Disukai
0
Dilihat
8
Bayang-Bayang di Benteng Arunika
Sejarah
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Fajar baru saja menyentuh pucuk-pucuk pohon ketika kabut perlahan menyingkir dari Benteng Arunika.

Benteng batu itu berdiri kokoh di atas bukit yang mengawasi Lembah Ranadipa, jalur perdagangan yang selama puluhan tahun menjadi nadi kehidupan Kerajaan Arunika. Dari atas menara pengawas, hamparan sawah, sungai, dan jalan utama terlihat seperti lukisan yang baru disapukan warna oleh matahari.

Di sanalah Arya Wening, seorang juru tulis muda kerajaan, memulai hari-harinya.

Usianya baru dua puluh tiga tahun.

Tidak pernah memegang pedang di medan perang.

Tidak pernah memimpin pasukan.

Tugasnya hanya mencatat.

Menulis laporan hasil panen, surat-surat perjanjian, dan kisah perjalanan para utusan yang datang dari negeri-negeri jauh.

Sebagian orang menganggap pekerjaannya membosankan.

Namun Arya percaya, kerajaan tidak hanya dibangun oleh mereka yang mengangkat senjata.

Kerajaan juga berdiri karena ada orang-orang yang menjaga ingatan.

---

Suatu pagi, Mahapatih Darmakerta memanggil Arya ke balairung.

Ruangan itu dipenuhi peta-peta tua yang digambar di atas kulit binatang.

Lilin-lilin besar masih menyala meski matahari mulai meninggi.

"Arya."

"Siap, Paduka."

"Ada tugas yang tidak biasa."

Arya menundukkan kepala.

"Saya siap menerima perintah."

Mahapatih menyerahkan sebuah gulungan kain yang telah disegel dengan lilin merah.

"Bawalah surat ini ke Benteng Utara."

"Hanya itu?"

"Tidak."

"Kau juga harus menyalin isi seluruh prasasti batu yang berada di sana."

Arya mengernyit.

"Mengapa harus sekarang?"

Mahapatih menatapnya dalam-dalam.

"Karena beberapa orang mulai berusaha menghapusnya."

---

Kalimat itu membuat Arya terdiam.

"Menghapus sejarah?"

Mahapatih mengangguk perlahan.

"Jika orang melupakan masa lalu..."

"...mereka akan lebih mudah diarahkan ke mana saja."

Arya menggenggam gulungan surat itu erat-erat.

Ia mulai memahami bahwa tugasnya kali ini lebih besar daripada sekadar menulis.

---

Perjalanan menuju Benteng Utara membutuhkan waktu tiga hari.

Arya ditemani oleh seorang pengawal muda bernama Bramanta.

Berbeda dengan Arya yang tenang, Bramanta dikenal banyak bicara.

"Pertama kali keluar ibu kota?"

tanyanya sambil menuntun kudanya.

Arya mengangguk.

"Iya."

"Jangan kaget kalau nanti banyak cerita yang berbeda dengan yang ada di istana."

"Maksudmu?"

"Di setiap desa..."

"...orang punya sejarah versinya sendiri."

Arya tersenyum.

"Itulah sebabnya aku harus mendengarkan semuanya."

---

Hari pertama perjalanan berlangsung tenang.

Mereka melewati desa-desa yang dipenuhi ladang gandum dan kebun buah.

Warga menyambut rombongan kerajaan dengan ramah.

Namun memasuki hari kedua, suasana mulai berubah.

Di sebuah desa kecil bernama Tanjung Lira, Arya melihat sebuah tugu batu yang sengaja dirusak.

Tulisan di permukaannya dipahat hingga nyaris tak terbaca.

"Siapa yang melakukan ini?" tanyanya kepada seorang tetua desa.

Lelaki tua itu menggeleng.

"Datang orang-orang bersenjata beberapa minggu lalu."

"Mereka bilang..."

"...masa lalu harus dilupakan."

"Mengapa?"

"Katanya agar rakyat tidak mempertanyakan siapa yang sebenarnya pernah memimpin tanah ini."

Arya mencatat setiap kata.

Dadanya terasa sesak.

Ia baru menyadari bahwa sejarah bisa hilang bukan karena waktu.

Melainkan karena ada tangan yang sengaja menghapusnya.

---

Menjelang senja, mereka tiba di sebuah rumah persinggahan.

Pemiliknya seorang perempuan paruh baya bernama Ibu Ratri.

