut Katya, membuat gadis itu menjerit protes sambil menjauhkan diri.
“Ah, sudahlah... gak akan ada habisnya kalo kita berdebat, Kate,” katanya sambil menyeringai. “Dan entah kenapa aku selalu tergoda untuk mengajakmu bertengkar.” David berdiri. “Grandma yang memintaku menjemputmu di sini.”
Katya menengadah heran.
“Katanya besok mau jalan ke cagar budaya dan wisata alam Skotlandia yang membentang empat belas ribu are, melewati perbukitan, sungai, hingga pegunungan Glen Evite sampai Glen Cloe, kan?” David melirik jam tangannya, lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar. “Sekarang sudah sore. Kalo gak istirahat, besok kita bisa kesiangan.”
David mengulurkan tangannya. Tapi Katya masih enggan meninggalkan tempat itu.
“Kate, ayolah!” desaknya. “Sebentar lagi kabut turun makin tebal. Kita bisa terjebak di tengah kabut dan sulit menemukan jalan pulang nanti!”
David menarik lengan gadis itu, membantunya bangkit. Kali ini Katya terpaksa menurut dan bergegas menjejeri langkah David.
***
Mereka meriung di depan perapian. Nenek duduk di bangku besar dengan sebuah album foto di pangkuannya. Tiga kepala mengelilinginya dengan celoteh-celoteh lucu. Sesekali tangan mereka menunjuk-nunjuk foto di dalam album.
Sementara Katya sendiri, memilih sedikit memisahkan diri di dekat perapian. Duduk diam dengan satu tangan memeluk lutut, sambil mengais-ngais bara api dengan sebatang tongkat. Tak dihiraukannya seruan sepupu-sepupu jauhnya untuk bergabung. Rasanya liukan lidah api lebih menarik, ketimbang memelototi wajah-wajah dari masa lalu yang tak dikenalnya.
Gadis itu memejamkan matanya sekejab. Melerai gejolak pedih di relung hatinya. Bukan tanpa alasan dia menginjakkan kaki di bumi Skotlandia ini. Sudah tiga jalinan kasih yang dibinanya hancur begitu saja. Semua karena ketidak-cocokan yang rasanya selalu saja jadi tameng untuk mengurai benang merah di hatinya. Dan Katya tak percaya cinta lagi.
“Katyaa...!”
Gwen melambaikan tangan, mengajaknya bergabung.
“Coba liat ini!” Gwen menunjuk ke album foto. “Ada mommy kita berempat waktu kecil! Lucu-lucu banget....”
Katya menggeleng. Dia tak yakin sanggup basa-basi sekarang.
Empat pasang mata kini memandangnya keheranan. David bahkan memelototinya, mengisyaratkannya untuk menuruti ajakan Gwen. Nenek tidak mengatakan apa-apa, tapi mata tuanya yang lembut seperti mengerti keengganannya. Mom mungkin sudah bercerita pada Grandma, duga Katya sebal. Dasar Mom!
Tapi David sepertinya bukan orang yang mudah dibuat mengerti. Melihat dia bersikeras tetap di tempatnya, David berdiri dan menghampirinya dengan langkah cepat.
“Heii!” protesnya saat David menyentakkannya hingga berdiri dan menyeretnya secara paksa ke tempat mereka. “Dave?”
“Egois!” desis David di telinganya, pelan. Hingga Katya yakin cuma dia yang mendengarnya di ruangan itu.
Sekali lagi Katya merasakan kejengkelannya meluap. Matanya menyipit kesal. Mengira-ngira makian apa yang pantas dilontarkannya pada cowok itu. Tapi sebelum kalimat apa pun keluar dari mulutnya, David sudah menekan bahunya untuk duduk di samping Nenek.
Oh, shit! Lagi-lagi Katya ingin memaki David. Ini sama saja pemerasan emosi. Biarpun ia tahu Nenek memahami keinginannya untuk menyendiri, tapi ia pasti tak akan tega untuk kabur begitu saja dari wanita tua yang pernah mengurus mamanya ini.
Katya memelototi David. Tapi cowok itu seperti sengaja pura-pura tak melihatnya. Ingin sekali rasanya dia mengeplak kepala cowok itu dengan album besar yang disodorkan Gwen ini. Tapi tidak, dia terpaksa harus mengurungkan niatnya itu karena tak mau membuat rusak properti kesayangan Nenek.
Tawa James yang khas menghentikan segala rancangan balas dendam yang bersileweran di kepalanya. Katya mendongak dan melihat adik Gwen itu meringis memandangnya.
“Kalian serasi sekali.”
“Hee?”
Katya mengira dia salah dengar. Tapi melihat David nyaris tersedak minumannya sendiri, tahulah ia kalau omongan James barusan bukan imajinasinya semata.
O, yang bener aja! Dilihat belah mananya? pikir Katya sengit. Tapi baru saja ia mau menyemprot James, mendadak David tertawa. Katya meliriknya. Apanya yang lucu sampai tertawa begitu? Heh, dasar idiot!
Katya terkesiap ketika David tiba-tiba menariknya mendekat, hingga kepala mereka nyaris bersentuhan.
“Menurutmu begitu, Rines?” tanyanya pada James, sambil mengedipkan mata.
“Nggak lucu!”
Katya meradang, mengentakkan dirinya dari David. Tapi lengan David yang melingkari bahunya seperti kepiting mencapit mangsa.
Katya tak berkutik. Kalau David bukan cucu langsung Nenek— yang berarti sepupu jauhnya— dan dia tak tau batang silsilah keluarga mereka, mungkin Katya akan dengan senang hati menduga DNA cowok ini terkontaminasi DNA makhluk atropoda itu.
“Hei, kalian, berhentilah mengganggu Katya!” seru Gwen sambil mengerling ke arah Nenek, memperingatkan kedua cowok itu.
Gwendoline memang yang paling tua di antara mereka semua. Dan aku yang termuda, keluh Katya dalam hati, sehingga sering jadi bahan olok-olok mereka.
“O, Grandma sih gak pa-pa,” balas adiknya. “Ya, Grandma?” rajuk James sambil merangkul Nenek dan mengecup sekilas rambut putihnya.
