Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
77
Pesan di Buku Ketiga
Romantis
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Nara memiliki kebiasaan aneh.

Setiap hari Jumat, ia selalu memilih buku ketiga dari rak paling kiri di perpustakaan sekolah.

Bukan karena buku itu istimewa.

Justru sebaliknya.

Buku tersebut sudah tua, sampulnya pudar, dan beberapa halamannya mulai menguning. Tidak banyak siswa yang tertarik membacanya.

Bagi Nara, itu membuatnya nyaman.

Ia bisa duduk sendirian tanpa diganggu.

Sampai suatu sore, ketika membuka buku tersebut, sebuah kertas kecil jatuh ke lantai.

Nara mengambilnya.

Tulisan tangan di sana sederhana.

"Kalau kamu membaca ini, berarti kamu juga suka tempat yang sepi."

Nara mengerutkan kening.

Ia membalik kertas itu.

Kosong.

Ia tidak tahu siapa yang menulisnya.

Karena penasaran, Nara mengambil pulpen dan menulis di bagian bawah.

"Atau mungkin aku hanya suka buku ini."

Kertas itu ia masukkan kembali ke dalam buku.

Lalu ia pulang.

Seminggu kemudian, pesan baru muncul.

"Kalau begitu, kenapa selalu memilih buku ketiga?"

Nara tersenyum sendiri.

Ia menulis:

"Karena tidak ada yang merebutnya."

Pesan berikutnya muncul seminggu kemudian.

"Berarti kamu suka sesuatu yang tidak diperebutkan orang lain?"

Nara menjawab:

"Tidak selalu. Kadang sesuatu yang berharga memang tidak perlu diperebutkan."

Setelah menulis kalimat itu, Nara merasa sedikit malu.

Ia tidak tahu siapa lawan bicaranya.

Namun percakapan kecil itu mulai menjadi kebiasaan.

Setiap Jumat, mereka meninggalkan satu pesan.

Tidak pernah bertukar nama.

Tidak pernah bertanya kelas.

Tidak pernah mencari tahu wajah masing-masing.

Mereka hanya berbicara melalui halaman sebuah buku tua.

Pesan-pesan itu perlahan berubah.

Awalnya hanya tentang buku.

Kemudian tentang cita-cita.

Ketakutan.

Keluarga.

Kegagalan.

Dan hal-hal kecil yang sulit diceritakan kepada orang lain.

Suatu hari, Nara menulis bahwa ia takut mengecewakan keluarganya.

Seminggu kemudian, balasan datang.

"Kamu tidak harus selalu menjadi versi dirimu yang paling sempurna agar pantas dicintai."

Nara membaca kalimat itu berkali-kali.

Untuk pertama kalinya, ia merasa ada seseorang yang benar-benar memahami kegelisahan yang selama ini ia simpan sendiri.

Ia membalas:

"Terima kasih."

Hanya dua kata.

Tetapi untuk menulisnya, Nara membutuhkan waktu hampir sepuluh menit.

Sementara itu, di sekolah, Nara mulai memperhatikan seseorang.

Namanya Dimas.

Dimas sering berada di perpustakaan setelah jam pelajaran selesai. Ia biasanya duduk di dekat jendela sambil mengerjakan tugas.

Mereka tidak pernah benar-benar berbicara.

Namun beberapa kali Nara melihat Dimas mengambil buku dari rak paling kiri.

Termasuk buku ketiga.

Suatu hari, Nara memperhatikannya cukup lama.

Dimas membuka buku tersebut.

Kemudian tersenyum.

Jantung Nara berdegup lebih cepat.

Namun ia segera menganggap pikirannya terlalu jauh.

Bisa saja Dimas hanya kebetulan menyukai buku itu.

Jumat berikutnya, pesan yang ditemukan Nara terasa berbeda.

"Aku pikir kita harus berhenti menulis."

Nara terdiam.

Ia membaca kalimat itu berkali-kali.

Untuk pertama kalinya, ia merasa kehilangan seseorang yang bahkan tidak pernah benar-benar ia kenal.

Ia menulis:

"Kenapa?"

Balasannya datang.

