Hujan turun tanpa henti sejak sore.
Kabut tipis mulai menutupi jalan menuju Desa Sumberjati, sebuah desa kecil yang letaknya cukup jauh dari kota. Di peta, desa itu hanya tampak sebagai titik kecil yang diapit hutan dan perbukitan.
Malam itu, Dimas memacu sepeda motornya dengan pelan.
Ia baru saja menerima penugasan dari kantornya sebagai fotografer dokumentasi budaya. Selama seminggu ke depan, ia diminta memotret rumah-rumah tua yang masih bertahan di desa-desa terpencil.
Awalnya pekerjaan itu terdengar menyenangkan.
Sampai motornya mogok tepat di depan sebuah gapura kayu bertuliskan:
"Selamat Datang di Desa Sumberjati."
Dimas mencoba menyalakan mesin beberapa kali.
Tidak berhasil.
Ia menghela napas panjang.
"Bagus..."
"Baru hari pertama."
---
Langit semakin gelap.
Tak ada sinyal telepon.
Tak ada kendaraan yang lewat.
Hanya suara hujan dan gesekan ranting-ranting pohon yang tertiup angin.
Dimas akhirnya mendorong motornya memasuki desa.
Rumah-rumah kayu berjajar rapi.
Anehnya, hampir semua pintunya tertutup rapat.
Tidak terdengar suara televisi.
Tidak ada anak-anak bermain.
Bahkan suara anjing pun tidak ada.
Desa itu terasa terlalu sunyi.
Beberapa menit kemudian, seorang lelaki tua muncul membawa payung anyaman bambu.
"Anak kota?"
Dimas mengangguk.
"Iya, Pak."
"Motor saya mogok."
Lelaki itu memperhatikan motor Dimas cukup lama.
"Listriknya mati."
Dimas mengernyit.
"Maksud Bapak?"
"Bukan motornya."
"Desanya."
Kalimat itu membuat Dimas semakin bingung.
---
Lelaki tua itu memperkenalkan diri sebagai Pak Wiryo.
Ia mengajak Dimas berteduh di rumahnya.
Rumah panggung sederhana itu diterangi lampu minyak.
"Kenapa tidak pakai listrik?" tanya Dimas.
Pak Wiryo hanya tersenyum.
"Listrik sering padam."
"Tapi malam ini..."
"...lebih baik memang tidak dinyalakan."
Dimas menganggap lelaki itu hanya bercanda.
---
Setelah makan malam, Dimas menjelaskan maksud kedatangannya.
"Saya ingin memotret rumah-rumah tua di desa ini."
Pak Wiryo yang semula tenang tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya.
"Rumah yang mana?"
"Semuanya."
Pak Wiryo menggeleng.
"Kalau bisa..."
"...jangan memotret rumah yang berada di ujung desa."
"Kenapa?"
"Itu rumah kosong."
Dimas tersenyum kecil.
"Justru rumah seperti itu yang saya cari."
Pak Wiryo menatapnya lama.
"Lima belas tahun lalu..."
"...rumah itu juga dicari seorang fotografer."
"Lalu?"
"Ia tidak pernah kembali."
---
Dimas tertawa pelan.
Ia mengira itu hanya cerita untuk menakut-nakuti pendatang.
Pak Wiryo tidak ikut tertawa.
Beliau hanya berkata,
"Kalau besok tetap ingin ke sana..."
"...jangan masuk setelah matahari tenggelam."
---
Keesokan paginya, desa tampak jauh lebih hidup.
Anak-anak berlari di jalan tanah.
Ibu-ibu menjemur pakaian.
Para petani berangkat ke sawah.
Suasana malam sebelumnya seolah tidak pernah terjadi.
Dimas mulai memotret rumah-rumah tua.
Hasilnya sangat bagus.
Kayu-kayu yang mulai lapuk justru memberi kesan klasik.
Sekitar pukul empat sore, ia tiba di ujung desa.
Di sana berdiri sebuah rumah besar bergaya kolonial.
Catnya mengelupas.
Jendelanya pecah di beberapa bagian.
Namun yang paling aneh...