Dasar perayu! pikir Katya sengit. Ingat Gwen pernah menceritakan cewek-cewek yang rela antri untuk adik cowoknya itu di kampusnya di University of Edinburgh.
Nenek tertawa. “Tapi sepupumu bisa-bisa langsung mengangkat kopernya pulang ke Indonesia besok, kalo kamu terus menggodanya, James.”
“O, dia gak akan berani, Grandma. Dia itu cewek yang kelewat baik, nggak seperti cucu Grandma yang lain,” David menunjuk dirinya sendiri dan dua bersaudara Rines dengan lagak dramatis. “Dia gak akan berani mengecewakan Aunty Emma dengan minggat begitu aja besok tanpa berhasil memotret satu Nessie pun di Loch Ness.”
David memandang Nenek serius.
“Lagipula Grandma, dimana lagi tempat paling cocok untuk menyembuhkan hati yang luka selain di sini?”
Kemarahan Katya sudah nyaris mencapai ubun-ubun. Dia berusaha menahan dirinya mati-matian untuk tidak menerjang cowok menyebalkan itu!
Oh, ya, ampun, seandainya David bukan sepupunya, sungguh, dia kepengen sekali mengumpankan cowok itu untuk Nessie! Mungkin saja monster itu akan bersedia memamerkan dirinya terang-terangan untuk mengabsahkan keberadaannya setelah lebih dari 1500 tahun kehidupannya diperdebatkan, kalau diberi umpan cowok bernama David Alder itu.
“Ya, ya,” desis Katya. “Terus saja ngomong seperti aku gak ada. Orangnya lagi ke Jawa ini,” gerutu Katya tanpa sadar dengan bahasa ayahnya. Membuat pendengarnya melongo.
Nenek tergelak panjang.
“Ouh, Kate, aku seperti melihat Emma remaja saja.” Nenek tersenyum padanya dengan mata berbinar. “Kamu benar-benar mirip dengan ibumu, Nak.” Nenek menepuk pipi Katya lembut. “Emma dulu sering bertingkah sepertimu barusan. Tapi tentu saja, Grandma mengerti apa yang diomelkannya.” Nenek meringis. “Emma belum tau bahasa Indonesia, karena belum kenal ayahmu saat itu.”
Kemarahan Katya seketika menyurut. Dia memaksakan seulas senyum pada Nenek, yang sebenarnya merupakan bibi ibunya, kakak dari nenek aslinya. Bisa dibilang Nenek seperti ibu kedua bagi mamanya, karena Neneklah yang membesarkan mamanya setelah nenek kandungnya meninggal saat mamanya masih kecil.
“Dan Grandma lalu menyuruh Aunty Emma yang malang pergi ke tepi Lochness untuk instrospeksi diri,” sambung David jahil. “Kata Mom mungkin Grandma mau mengumpankan Aunty Emma pada Nessie.”
Nenek tergelak lagi.
“O-o, jadi Daphne bilang begitu ya, awas saja... kalo dia pulang kampung nanti!”
“Ya, ampuun, aku jadi membahayakan nyawa Mommy-ku sendiri!” keluh David yang disambut tawa kakak-beradik Rines.
Katya diam-diam memandangi mereka semua. Keluarga mamanya. Entah kenapa perasaan itu membuatnya hangat. Dia sendiri anak tunggal yang terbiasa dengan kesendirian. Mom benar, aku memang butuh liburan....
Nenek tersenyum.
“Grandma bahagia melihat kalian begini akrabnya. Nah, gimana kalo kita foto bareng??” usul Nenek, yang disambut gembira tiga kepala lainnya.
“Ya, ayo, kita foto!” Gwen berseru gembira “Mommy pasti akan senang melihat foto Katya yang mirip aunty Emma. Mommy bilang dulu mereka sangat dekat.”
“Patner in crime,” gerutu Nenek dengan nada sayang. “Entah siapa yang membujuk siapa, Emma dan Bridget selalu saja membuat ulah. Membuatku pusing kepala dan ubanan sebelum waktunya.”
Katya tertawa. Tak percaya kalau Nenek bisa ubanan karena kenakalan Mama waktu kecil.
Nenek menoleh padanya. “Kate?”
Katya tersenyum pasrah. Mana tega dia mengecewakan Nenek??
“Kate ambil kamera di atas dulu ya, Grandma,” katanya. “Gak lama kok.”
Tapi ‘gak lama’nya ternyata memanjang jadi sekian puluh menit ketika kameranya tak juga ketemu, meskipun ia sudah dua kali menggeledah kamarnya.
Aneh... di mana, ya? Katya berusaha mengingat-ingat. Terakhir kali dia mengunakan kameranya itu... di Loch Ness. Apa tertinggal di sana??
***
“Kamu yakin?”
Entah untuk keberapa kalinya David menanyakan hal yang sama— sejak memergoki Katya menyelinap keluar saat semua orang sudah tidur— membuat gadis itu meradang.
“Aku gak akan ada di luar sini, kalo aku gak yakin, Dave!” ketusnya.
“Kate, ini udah malam!” potong David sabar. “Lagipula kita gak pamit sama Grandma kalo mau keluar mencari kamera.”
“Aku gak mau kameraku rusak atau hilang!”
“Masih bisa besok, saat terang, kalo cuma mau nyari kamera.”
“Cuma!?” Katya tiba-tiba menghentikan langkahnya. “Itu benda berharga buat aku! Itu—“ Katya tertegun, mendadak sadar dia hampir keceplosan ngomong. “Aku....”
Katya tercekat. Dia melengos, menyembunyikan matanya yang mendadak berkabut. Itu hadiah terakhir yang diterimanya dari Agung, kenang Katya pahit. Satu-satunya benda yang tak sanggup disingkirkannya, sesudah Agung mendepaknya demi gadis lain.
David menatapnya trenyuh. Dia mengulurkan tangan. “Kate....”
Katya refleks menepis tangannya dan bersidekap.
“Kalo kamu gak mau ikut, balik aja! Aku bisa sendiri!” tandasnya seraya berbalik, melangkah menjauhi David.
Di belakangnya, David diam-diam menghela napas.
