Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
1
Rekaman Pukul 03.17
Thriller

Nadia bekerja dari rumah sebagai penerjemah bahasa asing. Pekerjaannya sederhana: menerima dokumen, menerjemahkan, mengirim hasilnya, lalu menunggu proyek berikutnya.

Ia menyukai rutinitas itu.

Tidak banyak orang.

Tidak banyak kejutan.

Hanya laptop, secangkir teh, dan meja kerja di dekat jendela.

Sampai sebuah email tanpa alamat pengirim masuk pada pukul 03.17.

Subjeknya hanya satu kata:

DENGARKAN.

Nadia hampir menghapusnya.

Namun sebuah file audio terlampir.

Durasi tiga puluh dua detik.

Karena penasaran, ia menekan tombol putar.

Suara seorang laki-laki terdengar pelan.

"Besok pukul sembilan lewat sepuluh, kamu akan menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal. Jangan mengangkatnya."

Rekaman berhenti.

Nadia tertawa kecil.

Mungkin seseorang sedang mengerjainya.

Ia kembali tidur.

Keesokan paginya, tepat pukul 09.10, ponselnya berdering.

Nomor tidak dikenal.

Nadia menatap layar.

Ia teringat rekaman tadi malam.

Telepon berhenti.

Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk.

Tadi kamu benar-benar tidak mengangkatnya.

Nadia langsung berdiri.

Ia memeriksa pintu rumah.

Terkunci.

Jendela juga tertutup.

Tidak ada siapa pun.

Malam berikutnya, pukul 03.17, email baru masuk.

Kali ini rekamannya berdurasi hampir satu menit.

"Besok siang, kamu akan pergi ke minimarket. Di sana seorang perempuan akan menjatuhkan dompet. Jangan mengembalikannya sebelum melihat isi dompet tersebut."

Nadia tidak tidur setelah mendengar pesan itu.

Ia mencoba mencari alamat pengirim.

Tidak ada.

Ia memeriksa metadata file.

Tidak ada informasi berguna.

Pagi harinya, ia memutuskan tidak keluar rumah.

Namun pukul 13.20, listrik di rumahnya mati.

Laptop tidak bisa digunakan.

Ponselnya hampir kehabisan baterai.

Ia akhirnya keluar untuk membeli power bank.

Di minimarket, seorang perempuan memang menjatuhkan dompet.

Nadia membeku.

Ia mengambil dompet itu.

Perempuan tersebut buru-buru berbalik.

"Terima kasih."

Nadia mengingat pesan.

Ia membuka dompet itu sekilas.

Di dalamnya terdapat kartu identitas, uang, dan sebuah kartu kecil berwarna hitam.

Tidak ada tulisan.

Perempuan itu langsung merebut dompetnya.

Wajahnya berubah.

"Kamu sudah melihatnya?"

Nadia terdiam.

"Apa?"

Perempuan itu mengambil kartu hitam tersebut.

"Jangan percaya rekamannya."

Lalu ia pergi.

Malam itu Nadia tidak menerima email.

Untuk pertama kalinya ia berharap tidak menerima apa pun.

Namun pukul 03.17 tepat, laptopnya menyala sendiri.

Sebuah file audio muncul.

Nadia menekan tombol putar.

Suara laki-laki itu terdengar lebih dekat.

"Besok pukul enam sore, seseorang akan datang ke rumahmu. Jangan buka pintu."

Nadia menutup laptop.

Ia memutuskan tidak peduli.

Namun keesokan harinya, pukul 18.00, bel rumah berbunyi.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Nadia melihat layar kamera keamanan.

Seorang laki-laki berdiri di depan pintu.

Ia mengenakan jaket abu-abu.

Tidak membawa apa pun.

Laki-laki itu menatap kamera.

Kemudian berkata,

"Nadia, saya tahu kamu mendengarkan rekaman itu."

Nadia mundur.

Laki-laki tersebut mengangkat kedua tangannya.

"Saya bukan orang yang mengirimkannya."

Nadia tidak membuka pintu.

Beberapa detik kemudian, laki-laki itu meninggalkan sebuah amplop di depan rumah.

Setelah suasana aman, Nadia mengambil amplop tersebut.

Di dalamnya terdapat foto.

Foto dirinya sedang duduk di meja kerja.

Foto itu diambil dari luar jendela.

Di belakang foto terdapat tulisan:

Rekaman itu bukan peringatan. Itu ujian.

Nadia merasakan tengkuknya dingin.