Pintu depannya terbuka lebar.
Padahal rumah itu jelas sudah lama ditinggalkan.
Dimas mengangkat kameranya.
Klik.
Begitu rana kamera berbunyi...
Pintu rumah itu perlahan menutup sendiri.
Kreeeek...
Dimas menurunkan kameranya.
Angin, pikirnya.
Ia kembali memotret.
Klik.
Kali ini semua jendela di lantai dua terbuka bersamaan.
Padahal angin di luar justru berhenti.
Bulu kuduk Dimas mulai berdiri.
---
"Mas!"
Suara seseorang membuatnya menoleh.
Seorang gadis desa berlari menghampiri.
"Nenek menyuruh saya memanggil Mas."
"Kenapa?"
"Sudah hampir magrib."
"Ayo pulang."
Dimas melihat jam tangannya.
Jarumnya menunjukkan pukul empat lewat lima belas.
Masih jauh dari magrib.
Namun ketika ia mengangkat kepala...
Langit sudah berwarna jingga tua.
Bayangan pepohonan memanjang tidak wajar.
Udara berubah jauh lebih dingin.
Ia kembali melihat jam.
Masih pukul empat lewat lima belas.
---
Dimas memutuskan mengikuti gadis itu kembali ke desa.
Sesampainya di rumah Pak Wiryo, langit tiba-tiba kembali terang.
Jam dinding menunjukkan pukul empat lewat dua puluh.
Seolah perjalanan tadi hanya memakan waktu lima menit.
"Mas sudah ke rumah itu?"
tanya Pak Wiryo.
"Iya."
"Aneh sekali."
"Apa?"
"Jam saya tidak bergerak."
Pak Wiryo menghela napas pelan.
"Itu berarti..."
"...rumah itu sudah mengetahui kedatanganmu."
---
Malamnya, Dimas memindahkan hasil foto ke laptop.
Semua gambar rumah-rumah desa terlihat normal.
Kecuali foto rumah di ujung desa.
Rumah itu tidak tampak kosong.
Di balik salah satu jendela lantai dua...
Berdiri seorang perempuan berpakaian putih.
Rambutnya panjang menutupi wajah.
Tangannya menempel di kaca.
Dimas yakin...
Saat memotret tadi...
Tidak ada siapa pun di sana.
Tangannya mulai gemetar.
Ia memperbesar foto itu.
Perempuan itu kini terlihat lebih jelas.
Dan sesuatu membuat napas Dimas terhenti.
Di sudut bawah foto...
Tepat di depan pintu rumah...
Terlihat dirinya sendiri.
Padahal ia ingat jelas...
Saat mengambil gambar, ia berdiri sendirian.
Kalau begitu...
Siapa yang memotret dirinya?
Di saat yang sama...
Terdengar suara
ketukan pelan dari pintu depan rumah Pak Wiryo.
Tok... tok... tok...
Pak Wiryo yang sedang duduk langsung memucat.
Beliau berbisik dengan suara nyaris tak terdengar,
"Jangan..."
"...sekali-kali membuka pintu setelah tiga kali ketukan."
Ketukan itu terdengar lagi.
Kali ini lebih keras.
TOK... TOK... TOK...
Suara ketukan itu berhenti.
Keheningan yang menyusul justru terasa lebih mengganggu.
Dimas dan Pak Wiryo saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Lampu minyak di ruang tamu bergoyang pelan, padahal tak ada angin yang masuk.
Lalu terdengar suara lain.
Bukan ketukan.
Melainkan seseorang berjalan mengitari rumah.
Krek... krek...
Papan kayu di beranda berderit seolah diinjak langkah kaki yang sangat pelan.
Dimas spontan berdiri.
"Pak, mungkin ada orang yang butuh bantuan."
Pak Wiryo segera menahan lengannya.
"Jangan."
"Tapi—"
"Kalau itu manusia..."
"...dia pasti memanggil."
Langkah kaki itu terus mengelilingi rumah.
Dari depan.
Ke samping.
Lalu ke belakang.
Seperti seseorang sedang mencari pintu yang terbuka.