Dia tahu Katya keras kepala, tapi tak tahu kalau lebih mendekati kepala batu dan tak rasional dari yang diduganya. Tadi acara foto-foto mereka tetap jadi dengan memakai kamera James. David sudah curiga Katya akan kabur dan keluyuran keluar, saat melihatnya bolak-balik melirik keluar jendela dengan pandangan gelisah saat mereka berfoto bersama.
Ternyata dugaannya terbukti.
Untung saja tadi dia berjaga-jaga dan pura-pura pergi tidur seperti yang lainnya. Lalu cepat-cepat bangun dan mengikuti gadis itu keluar. Setelah gagal membujuk Katya untuk kembali, David terpaksa mengikutinya.
Dia sendiri tak tahu, kenapa dia tak bisa lepas tangan jika menyangkut gadis ini. Padahal sepanjang mereka bertemu, kerjaan Katya cuma membantahnya terus. Mungkin karena gadis blasteran Indonesia itu sendirian di sini. Mungkin juga karena ia tahu Katya sedang melarikan diri dari hatinya yang patah.
Soal itu juga, pikir David heran, ia tahu dengan sendirinya. Bisa dibilang dari detik pertama ia melihatnya di airport, saat Grandma memintanya menjemput sepupu jauh yang seumur hidup belum pernah ditemuinya itu.
Bahkan aku tak memerlukan foto yang diberikan Grandma untuk mengenalinya, kenang David. Seperti ada kekuatan yang menariknya untuk mendekati gadis yang berdiri termangu dengan tatapan sendu itu dan menyapanya. Membuat gadis itu terkesiap dan membeliakkan matanya kaget.
Detik itu juga, menatap mata hazel itu, entah kenapa David dialiri perasaan lega, seolah-olah pencariannya selama ini berakhir. Seolah-olah satu kepingan puzzle yang hilang akhirnya menjadi utuh. Lengkap.
Karena kami masih punya pertalian darah yang sama, simpulnya. Itulah alasan yang paling bagus kenapa dia tak bisa membiarkan Katya sendirian di luar. David menaikkan tudung capucho-nya menutupi kepala, lalu merapatkan jacketnya, sebelum bergegas mengejar gadis itu.
***
Mendekati danau, kabut semakin tebal, membuat pandangan kian samar. Bahkan cahaya senter juga sulit menembus kepekatan udara. Seolah-olah mereka terjebak di dunia terasing, terpisah dari sekitarnya.
Katya menggigil. Mulai menyesali kenekatannya datang kemari....
“Kamu gak pa-pa?”
Katya terkesiap. Bukan hanya oleh pertanyaan itu, tapi juga genggaman tangan David yang tiba-tiba. Refleks dia berusaha menariknya.
“Jangan lepaskan tanganku!” perintah David. “Di depan kabut lebih tebal lagi. Kita bisa terpisah kalau gak berpegangan. Aku gak mau menghabiskan waktu semalaman cuma untuk mencarimu.”
Katya mencibir.
“Mungkin saja kebalikannya; kamu yang tersesat di tengah kabut!”
David tergelak. “Tukang membantah seperti biasa!”
Katya merasakan genggaman tangan David semakin erat. Tapi anehnya, dia tak ingin lagi menariknya. Dia tahu David benar. Mereka bisa terpisah dan tersesat atau malah... kecemplung ke danau. Pikiran itu membuatnya meringis. Mungkin Nessie akan gembira mendapatkan cemilan sebelum tidur?
“Apanya yang lucu?” tanya David tiba-tiba.
Katya tertegun. Menoleh ke sampingnya. Bagaimana David bisa tau apa yang dipikirkannya? Sementara ia saja nyaris tak bisa melihat wajah cowok itu di tengah kabut begini??
“Bagaimana kamu—”
“...bisa tau?” potong David.
Katya terdiam. Bahkan itu... David menyelesaikan kalimatnya yang belum selesai, seolah mereka sudah bertahun-tahun saling mengenal. Oh, ya, memang kedua ibu mereka saudara sepupu. Tapi ini kali pertamanya ke Edinburgh setelah kunjungannya bertahun-tahun lalu bersama keluarganya saat umurnya belum genap lima tahun.
“Aku juga gak tau, Kate. Tapi rasanya gampang aja kalo itu kamu... seperti membaca buku yang terbuka,” ungkap David. “Mungkin...,” David ragu sesaat, “karena kita sepupu.”
Tapi Gwen dan James tak bisa membaca aku! bantah Katya dalam hati. Padahal mereka juga sepupunya.
Padahal semua orang bilang dia seperti buku yang tertutup. Dan itu sebabnya semua cowok yang bersamanya, akhirnya lelah dan menyerah. Memilih pergi darinya, tepat ketika ia merasa sangat mencintai mereka.
Katya merasa matanya mulai menghangat lagi. Tanpa sadar, diloloskannya tangannya dari genggaman David, berniat menyeka matanya yang basah.
“Kate...?” protes David, otomatis berusaha meraih tangan Katya lagi.
Tepat saat itu... kaki Katya terantuk sesuatu.
“Aduuh!” serunya kesakitan. Gadis itu terjerembab jatuh. Senter yang dipegangnya terjatuh... dan padam.
“Kate??” tanya David kuatir.
Tangannya menggapai, mencari gadis itu. Tapi cuma udara kosong yang diraihnya. David semakin cemas. Dia menyorotkan senternya ke sekeliling. Tanpa disadarinya langkahnya semakin menjauh.
“Katyaaa...!!”
***
Gadis itu mendengar suara panggilan yang semakin menjauh itu.
“Dave!” panggilnya. “Davee, aku di sini!!”
Oh, shit, dimana sih senternya?? Katya mencari-cari di tanah.... dan menemukan sesuatu.
Syukurlah! Katya meraih benda itu dan... tertegun kecewa. Ini bukan senternya! Ini.... Tangan Katya meraba benda itu, yang terasa begitu familiar di tangannya. Ini kameranya!
“Dave, aku menemukan kameraku!” serunya gembira sambil mengangkat kamera itu tinggi-tinggi. Tapi tak ada jawaban yang terdengar. “Dave??”
