Saat aku melihat kawanan semut merayap di dinding, tiba-tiba terbesit pikiran — bagaimana jika mereka yang sering kita sebut "bersalaman" saat bertabrakan itu, kemudian salah satunya tidak mau melakukannya, dan memilih membuat jalan lain?
Apakah semut-semut lain akan menatapnya aneh? Apakah mereka akan mencari tahu ke mana ia pergi? Atau mungkin... mereka tidak peduli? Apakah ia akan dianggap oleh kawanannya sebagai semut yang tidak sopan, atau bahkan pembangkang?
Kuperhatikan kembali, seekor semut kecil melangkah pelan, menuruni sisi dinding yang sepi, mengikuti arah yang hanya ia pahami sendiri. Mungkin ia tidak suka keramaian. Atau mungkin — seperti manusia — ia ceroboh, melakukan tindakan bodoh yang bisa saja membahayakan dirinya. Namun entah mengapa, aku ingin percaya bahwa semut kecil itu punya alasan sendiri. Mungkin langkah-langkah ragu yang ia ambil bukanlah tanda kesesatan, melainkan wujud keberanian yang tenang, keberanian untuk tidak selalu berjalan di tempat yang sama, meski harus sendirian di awalnya.
Di sisi dinding lain, barisan semut lain masih ramai. Mereka terus hilir mudik mengikuti jejak feromon, seolah dunia mereka hanya sepanjang garis yang telah disepakati. Sementara semut kecil itu kini menuruni sisi dinding yang baginya tampak sangat luas. Tanpa petunjuk arah, tanpa feromon, hanya keyakinan samar di ujung antenanya. Tak ada yang tahu apa yang ia cari, apa yang akan ia jumpai, atau apa yang kelak ia temukan.
Aku tersenyum. Mungkin memang begitulah hidup. Selalu ada satu-dua makhluk kecil yang tak pandai "bersalaman", tak pandai menyesuaikan langkah, namun justru menjadi yang paling berani menjelajahi ruang yang luas. Dan meski sering dianggap aneh, mereka hanyalah jiwa-jiwa penjelajah yang sedang belajar memahami dirinya sendiri.