Ada rasa yang mengendap di dasar tenggorokan—pahit dan dingin, mirip logam berkarat yang diteteskan air gerimis. Delapan tahun, atau tepatnya dua ribu sembilan ratus dua puluh kali matahari padam, kaki ini hanya sanggup berhenti di trotoar seberang. Gedung Hades Pythia menjulang di hadapanku sebagai bongkahan beton kusam yang enggan runtuh. Jendela-jendelanya menyala satu per satu, menguning dalam temaram malam, seolah ada tangan tak terlihat yang menyalakan lilin untuk penghuni yang terjebak di antara tidur dan jaga.
Di saku mantel, ujung-ujung kertas buku musik bernoda lengket mengikis kulit jemari. Sampulnya yang terkoyak menyisakan deretan notasi tipis dan satu goresan pensil di lembar paling belakang: Tempat hangat dengan gelap — HAPYT12.
Lalu, nada itu jatuh.
Bukan dari ingatan yang membusuk, melainkan dari balik kaca lantai dua belas. Melodi sederhana yang dimainkan dengan jeda agak timpang—tangan kiri terlambat sepersekian detik dibanding tangan kanan. Cara yang persis sama saat Arshina menekan tuts piano sembari menggigit ujung pensil kayunya sampai berserat.
Para penjamu mengucapkan selamat pagi,
Lantunan suara lembut menerpa
Terhitung sajaknya
aku disayangi, senang sekali.
Lirik itu tersangkut seperti bau asap pada serat kain basah. Ketika melodi itu mendadak putus di tengah baris, yang tersisa hanya dengung rendah trafo listrik di tiang jalan. Buku musik itu berpindah genggaman. Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, tumit sepatu menyeberangi garis aspal.
Lobi gedung menyambut dengan udara sebalut kelembapan karpet tua dan sangit sangrai kopi yang hangus. Retakan marmer di dekat pintu lift membelah lantai ke arah jarum jam empat—membentuk garis retak yang persis sama dengan garis pada cangkir pecah di meja kerja delapan tahun silam. Pot lidah mertua di sudut ruangan miring beberapa derajat. Jam dinding berdetak dengan jeda lambat, tertinggal tepat tiga menit dari denyut nadi.
Pintu lift berdenting. Nechari melangkah keluar. Tidak ada lipatan terkejut pada dahinya; hanya sepasang mata yang kehilangan pendar, tumpul seperti paku yang terlalu sering dipukul. Pandangannya jatuh pada sudut buku musik yang menyeruak dari saku, lalu naik menatap garis rahang yang basah oleh bintik gerimis.
"Aku kira kau sudah membuangnya," kata Nechari. Suaranya serak dan tipis, seperti gesekan kertas amplas pada permukaan kayu.
"Buku ini milik Arshina."
Senyum Nechari terbit secara parsial—hanya di sudut bibir kiri, sementara matanya tetap mati. "Tentu. Lagipula, beberapa hal memang sulit dibuang." Ia tak melanjutkan langkah keluar lobi, melainkan berbelok menghadap cermin buram di samping panel lift, merapikan lipatan kain di pergelangan tangannya yang kurus. Jemarinya yang menipis mengusap engsel pintunya yang berkarat. "Kau masih tinggal di sini?"
"Sebagian orang," Nechari menekan tombol lift yang retak tanpa menoleh, "sulit meninggalkan tempat yang sudah terlalu lama mencium bau keringat mereka." Pintu besi bergeser terbuka. Nechari melangkah mundur ke dalam kotak logam yang bercahaya kusam, menahan daun pintu dengan bahunya. "Jangan terlalu sering berjalan sendiri saat malam."
"Kenapa?"
"Karena gedung ini suka mengembalikan hal-hal yang seharusnya tetap hilang."
Aku membiarkannya pergi. Kakiku membawa menyusuri koridor lantai dasar yang terbentang serupa lorong saluran pembuangan. Lampu-lampu bohlam kekuningan tergantung rendah, menyebarkan aroma ozon hangat dan kapur barus. Di ruang bersama, tiga pria paruh baya duduk mengelilingi meja kayu yang melengkung ditimpa beban. Gesekan kartu domino beradu dengan denting cangkir seng.
Seorang pria tua berjangut abu-abu menaruh cangkirnya. Air teh yang pekat terguncang hingga melimpah ke piring alas. "Kau sudah kembali rupanya."
Langkah kaki terhenti di atas karpet merah tua yang pudar. "Maaf?"
Pria itu mengerjap. Jemarinya yang gemetar mendadak meremas genggaman cangkir hingga bukunya memutih. "Oh. Tidak. Salah orang." Ia berpaling cepat ke arah tumpukan kartu, namun uap tehnya masih membawakan getaran samar dari tangannya.