Katya menoleh ke sekitarnya. Kepekatan terasa membutakan matanya. Ya, Tuhan, dimana David?
Rasa panik mulai merambati Katya. Dia buru-buru bangkit sambil mengalungkan tali kamera di lehernya. Dia harus buru-buru menyusul David, sebelum jauh. Ya, Tuhan, tolong... tolong jangan sampai mereka terpisah dan tersesat di tengah kabut begini....
“Dave!” teriak Katya sambil bergerak. “Daviiiidd...!!”
Ough, kenapa sih dia sampai lupa membawa handphone-nya! Katya menangis kesal. Sejak Agung mengkhianatinya rasanya dia semakin kacau saja. Seperti kehilangan dirinya sendiri. Pantas Mom ‘mengusirnya’ pergi mengunjungi Nenek di Edinburgh. Pasti berat melihatnya seperti orang kehilangan arah setiap hari... apalagi ia sempat mengira Agung akan menjadi dermaga terakhirnya.
Katya mengusap matanya gusar. Entah berapa lama ia berputar-putar di tengah kabut tanpa penerangan apa pun sambil berteriak memanggil sepupunya. Tapi cuma suara angin yang menjawab panggilannya. Sampai suaranya terasa serak, David tak juga ditemukannya.
Seolah-olah dia tertinggal sendirian di dunia ini.
Lonely.
***
Terpaan angin terasa semakin kencang, menggigilkan.
Mungkin cuma perasaannya, tapi rasanya kontur tanah yang dipijaknya juga berubah tak sepadat tadi. Kakinya berulang kali terbenam hampir separuhnya, seolah-olah tanah di bawah kakinya berubah menjadi lunak dan basah, membuat langkahnya menjadi lambat. Dengan susah payah Katya mengangkat kakinya, berusaha maju terus.
Setelah beberapa kali hampir terjerembab, mendadak sebuah pikiran memasuki benaknya. O-o, jangan-jangan dia sebenarnya sedang memasuki danau. Katya berbalik buru-buru....
Brukk! Mendadak Katya membentur seseorang dan... terjerembab dengan pantat mendarat lebih dulu.
“Aouw!”
Katya terkesiap kaget. Dia sampai melupakan rasa sakitnya saat telapak tangannya menyentuh sesuatu yang terasa dingin sekali. Diraupnya segumpal serpihan putih itu dan mengamatinya dengan tercengang.
Salju....
Jadi yang sedari tadi diduganya tanah lembek berair di tepi sungai ternyata adalah salju! Tapi... sekarang belum musim dingin? pikirnya bingung. Bagaimana bisa ada salju menumpuk begini??
“Kau tidak apa-apa?”
Katya tertegun. David!
Kelegaan luar biasa membanjiri dadanya. Disambutnya uluran tangan David yang membantunya berdiri. Katya mendongak dan samar-samar menangkap profil kukuh yang dikenalnya. Kabut sepertinya mulai memudar... meskipun kegelapan masih mengurangi jangkauan pandangannya. David tampak speechless memandanginya.
“Aku hampir tak mengenalimu dengan pakaian aneh itu,” komentar cowok itu dengan nada takjub. Membuat Katya bingung.
“Aneh ap—?”
Belum sempat Katya menyelesaikan ucapannya, ia tergeragap kaget ketika David tiba-tiba saja menutup mulutnya sambil mendorongnya bersembunyi di reruntuhan pondok tua yang hampir roboh. Katya berontak.
“Apa-apaan—!“
“Sssstt...!!” David buru-buru mengisyaratkan padanya untuk diam, sambil menunjuk keluar.
Tepat saat itu... sesosok penunggang kuda melesat lewat di kegelapan. Dari caranya memacu kudanya yang seperti orang kesetanan, sepertinya orang itu sedang terburu-buru. Bukannya lebih cepat naik mobil? pikir Katya heran. Lagian siapa yang iseng malam-malam begini berkuda?? Orang desa ini memang aneh-aneh....
“Ayo, kita juga harus secepatnya pergi dari sini!” Tanpa menunggu persetujuannya, cowok itu menarik Katya keluar. “Sebelum keluargaku sadar ada satu anggota klan MacDonald yang lolos!”
Katya mengerutkan kening mendengar omongan David yang aneh. Bahkan aksennya pun aneh... seperti bahasa yang biasa ditemukan dalam karya-karya Shakespeare saat era Ratu Elizabeth I....
David berlari seperti dikejar setan, menyeret Katya yang mau gak mau mengikutinya karena tangannya dicekal David begitu erat.
David baru berhenti saat mereka sampai di sebatang pohon tua yang nyaris gundul. Di bawah pohon itu ada dua kuda ditambatkan. Katya melongo ketika David menyuruhnya menaiki salah satu kuda supaya mereka bisa secepatnya pergi dari sana.
Ya, ampun, apa-apaan ini?? Apa cowok itu mengerjainya lagi? Apa ini salah satu permainannya bersama Rines bersaudara untuk menggoda sepupu Indonesia mereka?? Keterlaluan sekali!
“Apa-apaan sih, ini!?” Katya menghentak lepas tangannya dari pegangan David. “Jangan bercanda denganku, Dave!”
Saat itu sinar bulan jatuh dan mengenai David. Katya ternganga. Pakaian itu, bahkan pedang panjang di pinggang itu.... Katya menggeleng, tak ingin mempercayai pengeliatannya sendiri. Wajah dan sosok cowok itu memang David, tapi dia bukan David. Bukan David yang dikenalnya!
Tanpa sadar Katya mundur ke belakang. “Kamu...??”
Cowok di depannya tercengang. Sorot matanya tampak terluka.
“Catherine...??”
Katya terhenyak. Catherine??
Nama lengkapnya memang Katherine. “K” bukan “C”. Dan David tidak pernah memanggilnya ‘Catherine’ dengan aksen seaneh itu.
Tiba-Tiba di belakang mereka terdengar kegaduhan dan derap banyak kuda. Wajah David yang tegang menjadi pucat pasi.
“Ya, Tuhan, mereka cepat sekali!” David buru-buru mengulurkan tangannya. “Catherine, kita sudah tidak punya waktu lagi. Cepaaatt!!”
