Cuaca berkabut setelah hujan menyelimuti dini hari. Di sebuah jembatan penyeberangan yang masih dalam tahap pembangunan. Sebuah sepeda motor sedang berusaha keras melawan licinnya tanah yang membalut tanjakan di antara tangga.
Sepeda motor itu berhenti ketika mencapai puncak jembatan yang melintang di atas sebuah jalan tol. Priatin, seorang pria paruh baya mematikan sepeda motornya, menatap sekitar dengan wajah ragu. Ia menyalakan rokok dan membuka helmnya lalu meletakkannya di tanah.
Beberapa menit berlalu, bara rokoknya sudah mendekati jari dan mengubah wajahnya menjadi sangat yakin. Ia menyalakan lagi kendaraannya dan menarik penuh tuas gas. Kendaraan itu melaju kencang menerobos tali pembatas proyek dan terbang. Sesaat melayang kemudian menghantam aspal dengan keras, membuat beberapa bagian sepeda motor itu berhamburan di udara.
Sebuah truk berhenti tepat sebelum melindas Priatin yang terkapar, dan nyaris terjadi kecelakaan lanjutan.
Beberapa jam sebelumnya.
Priatin termangu di depan sebuah ruko kosong menatap foto seorang wanita dan lelaki muda di ponselnya. Matanya sembap, lengan jaket hijaunya basah menyeka hidungnya.
Marcel tiba dengan motornya, ia langsung mengempaskan pantatnya di sisi Priatin. Tak bicara sedikit pun, mereka terdiam larut dalam suara kendaraan yang melintasi jalan raya.
Priatin tak mengindahkan Marcel. Ia membakar rokoknya dan meletakkan ponselnya yang terus menyala pada aplikasi transportasi online. Asap rokoknya terburai di jalanan, matanya kosong tanpa fokus ke arah bawah. Sedangkan Marcel terus menatap ponselnya, wajahnya menegang. Jarinya kuat-kuat menggeser tombol merah di layar ponselnya untuk menolak panggilan telepon yang masuk beruntun.
Ronal dengan berjalan kaki datang dan duduk di hadapan Priatin dan Marcel. Tangannya langsung menyambar kotak rokok milik Priatin dan membakarnya.
“Rame parkiran?” tanya Priatin.
“Se... sepi.” Ronal menyulut rokoknya. “Hm... hm... gua mau bunuh diri aja. Gak... gak sanggup lagi gua,” ucap Ronal.
“Ide bagus,” jawab Priatin singkat.
“Gua juga kepikiran begitu,” Marcel menimpali sembari meletakkan ponselnya dan turut menyambar kotak rokok. “Gara-gara pinjol ini emak gua sampai sakit, diteror mulu.”
“Belum kelar juga memang tu pinjol? Kata lu udah lapor basecamp minta bantu diviralin,” ucap Priatin datar.
“Belum Bang, postingan gua gak naik-naik juga. Orang-orang pada nyalahin gua kenapa pinjam di pinjol, padahal gua buat gantiin paket yang hilang”
Priatin menghela napas. “Ya gitulah, lapor juga percuma kan? Malah mereka suruh kita sendiri yang cari. Mau sama siapa lagi coba orang kayak kita ini minta bantuan?”
“Iya Bang, coba aja ada CCTV, mungkin gua aman kali ya, jadi ada bukti. Tapi lagi apes saja. Malingnya juga gak ngotak, orang lagi kerja diisengin, mana barang paket mahal-mahal lagi yang diambil.” Marcel menunduk.
“Ah... a... ada CCTV juga percuma. Kan, kan lu tahu kasus gua—difitnah pegang cewek—sudah jelas di CCTV gua gak ngapa-ngapain. Ma... masih aja kena, anak bini gua sampai kabur, padahal udah gua jelasin.” Ronal menyemburkan asapnya.
“Ya gitulah, mau lu sumpah atas nama Zeus juga, kalau gak ada duit mah orang gak bakal percaya. Makanya dari dulu banget gua mau bunuh diri, kayanya gua jadi tambah yakin sekarang,” ucap Priatin memandang lagi foto pada ponselnya.
Marcel diam sembari memandangi layarnya yang terus menampilkan panggilan seseorang. “Gara-gara mereka ini hidup gua hancur. Sebulan dua bulan mah gua masih sanggup bayar. Pas gua sakit dan gak bisa bayar, dendanya nyekek banget, jauh lebih gede dari pokoknya. Sial mereka memang, cari duitnya bikin orang mati.”
Udara jam sepuluh malam ini cukup menusuk, gerimis kecil menyamar menjadi kabut. Beberapa pencari rezeki seperti mereka masih berkelahi dengan kewajibannya menembus dingin yang menghadang.
