Orang ke-7
17. Scene 17
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

INT. RUANG TENGAH — MENJELANG FAJAR

Ariel memandang jasad Adit, lalu Doni yang masih terengah setelah menyerangnya. Ketika melihat cangkir-cangkir di tangannya, ia akhirnya mengambil keputusan. Ia mengambil cangkir yang tadi diletakkan di dekat tempat duduk Doni dan mengulurkannya kepadanya. Cangkir kedua tetap di tangannya. Tangannya gemetar; ia tidak terlihat tenang, hanya berusaha agar Doni tidak menyadari ketakutannya.

ARIEL
Minum dulu, Mas. Istighfar.
ARIEL
Kenapa kamu tega membunuh muridmu sendiri?
DONI
(masih terengah)
Dia gila, Ariel! Dia membunuh Riki, mungkin dia juga yang membunuh Bella dan Agnes. Dia juga melukis kamu tanpa busana!


Doni menenggak air itu. Ariel memperhatikannya tanpa berkedip, cangkirnya sendiri belum tersentuh.

ARIEL
Aku menyiapkannya untuk kita berdua, Mas. Aku tidak tahu bagaimana caranya keluar dari semua ini.
DONI
(terbatuk, mencengkeram leher)
Apa yang kau campurkan?!
ARIEL
Rumah ini bukan tempat berteduh. Kita semua ikut membiarkan ini terjadi. Kamu membunuh Adit. Aku membiarkan ketakutanku mengalahkan keberanianku.

Generator mati. Gelap total. Doni masih menggenggam pecahan kaca dan mengayunkannya membabi buta ketika Ariel berusaha menjauh dan menghentikannya. Mereka bertabrakan dalam gelap; pecahan kaca yang diayunkan Doni melukai Ariel. Terdengar benturan, lalu keheningan.

Lampu darurat menyala kembali. Ariel terkulai akibat luka dari pecahan kaca. Cangkirnya jatuh dan tumpah, belum sempat ia minum. Doni memeluknya sambil menangis.

ARIEL
(lirih)
Kita... tidak pernah keluar dari sini.

Ariel meninggal akibat luka yang dideritanya. Racun dalam tubuh Doni terus melemahkannya; ia terhuyung dan tumbang di samping istrinya. Kamera menjauh dari enam jasad: Bella, Agnes, Riki, Adit, Ariel, dan Doni. Di cermin retak, tujuh sosok berdiri, meski lantai hanya menampung enam tubuh.



Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)