Napasku sesak, menahan air agar tidak masuk ke hidungku. Tenggorokanku tersedak air yang perlahan masuk ke mulut. "Uhuk! Uhukk!!"
Aku berusaha menahan dengan kedua tanganku, tetapi tenaga mereka menekan kepalaku masuk kembali. Jijik dengan air lubang itu. Tetapi, suara tawa mereka lebih menakutkan.
"Okey, guys, cukup."
"Eww... bau kloset tanganku! Huek!"
"Yuk, yuk! Cabut. Sudah mau masuk."
Dingin... Tanganku gemetar tidak mau berhenti. Kulit di ujung jariku agak sedikit terkelupas, perih.
Suara langkah kaki mereka terdengar semakin jauh. Apa mereka sudah pergi? Tapi masih ada bayangan di luar kamar mandi. Tiba-tiba pintu toilet terbuka, aku meringkuk melindungi kepala dengan kedua tanganku.
"Kamu tidak apa-apa?"
Aku menoleh ke arah pintu. Seorang murid perempuan berdiri di ambang pintu kamar mandi.
"Pakai ini," katanya.
Aku memperhatikan sepatu mahal dan kaus kakinya yang bersih. Siapa?
"Ambil saja," ucapnya, menyodorkan sesuatu ke tanganku.
Ia pun pergi begitu saja, meninggalkan sapu tangan merah jambunya padaku. Kulap wajah serta rambutku yang basah, bersiap untuk mengikuti pelajaran berikutnya. "Kaus kakinya... bersih..." Aku memandang kaus kakiku yang menguning kecokelatan. Sudahlah, aku harus segera membersihkan wajah dan rambutku sebelum masuk kelas.
Apa kamu tahu? Rasanya mengelilingi lorong gelap tanpa ujung? Sejauh apa pun kakimu berjalan, cuma ada bau pesing. Aku berhenti sejenak, memandang ke luar jendela. Sebuah danau dan rumah tua reot yang terlihat sedikit menyeramkan. Meski demikian, tampaknya tempat itu begitu damai dibanding di sini. Eh, siapa itu? Sekilas bayangan seseorang berjalan ke arah danau? Ah, iya, harusnya aku bergegas masuk kelas sebelum Bu Sisi datang.
Sayangnya, aku sudah terlambat. Ketika masuk kelas, aku berhenti di dekat pintu lalu menutupnya. Sekilas tawa kecil terdengar samar. Raut wajah mereka terlihat tidak nyaman menatap ke arahku, sambil menutup hidung dan menyipitkan mata.
"Kenapa kamu basah kuyup, Melina?!"
Sekar dan teman-temannya menatap tajam, seakan memberikan peringatan. Aku menutup bibirku rapat-rapat, memeras rok dan sapu tangan merah jambu di tanganku, memikirkan bagaimana cara menjawab pertanyaan Bu Sisi tanpa melibatkan nama Sekar.
"Ini... ak... aku..."
"Bu Sisi, mungkin Melina terjatuh. Sepertinya ia butuh istirahat."
"Melina? Apa benar yang dikatakan Emeline?"
Aku mengangguk, mengangkat kepalaku mencari murid yang sudah membantuku berbicara, berusaha menghindari tatapan Sekar. Tanpa berpikir panjang, aku menjawab.
"Iya, Bu."
Suara helaan napas Bu Sisi terdengar jelas, ia meminta anak tadi untuk mengantarku ke UKS. Lalu, anak itu menghampiriku. Suaranya mirip dengan anak yang memberiku sapu tangan ini. Apakah sama dengan anak yang di kamar mandi tadi? Aku hanya bisa menunduk, melihat kedua kakinya melangkah ke arahku.
"Ayo, aku antar," katanya.
Kami pun keluar dari kelas menuju UKS. Wangi bunga mawar yang manis, sepertinya dari anak ini. Aku menjaga jarak agar ia tidak terganggu oleh bau pesing.
"Kenapa menjauh?"
"Bu... bukan, aku cuma tidak mau kamu kebauan..."
"Apa?"
"Sapu tangan, aku akan kembalikan."
"Oh... sapu tangan, tidak usah. Simpan saja."
"UKS-nya sudah kelihatan, kamu bisa masuk ke sana sendiri kan? Aku tidak mau telat materi Bu Sisi. Maaf tidak bisa antar sampai dalam."
"Ma... makasih."
Aku mengangkat kepalaku, melihat sosoknya dari belakang semakin menjauh. Anak itu memiliki rambut panjang bergelombang, seperti seorang siswi teladan. Apa dia... sudahlah, aku segera masuk ke UKS dan mengganti bajuku dengan baju olahraga.
Hari berikutnya berjalan seperti biasa. Setiap makan siang, mereka akan menemukanku lalu menjahiliku. Susu yang tumpah ke seragamku; kain pel yang tiba-tiba mengarah ke wajahku; dan rambutku digunting oleh mereka. Semua itu jadi alasan untukku selalu kabur ke danau belakang sekolah. Di dekatnya, ada rumah tua reot dengan bau kayu lapuk. Aku selalu duduk di pinggir danau meski ada bau tidak sedap. Bukan masalah, bagiku ini tempat paling damai. Eh, ada yang mengambang di danau? Seperti... sepatu? Suara bel mengejutkanku. Tubuhku berat sekali untuk bangkit berdiri, seolah menolak untuk pergi dari sini. Tidak bisa, aku harus tetap mengikuti pelajaran. Aku sudah berjanji pada seseorang. Jadi kuputuskan untuk tetap hadir.