"Karena aku mulai takut kamu menyukai seseorang yang sebenarnya tidak kamu kenal."

Nara tidak langsung menjawab.

Malam itu ia memikirkan semua pesan yang pernah mereka tulis.

Tentang kejujuran.

Tentang keberanian.

Tentang tidak menyembunyikan diri di balik kata-kata.

Akhirnya ia menulis:

"Kalau begitu, berhenti menjadi orang asing."

Senin pagi, Nara datang lebih awal ke perpustakaan.

Buku ketiga sudah terletak di atas meja.

Di sampingnya ada sebuah kertas.

"Aku di dekat jendela."

Nara menoleh.

Dimas berdiri di sana.

Ia tampak gugup.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.

Kemudian Dimas berjalan mendekat.

"Jadi..."

Nara tersenyum kecil.

"Kamu?"

Dimas mengangguk.

"Aku."

Mereka duduk berhadapan.

Aneh rasanya.

Selama berbulan-bulan mereka bisa menulis begitu banyak hal, tetapi ketika akhirnya bertemu, kata-kata justru terasa sulit keluar.

Dimas tertawa kecil.

"Lucu, ya."

"Apa?"

"Kita bisa membicarakan hal-hal yang sangat pribadi lewat kertas, tetapi sekarang malah tidak tahu harus mengatakan apa."

Nara ikut tertawa.

"Mungkin karena sekarang kita bisa melihat ekspresi masing-masing."

Percakapan pertama mereka tidak seperti adegan dalam cerita romantis.

Tidak ada musik.

Tidak ada momen sempurna.

Mereka hanya berbicara tentang sekolah, buku, keluarga, dan rencana masa depan.

Nara akhirnya tahu bahwa Dimas memang sering berada di perpustakaan.

Namun ia juga mengetahui sesuatu yang tidak pernah muncul dalam pesan.

Dimas sebenarnya ingin menjadi ilustrator, tetapi keluarganya berharap ia memilih pekerjaan yang lebih aman.

Nara mendengarkan.

Kali ini tanpa kertas sebagai perantara.

Ia tidak memberikan nasihat panjang.

Ia hanya berkata bahwa setiap orang berhak mencari jalan hidupnya sendiri dengan bertanggung jawab.

Dimas tersenyum.

"Sepertinya aku pernah membaca kalimat seperti itu."

Nara menggeleng.

"Kalau pernah, mungkin kamu membaca tulisanmu sendiri."

Hari-hari berikutnya mereka tetap bertemu di perpustakaan.

Kadang berbicara.

Kadang membaca.

Kadang hanya duduk di meja yang sama.

Mereka tidak terburu-buru memberi nama pada hubungan mereka.

Nara menyadari bahwa kedekatan bukan sekadar menemukan seseorang yang memiliki perasaan serupa.

Kedekatan juga berarti mengenal seseorang dalam keadaan nyata, memahami perbedaannya, dan tetap menghargai batas masing-masing.

Beberapa bulan kemudian, buku tua itu akhirnya dipindahkan karena rak perpustakaan direnovasi.

Nara mengambil semua pesan yang pernah mereka tulis.

Ia menyimpannya dalam sebuah kotak kecil.

Dimas bertanya, "Kenapa tidak dibuang?"

Nara tersenyum.

"Karena ini bagian dari awal."

"Awal apa?"

Nara menatapnya sebentar.

"Awal ketika dua orang yang tidak saling mengenal belajar untuk saling mengenal tanpa berpura-pura."

Dimas tersenyum.

Mereka kemudian berjalan keluar dari perpustakaan bersama.

Buku ketiga tetap berada di sana.

Kosong.

Tidak ada lagi pesan anonim.

Tidak ada lagi teka-teki tentang siapa yang menulisnya.

Namun bagi Nara, buku itu telah menyimpan sesuatu yang lebih berharga daripada rahasia.

Ia menyimpan sebuah pertemuan.

Bukan pertemuan dua orang yang langsung mengetahui masa depan mereka.

Melainkan pertemuan dua orang yang memilih untuk berjalan perlahan, saling mengenal, dan membiarkan waktu menunjukkan ke mana cerita mereka akan pergi.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi