Hujan turun membasahi pelataran istana selir sejak sore tadi. Suaranya menderu pelan bagai bisikan rahasia yang sengaja disembunyikan dari dunia luar. Tempat ini selalu sepi, sebuah sudut terbuang yang dilupakan oleh kemegahan Istana Kraftvoll. Dahulu aku menganggap kesunyian ini sebagai sebuah hukuman. Sebuah penghinaan bagi seorang Starksten yang seharusnya berada di garis depan medan perang atau di pusat pertahanan militer. Namun kini, di bawah langit kelabu yang menaungi bangunan pudar ini, aku menemukan sebuah ironi yang menyiksa. Kesunyian istana selir telah menjadi satu-satunya tempat di mana aku merasa benar-benar hidup.
Aku berdiri mematung di balik bayangan pilar batu di ujung selasar. Mataku tidak bisa lepas dari satu sosok yang sedang duduk diam di ambang jendela besar.
Armeria vier Kraftvoll.
Dia duduk di sana dengan gaun biru muda sederhana yang ujungnya menyapu lantai marmer. Sebelah tangannya menopang dagu, sementara tatapannya lurus menembus tirai hujan. Rambut ikal pirang keabuannya tergerai bebas, jatuh menutupi punggungnya yang ramping bagai air terjun perak di bawah cahaya mendung. Dari sudut pandang ini, profil wajahnya terlihat begitu rapuh. Kulitnya pucat seperti porselen mahal yang akan hancur hanya dengan satu sentuhan kasar.
Namun aku tahu, kerapuhan itu adalah kebohongan paling indah yang pernah diciptakan oleh Dewa.
Aku mengingat kembali hari pertama aku ditugaskan kemari. Aku datang dengan dada membusung oleh harga diri yang terluka dan tatapan penuh penghakiman. Aku melihatnya sebagai putri sombong yang gila, sebuah aib kerajaan yang harus aku jaga sebagai bentuk permainan politik Pangeran Arglist yang rendahan. Aku membenci tawanya yang kosong. Aku membenci tatapannya yang seolah merendahkan dan tidak berpijak pada realitas. Aku adalah seorang prajurit yang memuja keteraturan dan fakta, sementara dia adalah kekacauan yang dibalut dalam ketidakwarasan.
Lalu waktu berlalu, dan dinding prasangkaku mulai retak.
Aku mulai memperhatikan hal-hal kecil yang lolos dari pandangan orang lain. Aku melihat bagaimana tangannya yang gemetar tiba-tiba menjadi sangat stabil saat tidak ada yang melihat. Aku menyadari bahwa tawa gilanya selalu muncul di saat yang terlalu tepat untuk mengalihkan perhatian orang dari sesuatu yang lebih penting. Aku menangkap kilatan kecerdasan yang tajam, sebuah perhitungan yang dingin, yang bersembunyi di balik mata birunya sesaat sebelum dia kembali memakai topeng ketidakwarasannya.
Dia tidak gila. Dia sedang bertahan hidup.
Pemahaman itu menghantamku seperti palu baja yang menghancurkan seluruh fondasi logikaku. Ketika aku menyadari bahwa dia sendirian memainkan sebuah sandiwara mematikan di tengah sarang ular berbisa yang disebut istana, sesuatu di dalam dadaku retak. Rasa hormat mulai tumbuh menggantikan rasa muak. Keingintahuan perlahan menyelinap masuk, menggantikan kebosanan.
Dan tanpa aku sadari, rasa ingin tahu itu bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Sesuatu yang kini mencekik leherku setiap kali aku melihatnya.
Armeria tiba-tiba mengangkat tangannya, menjulurkan jari-jarinya yang lentik melewati bingkai jendela untuk menangkap rintik hujan. Air menetes dari ujung jarinya, jernih dan dingin. Gerakannya begitu pelan, begitu damai, sangat kontras dengan badai yang aku tahu sedang berkecamuk di dalam kepalanya.
Langkah kakiku bergerak sendiri. Tanpa sadar aku telah meninggalkan posisiku di balik pilar dan berjalan mendekatinya. Suara sepatu botku yang beradu dengan lantai kayu membuat bahunya sedikit menegang, namun dia tidak menoleh. Dia tahu itu aku. Dia selalu tahu keberadaanku, sama seperti aku yang selalu menyadari setiap tarikan napasnya.
