Pak London punya burung banyak. Burung-burung itu mahal harganya. Pandai berkicau. Karena itu sering menang lomba kicau. Jangan tanya harganya. Satu burung bisa untuk beli mobil beberapa.
Orang-orang iri sama Pak London. Kok bisa? Burung-burung itu dibelinya dengan harga biasa, awalnya. Dipelihara dia jadi jago banget kicauannya.
Kalau ditanya Pak London bilang,"Biasa aja, pakai jampi-jampi gunung Kawi. Hahaha."
Mana mau Pak London buka rahasianya. Rahasianya ini akan disimpannya sampai mati. Oh, tentu akan diwariskan lebih lebih dulu ke anaknya. Dan itu masih lama. Dia masih muda. Anaknya baru berusia lima tahun.
Tak ada yang berbeda cara pemeliharaannya, kecuali satu hal: pakan daging anjing. Bukan anjing biasa. Bukan dari penjual-penjual sengsu yang sembunyi-sembunyi itu.
Pak London memilih dengan cermat anjing untuk burungnya. Dia khusus memilih yang pernah menyerang manusia.
Anjing yang kayak gitu sudah teruji keanjingannya. Anjing yang anjing. Anjing sejati.
Untuk mendapatkannya memang tidak mudah. Dia harus cermat mengikuti berita. Begitu ada headline 'Anjing Menyerang Manusia', dia memasang radar baik-baik.
Jika anjing itu mati dipukuli, Pak London mencuri mayatnya. Jika dititipkan ke penampungan, Pak London berpura-pura menjadi adopter yang paling mumpuni. Jika masih tetap dipelihara pemiliknya, Pak London akan membujuk pemilik untuk menjual kepadanya.
Dia melakukan segalanya. Demi burung-burungnya.
Setelah didapatnya anjing itu, Pak London akan membawanya ke tempat rahasia. Anjing itu harus mati tanpa keluar darah. Entah dipukuli dalam karung atau ditenggelamkan. Pokoknya jangan sampai disembelih. Agar darah anjing yang anjing itu tidak keluar. Di situlah letak khasiatnya.
Mayat anjing utuh itu, dia panggang dengan dedaunan kersen di sekujur tubuhnya. Setelah matang dan dingin, potongan-potongan daging itu akan dia berikan ke burung-burungnya. Satu ekor anjing lumayan untuk beberapa bulan.
Begitulah rahasia yang disimpannya rapat-rapat. Rahasia yang dibanggakannya. Pak London yakin sekali, hanya dia satu-satunya orang di dunia yang tahu.
Semua berlangsung sangat lancar bertahun-tahun. Bahkan Pak London satu jam ke depan akan tanda tangan kepemilikan pulau pribadi.
Dia pamit kepada burung-burungnya dengan bersiul-siul. Burung-burung itu biasanya akan berlomba menyahut. Tapi kali ini, tak ada kicau yang menyambut. Digantikan suara heboh dari ujung ke ujung.
Burung-burung dalam sangkar mengamuk. Menggila hingga sangkar pun melonjak-lonjak. Dengan panik dia turunkan sangkar-sangkar itu. Tangannya masuk ke sangkar. Mencoba menangkap untuk memeriksa. Tentu saja sulit. Berseru-seru,"Anjing! Anjing! Kenapa kalian?" Satu dua burung lepas. Terbang bebas.
Tak terasa tangan dan lengannya berdarah-darah karena terpatuk-patuk. Lantai lengket berwarna merah. Bau amis menyerbak. Tak ada orang mendekat. Istri dan anaknya, Lelan, menunggu di ruang tamu, jauh di depan. Sudah berdandan.
Pak London jatuh, terpeleset. Kepalanya terbentur. Dia telentang di antara sangkar-sangkar burung bergelimpangan. Masih riuh kepak sayap menggila di dalam sangkar.
Komat-kamit Pak London berkata terbata-bata,"Le...lan...an..jing...yang...anjing...."
Lalu matanya terpejam. Diikuti burungnya satu persatu terbujur kaku.
Beberapa bulan kemudian, pemilik baru rumahnya merasa pohon-pohon kersen di halaman belakang tidak bagus. Dia memutuskan untuk menebanginya. Tukang kebun membakar daunnya.
Kebetulan, ada satu burung dalam sangkar punya pemilik baru. Baru dibawa kemari tadi pagi.
Tukang kebun lupa menjauhkannya dari asap. Lagipula burung itu sama sekali tidak bersuara ketika terkena asap. Untungnya tidak mati. Bahkan beberapa bulan kemudian burung itu menang lomba kicauan. Pemilik baru terkejut, karena baru pertama kali ikut lomba.