Tapi melihat gadis itu masih diam karena shock, David menyambar tubuh Katya dan mendudukkan gadis itu ke punggung kuda, lalu menyusul naik di belakangnya. Ditariknya tali kekang kuda, mengurung Katya di depan dada, di antara kedua lengannya. Saat itu, terdengar teriakan surprise di belakang mereka.
“Heiii..., Duncan!?”
“Shit! Mereka melihat kita!” bisik David, sebelum buru-buru memutar kudanya seraya melempar isyarat pada orang-orang itu kalau dia akan pergi lebih dulu. “Kalau sampai mereka tahu aku membawa putri kesayangan klan MacDonald, kau bisa dijadikan sandera untuk menghancurkan klanmu!”
Katya menoleh bingung.
Tepat saat itu angin bertiup dan menepis tudung capuchon-nya, turun dari kepala; membuat rambutnya meriap dipermainkan angin... dan wajahnya terlihat oleh temaram sinar bulan. Seketika itu juga terdengar hentakan napas kaget.
“Itu... Lady Catherine MacDonald of Glen Coe! “ seru seseorang di belakang mereka. “Berhenti, Duncan! BERHENTIII!!!”
Tapi mana mau cowok itu berhenti. Dia menyepak kudanya, menyuruhnya berlari. Di belakang mereka, terdengar suara letusan memecah keheningan malam.
“Gawat, mereka membawa senjata api!” desis David cemas. “Catherine, pegangan yang kencang!” Tanpa menunggu lagi, cowok itu langsung memacu kudanya kencang-kencang. “HIAAAA...!!”
“KEJAAAARR!!”
***
Kuda itu berlari seperti terbang. Dengan ngeri Katya memejamkan matanya. Tangannya gemetaran mencengkeram surai kuda. Seumur hidupnya dia belum pernah naik kuda. Apalagi dikejar pasukan berkuda ganas yang siap membunuh!
“Kita mau kemana!?” teriak Katya dengan ketakutan.
“Keluar sejauh mungkin dari Glen Cloe!” jawab cowok di belakangnya. “Aku berharap bisa membawamu melewati perbatasan dan mencari suaka ke Prancis atau Prusia!”
Katya ternganga. Prancis? Prusia?
Prusia??
Bukannya negara Prusia sudah lenyap berpuluh-puluh tahun lalu? pikirnya bingung. Sejak Wilhelm II turun tahta di akhir Perang Dunia I dan dibuang ke Belanda, karena keterlibatannya memberi restu Austria menyerang Serbia sebagai reaksi atas tewasnya Archduke Franz Ferdinand— pewaris tahta Austria— di Sarajevo, Serbia; yang mengakibatkan deklarasi perang antara Jerman dan Rusia. Satu peristiwa yang mengawali serangkaian peristiwa yang akhirnya memicu terjadinya Perang Dunia I.
Lalu... apa katanya tadi... keluar dari Glen Cloe?
T-tunggu dulu, bukannya baru besok dia berniat ke Glen Cloe, melihat cagar budaya seluas 14.000 are itu?? Dan Glen Cloe terletak agak jauh dari Loch Ness.
Ya, Tuhan, sebenarnya ada apa? Kenapa semuanya terasa membingungkan!? Ini pasti cuma mimpi! Cuma mimpinya....
“Aku mau pulang!!” teriak Katya histeris.
“Aku tidak bisa membawamu pulang! Keluargaku mungkin sudah mengepung dan menyerang kastilmu!” balas cowok itu. “Terlalu berbahaya membawamu ke sana!”
“Kastil? Kamu ngomong apa sih!?”
“Catherine, kita tidak bisa pulang lagi! Tidak ada tempat buat kita!”
Katya tertegun mendengar nada sedih dalam suara cowok itu.
“Tidak, sejak keluargamu menolak mengakui pengganti Raja James VII. Dan Sir Darlymple menitahkan klanku menghukum klanmu, Catherine....”
Katya menegakkan tubuhnya.
“Aku bukan Cathe—!”
“Merunduk, Catherine!!” teriak David tiba-tiba, memotong omongan Katya.
Trang! Entah sejak kapan David mengeluarkan pedangnya dan menangkis serangan yang tiba-tiba datang. Pedang yang hampir mengenainya itu terjatuh.
Ya, Tuhan...! Katya histeris. Ya, Tuhan, nyaris saja mereka kena!
“Gawat, mereka sudah dekat,” gumam cowok itu cemas. “Tetap merunduk, Catherine!” teriaknya berusaha mengalahkan suara angin. “Biar aku yang menghadapi mereka! Meskipun nyawaku taruhannya, aku pasti akan menyelamatkanmu!”
“Tapi aku....”
“Nanti saja, Cathya!” tegas cowok itu, lagi-lagi memotong ucapannya. “Kalo kita sudah lolos dari sini!!”
Katya menelan kata-katanya di kerongkongan. Terpaksa mengikuti perintahnya, merunduk nyaris sejajar dengan tubuh kuda yang ditungganginya. David memacu kuda itu kencang-kencang. Katya nyaris tak menyadari angin yang menderu di sekitarnya. Serpihan putih seperti kapas melayang turun memenuhi udara. Jatuh menyentuh pipinya. Tanpa sadar Katya mengambilnya. Dingin.
Salju.
Bagaimana bisa? Sekarang baru awal musim gugur!
Katya menggigil. Bertanya-tanya kenapa ia bisa mengalami ini semua. Ini cuma mimpi kan?
Katya mencubit punggung tangannya. Sakit.
Jadi ini bukan mimpi? pikirnya ngeri. Tapi ini di mana? Kenapa dia bisa terlempar di tempat ini? Di masa ini!??
“Duncan, serahkan gadis itu!”
Entah sejak kapan para pengejar mereka sudah berhasil menyusul. Katya membeliak ngeri. Dirasakannya tubuh cowok di belakangnya menegang dan satu lengannya yang memegang tali kekang kuda, melingkari pinggang Katya; menarik tubuh gadis itu lebih rapat. Satu tangannya yang lain, memegang pedang yang disilangkan di depannya dengan siaga, menanti segala kemungkinan....