“Kasus kalian masih bisa diselesaikan. Anak bini lu masih hidup, masih bisa lu cari.” Priatin memandang Ronal. “Dan lu masih bisa bayar utang lu.” Ia mengalihkan tatapannya pada Marcel. “Lah gua? Ditinggal mati sama anak karena dia dikeroyok—yang mereka bilang di-bully dan kenakalan remaja. Bini gua stres sampai depresi sampai dia ikut sama anak gua. Terus pelakunya bilang apa? ‘Maaf’ udah itu aja. Gua dipaksa tanda tangan surat biar mereka bebas, kalau gak nurut, saudara-saudara gua juga mau disikat. Gimana coba gua nyelesainnya?”
Marcel dan Ronal menggelengkan kepala.
“Mau lapor? Gua mah lebih percaya Zeus bisa kawin sama manusia dibandingkan hidup ini bisa adil. Udah sepuluh tahun gua minta keadilan ke mana-mana, dari zaman belum ada viral-viralan sampai sekarang, mereka masih bisa bebas, bahkan ada yang jadi pejabat ” Priatin melotot. Matanya masih sembap, tangannya bergetar. Napasnya tersengal lalu menunduk kembali dan diam sesaat. “Kayak kata Ronal tadi, gua mau bunuh diri,” ucapnya datar.
Ronal mengangguk. “Gua... gua juga ma... mau“
“Kalian gak perlu ikut-ikutan, masalah kalian belum seberat gua, itu masih bisa diselesaikan,” Priatin memotong dengan suara pelan.
“Itu, itu kan ide gua. Lagian yang ngerasain gua, gua... gua udah gak tahan jadi makian semua orang, gua, gua dikata mesum. Tiap orang parkir ngatain gua, belum lagi digoblok-goblokin sama yang ambil setoran parkir. Gua, gua anggota mereka bukan, tetep aja kena.”
“Ya... terserah...” Priatin mengangguk.
“Gua paling nabrakin diri ke kereta,” kata Marcel memotong, “Lu ngapain Nal?”
“Gantung diri aja dah, biar gak nyusahin orang.”
“Lu, Bang?” tanya Marcel lagi.
“Terbang. Gua pengen terbang nyusul mereka.” Priatin menengadahkan kepala sembari memejamkan mata.
“Tapi, gua ragu, Bang. Pikiran ini sesekali aja sih datangnya, pengen sih ngelakuinnya.” Marcel menggeser tolak panggilan pada layarnya. “Malu gua, semua orang di kontak gua tahu gua punya utang. Malah ada yang mampus-mampusin gua.”
“Kan udah gua bilang, lu pada gak perlu ikutin gua,” Priatin datar.
“Bi... bilang saja lu cemen. Gak berani kan lu?” ucap Ronal.
“Maksud lu apa, Nal? Kok bilang gua cemen?!” Marcel meninggi.
“Ya.. ya lu, apa lu ragu? Penakut amat lu!”
“Mau lu apa, hah?’ Marcel menarik baju Ronal. Wajah mereka sangat dekat.
“Lu... lu mau pipi kanan atau pipi kiri? Pukul ayo!” ucap Ronal menatap tajam mata Marcel.
“Bego. Mau mati aja berantem dulu. Mending lu berdua tusuk-tusukan.” Priatin memandang foto pada ponselnya.
Marcel mendorong tubuh Ronal. “Lagian, gampang banget ngatain orang cemen.”
“Kalau... kalau lu berani, gak mungkin lu ragu.” Ronal merapikan bajunya.
“Kita memang penakut kok.” Priatin menatap Ronal. “Lu penakut.” Pandangannya beralih pada Marcel. “Lu penakut, dan gua juga sama, penakut! Kalau kita berani, kita gak mungkin mutusin buat bunuh diri, kita pasti selesaikan semua masalah. Kita ini cemen!”
Priatin menghela napas. Ia meraih kotak rokoknya dan mengeluarkan isinya. Ia bagikan pada kedua temannya dan menyisakan satu batang di dalamnya. “Batang terakhir gua di dunia.” Ia menjabat tangan Ronal dan Marcel. “Sampai jumpa lagi yang entah kapan kita bisa ketemu lagi.”
Ronal dan Marcel terdiam menatap heran sembari menjabat tangan lelaki tua itu. Mulut mereka tak sempat membalas ucapan Priatin, namun ia sudah memacu motornya dan menghilang dari pandangan.
Kedua pria itu saling pandang setelah masing-masing mendapatkan tiga batang rokok. Mereka menyalakannya bersama.
“Ro... rokok yang nikmat ini. Di sana nanti mungkin rasanya be... beda.” Ronal menatap bara yang membara.
“Gua... masih ragu, Nal.” Marcel memegang kuat ponselnya yang menampilkan panggilan masuk.
“Lu... lu... tinggal selangkah lagi buat tenang. Gak perlu mikir utang lagi,” Ronal meniupkan asapnya. “U... udah ah, gua mau nyari tali dulu.” Ronal menjulurkan tangannya. “Sampai jumpa lagi ya bro... bro... brother.”
Ronal berjalan meninggalkan Marcel yang hanya diam menatapnya. Menyeberang dengan bersenandung riang, ia sesekali melompat dan berteriak. Ronal berbalik badan dan menatap Marcel yang masih termangu. “Sss sampai jumpa, Bro!” teriaknya sembari melambaikan tangan dari seberang jalan.