---
Beberapa menit kemudian suara itu menghilang.
Pak Wiryo baru mengembuskan napas panjang.
"Sudah lewat."
"Apa sebenarnya itu?"
Pak Wiryo menatap nyala lampu minyak.
"Dulu orang-orang desa menyebutnya Si Pengetuk."
"Katanya ia tidak bisa masuk kalau tidak diundang."
Dimas mencoba tertawa.
"Itu hanya cerita, kan?"
Pak Wiryo tidak menjawab.
Sebagai gantinya, beliau menunjuk pintu depan.
Di bawah pintu itu terdapat bekas lumpur.
Jejak kaki.
Namun bentuknya tidak seperti kaki manusia.
Jejak itu memanjang, seolah telapak dan jari-jarinya terlalu banyak untuk dihitung.
---
Malam itu Dimas sulit tidur.
Ia berkali-kali memeriksa foto perempuan yang muncul di kameranya.
Semakin diperbesar, wajah perempuan itu tetap tertutup rambut.
Namun ada satu hal yang baru ia sadari.
Di kaca jendela tempat perempuan itu berdiri...
Tidak ada bayangan rumah di belakangnya.
Seolah ia berdiri di tempat yang berbeda.
Tepat pukul dua belas malam.
Laptop Dimas tiba-tiba menyala sendiri.
Layar yang semula hitam berubah menampilkan foto rumah tua itu.
Padahal ia yakin sudah menutup semua aplikasi.
Perlahan, gambar pada layar mulai berubah.
Perempuan di jendela bergerak.
Pelan.
Sangat pelan.
Ia mengangkat tangannya.
Lalu menunjuk ke arah pintu rumah.
Layar langsung mati.
Jantung Dimas berdegup kencang.
---
Pagi harinya, ia memutuskan mencari tahu sejarah rumah itu.
Beberapa warga desa yang ditemuinya hanya menggeleng.
Mereka tidak mau membahasnya.
Bahkan ada yang langsung masuk ke rumah ketika mendengar nama rumah itu disebut.
Akhirnya, seorang nenek bernama Mbah Sumi bersedia berbicara.
"Rumah itu dulunya milik keluarga kaya."
"Lalu?"
"Mereka punya seorang anak perempuan."
"Namanya Sekar."
"Suatu malam..."
"...seluruh keluarganya ditemukan meninggal."
"Bagaimana dengan Sekar?"
Mbah Sumi terdiam cukup lama.
"Tidak pernah ditemukan."
"Hilang?"
"Entahlah."
"Tapi sejak saat itu..."
"...pintu rumah itu tidak pernah benar-benar tertutup."
---
Dimas semakin penasaran.
Sore harinya ia kembali menuju rumah tua itu.
Pak Wiryo sempat melarang.
"Jangan sendirian."
"Aku hanya sebentar."
"Kau tidak mengerti."
"Bukan rumah itu yang berbahaya."
"Lalu apa?"
Pak Wiryo menatap ke arah ujung desa.
"Yang tinggal di dalamnya."
---
Saat Dimas tiba, matahari masih tinggi.
Rumah itu tampak sama seperti kemarin.
Pintu depan kembali terbuka.
Padahal ia yakin kemarin melihat pintu itu menutup sendiri.
Ia mulai memotret setiap sudut bangunan.
Ruang tamu.
Tangga kayu.
Jendela yang pecah.
Debu tebal menutupi hampir semua perabot.
Namun ada sesuatu yang aneh.
Di lantai berdebu itu terdapat jejak kaki.
Jejak kecil.
Seperti langkah seorang anak.
Jejak itu masih tampak baru.
Mengarah ke lantai dua.
Dimas menelan ludah.
Logikanya mengatakan mungkin ada orang yang tinggal di sana.
Tetapi...
Mengapa seluruh desa mengatakan rumah itu kosong?
---
Dengan hati-hati ia menaiki tangga.
Setiap anak tangga berbunyi pelan.
Krek...
Krek...
Di lantai dua terdapat tiga kamar.
Pintu pertama kosong.
Pintu kedua dipenuhi sarang laba-laba.
