Sejak ayah bercerai dengan ibu karena masalah ekonomi, hidupku tak pernah benar-benar utuh lagi.
Aku terlalu kecil saat itu untuk memahami kenapa dua orang yang dulu saling mencintai bisa memilih berpisah. Hanya satu yang kutahu, setelah hari itu, aku harus tinggal bersama ibu, dan beberapa waktu kemudian, bersama lelaki lain yang harus kupanggil ayah juga.
Tapi bagiku, kata ayah hanya punya satu arti.
Ia adalah lelaki yang mengajariku mengeja namaku sendiri, yang menggendongku di pundaknya saat kakiku lelah, yang rela tak makan malam asal aku bisa membeli es krim di depan rumah.
Aku tinggal bersama ibu, tetapi rinduku tinggal bersama ayah.
Setiap pagi ibu mengantarku ke sekolah. Tanganku menggenggam jemarinya, langkah kecilku berusaha mengejar jalannya. Namun diam-diam mataku selalu mencari satu sosok di antara keramaian depan gerbang, dan hampir setiap hari, aku menemukannya.
Ayah berdiri agak jauh. Kadang berpura-pura membaca koran, duduk di warung sambil memegang secangkir kopi yang tak pernah habis. Sering juga hanya berdiri di bawah pohon, menatap ke arah pintu masuk sekolah.
Saat pandangan kami bertemu, ia akan tersenyum lebar, lalu menggodaku dari kejauhan.
Menjulurkan lidah, melambaikan tangan diam-diam, atau membuat wajah lucu seperti dulu ketika aku menangis.
Aku selalu ingin berlari memeluknya.
Tapi aku hanya bisa membalas dengan senyum kecil, lalu pura-pura menoleh ke arah lain agar ibu tidak curiga.
Aku tak pernah memberitahu ibu, apalagi ayah baruku.
Entah kenapa, bahkan sebagai anak kecil, aku tahu ada rindu yang harus disimpan diam-diam.
Hari-hari berlalu seperti itu.
Ayah datang hampir setiap pagi. Tapi tak pernah memanggil namaku keras-keras.
Ia tak pernah mencoba merebutku dari ibu dan ayah baruku.
Ia hanya berdiri dari jauh, memastikan anak perempuannya masuk sekolah dengan selamat.
Begitulah hingga aku tumbuh besar.
Seragamku berganti dari merah putih menjadi biru. Rambutku makin panjang, langkahku makin cepat, tapi satu hal yang tak pernah berubah, Ayah masih datang, masih suka berdiri di kejauhan sambil tersenyum seolah dunia baik-baik saja.
Kalian tahu, bagaimanapun juga dia ayahku. Ayah terhebat yang pernah kumiliki.
Sekalipun aku tahu, ia tak lagi bersama ibuku.
Suatu malam, aku akhirnya bisa makan malam bersamanya. Hanya kami berdua, di warung sederhana di pinggiran jalan, dengan lampu kuning redup dan meja plastik yang sedikit kusam.
Ayah terus menatapku sambil tersenyum, seperti takut aku menghilang bila ia berkedip.
“Ayah tahu kenapa semua makanan ini jadi enak sekali?” tanyaku sambil menyendok nasi.
Ayah tertawa kecil. “Kenapa?”
“Karena aku makannya sama Ayah.”
Ayah terdiam sesaat, lalu menunduk sambil tersenyum.
Aku pura-pura tak melihat matanya yang mulai basah.
“Biar Ayah jelek,” kataku lagi polos. “Aku tetap suka. Asal bisa sama Ayah.”
Kali ini ayah tertawa lebih keras, meski suaranya terdengar pecah.
Lalu ia menggenggam tanganku lama sekali.
Seolah malam itu terlalu berharga untuk segera selesai.
Aku belum tahu, kenangan sederhana itu kelak akan menjadi salah satu hal paling mahal dalam hidupku.
Beberapa bulan setelahnya, ayah baruku membawaku ke Inggris.
Hari keberangkatan itu langit tampak cerah, tetapi wajah ayah seperti menyimpan hujan yang ditahan mati-matian.
Sejak hari itu, bandara menjadi tempat yang paling kubenci.
Di sanalah aku terakhir kali memeluk ayah. Pelukannya hangat, besar, dan gemetar. Tangannya berkali-kali mengusap rambutku seolah sedang menghafal bentuk kepalaku, takut lupa.
“Jadi anak hebat, ya,” katanya sambil tersenyum.
Aku mengangguk cepat. Kalau terlalu lama menatap wajahnya, aku pasti menangis.
“Aku nanti cari Ayah kalau sudah besar.”
Ayah tertawa kecil, tapi matanya basah. “Ayah tunggu.” Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku.
Lalu aku berjalan menggandeng tangan ibuku, sesekali menoleh ke belakang. Ayah masih berdiri di tempat yang sama, melambaikan tangan. Senyumnya dipaksa tetap tersungging, padahal dari jauh aku bisa melihat pundaknya jatuh seperti orang yang baru kehilangan seluruh isi hidupnya.
Aku tak tahu, itu adalah terakhir kali aku melihatnya.
***
Tahun-tahun berlalu.
