Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
5
Jika aku harus menyapa nerakaMu, Tuhan
Aksi
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Langit hitam pekat penuh riak petir sedang menguasai cakrawala, 

Buku buku amal telah ditutup rapat, 

Orang orang berhamburan ke sini ke sana,

melupakan anak dan istri mereka. 

.. 

Seorang musafir memilih duduk di tebing pantai sembari menyapa ombak yang mengamuk seolah ingin menarik kakinya ke bawah. 

Dengan tatapan yang nanar, 

Musafir itu mengajak ombak ganas berbincang untuk mengenalkan ombak ganas kepada desir nyawa sepanjang kehidupannya. 

"Pada waktu itu, 

Sewaktu dihembuskannya ruh ku, 

Dengan sebuah pesan yang selalu berdenyut."

"Menjadilah suci sebagaimana Yang Maha Suci menciptakanmu."

"Aku bergetar memohon ampun, atas rasa sudi cerobohku menanggung hidup."

"Tapi kini, setelah Tuhan benar benar menepati janjinya untuk tetap membersamaiku."

"Akhirnya bisa juga lidahku katakan pada kedua malaikat yang mendampingiku selalu."

"Bahwa hidup ini bagai memakai jubah putih namun berjalan di tanah basah di kala gerimis."

"Jika aku angkat jubahku, kakiku yang kotor terkena percikan air tanah selama aku berjalan sebelumnya itu seolah hendak aku tutupi sesuatu yang suci jika nanti akhirnya ku turunkan jubahku, aku bagai seorang munafik."

"Jika ku bersihkan setiap saat satu noda meraih jubahku, maka akan habis waktuku untuk membersihkan apa yang akan kotor dan selalu terkotori itu."

"Jika aku biarkan dulu, nodanya akan mengering dan susah untuk ku basuh. Jika aku gosok keras kedua jubah putihku bisa robek dan tanganku menjadi merah atau terluka."

"Jika ku biarkan aku tahu aku lalai dan mengecewakan amanah Tuhanku."

... 

"Wahai ombak yang menderu."

"Wahai langit yang hendak runtuh."

"Kini,

Sepertinya keimananku sudah terlampau asing dengan akal sehatku."

"Maka tolong dengarkanlah wasiat kematianku."

"Bahkan jika pun nanti Tuhan perintahkan aku menuju nerakanya, 

Aku pula akan turut senang berbahagia."

"Sebab aku tahu, 

Setiap geliat api di dalamnya adalah kasih sayang,"

"Kasih sayangnya padaku yang hina, kasih sayangnya pada makhluknya yang butuh sulaman keadilan, serta kasih sayangnya terhadap penciptaan surga."

" Geliat api itu adalah penjalin panjang Sang Guru yang penuh ketegasan, serta keadilan."

"Sehingga aku pun tak pantas mengajukan tuntutan walau aku hendak dipanggang penuh legam."

"Geliat api itu adalah pisau pisau bedah."

"Yang kerap membenahi setiap garis liar yang terlewat dari kemampuanku merapikannya, ketika hidupku masih berkalung nafas."

"Maka jika nanti Tuhan perintahkan aku menyapa nerakanya. 

Maka aku akan bersuka lapang, 

Sebab ku tahu, di sanalah, 

Tuhan dan geliat apinya datang untuk bantu aku merapikan hal hal yang tidak mampu aku rapikan sendiri selama galah hidup masih mendampingi."

... 

"Jika masih kembali mengingat terkait perjanjian ketika ditiupnya ruh itu pada tubuhku."

"Dan jika masih mengingat terkait jubah suci titipan Ilahi itu."

"Maka neraka adalah tempat Tuhan membantuku mencuci noda noda yang gagal aku bersihkan dalam sepanjang langkah aku merajut hidup."

"Supaya aku tetap menjalankan amanah kesucianNya."

"Supaya aku memenuhi janjiku pada-Nya."

"Janjiku di awal ruh ku ditiupkan."

... 

Tertutuplah mata Sang Musafir belia, 

Kini dia berseru pada Tuhannya. 

"Maka kinilah aku, Tuhan."

"Hamba yang terjerembab permainan yang telah kau tata,

Yang telah kaupatri ujungnya,"

Sesuai kehendakmu yang kekal."

"Maka kinilah aku, Tuhan."

"Hamba yang merajut nyawa,"

"Atas keputusasaan, atas pengetahuan, atas penyerahan, atas ketidakberdayaan, atas rasa cinta, atas rasa terpojok, atas keimanan, atas rasa terpojok."

"Atas rasa terpojok, 

Sebab di setiap pelarianku, 

Ku temui kehendak kehendakmu, 

Bagai benteng yang bahkan tak terlihat, 

Apalagi tersentuh."

... 

"Maka nanti jika kau panggil aku untuk menyapa nerakaMu."

"Tuhan aku berjanji akan berjalan bersama senyum manis serta senandung ceriaku."

"Walau mungkin kedua kaki tangan turut bergetar dan mata tak mampu menyembunyikan riak airnya."

"Sebab aku tahu bahwa aku gagal menyelesaikan tugas."

"Hingga geliat apimu lah yang menuntunku untuk memenuhi sumpah penciptaan."

... 

"Maka nanti jika Kau panggil aku untuk menyapa nerakaMu."

"Tuhan, aku berjanji, 

"Aku akan selalu mengingat sumpahku padaMu."

"Aku akan berjalan pulang bersama senyum manis dan

senandungku ceriaku yang aku janjikan akan datang menemuiMu bersama bunga bakti keimananku."

"Namun karena bunga bakti kesucian itu ternyata tidak rampung,"

"Maka pada detik detik sebelum api itu menarik keras tubuhku."

"Biar senyum manis itu sebagai permohonan maafku sebab aku gagal membawa bunga kebaktian suci milikku padaMu."

... 

"Maka nanti jika Kau panggil aku untuk menyapa nerakaMu, Tuhan."

"Aku akan datang dengan senyum terindah yang bisa aku beri."

"Biarkan senyumku yang meminta maaf kepadaMu, Tuhanku yang Maha Mengetahui."

"Ampuni aku yang hendak menghadap murkaMu ini."

"Ampuni aku yang gagal membawa bunga baktiku yang suci."

"Senyum manis itulah hal baik yang terakhir aku punyai."

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Rekomendasi