Sedangkan pintu ketiga...
Sedikit terbuka.
Dari dalam terdengar suara seseorang menyenandungkan lagu.
Pelan.
Seperti ibu yang sedang menidurkan anak.
Dimas memberanikan diri mendorong pintu itu.
Ruangan di dalam kosong.
Tak ada siapa pun.
Namun lagu itu masih terdengar.
Kini berasal dari belakangnya.
Dimas berbalik cepat.
Tidak ada siapa-siapa.
Lagu itu berhenti.
Digantikan suara tawa anak kecil.
Hehehe...
Suara itu bergema dari seluruh penjuru ruangan.
---
Tiba-tiba kamera yang tergantung di leher Dimas jatuh sendiri.
Brak!
Saat ia mengambilnya, layar kamera menyala.
Padahal tidak ia tekan.
Di layar muncul tampilan live view.
Bukan ruangan tempat ia berada.
Melainkan lorong rumah yang gelap.
Di ujung lorong...
Seorang anak perempuan berdiri membelakanginya.
Rambutnya panjang.
Ia mengenakan gaun putih lusuh.
Perlahan anak itu menoleh.
Wajahnya pucat.
Matanya hitam pekat.
Namun sebelum Dimas sempat bereaksi...
Seseorang menarik bahunya dengan keras.
"Dimas!"
Pak Wiryo.
Entah sejak kapan lelaki tua itu sudah berada di sana.
"Ayo keluar!"
Mereka berlari menuruni tangga.
Saat hampir mencapai pintu depan, terdengar suara pintu-pintu di lantai atas terbuka bersamaan.
Brak! Brak! Brak!
Lalu langkah kaki.
Banyak sekali langkah kaki.
Seolah puluhan orang sedang berlari mengeja
r mereka dari lantai dua.
Begitu berhasil keluar, Pak Wiryo langsung menutup pintu rumah.
Anehnya...
Dari dalam rumah terdengar suara seorang perempuan berbisik sangat pelan.
"...jangan tinggalkan aku..."
Dimas mematung.
Karena suara itu...
Bukan berasal dari dalam rumah.
Melainkan tepat di belakang telinganya.
Dimas membalikkan tubuhnya secepat mungkin.
Tidak ada siapa pun.
Hanya halaman rumah tua yang dipenuhi rumput liar, pohon beringin yang bergoyang perlahan, dan Pak Wiryo yang masih terengah-engah.
"Apa Bapak dengar itu?" tanya Dimas.
Pak Wiryo mengangguk pelan.
"Dia mulai berbicara kepadamu."
"D-dia siapa?"
Pak Wiryo tidak langsung menjawab.
Beliau menarik Dimas menjauh dari rumah itu.
"Kalau masih ingin selamat, jangan pernah menoleh lagi ke belakang sebelum kita sampai di jalan desa."
---
Sepanjang perjalanan, Dimas benar-benar tidak menoleh.
Meski berkali-kali ia merasa ada seseorang yang berjalan tepat di belakangnya.
Langkah itu selalu mengikuti.
Saat mereka berhenti, langkah itu ikut berhenti.
Saat mereka berjalan lagi, suara itu kembali terdengar.
Tap... tap... tap...
Begitu memasuki batas desa, suara itu lenyap begitu saja.
Pak Wiryo baru berhenti.
"Kau masih membawa sesuatu dari rumah itu."
Dimas memeriksa tasnya.
Kamera.
Laptop.
Dompet.
Tak ada yang aneh.
"Apa maksud Bapak?"
Pak Wiryo menunjuk kamera yang menggantung di leher Dimas.
"Coba lihat hasil fotomu hari ini."
---
Sesampainya di rumah, Dimas membuka semua foto.
Gambar ruang tamu.
Tangga.
Jendela.
Lorong.
Semuanya tampak biasa.
Namun pada foto terakhir...
Yang seharusnya memperlihatkan pintu depan rumah...
Terlihat sosok Dimas sedang berdiri di ambang pintu.
Masalahnya...
Di foto itu ada seseorang yang memegang bahunya dari belakang.
