INT. RUANG TENGAH — MALAM
Doni terbangun dan mendapati Adit serta Riki tak ada di ruang tengah. Ia membuka kain penutup Bella dan melihat tubuh Agnes telah terbaring di sampingnya. Ia tak ingat tubuh itu berada di sana sebelum ia tertidur.
Ariel terbangun oleh teriakannya. Doni menahan bahunya.
Doni mengambil lampu darurat dan mencari mereka. Saat melewati dinding, ia melihat tally marks yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada sebelumnya. Ia mencoba menghitung, tetapi lampu berkedip dan garis-garis itu tampak berubah. Doni mengumpat dan meneruskan pencarian. Di lorong, ia mendengar suara kuas menggesek kanvas.
Setelah Doni pergi, Ariel menahan napas. Ia mendengar senandung tiga nada dari lorong. Ia melirik pintu depan yang macet, lalu jasad-jasad di bawah kain. Pandangannya berhenti pada tempat Agnes tadi duduk. Ia sempat melihat pesan Agnes—dan memilih berpura-pura tidak melihatnya. Rasa bersalah itu membuat tangannya gemetar.
Ariel berdiri seolah hendak menyusul Doni, tetapi berhenti. Matanya jatuh pada tempat Agnes tadi duduk. Ia teringat tatapan Agnes saat mengulurkan ponsel—tatapan seseorang yang meminta dipercaya. Ariel menutup mata, menahan napas, lalu membuka mata lagi. Ketika senandung tiga nada terdengar dari lorong, ia tersentak. Ia kembali ke gudang dan memandangi botol berlabel racun tikus. Lama ia tidak bergerak. Akhirnya ia mengambil botol itu dan menyiapkan kedua cangkir tanpa memperlihatkan prosesnya. Tangannya gemetar saat ia kembali ke ruang tengah. Ia sempat berhenti di ambang pintu, masih bisa memilih untuk mundur. Namun ia tetap melangkah, menyembunyikan satu cangkir di balik punggung dan meletakkan yang lain di dekat tempat Doni biasa duduk. Ia menatap kedua cangkir itu lama. Belum ada yang ia berikan kepada siapa pun. Ia belum memutuskan apakah benar-benar sanggup meneruskan rencana itu.