INT. RUANG LUKIS — MALAM
Doni masuk dan melihat Adit melukis di samping tubuh Riki. Ia menyorotkan lampu ke kanvas dan mengenali wajah Ariel yang terdistorsi.
Doni hendak membalas, tetapi kata-katanya tertahan. Sesaat, ia teringat jasad-jasad di rumah itu. Ia segera mengalihkan pandangan.
KILAS BALIK — INT. RUMAH KELUARGA — MALAM (±60 DETIK)
Suara hujan berubah menjadi bunyi api yang berderak. Adit yang lebih muda duduk di lantai, melukis dengan seluruh perhatiannya tertuju pada kanvas. Di ruang sebelah, BELLA (lebih muda) menimang ADIK BUNGSU mereka yang mulai rewel.
Adit tidak mengangkat kepala dari lukisannya.
Bella mencoba mengulang permintaannya. Senandung tiga nada keluar pelan, tetapi napasnya mulai pendek. Adit akhirnya berdiri dengan kesal.
Adit pergi ke ruangan lain. Ia sempat berhenti di ambang pintu, mendengar Bella memanggilnya, tetapi tetap melangkah pergi.
Bella berusaha menenangkan adik bungsu sambil mengikuti suara langkah Adit yang menjauh. Tangannya menyenggol lilin merah di meja kecil. Lilin itu jatuh; api menyambar kain di dekatnya.
Cahaya oranye memenuhi bingkai. Bella memanggil Adit, lalu berusaha mencari jalan menuju adik bungsunya di tengah asap dan suara yang bertumpuk. Potongan gambar terputus-putus: tangan kecil, senandung yang tersendat, dan pintu yang tertutup asap. Kilasan terakhir: lorong rumah sakit. Adit duduk dengan pakaian berjelaga; seorang petugas meletakkan gelang kecil milik anak-anak di telapak tangannya. Tak ada kata-kata. Beberapa langkah darinya, Bella selamat tetapi terpaku, tatapannya kosong dan jemarinya mengulang tiga nada di lututnya. Adit menatap gelang itu, lalu menatap kakaknya—namun tidak mampu mendekat.
Suara api mencapai puncak, lalu mendadak berubah menjadi hujan di rumah tua.
KEMBALI KE: INT. RUANG LUKIS — MALAM
Adit tersentak kembali ke masa kini. Ingatannya terputus ketika Doni menerjangnya.
Adit menghindar, lalu menghantam kepala Doni dengan bingkai kanvas. Saat mereka bergulat, dari lorong terdengar tiga nada senandung Bella—lemah, hampir tertelan suara hujan. Adit kehilangan fokus sesaat, seolah nada itu menariknya ke suatu ingatan yang belum sanggup ia hadapi. Doni memanfaatkan jeda itu, tetapi Adit berhasil melepaskan diri dan berlari menuju ruang tengah. Doni jatuh menimpa tubuh Riki.
Sebelum menyusul, Doni melihat lukisan tujuh bayangan. Bayangan ketujuh tampak berdiri tepat di belakangnya. Doni menoleh. Tidak ada siapa-siapa.