Disukai
0
Dilihat
5
Arus yang tak Sama
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Sungai itu pernah jernih, setidaknya menurut ingatan Tiwa. Airnya mengalir pelan di antara bebatuan besar, memantulkan cahaya matahari seperti kepingan kaca. Di sanalah Tiwa, seekor ikan tawes muda, belajar mengenali arus, makanan, dan bahaya bersama kawan-kawan baiknya: Ali yang ceroboh, Mola yang tenang, Tana yang selalu ingin tahu, dan Gani yang paling tua di antara mereka paling berani.

Mereka hidup berkelompok, sebagaimana ikan tawes selalu hidup. Bukan karena lemah, melainkan karena sungai menuntut kebersamaan. Arus tak pernah bisa dilawan sendirian.

“Kalau air mulai keruh begini, kita pindah ke bawah batu besar,” kata Gani suatu pagi, suaranya rendah dan tegas.

Tiwa mengangguk, meski ia tidak sepenuhnya paham perkataan Gani. Air memang tidak sejernih dulu. Bau asing sering hanyut bersama arus, dan seiring waktu berjalan lumut di batu-batu tumbuh tak wajar.

“Ah, kamu ini selalu khawatir berlebihan Gani,” sahut Ali sambil menyambar serpihan daun. “Tenang aja kita pasti baik-baik aja kok.”

Mola hanya diam mendengar kawannya berbincang. Ia merasakan sesuatu yang berbeda. Sungai seperti menyimpan napas panjang, seolah menunggu sesuatu, sesuatu yang tidak baik.

Dan benar, sungai tak lagi menunggu.

Hari itu, arus berubah arah. Bukan kuat, tapi berat. Air membawa lumpur gelap dari arah hulu, disertai suara gesekan aneh di dasar sungai. Dari balik bayangan batu, sosok-sosok asing muncul—tubuh keras berlapis, mulut bulat menempel ke dasar sungai, bergerak lambat tapi pasti.

“Ikan apa itu?” bisik Tana, siripnya bergetar ketakutan.

Gani menegang. “Sapu-sapu.”

Nama itu membuat Tiwa bergidik, meski ini pertama kalinya ia melihatnya. Ikan sapu-sapu dikenal bukan karena keganasannya, melainkan karena ketahanannya. Mereka bisa hidup di air kotor, memakan apa pun, dan mengambil ruang tanpa peduli keseimbangan ekosistem yang ada.

Yang paling depan di antara mereka jauh lebih besar. Sisiknya gelap, matanya kecil, dan geraknya tenang—terlalu tenang. Tentu ialah sosok ikan yang memimpin kawanan ikan sapu-sapu itu.

“Aku mendengar sungai ini kaya,” kata ikan itu, suaranya berat, seperti menggesek batu yang ada di sekitarnya. “Dan kami akan tinggal di sini.”

“Ini wilayah kami,” sahut Gani. “Sungai ini sudah cukup padat, kalian bukan ikan daerah ini. Kembali ke tempat asal kalian ikan sapu-sapu!”

Ikan sapu-sapu itu tertawa pelan. “Untuk apa? Sungai adalah milik siapa yang bisa bertahan lebih lama.”

Mereka tak tahu, bahwa ada manusia yang asal membuang ikan sapu-sapu seperti mereka ke sungai karena ketidaktahuannya, karena rasa bosannya. Ikan pembersih akuarium itu, selain tak cantik ia juga bencana. Bencana jika ia dilepas begitu saja.

Sejak hari itu, segalanya berubah.

Ikan sapu-sapu semakin banyak. Mereka menempel di batu, batang kayu, bahkan di dasar pasir tempat tawes biasa mencari makan. Alga menghilang lebih cepat dari biasanya, karena limbah air menjadi kotor. Makanan menjadi langka.

Ali mulai sering kelaparan. “Kenapa mereka kuat sekali dan gak pergi aja?” gerutunya.

“Karena sungai sudah memberi sesuatu yang mereka butuhkan Ali,” jawab Mola lirih. “Air kotor.”

Kawanan tawes tak tahu, bahwa ulah manusia lah air kotor itu. Karena hal itu, ikan sapu-sapu dapat bertahan dan merasa baik-baik saja tanpa kendala, sangat kuat dalam kondisi apapun. Tetapi tidak baik untuk ikan lokal seperti kawanan tawes itu.

Tiwa menyadari perubahan itu perlahan merayap ke tubuh mereka. Gerakannya menjadi lebih lambat, napas terasa berat. Bahkan cahaya matahari tak lagi menembus air dengan indah seperti dulu.