"Udara semakin dingin, Yang Mulia," ucapku. Suaraku terdengar lebih serak dari yang aku harapkan. Aku benci betapa sulitnya menjaga nada suaraku agar tetap datar dan profesional di dekatnya.
Armeria menarik tangannya dari guyuran hujan. Dia menoleh ke arahku dengan gerakan lambat. Mata biru itu menatapku.
Ah, mata itu. Warnanya bukan sekadar biru biasa. Matanya adalah miniatur lautan dalam yang tidak pernah tersentuh cahaya matahari. Gelap, misterius, dan menyimpan ribuan rahasia yang bisa menenggelamkan siapa saja yang berani menatapnya terlalu lama.
Dulu aku berpikir mata merahku adalah warna yang paling mendominasi. Warna darah dan api yang menuntut ketundukan. Namun setiap kali tatapan kami berjumpa, apiku selalu padam ditelan oleh samudra miliknya. Aku tenggelam, dan hal yang paling gila adalah aku tidak pernah berusaha berenang ke permukaan.
"Hujan selalu membawa hawa dingin, Sir Starksten," jawabnya. Nadanya ringan, namun tidak ada nada sumbang yang menggambarkan ketidakwarasan di sana. Hanya kami berdua di tempat ini. Tidak ada mata-mata, tidak ada penjaga lain. Kadang, di saat-saat sepi seperti ini, dia membiarkan topengnya lepas sedikit di hadapanku. Sebuah bentuk kepercayaan bisu yang membuat jantungku berdetak menyakitkan.
"Anda bisa jatuh sakit jika terus duduk di dekat jendela yang terbuka," kataku lagi. Aku melepas mantel militerku yang berat dan melangkah lebih dekat. Tanpa meminta izin, aku menyampirkan mantel hitam itu ke atas bahunya yang kecil.
Tubuhnya sedikit tersentak saat kain tebal yang masih menyimpan panas tubuhku itu menyentuh kulitnya. Dia mendongak, menatapku dengan ekspresi yang sulit dibaca. Jarak kami kini terlalu dekat. Aku bisa mencium aroma tubuhnya. Campuran antara wangi hujan, buku-buku tua, dan bunga mawar. Aroma yang aneh, namun entah sejak kapan telah menjadi candu yang paling aku butuhkan untuk tetap waras.
"Seorang ksatria tidak seharusnya memberikan mantelnya kepada orang gila," bisiknya. Senyum tipis, nyaris seperti ejekan untuk dirinya sendiri, terukir di bibirnya.
Rahangku mengeras. Aku sangat membenci kata itu jika keluar dari bibirnya. "Anda tidak gila," balasku dengan suara yang tertahan di tenggorokan. "Dan saya bukan sekadar ksatria yang sedang menjalankan tugas. Anda tahu itu."
Matanya sedikit melebar. Hanya seperseribu detik, namun aku menangkapnya. Ada getaran kecil di balik samudra biru itu. Sebuah ketakutan? Atau mungkin sebuah kerinduan yang sama dengan yang menyiksaku setiap malam?
Dia memalingkan wajahnya kembali ke arah hujan, merapatkan mantelku di tubuhnya. Tangannya yang pucat mencengkeram kain hitam itu erat-erat. "Terkadang, Sir Starksten, kebenaran adalah racun yang lebih mematikan daripada kebohongan. Kau terlalu dekat dengan racun itu."
"Saya sudah terlanjur menelannya," ucapku tanpa ragu.
Udara di antara kami terasa mendadak berat. Kata-kata itu meluncur begitu saja, membawa serta pengakuan yang selama ini aku kubur dalam-dalam di bawah sumpah kesetiaan, di bawah kebanggaan keluarga Starksten, dan di bawah harga diriku sebagai seorang pria.
Armeria terdiam cukup lama. Hanya suara hujan yang mengisi kekosongan di antara kami. Aku berdiri di sampingnya, mengawasi bagaimana dadanya naik turun dengan ritme yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Aku tahu aku telah melewati batas. Aku tahu aku baru saja menyentuh sebuah tabu yang bisa menghancurkan kami berdua.