Aku naik ke lantai sembilan. Kamar itu beraroma serbuk gergaji dan tumpukan kertas lembap. Di atas meja, buku musik itu dibiarkan terbuka. Lampu meja membayangkan deretan garis paranada.
Satu. Dua. Tiga. Empat.
Di atas langit-langit, bunyi derap tapak kaki bergerak linear, lalu berhenti tepat di tengah ruangan. Disusul gesekan berat—seperti peti kayu penuh batu yang diseret di atas lantai semen tanpa alas. Denting tipis menyenggol ambang pintu luar. Sebaik daun pintu ditarik, lorong lantai sembilan membisu. Hanya ada selembar kertas selulosa tipis melipat tiga di atas lantai. Serat kertas itu kasar. Goresan tintanya menekan sangat dalam hingga menembus ke sisi belakang, dengan lekuk huruf k yang mencakar ke atas dan titik huruf i yang berupa lubang kecil akibat tekanan mata pena.
Kakak, kenapa kau baru datang sekarang?
Darah mendesis di dalam pelipis.
Keesokan harinya, di ruang makan bawah, Nechari duduk memunggungi jendela. Segelas kopi dingin melapisi dasar cangkirnya dengan kerak hitam. Kertas lipat itu terhempas ke atas meja kayu. Nechari meliriknya tanpa menaikkan alis.
"Itu tulisan Arshina," bisik suara yang pecah di tenggorokan.
"Mungkin." Nechari mengusap pinggiran cangkir dengan jempolnya yang kasar. "Ravekas, selama delapan tahun kau berdiri di luar gedung ini, mengira kau sedang menjaga jarak. Kalau seseorang benar-benar ingin menarikmu masuk, menurutmu apa yang akan ia lakukan?" Ia berdiri, menyiagakan lipatan mantelnya, lalu pergi tanpa memutus kontak mata—sebuah tatapan yang penuh dengan belas kasihan kotor.
Langkah kaki membawaku menyusuri koridor arsip di lantai dasar. Tangan kanan terangkat secara presisi tanpa perlu bantuan mata, merayap di sepanjang permukaan panel kayu melamin, menembus celah sempit di balik sambungan gipsum, dan menemukan sebuah ruang kosong selebar dua jari. Di sana, sebuah korek api kuningan berdebu terselip. Baja korek itu dingin. Gesekan batu apinya memercikkan bau belerang segar yang langsung dihabiskan udara pengap. Jemari ini tahu betul berapa banyak tekanan yang dibutuhkan agar rokok dapat tersulut tanpa membakar serat filter—sebuah kebiasaan refleks yang hanya dimiliki oleh mereka yang menghabiskan ribuan jam di lorong bawah tanah ini.
Kembali ke kamar, buku musik di atas meja telah terbuka sendiri di halaman kosong. Di bawah tulisan Tempat hangat dengan gelap, kini ada jejak karbon baru yang digoreskan dengan pensil berinti lunak: Kau selalu pandai menemukan jalan pulang.
Membalik lembar demi lembar. Kosong. Kosong. Di sudut paling bawah lembar terakhir, terukir sebuah segitiga yang dilingkari garis ganda, berdampingan dengan angka 12.
Sesaat, aroma iodin dan pembersih lantai rumah sakit memotong bau debu kamar. Kilatan cahaya lampu neon berkedip atas kepala. Sebuah kursi besi dengan tali kulit yang terpasang di lengan. Suara jeritan melengking yang berangsur memelan menjadi erangan terputus-putus. Dan jemari tangan ini... sedang menggenggam tang baja dengan bercak merah tipis di ujungnya. Rasa mual membakar pangkal lidah.
Di bawah notasi paling bawah, ada tulisan mikro yang tersembunyi di antara lekukan kunci Sol: HAPYT12 bukan tempat yang kau cari. Itu tempat yang kau tinggalkan.
"Aku masih heran kau selalu menyentuh bagian itu."
Nechari menyenderkan punggungnya pada bingkai pintu kayu jati gelap di tikungan koridor lantai dua belas. Sebuah kunci kuningan kusam menggantung di antara dua jemarinya. Ia melemparnya. Metal itu mendarat di telapak tangan—dingin dan berat, membawa sensasi minyak mesin tua. Pintu nomor 12 di ujung lorong tidak menolak ketika lidah kunci berputar. Klik.