Marcel tak menggubris Ronal. Ia memegang ponselnya dan menatap panggilan masuk. Jarinya bergetar menggeser tombol hijau.
“Eh, monyet! Kalau telepon itu diangkat. Bayar utang lu!”
“Hidup lu neror orang mulu! Hidup gua hancur gara-gara lu!” bentak Marcel.
“Eh, anjing!! Lu pikir gua iseng begini? Gua juga kerja! Hidup gua juga hancur kalau lu gak bayar utang!”
“Ya salah lu sendiri mau kerja begitu, ngapain lu gantungin hidup sama gua?”
“Eh, babi! Kalau lu gak sanggup bayar jangan ngutang! Utang lu bakal gua tagih terus sampai lu mati. Bahkan sampai lu mati juga itu utang bakal tetap ada. Udah gausah banyak cincong lu, kapan lu mau bayar?”
“Bacot lu!”
Marcel mematikan teleponnya dan segera memacu motornya. Ia berhenti di dekat penyeberangan rel kereta api, lalu menoleh ke kanan dan kiri dengan tangan kuat menggenggam tuas gas.
Suara kereta terdengar kecil dan membesar semakin lama. Marcel menatap tajam salah satu ujung rel. Jempolnya berdiam di tombol untuk menyalakan sepeda motornya.
Beberapa detik kemudian, suara klakson udara kereta menggema, bias cahaya lampunya sudah tiba di penyeberangan.
Marcel menyalakan kendaraannya dan menjalankannya menuju rel dengan gas yang ia tarik beringas. Beberapa detik kemudian ia menarik rem yang menyebabkan suara berdecit dari ban. Namun keputusannya terlambat, terdengar suara hantaman terdengar keras dan menyeret. Puing-puing sepeda motor beterbangan ke segala penjuru.
Di tempat lain.
Menuju kamar indekos, Ronal menyempat diri membeli tali tambang. Di dalam kamarnya ia menyimpulnya dengan kuat membentuk huruf O dan memastikannya kuat sembari terus bersenandung.
Ronal berdiri di atas kursi dan mengukur tinggi kusen pintu lalu mengikat kencang talinya. Lalu ia menatap ragu lubang simpul yang telah ia buat. Bibirnya bergetar, terbayang akan wajah anak dan istrinya yang akan ia tinggalkan.
Ronal menutup matanya dan mengalungkan tali tersebut sembari menarik napas panjang. Tak cukup satu kali, ia mengulanginya hingga tiga kali. “Atas nama Tuhan, saya mohon ampun.” Ia memegang erat tali yang melingkar, kakinya gemetar.
“Ah!” Ronal menggeleng dan terdiam. Ia mengeluarkan ponselnya dan memandang kontak istrinya. Jarinya mengetikkan salam perpisahan dengan keraguan dan tak mampu ia mengirimnya
Ronal menunduk dan menghubungi istrinya. Cukup lama panggilan itu terangkat hingga suara yang ia kenal menyapanya.
“A... a... aku minta maaf un... untuk yang terakhir kalinya.”
“Hah, terakhir? Kamu mau ngapain?”
“Aku... aku... mau pergi.”
“Heh, ngomong apa sih? Kamu jangan macem-macem ah. Iya iya aku maafin kamu. Aku percaya kamu gak salah”
“A... aku gak kuat dimaki orang terus. Aku butuh kamu tapi kamu pergi be... be... begitu.”
“Udah jangan aneh-aneh. Tiap berantem ngancem bunuh diri mulu. Aku tinggal di rumah Kakak, aku mau nenangin diri sebentar. Udah gini saja, kita pindah ke sini aja biar gak ada lagi yang kenal kamu.”
“Ah, a... a... aku dibohongin sama Kakak, kemarin aku tanya katanya kamu gak ada. Ya udah besok aku ke... ke sana.”
Ronal melepaskan talinya dengan tersenyum dan meneruskan teleponnya.
“Ya... yang bentar dulu. Teman aku nelpon nih!” Ronal mematikan panggilannya dan menerima panggilan baru. “Ha... halo!” ucapnya semangat.
“Bro, di mana? Bang Priatin sama Marcel kecelakaan nih!”
“Haaa hah? Kecelakaan gi... gimana maksudnya? Ke... keadaannya gimana?”
“Gua lagi di rumah sakit nih, abis tanya perawat. Katanya mereka masih hidup tapi koma. Bang Priatin kakinya remuk dua-duanya, dia terjun dari JPO tol pakai motor. Kata polisi kayaknya dia ngantuk. Kalau Marcel tangan kiri sama kaki kirinya remuk ketabrak kereta.”
Wajah Ronal menegang, napasnya memburu. Butiran keringat mulai membanjiri kepalanya yang ia garuk beberapa kali. “A... a... aduh kasihan banget mereka. Ta... tapi gua lagi di kampung bro, nanti kalau pulang gua ke sana.”
“Bukannya lu tadi sama mereka?”
“I... i... iya, tapi gua ini lagi jalan mau ke kampung. Dah dulu ya.”