Aku tumbuh dewasa dengan rumah yang ramai tapi hati yang sepi. Ibu punya keluarga baru, Ayah tiriku orang baik, tapi kebaikannya tak pernah bisa menggantikan darah ayahku.
Kadang saat berangkat sekolah, aku masih refleks mencari sosok ayah di gerbang. Lelaki yang pura-pura lewat, pura-pura membeli rokok, pura-pura membaca koran hanya untuk melihat anak perempuannya dari jauh.
Tak ada siapa-siapa.
Aku mulai mengerti, kehilangan itu ternyata tidak datang sekaligus. Ia datang sedikit demi sedikit, setiap pagi, setiap ulang tahun, setiap wisuda, setiap kali aku ingin bercerita pada seseorang yang seharusnya mendengarkan.
Aku sering makan sendirian sambil mengingat malam bersama ayah.
“Ayah tahu kenapa semua makanan ini enak sekali?”
“Kenapa?”
“Karena aku makannya sama Ayah.”
Waktu kecil aku mengatakannya sambil tertawa, sekarang aku mengingatnya sambil menangis.
Saat usiaku dua puluh tiga tahun, aku akhirnya punya uang sendiri. Gaji pertamaku tak kupakai membeli tas, sepatu, atau liburan, aku membeli tiket ke Korea.
Aku ingin menepati janji masa kecilku.
Tunggu saja ya, Yah.
Sepanjang penerbangan aku membayangkan semuanya. Ayah membuka pintu, menatapku tak percaya, lalu memelukku sambil bilang aku benar-benar cantik sekarang. Aku bahkan menyiapkan kalimat pertama.
Ayah, aku datang.
Sesampainya di alamat lama yang tersimpan di secarik kertas kusam, rumah itu masih ada. Catnya memudar tapi halamannya sepi, dan yang membukakan pintu bukan ayah.
Seorang perempuan tua menatapku lama.
“Maaf saya mencari Pak Young-ho.”
Perempuan itu terdiam, wajahnya berubah iba.
“Kamu, putrinya?”
Dadaku berdebar.
“Iya.”
Ia menunduk. “Kenapa baru datang, Nak?”
Kakiku lemas.
“Ayahmu meninggal tiga tahun lalu.”
Dunia mendadak sunyi.
Aku masih berdiri, tapi rasanya seluruh tubuhku runtuh. Bibirku bergerak, tapi tak ada suara keluar.
“Tidak mungkin” hanya itu yang berhasil kusebut.
Perempuan itu mempersilahkanku masuk. Di ruang tamu, ada foto ayah dengan bingkai sederhana. Senyum yang sama, mata yang sama dan wajah yang menua, tapi tetap ayahku.
Aku jatuh berlutut di depannya.
“Yah aku datang” suaraku pecah, aku sudah lama mempersiapkan kata-kata itu untuknya. “Aku datang, Yah kenapa Ayah pergi duluan?”
Tangisku pecah seperti anak kecil yang tersesat.
Perempuan itu berkata pelan, “Setiap tahun dia menunggumu, setiap ulang tahunmu dia beli kue kecil, dan setiap ada perempuan muda lewat depan rumah, dia selalu mengira itu kamu.”
Aku menangis lebih keras.
“Dia sering bilang anak saya janji akan datang kalau sudah besar.”
Tanganku menutup wajah sendiri.
Betapa kejam waktu, betapa sombongnya aku merasa masih punya banyak kesempatan.
Di kamar ayah, semuanya masih rapi. Di laci meja, ada puluhan amplop tak terkirim, semua ditujukan padaku.
Tulisan tangan ayah masih sama.
Untuk putri Ayah yang cantik.
Aku membuka satu surat dengan tangan gemetar.
Kalau kamu membaca ini, berarti kamu benar-benar datang. Maaf Ayah tak pandai jadi suami yang baik untuk ibumu. Tapi percayalah, Ayah selalu berusaha jadi ayah yang baik untukmu. Kalau nanti kamu kecewa karena Ayah tak ada, jangan marah terlalu lama ya. Ayah sudah bahagia duluan karena pernah punya kamu.
Aku menjerit dalam diam.
Untuk pertama kalinya aku benar-benar tahu, hati manusia bisa patah tanpa suara.
Hari itu aku duduk lama di makam ayah.
“Halo, Yah. Aku datang, Aku benar-benar datang seperti janjiku dulu ke Ayah.”
Angin sore meniup lembut rumput-rumput kecil di atas pusaranya yang berayun sunyi.
“Ayah benar sekarang aku sudah dewasa.”
Aku tersenyum di sela tangis.
“Tapi Ayah bohong satu hal.”
Aku mengusap batu nisannya perlahan.
“Ayah bilang nanti aku akan cantik sekali.”
Air mataku jatuh satu-satu.
“Nyatanya, tanpa Ayah aku tetap jadi anak kecil yang jelek karena menangis terus.”
Langit mendung.
Aku merasa ayah masih sedang melihatku dari jauh seperti dulu, dari depan gerbang sekolah tersenyum, bangga, sambil pura-pura tidak menangis. Tapi kini aku yang tak bisa menghentikan tangisku lagi. "Ayah," panggilku lirih, sambil tersedu. "Aku pulang seperti janjiku."