Tangan perempuan.
Kulitnya pucat kebiruan.
Kukunya panjang.
Tetapi tubuh perempuan itu sama sekali tidak terlihat.
Hanya tangannya.
Dimas langsung menjatuhkan kameranya.
"Ini... ini tidak mungkin."
Pak Wiryo memejamkan mata.
"Dia sudah ikut keluar."
---
Malam itu tidak ada seorang pun yang tidur.
Pak Wiryo memanggil Mbah Sumi.
Nenek itu datang membawa bungkusan kain berisi bunga kenanga, garam kasar, dan beberapa batang dupa.
Ia meletakkan semuanya di depan pintu.
"Dimas."
"Iya."
"Apa kau mengambil sesuatu dari rumah itu?"
Dimas menggeleng.
"Tidak."
"Pikirkan baik-baik."
Dimas mencoba mengingat.
Lalu wajahnya berubah.
"Ada..."
"Apa?"
"Sebuah kunci."
Pak Wiryo langsung berdiri.
"Kunci?"
"Iya."
"Tadi aku menemukannya di lantai atas."
"Aku mengira itu benda antik."
"Aku memasukkannya ke saku."
Tangannya gemetar saat mengeluarkan sebuah kunci besi tua yang penuh karat.
Anehnya, besi itu terasa hangat.
Seolah baru saja dipegang seseorang.
Mbah Sumi menghela napas panjang.
"Itulah yang dicari rumah itu."
---
Mbah Sumi mulai menceritakan kisah yang selama ini disembunyikan warga.
Lima belas tahun silam, seorang fotografer datang ke desa untuk mendokumentasikan rumah-rumah tua.
Sama seperti Dimas.
Ia juga menemukan kunci itu.
Dan membawanya pulang.
Tiga hari kemudian ia menghilang.
Yang ditemukan hanya kameranya.
Di dalam kamera terdapat ratusan foto.
Semuanya memperlihatkan rumah tua yang sama.
Padahal tidak mungkin ia sempat memotret sebanyak itu.
Di foto terakhir...
Fotografer itu berdiri di jendela lantai dua.
Sejak saat itu, tak seorang pun pernah melihatnya lagi.
---
"Kalau begitu aku harus mengembalikan kunci ini."
Pak Wiryo menggeleng.
"Tidak malam ini."
"Kenapa?"
"Karena malam ini..."
"...rumah itu akan mencarimu."
Belum selesai beliau berbicara...
Terdengar suara ketukan di pintu.
Tok... tok... tok...
Semua orang membeku.
Kali ini ketukannya lebih lambat.
Lebih berat.
Seolah yang mengetuk bukan tangan manusia.
Mbah Sumi memadamkan lampu minyak.
Ruangan langsung gelap.
"Jangan bersuara."
Ketukan itu terdengar lagi.
Lalu sebuah suara perempuan.
Lembut.
Nyaris seperti bisikan.
"Dimas..."
"Kembalikan..."
"...kunciku..."
Dimas menutup mulutnya sendiri agar tidak berteriak.
Karena ia mengenali suara itu.
Suara yang sama dengan bisikan di belakang telinganya tadi sore.
---
Beberapa menit kemudian, suara itu menghilang.
Namun keheningan tidak berlangsung lama.
Dari arah jendela terdengar bunyi pelan.
Cek... cek...
Seolah kuku panjang sedang menggores kaca.
Pak Wiryo perlahan menoleh.
Di balik jendela...
Seseorang berdiri.
Perempuan berpakaian putih.
Rambutnya masih menutupi wajah.
Ia tidak bergerak.
Hanya berdiri memandangi rumah.
Lalu perlahan...
Tangannya terangkat.
Menunjuk ke arah Dimas.
Lampu minyak yang sudah padam tiba-tiba menyala sendiri.
Sesaat cahaya memenuhi ruangan.
Dan sosok perempuan itu lenyap.
Meninggalkan bekas telapak tangan basah di kaca jendela.
Mbah Sumi berkata dengan suara lirih,
"Besok sebelum matahari terbenam..."
"...kunci itu harus dikembalikan."
