Malam merayap turun menyelimuti ibu kota Kraftvoll, membawa serta hawa dingin yang menusuk tulang. Aku berdiri bersandar pada bingkai jendela kamarku yang terbuat dari kayu mahoni berukir, membiarkan angin malam menerpa wajahku. Angin ini membawa aroma yang sangat kukenal. Campuran antara wangi mawar dari taman kerajaan yang dirawat secara obsesif, bau tembaga dari baju zirah para penjaga yang berpatroli, dan anyir kebohongan yang menguar dari setiap batu penyusun istana ini.
Esok pagi ketika matahari pertama kali mengoyak cakrawala, aku akan memimpin pasukan menuju perbatasan. Sebuah perang menanti di sana. Perang yang diagungkan oleh para bangsawan yang perutnya buncit karena terlalu banyak menenggak anggur dan menelan upeti. Bagi mereka, perang ini adalah tentang kejayaan, perluasan wilayah, dan emas. Namun bagiku, perang ini hanyalah sebuah panggung sandiwara berdarah yang harus aku jalani. Sebuah harga yang harus aku bayar untuk mempertahankan ilusi yang telah aku bangun dengan susah payah.
Aku menatap pantulan diriku pada kaca jendela yang gelap. Pangeran Mahkota Lucian Ein Kraftvoll. Sorot mataku tajam namun selalu dibalut dengan kehangatan palsu. Garis rahangku tegas, mencerminkan kewibawaan yang diharapkan oleh jutaan rakyat. Di mata dunia, aku adalah matahari. Aku adalah pewaris sempurna yang adil, bijaksana, dan penuh kasih. Sosok yang selalu tersenyum lembut kepada rakyat jelata, pangeran yang kata-katanya adalah puisi penyembuh luka, dan ksatria yang pedangnya hanya diayunkan demi kebenaran.
Betapa menyedihkannya mereka semua. Betapa mudahnya manusia dibutakan oleh cahaya yang menyilaukan.
Jika saja mereka tahu apa yang sebenarnya bersembunyi di balik senyum lembut ini. Jika saja mereka bisa melihat ke dalam kepalaku dan menyaksikan bongkahan jiwa yang telah lama membusuk dan hancur berantakan. Aku bukanlah matahari yang menghangatkan. Aku adalah lubang hitam yang menyerap semua kotoran istana ini, menelannya dalam diam, dan mengubahnya menjadi racun yang perlahan menggerogoti kewarasanku sendiri.
Dunia ini, terutama istana Kraftvoll, adalah sebuah teater raksasa di mana setiap penghuninya adalah aktor amatir yang serakah. Aku memperhatikan mereka dari singgasanaku yang tak terlihat, membiarkan mereka menari dalam kebodohan mereka sendiri.
Lihat saja ayahku, sang Raja Gladiolas. Pria tua itu adalah personifikasi dari sebuah tong kosong yang berbunyi nyaring. Dia duduk di atas tahta emasnya, mengira dirinya adalah dewa yang mengendalikan dunia. Padahal dia hanyalah seorang pedagang murahan yang menukar darah dan air mata dengan kekuasaan. Dia melihat manusia bukan sebagai jiwa yang bernapas, melainkan sebagai angka di atas kertas perjanjian. Kasih sayangnya adalah transaksi. Dia merawatku bukan karena cinta, melainkan karena dia membutuhkan alat yang sempurna untuk mengamankan dinastinya. Aku menatap matanya yang mulai keruh dimakan usia, dan aku tidak menemukan sosok ayah di sana. Aku hanya melihat monster serakah yang suatu saat nanti harus aku singkirkan dari atas panggung.
Lalu ada ibu tiriku, Ratu Frau, dan boneka kesayangannya, Pangeran Arglist. Ratu Frau selalu bergerak di dalam bayang-bayang, menebar bisa seperti laba-laba yang ketakutan jaringnya akan robek. Dia mengira aku tidak tahu tentang racun yang diam-diam dia campurkan ke dalam teh ibuku dulu. Dia mengira senyum keibuannya bisa mengelabui insting pembunuhku.
Dan Arglist. Adik tiriku yang menyedihkan itu adalah cerminan dari kecemburuan yang buta. Setiap kali dia menatapku, matanya berkilat oleh ambisi liar dan rasa rendah diri yang akut. Dia ingin menjadi sepertiku. Dia ingin rakyat memujanya, dia ingin ayah mengakuinya. Arglist terus menyusun rencana licik dan tipu daya picisan untuk menjatuhkanku, mengira dirinya adalah ahli strategi yang brilian. Betapa lucunya. Dia tidak sadar bahwa aku membiarkannya bermain. Aku membiarkan Arglist merasa menang dalam pertarungan kecil, karena melihatnya tersenyum pongah di atas kemenangan palsu adalah hiburan tersendiri bagiku. Seekor anjing yang menggonggong terlalu keras biasanya tidak menyadari bahwa lehernya sudah terikat rantai yang ujungnya aku pegang.
Aku benci tempat ini. Aku benci bernapas di udara yang sama dengan orang-orang berwajah dua ini. Sisi gelap di dalam diriku sering kali berbisik, menyuruhku untuk mencabut pedang dan menebas leher mereka satu per satu saat mereka tertidur lelap. Membakar istana ini hingga rata dengan tanah dan menari di atas abunya.
