Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
9
Kos-Kosan Paling Ramai Sedunia
Komedi

Hari pertama Bima bekerja di Kota Angkasa seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang.

Setelah diterima sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan ekspedisi, ia hanya memiliki satu keinginan sederhana: menemukan kos yang murah, bersih, dan tidak berisik agar bisa beristirahat setelah bekerja.

Harapan itu langsung pupus begitu ia menemukan Kos Melati.

Dari luar, bangunannya tampak biasa saja. Cat temboknya berwarna krem, halaman depannya dipenuhi pot bunga, dan sebuah papan kayu bertuliskan, "Kos Melati – Nyaman Seperti Rumah Sendiri."

Bima tersenyum puas.

"Sepertinya cocok."

Ibu Rukmini, pemilik kos, menyambutnya dengan ramah.

"Mas suka suasana tenang?"

"Iya, Bu."

"Wah... kebetulan sekali."

Belakangan Bima sadar, kata "kebetulan" ternyata memiliki arti yang sangat berbeda menurut Bu Rukmini.

Malam pertama berjalan damai.

Bima tidur lebih awal.

Namun tepat pukul dua belas malam, terdengar suara gaduh dari dapur bersama.

"Siapa yang menghabiskan sambalku?"

"Itu bukan sambalmu!"

"Itu sambal warisan keluarga!"

Bima membuka pintu kamar.

Di dapur, dua penghuni kos sedang berdebat serius hanya karena satu wadah sambal.

Salah satu membawa sendok sebagai penunjuk.

Yang lain membawa piring kosong sebagai alat pembelaan.

Lucunya, setelah lima belas menit saling menyalahkan, mereka baru sadar bahwa sambal itu masih berada di dalam kulkas, hanya terselip di belakang semangka.

"Ya sudah, damai ya."

"Lain kali lihat dulu."

"Lihat juga kamu!"

Lima detik kemudian mereka tertawa sambil makan gorengan bersama.

Bima hanya menggeleng.

Pagi berikutnya ia hendak mandi sebelum berangkat kerja.

Namun pintu kamar mandi tidak bisa dibuka.

"Rusak?"

Ternyata tidak.

Di dalam ada Dodi, penghuni kamar nomor lima.

"Aku lagi latihan pidato!"

"Di kamar mandi?"

"Iya. Gema suaranya bagus."

Bima memandang langit-langit.

Baru kali ini ia bertemu orang yang menjadikan kamar mandi sebagai studio latihan.

Belum selesai dengan Dodi, muncul penghuni lain bernama Siska.

Hobinya memelihara tanaman.

Masalahnya, tanaman itu diletakkan di mana saja.

Di depan kamar.

Di tangga.

Di dekat jemuran.

Bahkan suatu pagi Bima hampir menyiram sandal karena mengira itu pot baru.

"Mas hati-hati."

"Itu sandal saya."

"Oh... kukira tanaman unik."

Ada pula Joni, mahasiswa tingkat akhir yang selalu merasa dirinya penemu hebat.

Suatu malam ia mengumumkan kepada semua penghuni.

"Aku berhasil membuat alarm anti maling."

Semua berkumpul.

"Caranya?"

"Kalau ada maling masuk, kaleng-kaleng ini akan jatuh."

Ia menunjuk rangkaian kaleng bekas yang digantung di pintu depan.

Ide itu memang terdengar bagus.

Sampai Bu Rukmini pulang membawa belanja.

Brak!

Dug!

Ting!

Kaleng-kaleng berjatuhan seperti konser musik.

Seluruh penghuni keluar membawa sapu, ember, bahkan raket nyamuk.

Yang datang ternyata Bu Rukmini.

Joni hanya tersenyum canggung.

"Berarti... alarmnya berhasil."

Minggu berikutnya listrik padam.

Semua penghuni berkumpul di teras.

Daripada bosan, mereka memutuskan bermain tebak-tebakan.

Dodi bertanya,

"Hewan apa yang paling sabar?"

Semua berpikir keras.

"Apa?"

"Ulat."

"Kenapa?"

"Soalnya dia rela antre jadi kupu-kupu."

Semua terdiam.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Lalu terdengar suara Joni.

"Aku ingin listriknya menyala lagi."

Gelak tawa langsung pecah.

Suatu hari Bima membeli kue untuk dibawa ke kantor.

Ia menyimpannya di kulkas.

Keesokan paginya, kotak kuenya hilang.

Semua penghuni berkumpul.

"Siapa yang ambil?"