Di dinding rumah tergantung berbagai benda tua.

Ada kendi tanah liat.

Peta usang.

Dan sebuah pedang berkarat.

"Itu peninggalan siapa?" tanya Arya.

"Kakekku."

"Beliau bukan prajurit."

"Lalu?"

"Beliau hanya pembawa pesan."

Arya tersenyum.

"Orang sering lupa bahwa pembawa pesan juga ikut menentukan jalannya sejarah."

Ibu Ratri mengangguk pelan.

"Dan juru tulis seperti kamu juga."

---

Malam itu, hujan turun deras.

Arya duduk di dekat lampu minyak sambil membuka buku catatannya.

Ia mulai menuliskan setiap peristiwa yang ditemui selama perjalanan.

Di luar, suara hujan bercampur dengan angin yang menghantam dinding kayu.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki tergesa-gesa.

Seorang anak desa berlari memasuki rumah.

"Nenek!"

"Apa yang terjadi?"

"Orang-orang berkuda datang!"

"Mereka menuju tugu batu!"

Bramanta segera berdiri dan meraih tombaknya.

Arya ikut keluar.

Dari kejauhan tampak beberapa penunggang kuda membawa obor.

Mereka berhenti di depan tugu tua.

Tanpa banyak bicara, salah seorang dari mereka mengayunkan palu besi.

Brak!

Batu itu retak.

Pukulan kedua menghancurkan sebagian besar ukirannya.

Arya hanya bisa menyaksikan dari balik pepohonan.

Ia ingin mencegah.

Namun Bramanta menahan lengannya.

"Jangan."

"Kita kalah jumlah."

Arya mengepalkan tangan.

Potongan-potongan batu berserakan di tanah.

Bersama setiap serpihan yang jatuh, seolah sepotong ingatan tentang masa lalu ikut dihancurkan.

Saat para penunggang kuda pergi, Arya menghampiri sisa tugu tersebut.

Di balik pecahan batu, ia menemukan sebuah lempeng kecil yang sebelumnya tersembunyi.

Di atasnya terukir sebuah lambang kerajaan yang tidak pernah ia lihat di istana.

Dan tepat di bawah lambang itu terdapat kalimat yang masih dapat dibaca:

"Kebenaran akan tetap hidup selama masih ada yang bersedia menuliskannya."

Arya memandang ukiran itu dengan napas tertahan.

Ia mulai menyadari bahwa perjalanan ini bukan sekadar menjalankan perintah.

Ada rahasia besar tentang masa lalu Kerajaan Arunika yang sedang menunggunya di Benteng Utara.

Keesokan paginya, kabut masih menyelimuti Desa Tanjung Lira ketika Arya membungkus lempeng batu kecil itu dengan kain.

Ia tidak memberi tahu siapa pun selain Bramanta.

"Kenapa disembunyikan?" tanya Bramanta.

Arya memandangi ukiran lambang yang belum pernah dilihatnya.

"Kalau orang-orang itu rela menghancurkan prasasti, berarti benda ini juga sedang mereka cari."

Bramanta mengangguk.

"Maka mulai sekarang kita harus lebih berhati-hati."

---

Perjalanan kembali dilanjutkan.

Semakin jauh ke utara, jalan semakin sepi.

Pepohonan besar menutupi sebagian besar jalur.

Sesekali mereka berpapasan dengan para pedagang yang memilih kembali ke arah selatan.

"Jangan lanjutkan perjalanan," kata salah seorang pedagang tua.

"Ada apa?"

"Banyak orang bersenjata berkeliaran."

"Mereka memeriksa setiap orang yang membawa dokumen kerajaan."

Arya saling berpandangan dengan Bramanta.

Surat yang dibawanya ternyata bukan sekadar surat biasa.

---

Menjelang sore, akhirnya Benteng Utara mulai terlihat.

Benteng itu lebih kecil dibanding Benteng Arunika, tetapi dinding batunya jauh lebih tebal.

Di atas gerbang berkibar panji kerajaan yang mulai pudar warnanya.

Komandan benteng, Rangga Wisesa, menyambut kedatangan mereka.

"Mahapatih sudah mengirim kabar."

"Kami menunggu kedatanganmu."

Setelah menyerahkan surat kerajaan, Arya langsung meminta izin melihat prasasti-prasasti tua yang berada di dalam benteng.

Rangga tampak ragu.

"Sebagian sudah rusak."

"Rusak karena usia?"

Komandan itu terdiam sejenak.

"Lebih baik kau melihatnya sendiri."

---

Di halaman belakang benteng berdiri enam prasasti batu.

Namun hanya tiga yang masih utuh.

Sisanya pecah menjadi beberapa bagian.

Bekas pukulan benda keras masih tampak jelas.

Arya berlutut di depan salah satu prasasti.

Tangannya perlahan menyapu lumut yang menutupi permukaan batu.

Tulisan kuno mulai terlihat.

Ia segera membuka buku catatannya dan menyalin setiap huruf dengan hati-hati.

Pekerjaan itu memakan waktu berjam-jam.

Matahari hampir tenggelam ketika ia selesai menyalin prasasti pertama.

Saat berpindah ke prasasti kedua, Arya menemukan sesuatu yang mengejutkan.

Isi prasasti itu berbeda dengan catatan sejarah yang selama ini ia pelajari di istana.

Di sana tertulis bahwa Kerajaan Arunika dahulu berdiri berkat persekutuan lima wilayah yang saling berjanji menjaga kedamaian.

Namun dalam kitab resmi kerajaan, hanya disebutkan bahwa Arunika didirikan oleh satu penguasa tunggal.

"Kenapa berbeda?" gumam Arya.

Rangga yang berdiri di belakangnya menjawab pelan,

"Karena tidak semua penguasa ingin rakyat mengingat bagaimana kekuasaan itu bermula."

---

Malam itu, Arya sulit memejamkan mata.

Ia membandingkan salinan prasasti dengan kitab sejarah kerajaan yang selalu dibawanya.

Semakin dibaca, semakin banyak perbedaan yang ia temukan.

Beberapa nama tokoh hilang.

Beberapa peristiwa diubah.

Bahkan ada satu perang besar yang sama sekali tidak pernah disebutkan dalam kitab resmi.

Bramanta memperhatikan wajah sahabatnya.

"Kau mulai ragu?"

"Bukan."

"Aku hanya bingung."

"Selama ini..."

"...versi mana yang sebenarnya benar?"

Bramanta tersenyum tipis.

"Mungkin keduanya."

"Bagaimana bisa?"

"Sejarah sering ditulis oleh banyak tangan."

"Setiap tangan membawa sudut pandangnya sendiri."

---

Keesokan harinya, Rangga mengajak Arya menuju ruang penyimpanan bawah tanah benteng.

Pintu kayunya sangat tua.

Kuncinya sebesar telapak tangan.

Begitu pintu dibuka, udara lembap langsung menyambut mereka.

Rak-rak kayu memenuhi ruangan.

Di atasnya tersimpan gulungan naskah yang sudah menguning.

"Ini arsip yang tidak pernah dikirim ke ibu kota," kata Rangga.

"Kenapa?"

"Karena sebagian besar dianggap tidak penting."

Arya membuka salah satu gulungan.

Isinya laporan para utusan, catatan panen, hingga surat-surat perdamaian dari puluhan tahun silam.

Namun di bagian paling bawah rak, ia menemukan sebuah peti kecil yang telah disegel.

Segelnya sama persis dengan lambang pada lempeng batu yang ia temukan.

Jantung Arya berdegup lebih cepat.

---

Saat segel dibuka, peti itu tidak berisi emas ataupun permata.

Hanya sebuah naskah tua yang ditulis di atas lembaran kulit.

Tulisan pembukanya berbunyi:

"Catatan ini disimpan agar generasi setelah kami mengetahui bahwa kerajaan dibangun bukan oleh satu nama, melainkan oleh keberanian banyak orang yang memilih bersatu."

Arya membaca halaman demi halaman dengan napas tertahan.

Naskah itu menceritakan bagaimana lima pemimpin wilayah pernah mengesampingkan perselisihan demi melindungi rakyat dari perang berkepanjangan.

Mereka sepakat membentuk Arunika sebagai kerajaan persatuan.

Namun bertahun-tahun kemudian, sebagian kisah itu perlahan dihapus agar hanya satu keluarga yang dikenang sebagai pendiri.

Arya menutup naskah itu perlahan.

Kini ia memahami mengapa begitu banyak prasasti dihancurkan.

Ada seseorang yang tidak ingin kebenaran itu diketahui.

---

Belum sempat mereka keluar dari ruang arsip, terdengar bunyi lonceng benteng dipukul berkali-kali.

Tong...! Tong...! Tong...!