“Jangan jadi pengkhianat klan sendiri, Duncan Campbell of Glenlyon!” geram seorang laki-laki yang sepertinya pemimpin kelompok itu; sengaja menyebutkan nama lengkap cowok itu untuk menyindirnya. “Serahkan dia, maka aku tak akan mengadu pada Ayah kalau kau mencoba membelot dan mengkhianati raja dan ratu kita!”
“Ini tidak ada hubungannya dengan Raja William dan Ratu Mary, Charles!”
“Bagaimana tidak ada hubungannya, kau membawa musuh kita!” Dia menuding Katya dengan penuh kebencian. “Seluruh keluarganya adalah pendukung James Edward Stuart!”
“Aku tidak akan menyerahkan Catherine! Tidak selama aku masih hidup!!” tukasnya lantang.
“Kalau begitu... sekalipun kau saudaraku, aku sendiri yang akan menghukummu!” Charles memberi isyarat kelompoknya untuk menyerang.
Tapi Duncan sudah siap. Dengan gagah berani dia mengayunkan pedangnya ke sana-ke mari, menangkis setiap serangan yang datang sambil terus berusaha mengendalikan kudanya untuk terus berlari menerobos hujan salju yang semakin kencang....
Katya ketakutan. Mereka cuma sendirian, sementara lawan mereka begitu banyak. Sampai berapa lama lagi mereka sanggup bertahan dan tidak mati terbunuh di sini? Ya, Tuhan!
***
Samar-samar disadarinya mereka tidak bertarung sendirian. Entah sejak kapan mereka terjebak di tengah medan pertempuran. Sekelebat sosok-sosok bersenjata meneriakkan nyanyian perang bercampur denting logam, letusan dan dentuman senjata api....
Angin menderu kencang di sekitarnya. Membuat mereka sulit bergerak. Baik untuk maju maupun mundur. Serpihan salju menamparnya tajam, menggigit kulitnya dengan dingin yang menusuk tulang. Jarak pandangannya semakin buruk... terhalang tirai salju yang turun cepat dan tebal... dan segera saja menumpuk menutupi daratan....
Dia seperti buta, tak bisa melihat apa-apa lagi!
Katya berusaha menulikan telinganya dari suara-suara pertempuran dan teriakan kesakitan. Dicengkeramnya leher kudanya erat-erat, mencari kehangatan. Air matanya mengalir.
Ya, Tuhan, jangan biarkan dia mati di sini! Di waktu yang bukan masanya!
***
Entah berapa lama waktu berlalu. Tahu-tahu Katya menyadari ia tak lagi mendengar suara pertempuran. Badai juga sudah reda. Menyisakan pemandangan putih di mana-mana. Sejauh mata memandang, cuma salju yang terlihat. Seolah mereka satu-satunya makhluk hidup yang tersisa.
Katya menggigil. Tanpa sadar dia mendekap dirinya sendiri. Dia tak tahu apakah mereka sudah lolos ataukah mereka berdua sudah mati, sehingga tak bisa merasakan apa-apa lagi....
Saat itu dirasakannya setetes cairan mengenai pipinya. Lalu setetes lagi....
Hangat.
Katya menyentuh pipinya dan merasakan kepekatan di tangannya. Bau anyir menyentuh hidungnya. Katya terbeliak ngeri.
Darah!
Ya, Tuhan, dia kena! Dia kena! Dia akan mati di sini!!
“Catherine...??”
Katya menengok kaget. Dilihatnya cowok itu mengeryit. Di bahunya terlihat noda gelap yang basah. Katya tergugu. Bukan dia yang kena, tapi... David.
Bukan David. Katya menggeleng. Duncan!
“Kamu terluka...!”
Itu bukan pertanyaan, itu pernyataan. Cowok itu memaksakan senyuman.
“Aku lebih menguatirkanmu,” katanya lirih. “Kau tidak apa-apa??”
“Kita berhenti!” Katya panik. “Lukamu harus diobati!”
“Sepertinya kita sudah keluar dari Glen Cloe....” Duncan tampak susah payah menahan sakitnya. “Cathya... aku... aku....”
Mendadak Duncan mengeryit kesakitan. Tubuhnya doyong dan... ambruk menimpa gadis di depannya! Membuat Katya yang terkesiap kaget, terpelanting dari kuda karena tak kuat menahan beban tubuhnya. Menyeret cowok itu ikut jatuh bersamanya. Tak ayal lagi, keduanya terhempas di hamparan salju tebal.
“D-Duncan...??”
Tapi cowok itu sama sekali tak bergeming. Katya tertegun cemas. Dia tahu, dia harus segera memindahkan cowok itu. Sebelum mereka berdua kena hypertomia dan mati beku di udara terbuka begini.
“Duncan!” pekik Katya. “Duncan!! Ya, Tuhan! Kamu gak boleh pingsan di sini! Duncan, bangun! Banguuuunn!!”
Panik, Katya berusaha menyadarkan cowok itu. Air mata Katya merembes turun. Tapi Katya tak peduli. Dia terus mengguncang-guncang cowok itu, seraya memanggil-manggilnya histeris.
“Duncan, please... buka matamu! Bukaa! Kamu bisa mati kalo tidur di sini!”
Tiba-tiba... tubuh Duncan bergerak. Duncan membuka kelopak matanya. Katya tercekat melihat tatapan itu. Entah kenapa, Katya merasakan sedikit kelegaan mengalir di rongga dadanya. Sedikit.
Dia harus segera membebat luka Duncan.
“C-Cathya...??” gumam cowok itu lirih. Tangannya menggapai... menyentuh pipinya, menghapus air matanya. “J-jangan menangis....”
Katya tergugu. Meraih tangan di pipinya itu, menutupinya dengan tangannya sendiri. Air matanya mengalir lagi.
“Syukurlah,” bisiknya lega. “Syukurlah kamu masih hidup....”
“Cathya.” Duncan memaksakan seulas senyum, menenangkan gadis itu. “Aku pernah berjanji padamu kan, aku tak akan pernah meninggalkanmu....”