Jika aku terus melangkah di jalan ini, jika aku membiarkan perasaan ini terus tumbuh menjalar dan mengakar di dalam hatiku, mungkin aku akan kehilangan segalanya. Gelar, masa depan, kehormatan, dan mungkin bahkan nyawaku sendiri. Aku adalah pedang tajam milik kerajaan, tidak seharusnya pedang ini membengkok hanya karena seorang wanita. Terutama wanita yang membawa takdir seberat Armeria. Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar sandiwara. Sesuatu yang berbau suci namun mematikan. Sebuah pusaran takdir yang akan menelan siapa saja di dekatnya.
Armeria menoleh lagi, kali ini tatapannya lebih dingin. "Apa kau sekarang ikut menjadi tidak waras? Kau adalah pria yang memiliki dunia di telapak tanganmu, Augen. Jangan membuangnya untuk sesuatu yang bahkan tidak memiliki masa depan."
Dia memanggil namaku. Tanpa embel-embel jabatan. Hanya namaku. Dan itu terdengar seperti melodi paling menyedihkan yang pernah diciptakan oleh semesta.
Aku menundukkan pandanganku, menatap mata birunya yang dingin. Tanganku bergerak perlahan, seolah memiliki kehendaknya sendiri, lalu berhenti tepat di udara, hanya satu inci dari pipinya yang pucat. Aku ingin menyentuhnya. Dewa tahu betapa aku ingin merengkuh tubuh rapuh ini dan menyembunyikannya dari kekejaman dunia. Aku ingin menjadi tameng yang melindunginya dari ayahnya yang egois, dari ratu yang kejam, dan dari takdir sialan yang memaksanya berpura-pura kehilangan akal.
Namun tanganku tetap tertahan di udara. Aku mengepalkan jemariku dan menariknya kembali.
Aku memaksakan sebuah senyum tipis, sebuah ekspresi yang mungkin terlihat sangat menyedihkan di wajahku yang kaku. Aku mundur satu langkah, mengembalikan jarak aman di antara kami, jarak antara seorang penjaga dan sang putri.
"Dunia yang Anda sebutkan itu tidak memiliki arti apa-apa bagi saya, Yang Mulia," kataku dengan nada yang sangat tenang, sebuah ketenangan yang lahir dari keputusasaan. "Saya adalah seorang ksatria. Saya dilatih untuk menghitung risiko dan keuntungan di setiap pertempuran."
Aku menatapnya lekat-lekat, membiarkan seluruh rahasia dan perasaan yang selama ini aku sembunyikan terpancar sejenak dari mata merahku. Aku membiarkan dia melihat pria yang telah kalah telak sebelum medan perang bahkan dimulai.
"Dan dalam perhitungan saya, menyerahkan seluruh dunia yang saya miliki untuk berdiri di samping Anda di tempat gelap ini, adalah sebuah kemenangan."
Armeria menahan napasnya. Bibirnya sedikit terbuka, namun tidak ada kata yang keluar. Dia memalingkan wajahnya dengan cepat, menyembunyikan ekspresinya di balik bayangan rambut peraknya.
"Kata orang-orang kau adalah pria yang cerdas. Tapi kurasa mereka salah menilaimu."
Aku membalikkan badan dan berjalan kembali ke posisiku di sudut selasar. Hujan di luar semakin deras, mengaburkan pandangan ke arah taman yang mati.
Di tempat yang dilupakan Dewa ini, aku, Augen Starksten, telah membuat sumpah bisu yang tidak akan pernah tercatat dalam sejarah. Aku akan mengawasinya, melindunginya, dan menjadi bayangan yang menopangnya. Aku akan menyimpan perasaan ini rapat-rapat, membiarkannya membakar dadaku hingga menjadi abu, asalkan dia tetap bernapas.
Biarlah dunia melihatku sebagai penjaga yang jatuh pangkat. Biarlah kakekku kecewa dengan jalan yang aku pilih. Biarlah seluruh rencana kerajaan ini hancur berantakan. Aku tidak peduli.
Aku akan melangkah masuk ke dalam labirin kegilaannya dengan sukarela, memeluk duri-duri yang dia jadikan perisai, dan membiarkan diriku terluka berkali-kali. Aku tidak akan mundur satu langkah pun.
Karena untuk bisa melihatnya menatap dunia dengan bebas suatu hari nanti, aku sama sekali tidak keberatan untuk kehilangan segalanya.