"Kalau tidak..."
"...rumah
itu akan membuka pintunya untukmu."
Dimas belum memahami maksud kalimat itu.
Namun jauh di lubuk hatinya, ia merasa tahu satu hal.
Besok akan menjadi hari terakhirnya di Desa Sumberjati.
Entah ia pulang...
Atau justru menjadi penghuni baru rumah yang tidak pernah mengunci pintunya.
Pagi terakhir Dimas di Desa Sumberjati datang dengan suasana yang tidak biasa.
Kabut turun lebih tebal dari hari-hari sebelumnya. Matahari sudah terbit, tetapi cahayanya seolah tidak mampu menembus pepohonan yang mengelilingi desa.
Di meja ruang tamu, kunci besi tua itu masih tergeletak.
Warnanya kini tidak lagi dipenuhi karat.
Sebaliknya, permukaannya tampak lebih bersih, seolah seseorang telah menggosoknya sepanjang malam.
Dimas menatapnya dengan perasaan tidak tenang.
"Aku akan mengembalikannya," katanya mantap.
Pak Wiryo mengangguk.
"Ingat."
"Jangan menjawab siapa pun yang memanggil namamu dari dalam rumah."
"Bagaimana kalau yang memanggil Bapak?"
"Kalau aku bersamamu, aku tidak akan memanggil."
"Kalau kau mendengar suaraku..."
"...berarti itu bukan aku."
Kalimat itu membuat tengkuk Dimas kembali meremang.
---
Menjelang sore, Dimas, Pak Wiryo, dan Mbah Sumi berjalan menuju rumah tua di ujung desa.
Anehnya, tidak satu pun warga terlihat di jalan.
Pintu-pintu rumah tertutup rapat.
Jendela-jendela dikunci.
Seolah seluruh desa mengetahui sesuatu yang tidak diketahui Dimas.
Begitu mereka tiba di halaman rumah tua, angin mendadak berhenti.
Daun-daun yang semula bergoyang kini diam membeku.
Pintu rumah sudah terbuka lebar.
Padahal tak seorang pun menyentuhnya.
"Masuklah," bisik Mbah Sumi.
"Tapi jangan melangkah lebih jauh dari ruang tamu."
---
Dimas menggenggam kunci itu erat-erat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Begitu melewati ambang pintu, udara di dalam rumah terasa jauh lebih dingin.
Bau kayu tua bercampur tanah basah memenuhi ruangan.
Jam dinding yang pecah di sudut ruangan tiba-tiba berdetak.
Tik...
Tok...
Tik...
Padahal jarumnya sudah lama hilang.
Di tengah ruang tamu berdiri sebuah meja kecil.
Di atasnya terdapat kotak kayu tua dengan lubang kunci yang ukurannya sama persis dengan kunci di tangan Dimas.
"Itu tempatnya," kata Pak Wiryo dari luar pintu.
Dimas mengangguk pelan.
Ia memasukkan kunci itu.
Klik.
Kotak kayu terbuka sendiri.
Di dalamnya hanya ada sebuah pita rambut berwarna merah yang telah pudar dan sebuah foto keluarga.
Foto itu memperlihatkan sepasang suami istri bersama seorang anak perempuan.
Anak perempuan itu tersenyum cerah.
Di bagian belakang foto tertulis dengan tinta yang hampir memudar:
"Untuk Sekar, agar kau selalu menemukan jalan pulang."
---
Tiba-tiba suhu ruangan turun drastis.
Pintu depan menutup sendiri.
Brak!
Dimas berbalik.
Pak Wiryo dan Mbah Sumi kini tak terlihat.
Yang ada hanya pintu kayu tua yang terkunci rapat.
Lalu terdengar suara langkah kaki dari lantai dua.
Tap...
Tap...
Tap...
Langkah itu turun perlahan melalui tangga.
Setiap langkah membuat papan kayu berderit.
Dimas memaksa dirinya tetap berdiri.
Sosok perempuan berpakaian putih akhirnya terlihat.
Rambut panjangnya masih menutupi wajah.
Ia berhenti beberapa langkah di depan Dimas.