Udara terperangkap di dalam terasa asam, mengandung zat besi pekat dan lemak membusuk. Di dalamnya, bilah sangkur dan belati tergantung, teroksidasi tipis namun terawat minyak. Serpihan kranium mengering, memutih di sudut semen. Suara piano mendengung dari balik dinding beton tipis. Melodi yang sama, dimainkan berulang-ulang tanpa jeda napas.
"Kau akhirnya sampai juga di sini, Ravekas" panggil Nechari dari ambang pintu. Suaranya datar, terbebas dari getaran takut.
"Hm. Begitulah."
"Aku selalu penasaran," Nechari melangkah pelan, tumit sepatunya memecahkan kerak darah kering di lantai semen, "seberapa jauh kau akan mengingat versi ceritamu sendiri."
"Aku tidak mengingat cerita," tangan meraba bilah belati bermata dua yang tergantung di rak kayu, merasakan beratnya yang seimbang. "Aku... menetapkannya."
"Jadi ini akhirnya?"
"Ini bukan akhir," ujung belati bergeser menunjuk lantai. "Ini koreksi."
"Aku tahu kau yang membunuhnya."
Ruangan mengencang. Udara terasa terlalu padat untuk dihirup. Langkah memotong jarak. Tangan kiri menyambar ikatan rambut Nechari, menariknya ke belakang hingga kulit lehernya menegang. Dari saku mantel, korek api kuningan dipantik. Percikan api menyambar serat-serat rambut Nechari, menimbulkan bau protein terbakar yang tajam dan mendesis.
Nechari tidak menjerit. Matanya melotot, menancap lurus ke dalam sepasang manik mata di depannya dengan kebencian cair. Bilah belati dihujamkan lurus ke rongga mata kanannya. Lengkungan tulang pipinya berderak. Sesuatu yang kenyal meletup di bawah tekanan baja. Jeritan Nechari baru pecah saat ujung pisau diputar sembilan puluh derajat ke luar. Cairan pekat membasahi punggung tangan. Tubuhnya roboh ke lantai, memukul tumpukan semen keras, sementara jari-jari tangannya mencengkeram udara kosong.
Sentuhan belati berlanjut. Menghanyutkan, sistematis, memotong mengikuti garis batas kulit leher hingga ke dada. Darah hangat menyemprot ke garis rahang dan leher mantel.
Dua tepukan telapak tangan bergema di dinding beton.
Dari balik kegelapan ruang belakang, empat figur berpakaian kain kasar berwarna merah gelap bermunculan tanpa suara tapak kaki. Kepala mereka menunduk sejajar dada.
"Selamat datang, Thanatos," ucap mereka serempak, serak dan monoton.
"Bersihkan potongan busuk ini. Ambil bagian yang bisa diproses. Sisanya giling untuk campuran pakan."
Satu piring seng disodorkan. Di atasnya diletakkan potongan rawan hidung dan dua ruas jari tangan yang dipotong rapi pada persendiannya. Tangan ini mengambilnya, merasakan tekstur dingin kulit yang mulai mendingin.
Di balik gantungan bilah besi, sebuah pintu besi kecil membuka ke ruangan berdinding peredam busa. Di tengah ruangan, sebuah patung semen setinggi manusia berdiri menatap lantai. Lapisan luar semen itu mulai merekah tipis di bagian dada, memperlihatkan lipatan kain gaun muda dan jaringan organik yang mengering menjadi mumi.
Jemari membelai pipi semen yang dingin itu. "Halo adik manisku, Arshina. Kakak kesayanganmu merindukanmu. Sudah lama tidak berjumpa."
Pintu kulkas logam di sudut ruangan ditarik. Bau es beradu dengan zat pengawet menyengat. Potongan hidung dari piring seng dimasukkan ke dalam wadah kaca nomor dua belas, berjajar rapi di samping potongan-potongan rawan tubuh lain yang terendam cairan bening.
Langkah kaki membawaku duduk di depan piano kayu tua yang catnya mengelupas. Jemari yang bernoda darah kering menekan tuts C mayor. Melodi terajut perlahan, mengisi tiap sudut ruang kedap suara. Suara tertawa kecil lolos dari celah bibir yang kering, menyatu dengan getaran senar piano yang berkarat.
Api yang membakar neraka, dan neraka datang memenuhi panggilannya.
Lampu bohlam gantung berkedip pelan. Zzt. Padam. Lampu kedua di atas kulkas logam berkedip. Padam. Ruangan meluncur ke dalam kegelapan pekat yang hangat. Bau darah, lemak, dan belerang menyatu sempurna dengan keheningan.
Dari dalam rongga kayu piano, suara halus berbisik sangat pelan, menyentuh gendang telinga:
"Selamat pagi, Ravekas."
Tuts piano terakhir ditekan tanpa keraguan. Tidak ada suara yang keluar.