Namun, ada satu hal yang menahanku. Satu-satunya jangkar yang mencegah monsterku ini lepas kendali dan melahap segalanya.
Pandanganku beralih dari kaca jendela menuju ke arah sebuah bangunan terpencil di sudut terjauh istana. Istana selir. Tempat yang diabaikan oleh Dewa dan dilupakan oleh manusia. Tempat yang dingin, lembap, dan dipenuhi oleh keputusasaan.
Di sanalah dia berada. Armeria.
Hanya dengan menyebut namanya di dalam hati, bongkahan es di dadaku terasa sedikit mencair, digantikan oleh rasa sesak yang menyiksa. Adik kecilku yang malang. Darah daging dari wanita yang dibawa paksa untuk memuaskan nafsu binatang sang raja.
Di mata penghuni istana, Armeria adalah sampah kotor. Dia adalah aib bertahtakan kegilaan. Mereka menertawakan tawa kosongnya, mereka mencibir tatapan matanya yang tidak fokus. Mereka menyebutnya putri gila yang tidak berguna.
Bodoh. Mereka semua sangat bodoh.
Aku tahu kebenarannya. Aku selalu tahu. Di balik topeng kegilaan yang dia kenakan sebagai perisai, bersembunyi jiwa yang murni sekaligus paling rapuh yang pernah aku kenal. Aku melihat bagaimana tangannya bergetar saat dia harus menelan hinaan dari Ratu Frau. Aku melihat kilatan kecerdasan yang tajam di balik mata biru lautan itu sesaat sebelum dia menutupinya dengan tawa sumbang.
Armeria tidak gila. Dia sedang bertarung sendirian di tengah sarang ular berbisa, memotong sayapnya sendiri agar tidak ada yang menyadari bahwa dia adalah malaikat.
Setiap kali aku menatapnya dari kejauhan, bagian tergelap dari jiwaku meronta. Aku ingin menghancurkan siapa saja yang berani memandangnya dengan sebelah mata. Aku ingin merobek mulut para pelayan yang berbisik buruk tentangnya. Keinginanku untuk melindunginya bukanlah kasih sayang seorang kakak yang normal. Mungkin ini adalah sebuah obsesi yang sakit. Aku ingin membawanya pergi dari sangkar busuk ini, lalu melepaskannya agar bisa terbang bebas tanpa beban.
Terkadang, aku membenci diriku sendiri karena tidak bisa memeluknya secara terang-terangan. Aku harus menjaga topeng pangeran sempurnaku. Jika aku menunjukkan sedikit saja perhatian lebih kepadanya, Ratu Frau dan Arglist akan mencium kelemahan itu. Mereka akan menggunakan Armeria untuk menghancurkanku. Keselamatannya bergantung pada ketidakpedulian palsuku.
Itulah hukuman terberat bagiku. Harus tersenyum ramah kepada musuh-musuhku, sementara aku harus berjalan melewati adikku seolah dia adalah bayangan yang tidak terlihat. Aku membiarkan diriku disalahpahami olehnya. Biarlah Armeria berpikir aku hanyalah pangeran yang terlalu sibuk dengan urusan negara. Biarlah dia merasa sendirian untuk sementara ini. Karena dalam kesendiriannya itu, dia aman.
Angin malam kembali berhembus, kali ini membawa rintik hujan yang mulai membasahi jendela. Aku menengadah, menatap langit yang kelam tanpa bintang.
Besok aku akan berangkat ke perbatasan Celestia. Aku akan membunuh ratusan nyawa, membiarkan darah mereka membasahi pedangku. Aku akan menjadi iblis pencabut nyawa yang bersembunyi di balik jubah pahlawan. Aku akan memenangkan perang ini, membawa kembali kejayaan palsu untuk raja yang gila harta itu. Dan dengan kemenangan itu, cengkeramanku pada tahta akan menjadi tak terbantahkan.
Ketika hari itu tiba, ketika kekuasaan mutlak berada di tanganku, aku tidak akan ragu lagi. Aku akan merobek topeng ini. Aku akan membiarkan monster di dalam diriku keluar dan menelan orang-orang yang telah menyakiti Armeria. Aku akan memberikan dunia ini ke telapak tangannya yang kecil, bahkan jika dia menolaknya, bahkan jika dia ketakutan melihat wujud asliku.
Tetapi malam ini, aku harus kembali menelan kepahitan ini. Aku harus kembali menjadi Lucian yang sempurna.
Aku membalikkan tubuh, melangkah menjauhi jendela dan kegelapan malam. Aku mengunci rapat-rapat sisi gelapku di dasar jiwa, membiarkan diriku kembali terperangkap dalam kesunyian yang abadi. Tidak ada yang akan mendengar jeritan jiwaku yang retak. Tidak ada yang akan menyadari bahwa sang pangeran mahkota telah lama mati di dalam, menyisakan cangkang kosong yang digerakkan oleh dendam.
Tunggulah aku, Armeria. Bertahanlah sedikit lebih lama dalam kesepian dan kegilaanmu. Karena saat aku kembali nanti, aku akan memastikan bahwa dunia yang gila ini berlutut di bawah kakimu.