Apakah kamu akan memberikan Novel ke ?
Berikan Novel ini kepada temanmu
Masukan nama pengguna
Novel ini masih diperiksa oleh kurator
Blurb
Sejak kecil, Abay tidak pernah benar-benar memiliki tempat untuk pulang.
Lahir dari keluarga yang berjuang dalam kemiskinan, ia terbiasa ditinggalkan, dititipkan, dan hidup dalam kekurangan. Baginya, atap dan dinding bukan simbol kehangatan, melainkan ruang hampa yang hanya mengajarkannya satu seni paling menyakitkan: menahan diri.
Ia belajar untuk tidak meminta.
Ia belajar untuk diam.
Karena setiap harapan. . . hanya berujung kekecewaan.
Namun, takdir memiliki caranya sendiri untuk menarik seseorang dari sudut gelap. Pertemuannya dengan Tian—sosok yang membawa spektrum warna ke dalam hidupnya yang monokrom—serta sebuah warnet kecil di sudut kota, perlahan membuka jendela yang selama ini tertutup rapat.
Di antara deru mesin komputer dan pendar layar, Abay menemukan hal-hal yang selama ini dianggapnya mustahil: pengakuan, kesempatan, dan serpihan harga diri yang mulai ia susun kembali.
Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin ia sadar—luka masa kecilnya tidak pernah benar-benar pergi.
Dalam perjalanan tumbuhnya, Abay tidak hanya belajar tentang mimpi dan masa depan, tapi juga tentang satu hal yang paling sederhana, namun paling sulit ia pahami:
apa arti sebuah rumah.
Apakah rumah adalah tempat ia dilahirkan?
Atau. . . tempat di mana ia akhirnya diterima?
Lahir dari keluarga yang berjuang dalam kemiskinan, ia terbiasa ditinggalkan, dititipkan, dan hidup dalam kekurangan. Baginya, atap dan dinding bukan simbol kehangatan, melainkan ruang hampa yang hanya mengajarkannya satu seni paling menyakitkan: menahan diri.
Ia belajar untuk tidak meminta.
Ia belajar untuk diam.
Karena setiap harapan. . . hanya berujung kekecewaan.
Namun, takdir memiliki caranya sendiri untuk menarik seseorang dari sudut gelap. Pertemuannya dengan Tian—sosok yang membawa spektrum warna ke dalam hidupnya yang monokrom—serta sebuah warnet kecil di sudut kota, perlahan membuka jendela yang selama ini tertutup rapat.
Di antara deru mesin komputer dan pendar layar, Abay menemukan hal-hal yang selama ini dianggapnya mustahil: pengakuan, kesempatan, dan serpihan harga diri yang mulai ia susun kembali.
Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin ia sadar—luka masa kecilnya tidak pernah benar-benar pergi.
Dalam perjalanan tumbuhnya, Abay tidak hanya belajar tentang mimpi dan masa depan, tapi juga tentang satu hal yang paling sederhana, namun paling sulit ia pahami:
apa arti sebuah rumah.
Apakah rumah adalah tempat ia dilahirkan?
Atau. . . tempat di mana ia akhirnya diterima?
Tokoh Utama
Akbar Setya
Tian
Ulasan kamu
Ulasan kamu akan ditampilkan untuk publik, sedangkan bintang hanya dapat dilihat oleh penulis
Apakah kamu akan menghapus ulasanmu?
Disukai
0
Dibaca
7
Tentang Penulis
Peter Samudra
Peter Samudra, lahir dan tumbuh besar di Jakarta, kini menetap dan berkarya di Pulau Dewata, Bali. Ia memiliki ketertarikan mendalam terhadap tema psikologi manusia, relasi emosional, dan dinamika cinta dalam kehidupan modern. Esensi Cinta merupakan karya debutnya dalam dunia penulisan fiksi, yang ditulis dengan tujuan untuk menjembatani antara trauma batin dan kekuatan cinta dalam proses penyembuhan diri.
Perjalanan minatnya berawal dari kecintaan pada komik Jepang dan serial novel legendaris seperti Lupus. Semasa remaja, dunia Peter sempat didominasi oleh musik, membawanya aktif bermain band. Setelah dewasa, ia kembali menemukan gairah dalam literasi, khususnya melalui karya-karya penulis Indonesia; favoritnya adalah seri Supernova oleh Dee Lestari.
Dorongan untuk menjadi seorang penulis muncul dari kesadaran bahwa melalui tulisan, ia dapat mewujudkan dan menghidupkan dunia imajinasinya di benak pembaca. Peter berharap karyanya dapat menghibur, serta membawa semangat, cinta, dan rasa syukur bagi setiap yang membacanya.
Terima kasih telah memberi ruang bagi imajinasinya untuk hidup di benak Anda. Sampai jumpa di karya Peter Samudra berikutnya, dan salam sejahtera.
Perjalanan minatnya berawal dari kecintaan pada komik Jepang dan serial novel legendaris seperti Lupus. Semasa remaja, dunia Peter sempat didominasi oleh musik, membawanya aktif bermain band. Setelah dewasa, ia kembali menemukan gairah dalam literasi, khususnya melalui karya-karya penulis Indonesia; favoritnya adalah seri Supernova oleh Dee Lestari.
Dorongan untuk menjadi seorang penulis muncul dari kesadaran bahwa melalui tulisan, ia dapat mewujudkan dan menghidupkan dunia imajinasinya di benak pembaca. Peter berharap karyanya dapat menghibur, serta membawa semangat, cinta, dan rasa syukur bagi setiap yang membacanya.
Terima kasih telah memberi ruang bagi imajinasinya untuk hidup di benak Anda. Sampai jumpa di karya Peter Samudra berikutnya, dan salam sejahtera.
Bergabung sejak 2026-03-02
Telah diikuti oleh 15 pengguna
Sudah memublikasikan 3 karya
Menulis lebih dari 81,840 kata pada novel
Rekomendasi dari Drama
Novel
MESSY VE
Canes
Novel
Cinta atau Suka
Azhra PW
Novel
Rumah yang Tak Pernah Ada
Peter Samudra
Novel
Thank You, Mr House Husband
Panca Jav
Novel
halunation
Zaura J
Novel
Believe
lisa wijaya
Cerpen
Kucing di tengah Hujan
Ahmad Muhaimin
Cerpen
Luka Yang Tak Kunjung Usai
Dian N Khan
Novel
Tempat Pembuangan Akhir
Nuka Asrama
Cerpen
NENEK BERWAJAH KAKEK
Meliana
Novel
Sirius
Mya Veronica
Novel
Buku Catatan Papa
Jaydee
Flash
LOSE
mafaz mira
Novel
Catatan Broken Home
Langit jingga
Novel
My Lovely Noona
Junata Fan Dessi Sinaga
Rekomendasi