Sudah beberapa kali aku mengadukan hal ini, tapi... tanggapan guru sama saja. Mata mereka selalu memperhatikan dari atas sampai bawah, lalu berdecak. "Sekar dan temannya cuma bercanda. Kamu terlalu sensitif." Apa ini karena kedua orang tua Sekar yang berpengaruh itu? Semua anak-anak kelas memang sering membicarakannya. Berapa lama lagi aku harus menanggung semua perlakuan mereka. Selama perjalanan menuju toko, adegan demi adegan sikap mereka padaku terasa masih hidup meski sudah berlalu. Apa yang bisa aku lakukan...
"Halo? Mbak? Mbak, saya mau bayar. Mbak!"
Tanpa sadar aku melamun, sampai lupa ada pelanggan di depanku. Wajahnya sudah kesal, sepertinya aku melamun cukup lama.
"Totalnya seratus lima puluh ribu."
"Terima kasih. Selamat jalan."
Setiap pulang sekolah, aku meluangkan waktu untuk bekerja sambilan di toko ini, kira-kira sudah tiga bulan lamanya. Pemilik toko adalah seorang wanita muda bernama Lacia. Seorang wanita berambut oranye mengenakan jaket kulit berwarna cokelat. Anehnya, ada harum daun kering dari dirinya. Ia menolongku membayarkan belanjaan ketika aku lupa membawa uang. Lalu, tiba-tiba saja ia menawarkan bekerja sambilan di tokonya. Ia membutuhkan seseorang menjaga tokonya setiap sore. Di sinilah aku sekarang, menjadi seorang pekerja sambilan.
Selesai dari sini aku mau memotong rambutku. Betapa berantakannya terlihat di cermin, mereka sungguh niat.
Klang!
"Selamat datang."
"Eh! Kamu Menila kan?" ucapnya, sedikit tersenyum.
"Ah... kamu..."
"Serius kamu tidak ingat? Sapu tangan. Ingat?"
Aduh memalukan! Dia melihatku kerja seperti ini? Apa dia akan mengadukanku ke anak-anak lain? Aku menelan ludah, menundukkan kepala sambil menutup mulutku rapat-rapat.
"...Hahaha, sikapmu lucu deh, Menila."
Ia... salah menyebut namaku. Aku mau memberitahu namaku dengan benar, tetapi ia sudah meninggalkan percakapan dan berjalan menelusuri rak-rak toko, mengambil beberapa barang, lalu berjalan menuju kasir.
"Totalnya jadi tiga ratus ribu."
"Tenang saja, rahasia kamu aman sama aku."
"A... aku Melina, bukan Menila."
"Oh... oke, Melina."
Ada rasa lega, meski aku tidak terlalu percaya. Tapi siapa sangka, sebelum pergi ia menaruh roti dan susu di dekat mesin kasir. "Buat kamu," katanya. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar melihat wajah anak itu. Kalau tidak salah namanya Emeline. Wajah cantik dan kulit putih seperti karakter utama drama sekolah. "Terima kasih," spontan aku menjawab. Ia pun pergi membawa barang belanjaannya.
Keesokan harinya, kelas kami mendapat giliran piket membersihkan halaman dan lapangan sekolah. Kelasku dibagi menjadi dua kelompok. Beruntungnya, aku sekelompok dengan Emeline. Apa aku sapa saja? Ia sedang berbincang dengan teman-temannya. Eh, Emeline tersenyum padaku.
Seperti ada suara orang samar-samar aku dengar...
"Permisi, bisa geser sedikit? Ada sampah yang kamu injak."
"Ah... ma... maaf!"
Aku terlalu memperhatikan Emeline, sampai tidak sadar ada murid lain yang sedang mengambil sampah.
"Kamu Melina kan? Yang basah kuyup waktu itu?"
Siapa laki-laki ini? Tiba-tiba berdiri di hadapanku dan mengajak bicara? Tunggu, dia... sekelas denganku. Kalau tidak salah namanya Lio? Sio? Aku lupa. Lebih baik aku abaikan saja.
"Melina!"
Sontak! Aku terkejut. Tiba-tiba saja, Emeline berada di belakangku, memegang pundakku agak kencang. Tidak hanya Emeline, seketika teman-teman Emeline satu per satu menghampiri kami.
"Kalian lagi ngobrol apa, nih?" ujar Emeline, tersenyum.
"Cuma ngobrol hal receh," ucap murid laki-laki itu yang tidak kuingat namanya.
"Eh! Gio! Gimana pertandinganmu bulan kemarin? Menang tidak?"
Aku melihat ekspresi Emeline yang tersenyum ceria. Dia... sepertinya orang yang baik pada siapa saja ya.
"Yuk! Masuk kelas," ucap Emeline padaku, menarik lenganku untuk ikut bersama kelompoknya.
Dari belakang aku memperhatikan ia dan teman-temannya. Jadi ini rasanya seseorang menganggapmu... ada? Apa kali ini, aku bisa memiliki teman?
Sepulang sekolah, sebelum menuju tempat kerja, aku melihat sepasang kaus kaki putih yang tergantung di depan toko. Betapa bersihnya. Apa aku beli saja?
Dengan cepat, aku mengambil kaus kaki putih itu dan masuk ke toko untuk membelinya. Harum toko ini seperti hutan basah. "Harganya dua puluh ribu," ucap seorang wanita muda yang mengenakan bunga putih agak transparan di rambutnya. Kuperiksa uang di saku, tersisa dua belas ribu. Kurogoh tasku dan juga kotak pensil untuk mengumpulkan sisanya, demi kaus kaki baru itu. Hingga waktu menunjukkan pukul lima sore, segera aku berlari menuju tempat kerja. Sudah beberapa kali aku terlambat, semoga saja tepat waktu.
