Pintuku diketuk pelan dan terdengar suara lirih, "Aku adalah Takdir, buka pintu ini!"
Aku termangu sejenak dengan dahi berkerut lalu bertanya, "Kau takdir yang bisa diubah atau tidak?"
"Kau membuka pintu ini untukku akan menjadi takdirmu, walaupun kau ada pilihan untuk tidak melakukannya."
"Terdengar janggal jika suatu takdir yang sudah ditetapkan bisa tidak tetap."
"Memang betul, takdir itu akan tetap sama atau tetap berubah."
"Jadi apa pun hasil dari yang aku kerjakan itu sudah ditakdirkan?"
"Ya, tapi kau terlalu banyak bicara, cepat buka pintu ini! Kau tidak bisa menolak takdir."
Aku menelan ludah dan menarik gagang pintu yang dingin ini dengan perlahan, lalu melihat kehampaan di baliknya. "Di mana kau?" tanyaku sembari memastikan ke segala arah.
"Aku di hadapanmu, kau takkan bisa melihatku tapi kau bisa melihat bayanganku."
Aku melirik cepat memastikan, dan melihat bayangan buram di lantai.
"Kau hanya bisa melihat itu dan seolah mampu mendengarkan takdir."
"Jadi kau kosong? Jadi kau bukan apa pun? Tapi aku harus menerimamu?"
***
Saat ini pintuku diketuk lagi diiringi suara seseorang yang berkata bahwa ia adalah Waktu.
Aku pun bertanya apa kepentingannya mendatangiku.
"Tanpa kepentingan apa pun, aku pasti mendatangimu."
"Aku tidak mau bertemu denganmu!"
"Bagaimana mungkin kau bisa Waktu?"
Suaranya kini terdengar dari arah belakang dan membuatku memutar badan lalu menempel di pintu, pandanganku menyapu sekitar dengan cepat.
"Aku datang di belakang Takdir dan kau harus menerimaku juga," ucap Waktu lagi.
"Hah? Bagaimana kau bisa masuk? Di mana kau? Apa kau sama seperti Takdir yang tidak terlihat?"
"Tidak ada ruang yang bisa mengikatku dan memang kau tak akan mampu melihatku."
"Kalau kau memang Waktu, aku mau lihat masa depanku seperti apa?"
"Coba kau tutup matamu dengan tangan."
Aku mengikuti perintahnya.
"Apa yang kau lihat?"
"Gelap."
"Seperti itulah masa depan, hanya Takdir yang bisa menggapainya."
Aku membuka mata dan memandang sekitar dengan tajam. "Artinya kau bukan Waktu, karena kau tidak tahu masa depan!"
"Tidak ada yang bisa meminta padaku atau mengaturku sekalipun Takdir. Aku tak bisa dipercepat, aku hanya bisa berjalan maju sesuai pola Takdir."
"Hah? Kau bilang tak ada yang bisa mengaturmu, tapi kau berjalan sesuai pola Takdir?"
"Tanpaku Takdir tidak ada masanya dan tanpa Takdir aku hanya hampa."
Aku mengernyit. "Jawabanmu membingungkan. Aku tak percaya jika kau adalah waktu."
"Tidak masalah jika kau tak percaya, aku tak butuh kepercayaanmu. Dan pertanyaanmu soal masa depan dapat terjawab dari masa lalumu, dari apa yang kau lakukan, dan aku bisa membuatmu mengingatnya."
"Artinya, masa laluku adalah takdir untuk masa depanku?"
***
Hari ini pintuku kembali diketuk dan aku mendengar suara seseorang dengan warna suara yang kukenal.
Sejenak aku mematung mencari pemilik suara itu di dalam kepalaku.
Suara itu kembali memanggil dan aku memutuskan untuk segera membukanya.
Aku terkesiap melihat diriku yang berasal dari beberapa tahun lalu.
Wajahnya datar. Tangannya tiba-tiba memegang pundakku.
Aku menahan napas dan melirik ke tangan itu.
Ia berkata dengan suara datar, "Kau adalah orang yang aku benci."
Aku melihat lagi wajahnya yang kosong.
"Aku benci dirimu yang mengkhianatiku, semua karena waktu yang mengubah takdirku," ucapnya tanpa berkedip sedikit pun.
Napasku tersendat. "Mmm... maksudnya?"
"Jika saja aku tahu akan seperti ini, maka akan lebih baik jika tidak ada aku." Dia menurunkan tangannya dan berlalu menghilang di balik gelap.
Tamat