Tidak menyerang.
Tidak bergerak.
Hanya berdiri.
Dengan tangan gemetar, Dimas mengambil pita merah dari dalam kotak kayu.
"Apa..."
"...ini milikmu?"
Perempuan itu perlahan mengangguk.
Untuk pertama kalinya, rambut yang menutupi wajahnya bergerak pelan.
Wajah pucat itu akhirnya terlihat.
Bukan wajah mengerikan.
Melainkan wajah seorang gadis muda dengan tatapan yang dipenuhi kesedihan.
Air mata bening mengalir di pipinya.
Dengan sangat hati-hati, Dimas meletakkan pita merah itu di telapak tangannya.
Sesaat kemudian, seluruh ruangan dipenuhi cahaya keemasan.
Bayangan-bayangan hitam yang sejak awal memenuhi sudut rumah menghilang satu per satu.
Suara tangisan yang samar berubah menjadi keheningan.
Sekar tersenyum.
Senyum yang tenang.
Lalu tubuhnya perlahan memudar bersama cahaya itu.
Sebelum benar-benar menghilang, terdengar suara lirih.
"Terima kasih..."
---
Pada saat yang sama, pintu rumah terbuka dengan sendirinya.
Pak Wiryo segera menarik Dimas keluar.
Begitu kaki mereka menginjak halaman, terdengar bunyi kayu retak dari dalam rumah.
Namun bukan karena sesuatu menghancurkannya.
Melainkan karena bangunan tua itu perlahan runtuh oleh usianya sendiri.
Dinding-dindingnya roboh.
Atapnya ambruk.
Dalam hitungan menit, rumah yang selama puluhan tahun berdiri angkuh kini hanya tinggal puing-puing.
Kabut yang selama ini menyelimuti ujung desa perlahan menghilang.
Sinar matahari sore akhirnya menyentuh tanah yang sebelumnya selalu tampak suram.
---
Keesokan harinya, motor Dimas yang sebelumnya mogok dapat menyala hanya dengan sekali starter.
Sebelum pulang, ia berpamitan kepada Pak Wiryo dan Mbah Sumi.
"Terima kasih."
Pak Wiryo tersenyum.
"Bukan kami yang harus berterima kasih."
"Desa ini sudah terlalu lama hidup bersama ketakutan."
"Semoga sekarang semuanya berubah."
---
Beberapa bulan kemudian, hasil dokumentasi Dimas dipamerkan dalam sebuah pameran fotografi budaya.
Di antara puluhan foto rumah tua yang dipajang, hanya ada satu bingkai yang kosong.
Di bawahnya tertulis:
"Rumah di Ujung Desa Sumberjati."
Banyak pengunjung bertanya mengapa bingkai itu tidak berisi foto.
Dimas hanya tersenyum.
"Tidak semua kenangan harus dibawa pulang."
Ia tidak pernah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Karena ia tahu, ada kisah yang lebih baik dibiarkan beristirahat bersama waktu.
---
Beberapa tahun kemudian, Dimas kembali mengunjungi Desa Sumberjati.
Di tempat bekas rumah tua itu kini tumbuh hamparan bunga liar.
Anak-anak desa bermain di sana tanpa rasa takut.
Tak ada lagi cerita tentang ketukan di tengah malam.
Tak ada lagi bisikan dari balik jendela.
Pak Wiryo berkata sambil memandang langit sore,
"Kadang yang membuat arwah tidak tenang bukan karena ingin menakut-nakuti manusia."
"Melainkan karena ada janji yang belum sempat ditepati, atau kenangan yang belum sempat dilepaskan."
Dimas mengangguk.
Ia mengangkat kameranya sekali lagi.
Klik.
Kali ini yang tertangkap bukan sosok menyeramkan.
Melainkan cahaya matahari sore yang menyinari hamparan bunga, seolah menjadi salam perpisahan terakhir dari sebuah kisah yang akhirnya menemukan akhirnya.
Dan sejak hari itu, tak pernah lagi terdengar cerita tentang Rumah yang Tidak Pernah Mengunci Pintu.
TAMAT