Untungnya, hari ini toko tutup cepat. Aku bisa pulang lebih awal. Selama berbaring di kamar, aku hanya memandangi kaus kaki putih baru ini. Sekilas mengingatkanku pada kaus kaki bersih milik Emeline ketika pertama kali bertemu dengannya. Ada sesuatu yang menggelitik.
Untuk pertama kali aku semangat untuk berangkat sekolah. Mungkin karena kaus kaki baru atau Emeline yang sering mengajakku berbicara belakangan ini. Ia selalu bertanya padaku soal matematika atau materi lainnya yang tidak ia mengerti. Sesekali aku membantunya mengerjakan tugasnya. Setelah itu ia akan berkata, "Melina! Kamu jenius sekali! Makasih ya sudah kerjain tugasku," lalu ia akan tersenyum cerah padaku dan memberikan susu pisang.
"Aku jenius?"
"Iya!"
Aku... ternyata jenius ya? Pertama kali aku mendengar itu. Aku orang yang jenius.
Aku... jenius.
Hari itu, ketika ia memperlihatkan kukunya yang baru saja dipoles, kumasukkan tanganku ke dalam kantong celana, menyembunyikan kuku yang menguning dan agak kehitaman. Ia juga menunjukkan ikat rambut merah jambu dengan merek yang sulit kuucapkan. Emeline memang sangat menyukai merah jambu. Jam tangannya, jepitan rambutnya, bahkan tasnya berwarna merah jambu. Semua benda yang tertempel pada Emeline seperti mustahil kubeli dengan uang saku seadanya.
Apa mungkin dengan lebih jenius kami bisa semakin dekat?
Berteman dengan Emeline ternyata tidak mengubah posisiku. Sehabis dari kamar mandi, aku mendapati buku-buku pelajaranku basah. Aku mengangkatnya dan buku itu telah rusak terkikis air. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Sekar dan teman-temannya. Mereka berkumpul di dekat mejaku, sambil tertawa menatap ke arahku.
"Ups!"
"Aduh... kasihan, bukunya basah semua."
Aku mengepalkan tangan sekeras mungkin, hingga kukuku menembus kulit. Tanpa disadari, tiba-tiba saja Sekar mendekat membisikkan sesuatu padaku.
"Heh! Sampah, sudah mulai tidak tahu diri ya?"
"Sekar!!"
Seluruh kelas terdiam, para murid termasuk aku menoleh ke arah suara keras itu berasal. Siapa sangka, teriakan tadi adalah Gio yang berdiri di depan kelas. Raut wajahnya terlihat sangat kesal. Kenapa dia begitu emosi? Dengan cepat, Gio menghampiri Sekar.
"Lu mau bikin suasana kelas jadi tidak enak? Sadar tidak? Lu bikin tidak nyaman yang lain?!"
"Gio, si anak sial— engga, maksudku si Meline ini yang mulai duluan..."
Sekar terlihat sangat ketakutan. Ia sampai berjalan mundur, menjauhi Gio.
"Benarkah? Tapi dari tadi aku lihat Melina ke kamar mandi. Kamu yang menumpahkan susu ke bukunya."
Aku mendengar kata-kata itu keluar dari Emeline. Ia berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri kami. Emeline... membelaku?
Satu per satu murid-murid lain mulai berani bicara. Semakin lama, kelas dipenuhi suara mereka. Aku menoleh ke arah Emeline. Bukankah semua ini berkat Emeline?
Karena murid-murid lainnya mulai meneriaki mereka, Sekar tiba-tiba menghantamkan bahunya ke bahuku, lalu berjalan keluar kelas. Aku bisa melihat raut wajah yang kesal tadi. Baru kali ini Sekar tidak bisa melawan.
Aku tahu seperti apa Sekar dan teman-temannya. Bisa saja ia melakukan hal yang tidak terduga. Kalau itu benar terjadi, bagaimana Emeline bisa menghadapinya? Segera aku berjalan menghampiri Emeline untuk memberi tahunya, namun Emeline sedang berbicara dengan Gio. Tatapannya begitu tertuju pada Gio. Karena Emeline orang yang baik, jadi wajar saja dia akrab dengan Gio.
Setelah kejadian itu, Sekar dan kelompoknya tidak pernah menggangguku lagi. Mungkin karena pengaruh Emeline. Bukankah begitu? Akhirnya! akhirnya! Sekian lama aku bisa menghabiskan waktuku dengan damai. Tidak perlu lagi ke danau setiap makan siang. Sekarang aku bisa belajar dengan lebih giat, menjadi jenius, menjadi yang paling pintar di kelas.
Siapa tahu kami jadi semakin dekat.
Walau Emeline tidak perlu melalui kegiatan malam sepertiku ini. Contoh seperti saat ini, berdiri di depan kasir sambil mengerjakan soal, sedangkan ia punya banyak waktu untuk belanja atau merawat dirinya. Semakin dipikirkan, semakin terasa tidak adil. Sudahlah, selesaikan dulu soal matematika ini. Sejak tadi aku hanya mengetuk-ngetuk pensil ke meja, berharap muncul sedikit petunjuk.
Klang!
"Selamat datang," ucapku.
"Melina kan? Tidak nyangka, kita ketemu lagi."
"Emm... Gio?"
"Yup. Kerja di sini?"
Kenapa harus bertemu teman sekelas dalam keadaan begini? Apa dia akan mengejekku? Aku tidak sanggup melihat tatapannya. Tiba-tiba saja pensilku terlepas dari tangan dan terjatuh. Segera kuambil pensilku sambil memastikan keberadaan orang itu. Sepertinya sudah pergi karena suaranya tidak terdengar lagi. Apa aku coba berdiri, mengintip sedikit dari balik meja kasir? Ah iya, dia sudah pergi. Pergi keluar atau ternyata dia sedang memilih-milih barang. Aku kembali merangkuk, tetapi orang itu sudah berdiri di depan meja kasir.
"Jadi berapa?" ucapnya.
Aku perlahan bangkit, memalingkan pandanganku padanya. Kuambil barang-barangnya dan mulai menghitung seakan tidak terjadi apa-apa.
"Dua ratus ribu," ucapku.
"...Rumahku dekat sini," katanya tiba-tiba.
Aku tidak tanya, dan tidak mau tahu juga. Tapi karena ia tersenyum ramah padaku, jadi tidak enak mengabaikan begitu saja.
"Emm... iya."
Apa aku bilang saja? Supaya dia tidak bilang pada siapa pun?
"Hati-hati ya."
"Hmm?"
"Sepertinya kamu sering pulang larut, aku cuma bilang hati-hati."
Raut wajahnya yang tadi terlihat lembut dan ramah berubah datar dan agak serius. Aku... tidak mengerti apa maksudnya, mungkin sebagai teman kelas ia hanya memperingatkan saja.
"Oke... bye," ucapnya.
"Tunggu!" Aku pun keluar mengejarnya.
"Ya?"
"Bisa kamu rahasiakan aku bekerja di sini?"
"Aku tidak akan bilang siapa-siapa."
Terkejut dengan jawabannya. Aku sedikit tidak menyangka.
"Makasih," ucapku. Sedikit regang pundakku.
Aku berjalan masuk ke dalam toko, ada sesuatu di tiang depan toko. Segera dengan cepat aku memasuki toko.
Dari sela-sela kaca, aku mencoba mengintip. Sekilas orang dekat tiang itu mirip seorang wanita. Ia berdiri menghadap ke arah Gio pergi. Agak samar, karena lampu remang-remang dekat tiang. Aku menyipitkan mata, memastikan bahwa yang kulihat mungkin saja salah. Tapi... tinggi badan serta rambut panjang... perawakannya mirip seseorang yang aku kenal dekat.
Dia tiba-tiba saja menatap ke sini. Aku langsung memalingkan pandanganku. Ketika aku mencoba mengecek kembali, orang itu sudah pergi. Apa aku salah lihat? Sudahlah. Ada banyak perempuan yang perawakannya mirip Emeline. Tidak mungkin itu Emeline. Untuk apa ia berada di sini? Lebih baik aku selesaikan tugas-tugasku ini dan segera pulang.
Rasa penasaran membuatku menghampiri tiang tadi. Sebuah poster wanita muda hilang tertempel di tiang. Jadi berita soal ini yang belakangan sering dibicarakan para pelanggan. Tapi bukan itu fokusku sekarang. Karena apa yang kutemukan ini, sebuah ikat rambut merah jambu milik seseorang yang aku kenal. Ikat rambut yang mereknya sangat sulit kuucapkan. Ini, Emeline? Mungkin saja ikat rambut ini milik orang lain. Ikat rambut ini kan tidak mungkin cuma satu.
Sudah seminggu berlalu, bayangan perempuan itu masih berputar di kepalaku. Apa aku pastikan dengan bertanya? Belum lagi Emeline sering sekali berbicara dengan Gio. Bagaimana kalau ikat rambut ini kukembalikan.
"Emeline, ini milikmu kan?" ucapku sedikit gugup.
"Wah! Ikat rambutku! Di mana kamu menemukannya?" ucapnya kegirangan.
"Di toilet perempuan kemarin."
"Makasih! Ikat rambut ini cuma ada satu karena aku pesan khusus."
Jadi... benar, semalam itu... tapi apa alasannya? Apa aku tanyakan saja? Tapi sepertinya itu bukan sesuatu yang boleh kuketahui. Aku putuskan untuk tidak terlalu mencari tahu. Lebih baik aku fokus mengerjakan tugas dan nilai-nilaiku.
Semua yang kulakukan perlahan membuahkan hasil. Nilaiku mulai membaik dari sebelumnya. Aku dilibatkan dalam banyak kegiatan diskusi, sampai mencoba mengikuti lomba sekolah. Siapa tahu aku menang. Emeline dan teman-temannya juga sering mengajakku bermain. Kadang kami pergi ke kafe atau ke mal. Emeline sering membelikanku barang, meski sesekali aku juga membelinya. Salah satu barang yang aku beli adalah parfum mawar yang digunakan Emeline. Siapa tahu semakin banyak barang kami yang mirip, anak-anak lainnya juga mulai melihatku. Seperti Emeline melihatku.
Sudah empat kali aku bolos kerja. Untungnya Lacia memaklumi. Ia juga mengatakan padaku untuk pulang tidak terlalu malam. Katanya, baru-baru ini ada kejadian wanita muda hilang di daerah dekat toko. Dan ini yang kelima, karena kegiatan sekolah yang semakin padat, ditambah Emeline sering mengajak bermain. Sepertinya hubungan Emeline dengan teman-temannya kurang baik. Pernah sekali Emeline sempat memintaku untuk menemaninya ke taman yang cukup jauh jaraknya.