Tidak ada yang mengaku.

Joni bahkan mengusulkan membuat penyelidikan.

Ia menggambar denah kulkas.

Mencatat posisi makanan.

Menginterogasi semua penghuni.

Sampai akhirnya Bu Rukmini datang membawa kotak yang dicari.

"Ini kue siapa?"

"Itu punya saya, Bu!"

"Semalam saya pindahkan ke lemari."

"Kenapa?"

"Soalnya kulkas penuh."

Semua langsung menatap Joni.

"Berarti penyelidikannya gagal."

Joni mengangguk mantap.

"Tidak gagal."

"Lho?"

"Berhasil menemukan lokasi kuenya."

Semua kembali tertawa.

Hari paling kacau terjadi saat lomba kebersihan antar-kos diumumkan.

Bu Rukmini bertekad menang.

"Mulai hari ini, semua harus kerja bakti!"

Tidak ada yang berani menolak.

Bima menyapu halaman.

Siska merapikan tanaman.

Dodi mengepel lantai.

Joni bertugas mengecat pagar.

Masalahnya, Joni terlalu bersemangat.

Ia tidak hanya mengecat pagar.

Ia juga mengecat bangku.

Pot bunga.

Ember.

Bahkan tanpa sengaja mengecat sandal yang sedang dipakai sendiri.

Ketika hendak berjalan, sandalnya menempel di lantai.

"Tolong..."

Semua penghuni tertawa sampai tidak sanggup berdiri.

Hari penilaian pun tiba.

Juri datang dengan wajah serius.

Mereka memeriksa halaman.

Lorong.

Dapur.

Kamar mandi.

Semuanya tampak bersih.

Bima mulai optimistis.

Namun tiba-tiba terdengar suara ribut dari belakang.

Seekor kambing entah dari mana masuk ke halaman dan langsung memakan hiasan daun yang ditata Siska.

Siska panik.

"Itu tanaman hias!"

Joni mengejar kambing sambil membawa sapu.

Dodi berteriak memberi arahan.

"Kiri! Kiri!"

Kambing justru masuk ke ruang tamu.

Para juri ikut menepi agar tidak tertabrak.

Puncaknya, kambing berhenti tepat di depan meja juri dan mengembik keras.

Suasana hening.

Beberapa detik kemudian salah satu juri tertawa.

Disusul juri lain.

Lalu seluruh penghuni kos.

Hari itu penilaian memang berantakan.

Tetapi tawa memenuhi seluruh rumah.

Seminggu kemudian hasil lomba diumumkan.

Kos Melati tidak menjadi juara pertama.

Tidak juga juara kedua.

Mereka mendapatkan penghargaan khusus.

"Kos dengan Penghuni Paling Kompak dan Menghibur."

Bu Rukmini membacakan piagam itu dengan bangga.

"Walaupun tidak juara, kita tetap dapat penghargaan."

Dodi langsung bertepuk tangan.

Joni mengangkat piagam tinggi-tinggi.

Siska membawa pot bunga sebagai hiasan foto bersama.

Bima ikut tertawa.

Baru beberapa bulan tinggal di sana, ia sadar bahwa yang membuat sebuah tempat terasa nyaman bukanlah tembok yang baru dicat atau kamar yang paling luas.

Melainkan orang-orang yang mampu mengubah masalah kecil menjadi alasan untuk tertawa bersama.

Malam itu mereka makan mi rebus di teras sambil mengenang semua kekacauan yang pernah terjadi.

Dari sambal yang hilang, alarm kaleng yang memalukan, sandal yang ikut dicat, hingga kambing yang hampir menjadi peserta lomba kebersihan.

Bima memandang satu per satu wajah penghuni kos.

Dulu ia datang mencari tempat yang tenang.

Ternyata yang ia temukan jauh lebih berharga.

Ia menemukan keluarga kedua.

Keluarga yang ribut, konyol, sering membuat keadaan berantakan, tetapi selalu saling membantu ketika ada yang kesulitan.

Sebelum masuk ke kamar, Bu Rukmini tersenyum kepada semua penghuni.

"Besok malam kita makan bersama lagi."

Joni langsung bertanya, "Ada sambal, Bu?"

Semua spontan tertawa.

Sementara Bima buru-buru berkata, "Tolong... kali ini sambalnya jangan sampai hilang lagi!"

Gelak tawa kembali memenuhi halaman Kos Melati, membuat malam yang sederhana terasa hangat dan penuh kebahagiaan.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Rekomendasi