Disukai
0
Dilihat
5
Ngidam Yang Berakhir Luka
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Pernikahan Icha dan Rizal baru berjalan satu tahun ketika dua garis merah itu muncul di alat tes kehamilan. Icha, sang istri menangis sambil tertawa, tangannya gemetar memeluk stik plastik kecil itu seolah benda paling berharga di dunia. Ia membayangkan rumah yang lebih hidup, suara tangis bayi, dan pagi-pagi yang sibuk tapi hangat.

Rizal ikut melihat, lalu mengangguk singkat.



“Syukurlah,” katanya. Tidak ada pelukan. Tidak ada sorak bahagia. Hanya satu kata, lalu kembali sibuk dengan ponselnya.

Icha menghibur diri. Tidak semua orang pandai mengekspresikan perasaan. Mungkin nanti, pikirnya. Mungkin setelah bayi ini lahir, suaminya akan berubah. Menjadi lebih lembut. Lebih hangat. Lebih peduli.

Kehamilan pertamanya tidak mudah. Tubuhnya cepat lelah, punggung sering terasa seperti ditarik-tarik, dan kram perut datang tanpa aba-aba. Ada hari-hari di mana ia hanya bisa berbaring, menahan mual sambil menatap langit-langit kamar.

Ia juga mengalami ngidam. Tapi tidak pernah yang merepotkan. Tidak minta durian tengah malam, tidak minta makanan mahal. Paling-paling hanya ingin rujak, bakmie goreng, atau pisang goreng coklat keju.

Namun setiap kali Icha meminta sesuatu, wajah Rizal selalu berubah. Alis mengerut, napas ditarik panjang, seolah permintaan itu beban besar.

“Kenapa sih ribet banget? Baru juga hamil dua bulan.”

“Beli sendiri aja besok.”

“Atau nanti aja, aku capek.”

Begitulah respon sang suami.

Kalau Icha mengeluh pegal dan minta dipijat, Rizal selalu berpura-pura tidur. Kalau Icha mengeluh pusing, jawabannya hanya, “Minum obat sana.”

Icha menelan semuanya. Aku lagi hamil. Gak boleh baper, gak boleh sedih terus, katanya dalam hati. 

"Jangan banyak drama. Mas Rizal gak suka," batinnya.

****

Siang itu, rasa mualnya tidak juga reda. Dari pagi Icha teringat satu rasa yang sangat spesifik—bubur kacang hijau Pak Raharjo. Bubur langganannya sejak dulu. Teksturnya lembut, santannya pas, gula aren tidak berlebihan. Bubur yang selalu membuat perutnya hangat.

Icha mencoba menahan. Sampai akhirnya rasa itu semakin kuat, membuat air liurnya terkumpul dan dadanya terasa sesak.

Dengan ragu, ia menelepon suaminya di jam istirahat kerja.

“Mas,” katanya pelan. “Aku lagi pengen bubur kacang ijo Pak Raharjo. Tolong beliin ya. Sebungkus aja.”

Di seberang sana terdengar helaan napas.

“Tempatnya jauh dari kantor. Beli aja yang abang-abang gerobak keliling.”

“Dedeknya nggak mau, Mas. Maunya bubur racikan Pak Raharjo.”

“Halah. Ribet banget kamu. Makan yang ada aja di rumah. Capek aku, pulang kerja masih disuruh mampir.”

Icha menutup mata. Mengumpulkan keberanian.

“Sekali ini aja, Mas. Aku beneran lagi pengen.”

“Baru juga hamil dua bulan. Gimana nanti bulan-bulan berikutnya?”

“Ini anak pertama kita,” suara Icha hampir bergetar. “Nggak ada salahnya kan, Mas… memanjakan istri di kehamilan pertamanya.”

Hening beberapa detik.

“Ya udah, ya udah,” jawab suaminya akhirnya. “Aku beliin.”

Nada kesalnya jelas. Tapi sang istri tetap tersenyum kecil.

“Terima kasih, Mas,” ucap Icha.

Setelah telepon ditutup, ia mengelus perutnya sembari tersenyum. “Dengar itu, Dedek? Ayah mau beliin bubur kacang hijau.”

****

Sore itu hujan turun sejak langit masih abu-abu. Tubuh Icha terasa lebih sakit dari biasanya. Ia memilih bedrest, menunggu suaminya pulang sambil memandangi jam dinding.

Setengah enam lewat lima belas menit.

Rizal belum jua pulang.

Icha mengirim pesan Whatsapp.

Mas? Kamu masih di kantor atau di mana? Hujannya deres. Mas neduh dulu ya kalau memang lagi di perjalanan. Aku harap mas baik-baik aja.

Tidak ada balasan.

Hujan semakin deras. Petir menyambar. Icha membayangkan suaminya di jalan, kehujanan. Rasa bersalah mulai merayap.

“Andai ngidamnya yang lain. Mas Rizal nggak akan terlambat pulang dan kehujanan,” gumamnya. Guratan di wajahnya tak tenang.

"Ah, ya ampun. Kasihan suamiku," imbuhnya.

Beberapa kali Icha mengecek WA. Masih centang satu. Ia semakin gelisah.

****

Pukul setengah tujuh malam, suara pintu terdengar. Icha terkejut, lalu bangkit perlahan.

Rizal, sang suami masuk dengan seragam kerja yang basah kuyup. Rambutnya meneteskan air. Di tangan kanannya, sebuah kantong kresek putih.

“Mas…” kata Icha lega. “Ya Allah, baju sama rambut kamu basah semua.”

"Mas, memang kamu nggak berteduh? Aku udah chat kamu, tapi centang satu terus," sambungnya.

"Kasihan sekali kamu, Mas. Pasti kamu kedinginan."

Tatapan suaminya tajam.

“Tau nggak?! Aku begini gara-gara kamu!” ucap Rizal dengan nada membentak.

Kalimat itu menghantam Icha lebih keras dari suara hujan.

“Aku kehujanan cuma buat nurutin kemauan kamu,” lanjut suaminya. “Enak ya kamu tiduran dan santai-santai di rumah.”

“Maaf, Mas,” kata Icha tergesa. “Kalau tahu hujan deras begini—”

“Halah! Kamu yang ngotot. Kalau nggak aku turutin, pasti kamu banyak drama. Nyindir aku suami nggak peka. Nggak peduli istri lagi hamil. Lagian manja amat! Capek aku!” potong Rizal, masih membentak.

Icha terdiam. Kata-kata itu menusuk kalbunya. Ia tidak merasa banyak drama. Ia hanya ingin bubur kacang hijau.

Rizal lalu membuka wadah bubur itu. Tanpa disangka-sangka, ia menyiramkannya ke wajah sang istri.

“Nih! Bubur kacang ijo yang kamu pengen! Makan tuh!” amarah Rizal memuncak.

Tubuh Icha kaku. Bubur kacang hijau hangat mengalir di rambut, wajah, dan lehernya. Matanya perih. Air mata jatuh tanpa suara.

“Kamu nggak tau rasanya seharian kerja!” teriak suaminya. “Kalau ngidam lagi, beli sendiri! Aku bukan pembantu kamu yang bisa kamu suruh-suruh seenaknya!”

Lalu Rizal pergi tanpa rasa menyesal apalagi bersalah. Meninggalkan kamar yang sunyi.

Icha duduk terpaku. Tangannya gemetar saat membersihkan bubur dari rambutnya. Tidak ada yang memeluknya. Tidak ada kata-kata permintaan maaf dari sang suami.

Padahal, itu pertama kalinya Icha meminta dibelikan bubur kacang hijau Pak Raharjo.

****

Sembilan bulan berlalu. Bayi mereka lahir sehat dan lengkap. Bayi itu berjenis kelamin laki-laki. Semua orang tersenyum bahagia. Rizal terlihat bangga, memamerkan anaknya yang putih bersih ke mana-mana.

Tetapi, ada sesuatu di dalam diri Icha yang tidak pernah pulih.

Setiap kali melihat penjual bubur kacang hijau, dadanya sesak. Setiap kali ditawari bubur di posyandu, ia menolak dengan senyum kaku. Aroma kacang hijau membawa kembali hujan deras, suara bentakan sang suami, dan siraman bubur di wajahnya. Itu semua seperti mimpi buruk yang terus saja berulang menghantuinya.

Icha menjadi sangat membenci bubur kacang hijau. Bukan karena rasanya.

Tapi karena kenangan yang melekat padanya.

"Ini jatah bubur kacang hijau saya buat Mbak Ayu aja," kata Icha sewaktu di posyandu. Ia menyerahkan bubur itu dengan senang hati.

"Loh, kok dikasih ke saya, Mbak? Padahal buburnya enak banget," ungkap Ayu.

"Saya nggak suka bubur kacang hijau. Udah buat mbak aja, ya." Icha lekas memasukkan sebungkus bubur kacang hijau ke dalam kresek milik Ayu.

"Waduh. Ya udah kalo gitu. Makasih, loh."

"Sama-sama, Mbak."

Bahkan, ketika ibundanya bertandang ke rumah dan membawakan bubur kacang hijau kesukaannya, Icha pasti menolak memakannya.

"Ini, kan bubur kacang hijau favorit kamu, Nduk. Lagian, kok bisa tiba-tiba gini nggak suka bubur kacang hijau." Sang ibunda merasa aneh.

"Bisa lah, Bu. Udah bosan aku," balas Icha sembari menimang-nimang buah hatinya.

"Makan sedikit aja kalo gitu. Ibu udah capek-capek masakin khusus buat kamu loh."

"Lagian aku nggak minta, Bu. Pokoknya aku nggak mau memakannya."

"Loh. Loh. Kok, jadi aneh gini sih kamu, Nduk.

"Nggak ada yang aneh. Memang aku udah nggak suka lagi sama makanan itu."

"Yo wes. Bubur kacang hijaunya biar dimakan saja sama suamimu."

"Nggak usah repot-repot, Bu. Mas Rizal sama kayak aku. Dia nggak suka bubur kacang hijau." Icha terpaksa berbohong.

"Aduh, Nduk! Sayang dong buburnya. Mana ibu bawa banyak. Tahu gitu ibu nggak akan masakin bubur kacang hijau lagi buat kamu." Sang ibunda teramat kecewa berat.

Sang ibu kemudian menutup kembali wadah-wadah berisi bubur kacang hijau racikannya.

"Bubur kacang hijaunya kamu bagi-bagikan saja ke tetangga deket rumah," saran sang ibu. 

"Ibu bikin banyak soalnya. Mubazir kalo sampai nggak habis," imbuhnya, masih dengan raut kecewa.

Icha hanya mengangguk kecil.

"Maafin Icha, Bu. Icha nggak bermaksud membuat ibu kecewa. Andai ibu tahu yang Icha alami beberapa bulan yang lalu. Perlakuan kasar Mas Rizal sukses membuatku trauma melihat bubur kacang hijau. Padahal bubur kacang hijau bikinan ibu… bubur terenak. Tapi, sayangnya aku udah nggak bisa memakannya lagi." Suara hati Icha.

Sejak kejadian menyakitkan itu, Icha tidak pernah lagi memakan bubur kacang hijau. Tidak juga memasakkannya—untuk suami, bahkan untuk anaknya.

Beberapa luka memang lahir dari hal-hal sepele. Dan tidak semua luka bisa sembuh, meski waktu terus berjalan.

****

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi