INT. RUANG LUKIS — MALAM
Adit menemukan kanvas tua. Ia duduk di samping tubuh Riki dan mulai melukis dengan cat gelap dari kaleng yang terbuka di lantai. Saat kuas menyentuh kanvas, tangannya sempat gemetar; ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan sapuan yang makin tenang dan hampir teliti. Ia melukis potret Ariel tanpa busana yang terdistorsi, wajahnya tertutup bayangan dan garis-garis tajam.
Adit menatap lukisan itu dengan dingin, lalu bicara kepada kanvas.
Lukisan itu adalah penghinaan yang sengaja ia tujukan kepada orang dewasa yang gagal melindungi mereka.
Di sudut kanvas, ia melukis tujuh bayangan. Enam wajah dicoret; wajah ketujuh dibiarkan kosong. Dari belakang kanvas terdengar bisikan:
Adit menoleh. Ruangan kosong. Pulpen besi di saku jaketnya terasa dingin.