“Jangan bicara lagi,” pinta Katya lembut. Buru-buru dibukanya jacket tebalnya dan memakaikannya di sekeliling tubuh Duncan, biarpun cowok itu tampak keberatan. Katya mengambil tangan Duncan dan meletakkannya di bahunya. “Kita harus cari tempat yang hangat, supaya aku bisa mengobati lukamu.”
Katya terhuyung bangkit sambil memapah Duncan. Tapi mendadak wajah cowok itu dipenuhi kengerian. Katya termangu bingung dan baru saja mau bertanya, ketika detik berikutnya... tanpa peringatan sama sekali, Duncan tiba-tiba saja menerpanya jatuh.
“ADUH!” Spontan Katya menjerit kesakitan ketika punggungnya sekali lagi menghantam keras salju. “Duncan, kena—!”
Katya tak melanjutkan protesnya ketika sekonyong-konyong menyadari apa yang terjadi. Tubuh Duncan yang rebah seperti boneka usang. Salju di sekitar mereka yang berubah warna menjadi pekat. Darah yang mengalir dari luka baru di dada itu. Belati yang tertancap di sana....
“TIDAAAKK!”
Dengan ngeri, Katya meraih tubuh itu. “Oh, Tuhan, tidak! Demi Tuhan, buka matamu! Bukaa!!” Katya mengguncang-guncangnya. “Jangan pergi! Jangan pergi...,” bisiknya histeris.
Tapi tubuh itu tetap diam, tak bergerak.
Katya menangis. Memeluk Duncan erat-erat, seolah mencari pegangan. Air matanya mengalir deras, jatuh membasahi wajah pucat Duncan.
“Kamu sudah janji...,” isaknya. “sudah janji....”
Selarik firasat bahaya mendadak membuat Katya membeku. Detik itu juga Katya berpaling dan memucat. Dia masih mengenali laki-laki yang berjalan ke arahnya sambil memainkan pedang di tangannya itu....
“Kamu....”
Charles membalas tatapan Katya dengan penuh kebencian. Tanpa sadar Katya beringsut mundur. Charles mengangkat pedangnya ke atas.
“Lady Cathya Mac Donald,” gumamnya sinis. “Kau boleh menyusul saudaraku!”
Sebelum Charles sempat mengayunkan pedangnya, Katya nekad menyelengkat kaki Charles. Cowok itu jatuh terjerembab. Pedang di tangannya terlempar dan... jatuh menancap di sebuah bidang licin es.
Dengan terhuyung, Katya tergesa bangkit. Dia harus lari sejauh mungkin dari Charles sebelum cowok itu pulih. Tapi rupanya Charles menyadari niatnya. Dia menyambar pergelangan kaki gadis itu, menariknya. Membuat Katya terjatuh....
Katya menendang-nendang liar, berusaha membebaskan diri. Dalam upayanya meringkus Katya, Charles tanpa sengaja menyambar tali kamera yang tergantung di leher Katya. Tali itu terenggut putus!
Katya spontan meraih tali itu dan... mengayunkannya sekuat tenaga. Kamera di ujung tali itu dengan telak menghantam wajah Charles. Terdengar bunyi derak yang mengerikan, bersamaan dengan teriakan kesakitan Charles... sebelum cowok itu terpelanting jatuh dengan darah mengucur dari hidungnya yang patah.
Charles mengeram murka. Dia menyambar pedangnya, menariknya lepas dari bidang licin... yang langsung saja membentuk jalur retakan... yang kian memanjang... di belakangnya.
Tapi Charles tidak menyadari itu. Dibutakan emosi dan kebencian, ia melangkah maju sambil mengangkat pedangnya, siap mengayunkannya untuk menebas Katya.
Dan... Kraaakk! Lapisan es tipis yang selama ini menutupi permukaan danau yang membeku akibat musim dingin pun, patah! Tak kuat lagi menopang beban yang berlebihan di atasnya. Charles pun amblas, tercebur ke dalam lubang es danau.
Katya terpana. Belum sempat dia bereaksi apa pun, mendadak terdengar suara gemuruh yang lebih besar di belakang Charles. Permukaan danau yang tadinya beku, seperti merekah... ketika sesosok makhluk raksasa menyembul dari bawah lapisan es yang hancur!
Tidak mungkin!
Katya pucat-pasi. Dia seperti lumpuh. Tak sanggup bergerak. Matanya nanar memandang makhluk mitos itu. Charles mengambil kesempatan itu untuk berenang melarikan diri. Tapi gerakannya yang tiba-tiba itu malah menyadarkan Nessie akan keberadaannya. Tak pelak lagi, Nessie pun menerkam cowok itu... menyambarnya ke kedalaman loch Ness....
Di tepi danau, Katya pun menggelosor pingsan. Kameranya terjatuh duluan.
Hal yang terakhir diingatnya... seberkas kilat menyambar memenuhi ruang matanya, sebelum kegelapan memenjarakannya dalam ketidaksadaran....
***
Suara-suara berbisik itu terdengar bagai berasal dari dunia lain. Seperti menarik-narik kesadarannya naik. Suara-suara yang rasa-rasanya dikenalnya....
“Sudah dua hari. Istirahatlah.”
“Nanti, Grandma. Kalau Katya sudah sadar.”
Duncan! pikirnya. Syukurlah, dia tidak mati. Duncan masih hidup! Katya merasa kelopak matanya menghangat. Dirasakannya seseorang menyusut lembut sudut matanya.
“Kate?”
Katya membuka mata. Dari tirai air mata dilihatnya wajah itu. Menggenggam tangannya sambil membungkuk dengan tatapan penuh harap, gembira sekaligus cemas. Air mata Katya bergulir turun.
“Duncan,” bisiknya pelan. “Aku senang kamu masih hidup....”
“Duncan?”
Wajah tampan itu tertegun. Sedetik ada kilasan kebingungan di sana, tapi detik berikutnya Katya yang terkesiap kaget, ketika sosok itu memeluknya erat sambil tergelak dengan mata berkaca-kaca.
“Kate!” katanya parau. “Keterlaluan... awas kalo berani amnesia dan melupakan namaku!”