Suatu sore, Tana tidak kembali.

Mereka menunggu di bawah batu besar hingga arus senja melambat. Namun Tana tak kian muncul.

“Teman-teman ayo cari Tana,” kata Tiwa, panik.

Mereka menyusuri sungai hingga ke bagian yang paling keruh. Di sanalah mereka menemukan Tana—terjepit di antara tumpukan sampah plastik dan batang kayu, tubuhnya sangat lemah, nampak telah berjuang cukup lama.

“Tolong, aku nggak bisa keluar,” katanya lirih.

Gani dan Mola berusaha menariknya sekuat tenaga mereka, tetapi arus terlalu berat bagi tawes kecil itu. Dari kejauhan, banyak ikan sapu-sapu hanya menonton. Tidak membantu, tidak menghalangi. Mereka menyaksikan seolah ini adalah pertunjukan.

Tana akhirnya berhenti bergerak.

Arus membawa tubuhnya perlahan pergi.

Kesedihan menyelimuti kelompok sahabat tawes itu. Sungai yang dulu memberi mereka kehidupan kini terasa asing. Ali menjadi lebih pendiam. Tiwa sering berenang sendirian, mencoba memahami apa yang salah.

“Kenapa mereka bisa hidup, tapi kita tidak?” tanya Tiwa suatu malam.

Gani menatap arus lama sekali sebelum akhirnya menjawab. “Karena sungai berubah, dan kita tidak Tiwa.”

Tiwa menunduk sedih, merenungi nasib mereka. “Ini sungguh tak adil untuk kita.”

Beberapa hari kemudian, konflik memuncak. Kawanan sapu-sapu menguasai bagian hulu kecil—satu-satunya area yang masih relatif bersih.

“Kalian harus pergi,” kata Gani kepada pemimpin sapu-sapu.

“Pergi ke mana?” balasnya dingin. “Kami tidak memilih datang ke sungai yang rusak. Sungai rusaklah yang memilih kami untuk tinggal.”

Kata-kata itu menusuk Tiwa lebih dalam daripada gigitan apa pun, lebih berat dari arus manapun.

Malam itu, hujan deras pun turun. Arus mengamuk, membawa lumpur, plastik, dan bau menyengat. Sungai seperti menangis bercampur marah.

Ali terseret arus saat mencoba melawan. Tiwa mengejarnya, tetapi sebuah batang kayu menghantam tubuh Ali dengan keras. Ia terdiam, tanpa gerakan lalu hanyut.

“Ali!” teriak Tiwa, tetapi suaranya tenggelam dalam gemuruh air.

Ketika hujan reda, hanya tersisa Tiwa, Mola, dan Gani.

Mola terluka parah. Sisiknya banyak yang terkelupas. Ia tidak kuat melawan arus dan air kotor.

“Aku capek, Tiwa,” katanya pelan. “Sungai ini bukan lagi rumah untuk kita tinggali.”

Ia menutup mata sebelum matahari terbit, tubuh lemah itu pasrah terbawa arus.

Gani menahan Tiwa yang ingin mengejarnya. “Biarkan.”

Kini hanya mereka berdua.

Ikan sapu-sapu semakin banyak. Sungai nyaris tak bersisa untuk tawes.

“Pergilah, Tiwa,” kata Gani suatu hari. “Ikuti arus ke hilir. Cari sungai lain.”

“Aku nggak mau ninggalin kamu.”

Gani tersenyum. “Sungai butuh saksi.”

Hari berikutnya, Tiwa pergi. Dengan berat hati, ia mengikuti arus, meninggalkan tempat di mana ia belajar berenang, mencari makan, tertawa riang, dan berakhir kehilangan sahabat-sahabatnya.

Dari kejauhan, ia melihat Gani tetap di bawah batu besar, sendirian.

Beberapa waktu kemudian, tubuh Gani ditemukan terdampar di tepi sungai oleh manusia. Mereka tidak tahu namanya, tidak tahu kisahnya. Mereka hanya melihat sungai yang semakin kotor dan penuh ikan sapu-sapu.

Miris, mereka tak menyadari kesalahan fatal yang telah mereka perbuat selama ini.

Namun Tiwa membawa ingatan itu ke sungai lain. Ia hidup, berkembang, dan menjadi bagian dari kelompok baru. Ia mengajarkan satu hal:

Sungai bukan hanya air yang mengalir. Ia adalah rumah. Dan ketika rumah dirusak, yang kuat bukan selalu yang benar—hanya yang tersisa.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)