Sebelum merantau, ia hanyalah anak lelaki dari seorang petani. Hari-harinya sederhana: mencari rumput untuk ternak, memanggul padi orang lain demi upah kecil, dan bekerja apa saja agar bisa memenuhi keinginan sendiri. Hidup di desa mengajarkannya arti kerja keras, tapi juga tentang keterbatasan. Ia tahu, jika hanya bertahan di sana, hidupnya akan tetap sama.
Maka, dengan semangat yang membara, anak lelaki itu memutuskan merantau. Sejak lulus sekolah, ia meninggalkan kampung halaman, membawa harapan untuk mengubah nasib. Namun kota orang tidak selalu ramah. Ia pernah tidur di lantai toko, makan seadanya, menerima gaji kecil yang nyaris tak cukup. Meski begitu, ia tidak menyerah. Ia terus mencari, terus bekerja, agar tidak pulang tanpa membawa keberhasilan.
Namun di kota orang, godaan datang dari segala arah. Lingkungan yang kurang baik membuatnya hampir hanyut. Ada bisikan setan yang menghasut: kesenangan sesaat, perempuan, minuman, dan pergaulan yang menjerumuskan. Ia sempat jatuh, sempat tersesat, dan hampir kehilangan dirinya sendiri. Bahkan untuk pulang ke kampung halaman saja rasanya tidak mungkin, dengan kondisi yang memprihatinkan sehingga membuat ia bertahun tahun hidup di kota orang tanpa pulang, tanpa mencicipi masakan ibunya, sampai lupa bagaimana rasanya di elus lembut kepala oleh ibunya.
Di tengah perjalanan itu, ia pernah berjanji: “Aku berjanji kalau sudah satu, ya sudah satu aja.” Kalimat sederhana, tapi menjadi pegangan hidupnya. Ia ingin setia, ingin menjaga, agar tidak melukai hati perempuan yang kelak menemaninya.
Ada pepatah yang selalu terngiang di kepalanya:
“Jangan biarkan arus membawa kita hanyut, karena yang hanyut akan hilang arah. Peganglah yang harus dijaga, dengarkan yang harus didengar, dan hargai yang setia di sisimu.”
Pepatah itu menjadi tali yang menariknya kembali. Ia bangkit, perlahan, menata kembali langkahnya. Ia memilih bekerja keras, meski harus menahan lapar dan tidur di tempat seadanya. Ia tidak ingin pulang dengan tangan kosong, tidak ingin membebani orang tua yang sudah cukup lelah.
Waktu berjalan, dan ia akhirnya menikah. Semua dilakukan dengan modal sendiri, tanpa pesta besar, tanpa dukungan keluarga. Hanya akad sederhana yang menjadi saksi tekadnya. Sejak itu, ia menjadi suami yang jauh dari kota asal, menafkahi istrinya dengan keringat sendiri, untuk membuat sebuah keluarga hangat di perantauan, tentunya tanggung jawab ia sebagai laki laki tidak lah kecil. Mulai dari tanggung jawab dunia dan akhiratnya ia harus menanggung nya. Seberat itu tanggungan laki laki, dari muda sampai tua, dari rambut hitam sampai putih, ia harus mencari nafkah untuk dirinya dan keluarga kecil nya.
Ia tahu, hidupnya bukanlah kisah yang mudah. Tapi ia juga tahu, ada satu hal yang harus ia jaga: hati perempuan yang mau menemaninya. Ia bersyukur, karena di tengah segala keterbatasan, ada seseorang yang tetap memilih tinggal di sisinya.
Dan ia belajar satu hal lagi: jangan pernah merasa jenuh di dalam rumah. Meski kadang seorang wanita cerewet, itu bukan karena benci, melainkan karena sayang dan tak ingin lelakinya jatuh ke jurang yang dalam. Cerewetnua adalah tanda perhatian, tanda bahwa ia peduli. Maka seorang suami harus mendengarkan, meratukan istrinya, dan menjaga hatinya.
Ia juga sadar, setelah menikah, statusnya sudah berbeda. Jika seorang lelaki masih ingin mempertahankan hobi masa lajang—bergaul bebas, mencari kesenangan sesaat—maka itu hanya akan menghancurkan segalanya: usaha bisa runtuh, bisnis bisa bangkrut, kesehatan bisa hancur. Percaya atau tidak, karma selalu ada. Dan jika memang ingin kembali seperti dulu, maka jalan satu-satunya adalah kembali pada masa lajang, menyerahkan istri dengan baik pada orang tuanya. Namun ia tahu, itu bukan pilihan. Pilihannya adalah berubah, menjaga, dan menjadi suami yang lebih baik.
Pesan untuk Wanita
Kadang, perempuan lupa bahwa lelaki juga punya batas lelah.
Ia mungkin tidak pandai mengungkapkan dengan kata, tapi diamnya sering berarti sedang berjuang.Maka, jangan terlalu menuntut. Lihatlah kondisinya, pahami perjuangannya.
Hargai setiap langkah kecil yang ia ambil untuk keluarga, meski tidak selalu sempurna. Perempuan yang bijak bukan yang selalu meminta lebih, melainkan yang tahu kapan harus menenangkan, kapan harus mendukung, dan kapan harus diam untuk memberi ruang bagi suaminya berpikir.