"Aku... mau berbaring sebentar," katanya, lalu berbaring di pangkuanku.
Rambutnya begitu lembut dan harum. Bulu matanya juga sangat lentik. Kulitnya bersih seputih salju. Kalau saja aku bisa menjadi seperti Emeline, apa kehidupan sekolahku akan mudah? Tapi raut wajahnya terlihat sangat kelelahan. Gadis seperti Emeline bisa terlihat seperti ini juga. Emeline perlahan tertidur dengan lelapnya. Aku mengusap kepalanya, berharap ia nyaman dengan posisi ini, melantunkan beberapa lagu pengantar tidur, membiarkan waktu berlalu begitu saja.
Setelah kejadian itu, Emeline sering bersamaku. Ia juga beberapa kali membicarakan teman-temannya. Yah, aku bersyukur Emeline jadi semakin dekat denganku. Tapi untuk hari ini, aku harus menolak ajakannya.
"Oh... sekarang sibuk banget ya, kayaknya kamu lupa sama apa yang aku lakukan."
"Maaf banget... maaf banget, Emeline. Tapi kerja kelompok ini penting banget."
"Ya sudah, pergi saja. Ternyata baru sekarang aku tahu Melina begitu."
Tidak... tidak, raut wajah Emeline terlihat dingin. Apa dia marah? Gimana ini? Apa aku batalkan saja kerja kelompoknya?
"O... oke, baik... baik. Aku batalin kerja kelompokku. Aku hubungi Gio dulu."
"Apa? Gio?"
"Dia satu kelompok denganku untuk Lomba Sains Antarsekolah ini. Aku juga agak kaget, ternyata dia juga jadi peserta lomba..."
Raut wajah Emeline yang tadinya tampak kesal seketika berubah tersenyum cerah.
"Hmm... gimana kalau aku ikut?"
"Apa?!"
"Tidak boleh? Ya sudah."
Aku menuruti keinginan Emeline. Meski rasanya agak aneh kalau Emeline ikut. Kami hanya berdiskusi tentang materi, bisa saja dia bosan. Karena Emeline bersikeras, kami pun memutuskan untuk tetap pergi ke tempat diskusi kelompok.
Sepanjang diskusi, orang-orang fokus memperhatikan setiap Emeline berbicara. Sedangkan tatapan Emeline selalu fokus ketika Gio berbicara. Bukannya berdiskusi mengenai strategi untuk perlombaan, orang-orang lebih mementingkan berbicara dengan Emeline. Aku yang merangkai ide. Harusnya perhatian mereka tertuju padaku kan?
"Melina, ide yang kamu jelaskan bagus banget. Mari kita bahas lebih lanjut."
Tidak disangka, Gio mendengarkan apa yang sejak tadi aku ucapkan. Namun tidak dengan Emeline, ia sering memotong pembicaraanku dengan Gio. Emeline juga melontarkan kepada orang-orang lain bahwa ideku terlalu biasa.
Beberapa orang mulai setuju, tapi tidak dengan Gio yang tetap percaya pada konsep ideku. Orang-orang pun terpecah. Ada yang setuju dengan Emeline, dan ada yang setuju dengan Gio.
"Ah... mungkin ada benarnya apa yang dikatakan Gio. Kalau dipikir-pikir, ide ini cukup matang juga," ucap Emeline tiba-tiba, sambil... sedikit melotot ke arahku.
Apa aku, salah lihat?
Sepanjang diskusi kelompok aku tidak bisa berkonsentrasi. Sekilas sikap Emeline terus berputar di kepala. Emeline sama sekali tidak merespons omonganku. Ia hanya kembali berbicara dengan Gio. Aku… ingin pulang saja.
"Teman-teman, aku pulang dulu ya. Ibuku menelepon," ucapku berbohong, lalu merapikan barang-barang dan segera keluar dari ruangan. Kepalaku terasa panas. Tanpa sadar aku meninggalkan Emeline begitu saja. Kenapa Emeline begitu fokus dengan Gio sampai-sampai mengabaikanku? Sambil berjalan ke arah toko, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.
"Gio??" ucapku terkejut.
"Mau ke toko kan? Ayo bareng."
"Gimana dengan diskusi kelompoknya?" tanyaku heran.
"Yahh... mereka tidak kompeten. Sungguh," ucapnya sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Tunggu, dia meninggalkan Emeline begitu saja? Aku ingin bertanya, tapi malas berbicara dengannya. Jadi kuputuskan untuk mengabaikannya saja.
"Rumahmu dekat toko?"
"Tidak."
"Jadi, yang kamu bilang di telepon ibumu itu bohong?"
Aku berhenti sejenak, menoleh ke arahnya. "Iya," jawabku seadanya saja.
"Oh iya... hati-hati."
"..."
"Aku dengar ada wanita muda yang hilang di sekitar sini."
Suara Gio yang tadinya terdengar ramah menjadi tegas. Aku menoleh ke arahnya, melihat raut wajahnya yang tiba-tiba saja datar. Aku sedikit menjaga jarak darinya, berharap dia mulai berhenti berbicara, meski itu terlihat mustahil.
Hingga kami sampai ke toko tempatku bekerja, sesuatu yang tidak disangka ada di depan mataku saat ini. Emeline berdiri di depan toko, melipatkan tangannya, menatap ke arah kami dengan tatapan yang... aku tidak tahu pasti.
Emeline berlari ke arahku dan memelukku erat. Ia membisikkan sesuatu yang aneh.
"Gio~" ucapnya.
"Bukannya kamu tadi ada urusan mendadak?"
"Urusanku dibatalkan," ucap Emeline.
"Melina? Bau parfum kamu kok familiar ya? Mirip parfumku?"
Aku menutup rapat bibirku, memalingkan wajahku dari tatapan Emeline yang terlihat keheranan. Lebih baik tidak kujawab dan tinggalkan mereka berdua.
"Teman-teman, aku kerja dulu. Kalau kalian mau ngobrol, silakan lanjutkan."
Aku berlari ke dalam toko, menghindari pertanyaan Emeline. Juga tidak ingin tahu urusan mereka. Sepertinya... bau parfum sedikit mengusik Emeline. Sampai semalam penuh aku memikirkan apa yang ia bisikkan. Bukan soal parfum, tapi yang lain... aku punya firasat tidak mengenakkan besok. Mungkin hari ini Emeline sedang sensitif. Bisa saja ia kelelahan mengikutiku kerja kelompok. Lebih baik aku izin pulang lebih awal dan beristirahat.
Esoknya Sekar mulai menggangguku lagi. Buku-buku milikku hilang. Teman-teman Sekar mulai menggangguku, mencoret-coret seragamku dari belakang. Gangguan mereka setiap hari semakin menjadi, tapi bukan itu yang mengusikku, melainkan Emeline. Ia… semakin menjauh. Kadang ia hanya melihatku, lalu mengabaikan tatapanku. Ia melihat Sekar yang sengaja menumpahkan makanannya ke pakaianku. Emeline, hanya diam. Lalu, tertawa sinis.
Tidak hanya sekali dua kali sikapnya begitu. Contohnya hari ini, ketika buku pelajaranku robek tak karuan. Emeline... dari jauh ia tersenyum padaku, tapi bukan senyum yang seperti biasa. Melainkan senyum puas. Lalu memalingkan wajahnya, kembali berbincang dengan teman-teman yang ia bicarakan padaku. Bukannya Emeline tidak suka dengan mereka?
Aku mengeluarkan sapu tangan Emeline dari tasku, mengingat apa yang sudah ia lakukan padaku. Ini, tidak mungkin berakhir seperti ini kan? Apa aku coba menghampiri Emeline? Tanpa berpikir panjang, aku berjalan ke arah Emeline sambil memegang sapu tangan merah jambunya.
"Emeline, ada yang mau aku bicarakan."
"Eh... kalian dengar ada yang bicara tidak?"
Mata teman-temannya menuju ke arahku. Mereka semua... tertawa. Kakiku mematung, tidak bisa bergerak. Kuremas kencang sapu tangan Emeline di tanganku. Setelah semua yang aku lakukan, ternyata jadi seperti ini. Aku perlahan melangkah mundur, kembali ke tempat dudukku. Sekar tiba-tiba saja memukul kepala belakangku.
"Akh,"
Kepalaku berdenyut. Air mataku tiba-tiba saja menetes. Kuusap mataku dengan sapu tangan, lalu berdiri keluar dari kelas. Tidak sengaja aku menabrak Gio yang baru saja ingin masuk ke kelas.
"Melina, hey?"
Ah... tahan...tahan... aku tidak boleh menangis di sini, lebih baik keluar dan menjauh. Namun Gio memegang tanganku, ia bertanya apa yang terjadi.
"Ulah Sekar ya?"
Sebisa mungkin aku menghindari tatapan Gio, tanpa menjawab pertanyaannya. Tetapi siapa sangka, seseorang yang tadinya tidak menjawab pertanyaanku menghampiriku dan berkata, "Melina, kamu baik-baik saja." Tangannya mengusap rambutku, merangkulku. Wangi khas bunga mawar darinya. Siapa lagi kalau bukan anak itu. Emeline. Seketika tangisanku berhenti. Gio memaki-maki Sekar. Sedangkan Emeline? Mengusap-usap rambutku. Emeline... bukannya tadi ia...
Sebenarnya, kenapa?
Esoknya perilaku Sekar dan kelompoknya masih sama. Mereka melakukannya diam-diam. Aku memutuskan untuk mengabaikan dan tetap masuk seperti biasa. Aku mendekati Emeline kembali, tapi nyatanya ia menjadi lebih dingin dari biasanya. Kata-kataku tidak dihiraukan. Dan... ia cuma melemparkan tugas padaku. Namun, ketika Gio menghampiriku, tiba-tiba saja Emeline memelukku, tertawa ceria ke arah Gio.
Kembali lagi ke danau belakang sekolah, sambil mengerjakan tugas Emeline dan teman-temannya. Tinggal pasang headset dan terus belajar. Padahal sebelumnya aku bisa belajar dengan tenang, tanpa perlu kembali lagi ke tempat bau busuk ini. Kalau saja Sekar dan teman-temannya tidak ada, misalnya keluar sekolah? Sepertinya keadaan sekolah akan lebih damai. Tapi kalau cuma keluar sekolah mereka masih bisa menemukanku. Bagaimana kalau benar-benar menghilang saja? Misalnya... mati? Tapi sikap Emeline... terus terulang di kepala. Aku merasa panas di dada, sampai memegang erat sekali pulpenku, hingga terdengar bunyi retakan pada selongsongnya. Apa Emeline memanfaatkanku?
Kata-kata itu berputar di kepalaku. Jika memang benar, selama ini aku seperti orang yang bodoh. Lalu, bagaimana dengan sapu tangan itu? Ia membelaku dari Sekar. Membantuku berteman dengan anak-anak lainnya. Bau busuk dari danau semakin lama menggangguku. Kenapa danau ini semakin menghitam? Eh, ada sesuatu seperti kepala... apa boneka? Sontak, seseorang menepukku dari belakang.
"Gio?"
"Ayo masuk kelas."
"Ah... oke."
"Kenapa kamu ada di sini?" ucapnya keheranan.
"Di sini lebih tenang."
"Oh."
Aku memperhatikan raut wajah Gio. Ia selalu tersenyum ramah ketika berbicara padaku. Terkadang juga seperti orang yang begitu dekat. Tapi kenapa dengan Sekar atau Emeline begitu datar, seolah-olah malas meladeni mereka. Sepertinya aku tidak perlu tahu akan hal itu. Lebih baik fokus belajar saja lalu pulang.
Sepanjang malam aku mengamati sapu tangan merah jambu milik Emeline, mengusapnya lembut. Masih bersih tanpa coretan atau bercak noda sekalipun. Sapu tangan ini adalah kebaikan pertama yang aku dapatkan. Teman-teman kelas sudah mulai menyapaku. Mereka menganggapku ada. Tetapi Emeline? Bagaimana dengan tugas-tugasnya? Aku yang selalu menemaninya bermain? Dan juga posisiku saat ini, teman-teman kelas yang sudah mulai percaya padaku...
Aku membuang sapu tangan merah jambu itu keluar jendela rumah. Aku sudah berusaha sampai di sini. Aku tidak mau kembali ke kamar mandi itu lagi. Tidak mau! Ah... sesuatu terlintas di benakku.
Kalau Emeline juga tidak ada... apa keadaanku akan lebih baik?
Tunggu? Bukannya selama ini tugas-tugasnya selalu aku kerjakan? Bukannya Emeline selalu bergantung padaku belakangan ini?
Setiap hari, aku belajar semakin giat. Lagi dan lagi berusaha menjadi paling unggul di kelas. Semua usahaku berbuah manis, perlahan teman-teman kelas mulai mendekat dan memintaku bekerja sama dengan mereka dalam beberapa tugas. Mereka mengatakan bahwa aku sangat cerdas. Aku sudah duga kalau aku cerdas!
Ternyata menyenangkan juga jadi pusat perhatian. Mereka melihatku... melihatku!
Tidak perlu waktu lama, teman-teman kelas mulai mengelilingiku. Mereka banyak bertanya mengenai materi yang tidak mereka pahami. Mereka juga terkadang mengajakku bermain. Bagaimana dengan Emeline? Tugas-tugasnya tidak pernah kukerjakan lagi.
"Melina, tidak nyangka ya kamu sepintar itu."
"Iya, kalau begini kan rasanya jadi ada yang bisa diandalkan."
Diperhatikan oleh mereka. Beberapa dari mereka sering membelikanku jajanan. Kadang memberiku buku. Wah, menjadi jenius ternyata menyenangkan juga.
Dan semua kesenangan itu seketika retak ketika aku melihat Emeline dan Sekar berbincang. Sekar tersenyum sinis menoleh ke arahku. Sontak, aku menghindari tatapannya. Tenggorokanku kering, kepalaku sedikit berdengung. Padahal dia sudah tidak menggangguku lagi. Kenapa rasanya masih merinding? Apa yang sedang mereka bicarakan? Mereka kan tidak akur? Selama pelajaran, tubuhku tidak bisa diam. Aku sulit berkonsentrasi pada pelajaran, semua terlihat kabur. Apa aku izin ke UKS saja?
Sepulang sekolah, mereka berdua menghampiriku, menyeretku ke belakang gedung sekolah. Tempat yang selalu jadi pelarianku. Danau keruh dan bangunan reot yang sudah sangat tua. Mereka mengambil air danau lalu menyiramku. Tidak tahan dengan bau busuk dari danau, aku menutup hidungku. Perutku mual. Sisa makanan hampir saja keluar merayap melewati tenggorokan. Aku tidak tahu kenapa ada bau busuk dari danau, seperti bau bangkai...
"Sudah kubilang kan? Dia memang jalang sialan! Harusnya kamu tidak membela dia."
"Kamu terlalu berlebihan menganiaya dia."
"Hah. Sok suci. Kamu sendiri juga benci dia kan? Karena Gio?"
Gio? Kenapa mereka tiba-tiba membahas... ra... raut wajah Emeline mengeras. Matanya melotot, perlahan menoleh ke arah Sekar. Seketika, ia meraih rambut Sekar dan menariknya ke bawah, lalu mendorongnya ke tanah sampai Sekar jatuh tersungkur.
"Auch! Sakit!" seru Sekar.
"Kamu suka Gio juga kan?" ucap Emeline dengan tatapan tajam.
"Jalang! Berani banget kamu dorong aku!"
Sekar pun berdiri, menghantam wajah Emeline dengan botol bekas. Wajah Emeline memar. Ia pun mulai histeris, menyerang Sekar dengan cakaran. Mereka saling bertengkar satu sama lain hingga tersungkur. Melihat kesempatan ini, aku segera berlari keluar dari rumah itu, menutup pintu dan mengganjalnya menggunakan kayu. Suara mereka begitu kencang, saling mengumpat. Sampai salah satu dari mereka berseru keras. Aku segera berlari secepat mungkin. Tapi di dekat danau, sekilas sosok orang di antara pepohonan. Ia berdiri menatap ke arah rumah tersebut. Tanpa peduli siapa, aku mengabaikan dan tetap berlari keluar.