Katya tergugu. Dari balik bahu cowok itu, dilihatnya tiga pasang mata menatapnya dengan kehangatan yang sama. Katya mengurai pelukannya dan memandang wajah yang entah kenapa kini terasa sangat berarti baginya.
“David....”
***
“Raja James VII, salah satu keturunan wangsa Stuart yang berkuasa ratusan tahun di Skotlandia. Dikenal juga sebagai James II dari Inggris— sekaligus raja Skotlandia— memerintah tahun 1685. Dan digulingkan oleh revolusi kaum Whig Inggris tahun 1688,” urai David. “Parlemen Inggris lalu mengesahkan Raja William dan Ratu Mary sebagai pengganti. Tapi tak semua klan Highlander menerima begitu saja keputusan itu. Beberapa yang setia memilih berontak di pihak James Edward Stuart, putra James II....”
'Seluruh keluarganya adalah pendukung James Edward Stuart! '
Kalimat penuh kebencian itu terngiang lagi di benak Katya. Tanpa sadar gadis itu mendekap dirinya sendiri.
“Salah satu dari klan pembangkang itu klan MacDonald, kan?” katanya pelan. Membuat David terkejut. Sesaat, David tampak seperti akan bertanya... tapi akhirnya cowok itu mengangguk.
“Aku kaget kamu tau soal itu,” sahutnya. “Itu bukan sejarah yang cukup populer untuk orang luar. “
Begitu Katya pulih, David bersikeras memenuhi janjinya untuk mengajak gadis itu ke cagar budaya dan wisata alam yang membentang antara Glen Evite sampai Glen Cloe. Tak tahu kenapa dia begitu ter-obsesi untuk menunjukkan tempat ini pada Katya. Sejak dulu, setiap menginjak Edinburgh dia selalu senang menyepi di tempat ini. Rasanya seperti ada yang menarik-nariknya ke tempat ini.
“Sebenarnya klan MacDonald tidak berniat membangkang terus. Mereka bermaksud mengakui kedaulatan Inggris juga. Hanya saja mereka mengulurnya sampai saat terakhir yaitu pada 31 Desember 1691. Sayangnya saat mereka ke Fort William tidak ada wakil pemerintah yang berhak menerima. Sehingga mereka terpaksa ke Inveraray menyebrangi Loch Fyne. Ini yang menyebabkan pengakuan itu terlambat beberapa hari.”
“Dan tidak ada ampun untuk keterlambatan??”
David menghela napas. “Sir John Darlymple, wakil kerajaan Inggris, marah dan memerintahkan klan Campbell of Glenlyon untuk menghabisi klan MacDonald of Glen Cloe....”
'Dan Sir Darlymple menitahkan klanku menghukum klanmu, Catherine.'
Katya merasa matanya menghangat. Dikerjabkannya matanya, menjelajahi pemandangan indah di depannya. Di sana-sini tampak turis dan back-pakers. Beberapa rock climbers tampak di kejauhan mendaki tebing Aonach Eagach.
Seumur hidupnya, Katya yakin, baru kali inilah dia menginjak lokasi wisata ini; tapi bahkan berdiri di sini, membuatnya tersadar kalau ini bukan pertama kalinya ia datang ke sini.
Beberapa malam lalu, pikirnya getir, aku bahkan nyaris terbunuh di tempat ini! Di tengah pertempuran antar klan di tengah badai salju....
“Di tempat ini kan, mereka menghabisi semua klan MacDonald?” bisik Katya tersendat.
“Mungkin... kalau saja tidak ada badai salju yang menghalangi sepak-terjang pasukan Campbell,” sahut David. “Saat itu 12 February 1692, sekitar 40-an orang anggota klan MacDonald terbunuh. Dan lebih dari 300-an orang sesudahnya....”
Tanpa sadar Katya menggigil. Entah fenomena apa yang mengantarnya time slip ke tahun 1692. Semua rasanya seolah nyata. Tanpa sadar Katya menyentuh lebam di lehernya. Bekas tarikan tali kameranya masih terasa berdenyut sakit jika disentuh.
Tanda mata dari masa lalu....
Grandma menceritakan padanya kalau David menemukannya di tepi Loch Ness pagi harinya. Nyaris kena pneunomia karena semalaman pingsan di luar. Gwen mengatakan Dave begitu kalut dan menolak beranjak dari sisinya sebelum dia sadar. Bahkan nyaris meninju James yang memaksanya gantian berjaga.
Katya menoleh, memandang cowok itu. Tepat saat itu, David juga tengah menatapnya. Mata mereka bertemu. Dan sekali lagi perasaan sudah mengenalnya seumur hidup, membungkusnya hangat.
Kami memang sudah pernah bertemu, pikirnya mengenali saat tenggelam dalam kedalaman mata biru David. Diraihnya tangan cowok itu. Duncan....
“Maaf untuk kameramu,” bisik David. “Sepertinya rusak saat jatuh. James sedang membawanya ke studio, kali-kali masih ada yang bisa diperbaiki.”
“Gak pa-pa,” jawab Katya lembut. “Makasih sudah menyelamatkanku.”
“Katya, aku cuma berusaha menepati janjiku....”
Katya terperangah. David menggenggam tangannya. Wajahnya menengadah... memandangi pepohonan yang mulai berganti warna coklat-kemerahan. Warna musim gugur.
“Kateee...!!”
Katya dan David serentak menoleh. Gwen dan James berlari kecil mendekati mereka. James membawa kameranya dan Gwen melambaikan sebuah amplop kecil. Wajah mereka dipenuhi antusiasme yang aneh.
“Kalian pasti gak percaya,” Gwen terengah. Dia mengansurkan amplop di tangannya. “Hasil cetak kameramu yang bisa diselamatkan. Bukalah.”
Katya membuka amplop dengan heran. Mengeluarkan beberapa lembar foto buram dari sana. Sesaat dia tak mengerti apa yang dimaksud Gwen dan James, tapi beberapa detik kemudian, Katya tersengat.
Di salah satu lembar buram itu, tercetak tak jelas sesosok makhluk yang menukik ke dalam permukaan danau yang beku.
Tidak mungkin!
“Nessie...!??”
*The end*