Ia segera menghubungi kepolisian.

Namun sebelum petugas datang, email baru muncul.

Pukul 03.17.

Rekaman kali ini hanya berisi satu kalimat.

"Besok pukul sebelas, jangan percaya polisi yang datang."

Nadia menatap layar lama.

Ia mulai memahami polanya.

Rekaman selalu memberitahunya sesuatu yang kemudian benar-benar terjadi.

Tetapi setiap peringatan membuatnya mengambil keputusan tertentu.

Tidak mengangkat telepon.

Pergi ke minimarket.

Tidak membuka pintu.

Semua keputusan itu mungkin telah direncanakan.

Seseorang tidak sedang meramalkan masa depannya.

Seseorang sedang mengarahkannya.

Pukul 11.00 keesokan harinya, dua petugas datang.

Nadia tidak langsung membuka pintu.

Ia meminta identitas melalui kamera.

Keduanya menunjukkan kartu.

Salah satunya berkata,

"Kami datang karena laporan Anda."

Nadia bertanya,

"Siapa yang melaporkan?"

Keduanya saling melihat.

Tidak ada jawaban.

Nadia semakin curiga.

Tiba-tiba terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah.

Dua petugas lain turun.

Salah satunya menunjukkan kartu identitas yang sama.

Nadia membeku.

Ada empat orang.

Dua kelompok.

Identitas sama.

Salah satu kelompok langsung pergi ketika menyadari ada kamera.

Kelompok lainnya tetap berada di depan rumah.

Kali ini Nadia tahu apa yang harus dilakukan.

Ia tidak mengikuti rekaman.

Ia menghubungi nomor resmi kepolisian melalui saluran yang ia cari sendiri.

Beberapa menit kemudian, petugas sebenarnya datang.

Dua orang pertama ternyata menggunakan identitas palsu.

Mereka pergi sebelum berhasil masuk.

Malamnya, Nadia membuka seluruh rekaman yang pernah dikirim.

Ia memperhatikan sesuatu yang selama ini terlewat.

Setiap rekaman memiliki suara latar yang sangat samar.

Dengungan mesin.

Ia mengenal suara itu.

Suara mesin pemindai dokumen di tempat kerja lamanya.

Nadia pernah bekerja sebagai penerjemah di sebuah perusahaan teknologi sebelum menjadi pekerja lepas.

Perusahaan itu memiliki akses ke rekaman suaranya.

Ia menghubungi mantan rekannya.

Nama seorang teknisi muncul.

Orang itu pernah mengembangkan sistem suara sintetis untuk simulasi keamanan.

Nadia memberikan informasi tersebut kepada penyidik.

Penyelidikan akhirnya menemukan bahwa beberapa pihak menggunakan sistem itu untuk menguji respons seseorang terhadap ancaman dan manipulasi informasi.

Namun pertanyaan terbesar belum terjawab.

Siapa yang memilih Nadia?

Pukul 03.17 malam berikutnya, email terakhir masuk.

Tidak ada file audio.

Hanya satu kalimat.

Sekarang kamu sudah tahu cara memilih sendiri.

Nadia menatap layar.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa takut.

Ia justru tersenyum.

Kemudian email kedua muncul.

Besok pukul 08.00, kamu akan menerima satu telepon.

Nadia menghapus email tersebut tanpa membacanya lebih lanjut.

Ponselnya kemudian berdering.

Nomor tidak dikenal.

Nadia memandang layar.

Ia tidak tahu apakah harus mengangkatnya.

Tetapi kali ini keputusannya bukan karena sebuah rekaman.

Ia mengangkat telepon karena memang memilih untuk mengetahui siapa yang berada di ujung sana.

"Halo?"

Hening beberapa detik.

Kemudian suara laki-laki itu terdengar.

"Kamu akhirnya belajar."

Nadia menjawab tenang,

"Belajar apa?"

Suara itu tertawa pelan.

"Bahwa ketakutan paling mudah dikendalikan ketika seseorang membiarkan orang lain menentukan apa yang harus ia lakukan."

Sambungan terputus.

Nadia meletakkan ponselnya.

Ia menatap jam.

03.18.

Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, satu menit berlalu tanpa pesan apa pun.

Namun Nadia tahu permainan itu belum tentu selesai.

Bedanya, sekarang ia tidak lagi menunggu rekaman untuk menentukan langkah.

Ia akan memilih sendiri.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Thriller
Rekomendasi