Mengejutkan, mereka terobsesi dengan satu orang sampai-sampai bertengkar hebat seperti itu. Tapi kenapa mereka mengincar aku? Apa jangan-jangan selama ini Sekar menggangguku karena Gio? A... aku tidak mau memikirkan itu. Yang penting sekarang sudah berlalu.
Suasana sekolah tetap berjalan seperti biasa. Emeline tidak pernah terlihat lagi. Yang aku dengar, ia memutuskan untuk pindah sekolah. Dan Sekar? Tidak pernah masuk lagi. Sesekali aku tidak sengaja bertemu orang tua Sekar yang datang ke sekolah. Sekilas, aku pernah mengintip ruang kepala sekolah. Ibunya menangis tersedu-sedu. Ternyata orang tua bisa begitu juga dengan anaknya. Aku lanjut berjalan menelusuri lorong dengan lega. Entah kenapa, baru kali ini jalan di lorong sekolah langkah kakiku terasa ringan.
Aku berhenti sejenak, menatap danau dan rumah reot itu dari jendela. Kejadian itu untungnya sudah lewat. Aku yakin mereka pasti baik-baik saja di sana. Mereka pasti sudah berdamai. Sekilas bayangan seseorang berdiri di pinggir danau, memandang ke arah permukaan danau. Seperti membuang sesuatu ke danau. Apa karena itu danau jadi bau busuk?
Namun, kabar dari guru malah mengguncang ketenangan kelas. A... aku yakin yang disampaikannya pasti salah. Keringatku mulai bercucuran. Tidak mungkin sebuah mayat ditemukan di dalam rumah tua itu. Aku yakin mereka baik-baik saja... mereka seharusnya sudah damai di tempatnya masing-masing. Tubuhku menegang hebat.
Semua menjadi gelap.
Perlahan aku mulai membuka mata. Ini di UKS... Apa yang terjadi? Samar aku dengar kedua orang sedang berbincang. Sepertinya itu guru. Terdengar suara pintu UKS terbuka, dan benar saja. Guru dan polisi? Kenapa ada polisi?
"Oke, Melina. Kami hanya minta beberapa keterangan saja mengenai posisimu pada hari itu."
Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam selimut, mengelapnya — telapak tanganku yang terus berkeringat dan gemetar. Aku menjelaskan bahwa aku selalu pulang tepat waktu karena bekerja sambilan di toko. Setelah itu mereka tidak melanjutkan pertanyaan apa pun lagi, dan pergi begitu saja. Guru pun memberi tahu padaku bahwa sekolah diliburkan selama seminggu. Menunggu hasil autopsi mayat seorang perempuan dari rumah sakit. Tunggu? Seorang?
Harusnya ada dua kan?
Walau sekolah libur, aku tetap bekerja di toko Lacia. Tidak lupa juga membawa beberapa buku pelajaran. Suara pintu toko terbuka. Seseorang masuk ke dalam toko.
"Selamat datang," ucapku sambil membaca buku biologi.
"Melina..."
Suara yang kukenal... suara sendu yang selama ini menjadi pusat masalah dari semua kejadian aneh ini. Aku menoleh ke arah suara itu.
"Bagaimana? Sudah tidak ada lagi yang ganggu kamu kan?"
Ia menghadap lurus padaku. Raut wajahnya datar, tatapannya tajam.
Pertanyaan itu... bukan pertanyaan yang patut dilontarkan pada situasi yang mencekam di sekolah. Apa dia paham konteksnya?
"Kenapa kamu menanyakan itu?" ucapku mengerutkan dahi.
"Aku cuma— tanya saja," ucap orang itu dengan nada dingin dan tatapan yang... memperhatikanku dari atas hingga bawah.
"Gio, apa kamu paham situasi sekarang?" tanyaku heran dengan sikap tenangnya itu.
"Ternyata kamu pintar berpura-pura ya."
Aku membeku, menggenggam erat buku biologiku. Menghindari tatapannya.
"Luar biasa. Kamu masih bisa belajar dengan baik. Sungguh."
Ia semakin mendekat, meletakkan sebuah kain yang familiar di meja kasir, lalu berjalan keluar dari toko.
Sapu tangan merah jambu milik Emeline.
Aku menggertakkan gigiku. Tiba-tiba pundakku menegang. I... ni kan sudah kubuang. Meski tidak begitu ingat di mana aku membuangnya. Kenapa bisa ada di tangan Gio?
Segera kututup toko dan menjelaskan pada Lacia untuk pulang lebih awal. Perasaanku campur aduk. Bagaimana kalau ia tahu aku ada di TKP pada hari itu? Bagaimana ini...
Esoknya, saluran berita dipenuhi oleh kabar mengenai sekolahku. Ditemukan mayat seorang wanita muda di danau dekat rumah tua itu. Sekolah kami akhirnya menambah waktu libur sampai seminggu lagi. Mayat perempuan dari rumah tua itu menunjukkan hasil autopsi tidak teridentifikasi karena wajah dan sidik jarinya telah rusak. Kalau hanya ada satu... lalu, ke mana satunya lagi?
Semua yang sudah aku lakukan, kupikir tidak akan ketahuan. Semua yang sudah aku capai? Apa akan berakhir begitu saja? Aku menggigit lidahku hingga berdarah. Aku menutup telingaku yang masih mengingat teriakan terakhir mereka. Na... nafasku tersengal melihat sapu tangan merah jambu ini kembali ke tanganku.
Ah... andai saja semua ikut tidak ada.