Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
4
Blasfemi
Aksi
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Seorang anak sebatang kara yang hidup hanya berdua bersama Tuhannya kini sedang menatap sebuah mimbar dalam jantung orang orang yang berlenggak lenggok menawarkan jualannya.

Jualan mereka adalah seruan seruan yang begitu ia yakini mesti dibeli oleh semua orang agar memiliki baju yang sama seperti dirinya.

Dalam suaranya yang terjerat dalam, anak itu berseru.

"Sebuah opera dangkal sudah terputar cukup lama."

"Orang orang mengira langgam Tuhan telah kehilangan kesuciannya."

"Padahal justru itulah wujud semesta melindungi langgam Tuhan."

Ia terdiam, melihat sekelilingnya, orang yang membawa buku kemana mana tapi dia mengikuti apa yang ada di mulut orang orang yang paling keras dia dengar, bukan dari percakapannya dengan buku langit yang mereka genggam.

"Orang orang dangkal memang tempatnya di sana."

"Nilai suci akan menolak masuk pada gelas retak. "

"Nilai suci punya harga diri yang harus dibayar mahal."

"Lalu beberapa orang dangkal itu merasa menang. Merasa benar sembari mencaci orang lain yang dikutuk karena menjadi manusia buta yang mengikuti ajaran leluhur butanya tapi ia dirinya sendiri pun tidak membaca Qalam Tuhan dan hanya mengikuti tradisi buta dan tafsir tafsir yang sudah dibengkokkan."

"Entah kenapa tidak semua orang bisa melihat kecacatan dari ucapan moral asal asalan."

"Sungguh aku kini penuh duka."

"Kenapa lalai memang kerap kali dipilih untuk jadi nama tengahnya?"

Anak itu terduduk dan temenung sambil menahan darah mengalir dari jantungnya.

"Kenapa Tuhan tidak menolong? Kata mereka."

"Kemanakah matanya ketika mereka sendiri memohon pertolongan kepada manusia bukan kepada Tuhan? "

"Kenapa Tuhan tidak menolong? Kata mereka."

"Kemanakah matanya ketika mereka sedang memohon pertolongan pada air, garam, minyak, bunga dan asap asapan? "

Air mata amarahnya menetes,

"Kenapa? Kenapa kau paksa Tuhan menolong ciptaan yang mencelanya?"

"Mereka berkata Tuhan itu Maha Kuasa, tapi malah berpikir karena Tuhan Maha Kuasa maka Tuhan bisa mengabulkan segala permintaannya."

"Mereka ini menganggap Tuhan ini Tuhan ataukah seorang budak yang serbabisa yang bisa diprotes apabila tidak menuruti keinginannya?"

"Sambil merasa paling beriman, mereka menginjak harga diri Tuhan."

"Mereka lupa .... "

"Iblis yang tak mau sujud saja Tuhan tegaskan ke neraka."

"Bukankah sudah sangat lapang jika Tuhan hanya mendiamkan dan menunggu mereka bertaubat?"

"Mereka mempertanyakan kehendak Tuhan padahal meraba struktur hasil karyaNya saja sudah gagal? "

"Mereka mempertanyakan kehendak Tuhan, tapi membaca Ayat ayat Tuhan dengan tenang dan terang lapang saja mereka enggan!"

"Mereka mempertanyakan kehendak Tuhan, tapi memahami hukum hukum yang Tuhan pamerkan terang terangan saja mereka gagal."

"Lalu berkhotbah dan memperkenalkan dirinya sebagai yang paling beriman dan bertaqwa."

Anak itu melihat sekitarnya, ia kemudian melihat ke arah pedagang yang menjual ayat Tuhan.

"Tuhan ingin mereka berdagang dengan dampingan restu Tuhan tapi mereka malah memperdagangkan nama Tuhan."

Ia melihat orang berdoa, dengan menunjuk nunjuk langit seolah hendak merayu agar kutukan turun kepada orang yang menyakitinya untuk membela harga diri mereka yang tak mampu ia sendiri bela.

"Kenapa petunjuk dan komunikasi agung, mereka anggap sebagai sebuah mantra?"

"Haruskah Sang Pemilik Semesta Raya menjadi penjual realitas yang mesti dibayar dengan mantra dan ritual ritual ?"

"Orang beriman yang keras hati kadang lebih menistakan agamanya daripada orang orang yang tidak beragama."

Anak itu mulai hendak berubah menjadi api yang bergulat dan menari dengan penuh terik yang menusuk mata, namun tatkala api dalam jantungnya hendak naik menuju kepala, cahaya teduh dari Tuhan pun datang menenangkan.

Bergulatlah api duka dalam jantungnya itu dengan cahaya lembut penuh kasih dari Ilahi.

Keinginannya untuk membakar seluruh semesta dengan bara api duka dan kecewa dalam jantungnya sudah menjadi jadi, cahaya kasih itupun hendak diusir pergi.

Namun cahaya kasih dari Sang Ilahi selalu memiliki cara untuk merasuk celah celah keputusasaan yang membara menjadi luka dan amarah. Cahaya kasih dari Ilahi selalu menemukan celah lembut untuk menguasai geliat api. Ia selalu memiliki cara menyelesaikan amanah sang Ilahi.

Jika kehendakNya adalah terselamatkanlah anak ini maka akan terselamatkan pula anak ini.

Jika kehendakNya adalah tercerminlah anak ini maka akan tercerminkan pula anak ini.

Bara api dalam jiwa manusia dirancang Tuhan hanya bisa menyesatkan dan menjadikan gelap buta pikir dan hati manusia itu, tapi tidak dirancang untuk menang dalam pertarungan sengit melawan Sang Cahaya suci.

Akhirnya tatkala titik titik terakhir kemarahannya hendak habis padam diterpa lembut kasih, geliat amarah anak itu pun menjelma menjadi secarik sumpah yang menghiasi larik larik puisi.

Hail, and well met, O blasphemator.

Hath thy days been merry in their passing?

Dost thou delight in thy dance upon the earth?

Tell me—

Dost thou reckon the Lord a fool?

One whom thou might’st deceive with thy cunning?

Ha! Thou art ensnared in thine own imagination.

Yet hearken—I shall offer thee a warning cloaked in mercy,

For I, in this hour, choose the path of grace.

Thou hast stepped into the very vortex of it.

Art thou at ease within?

Lo, the seeds of thy deceit are watered by the foolish,

Who perish as thy roots grow deeper in delusion.

Ah... I feel myself a monster now,

Savoring the spectacle from shadows afar.

Wilt thou not flee from thine own abyss?

But mark this—whatsoever thou choosest, I shall rejoice.

For I dwell in both Heaven and Hell.

Anak itupun terkapar dengan jantung beriak neraka yang terjahit cahaya Tuhan. Hidup dan melanjutkan hidup dengan bekas jahitan dan kobaran duka yang masih berisik di dalam jantung yang kini telah terjahit cahaya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Rekomendasi