Seorang prajurit berlari tergesa-gesa.

"Komandan!"

"Apa yang terjadi?"

"Pasukan berkuda datang dari arah timur!"

"Jumlah mereka banyak!"

Rangga segera mengambil pedangnya.

Bramanta menggenggam tombaknya.

Arya berdiri memeluk naskah tua itu.

Komandan menatapnya dengan serius.

"Dengarkan baik-baik."

"Kalau benteng ini jatuh..."

"...pastikan naskah itu tetap hidup."

Arya belum sempat menjawab.

Terdengar suara benturan keras dari gerbang utama.

BRAK!

Serangan terhadap Benteng Utara akhirnya dimulai.

Dentuman dari gerbang utama mengguncang seluruh Benteng Utara.

Prajurit-prajurit segera berlarian menuju dinding pertahanan.

Suara terompet perang memecah udara pagi yang sebelumnya tenang.

Arya berdiri mematung sambil memeluk peti kecil berisi naskah kuno.

Ia bukan prajurit.

Ia tidak pernah belajar mengayunkan pedang.

Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa sedang memegang sesuatu yang nilainya lebih besar daripada emas.

Ia sedang memegang ingatan sebuah kerajaan.

---

"Masuk ke ruang arsip!"

teriak Komandan Rangga.

"Jangan keluar sebelum keadaan aman."

Arya menggeleng.

"Aku harus menyelamatkan naskah ini."

Rangga menatapnya sesaat.

Kemudian mengangguk.

"Kalau begitu, keluarlah lewat lorong bawah tanah."

"Bramanta akan menemanimu."

Tanpa membuang waktu, Bramanta menarik lengan Arya menuju sebuah pintu batu di belakang ruang arsip.

Pintu itu hampir tak terlihat karena tertutup rak kayu.

Saat didorong, terbukalah sebuah lorong sempit yang hanya cukup dilewati satu orang.

"Jalan ini dibuat puluhan tahun lalu," kata Bramanta.

"Hanya sedikit orang yang mengetahuinya."

---

Di belakang mereka, suara pertempuran semakin keras.

Dentingan besi saling beradu.

Anak panah melesat dari atas benteng.

Sesekali terdengar teriakan para prajurit.

Arya menahan napas.

Ia sadar bahwa teman-temannya sedang mempertaruhkan nyawa agar ia dapat membawa keluar naskah tersebut.

Langkahnya semakin cepat.

Lorong itu panjang dan lembap.

Hanya diterangi cahaya obor yang mulai redup.

Di beberapa bagian dinding terdapat ukiran lambang lima matahari yang saling bertaut.

Lambang yang sama seperti pada lempeng batu yang ditemukannya.

Arya menyentuh ukiran itu.

Ia semakin yakin bahwa kisah tentang lima wilayah memang benar adanya.

---

Setelah hampir setengah jam berjalan, mereka akhirnya keluar melalui sebuah gua kecil di kaki bukit.

Benteng kini tampak dari kejauhan.

Asap mulai membubung ke langit.

Bramanta menggertakkan gigi.

"Kita tidak bisa kembali sekarang."

Arya memandang benteng itu dengan mata berkaca-kaca.

Ia hanya berharap Komandan Rangga dan para prajurit masih mampu bertahan.

---

Mereka melanjutkan perjalanan menuju sebuah biara tua yang disebutkan dalam peta benteng.

Menurut Rangga, di sanalah tinggal seorang pendeta sepuh bernama Mahesa Ananta, penjaga berbagai naskah kuno kerajaan.

Menjelang malam mereka tiba.

Biara itu berdiri sederhana di tengah hutan pinus.

Mahesa Ananta menyambut mereka tanpa terkejut.

"Jadi... akhirnya naskah itu sampai juga."

Arya mengernyit.

"Guru sudah mengetahui tentang naskah ini?"

Lelaki tua itu tersenyum.

"Aku sudah menunggunya selama bertahun-tahun."

---

Di dalam perpustakaan biara, Arya membuka kembali peti kecil tersebut.

Mahesa membaca setiap halaman dengan perlahan.

Sesekali ia mengangguk.

Sesekali memejamkan mata.

Setelah selesai, ia berkata,

"Yang paling berbahaya bukanlah perang."

"Lalu apa?"

"Hilangnya ingatan."

"Ketika sejarah diubah..."

"...anak cucu akan tumbuh dengan mengenal kebohongan sebagai kebenaran."

Arya terdiam.

Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.

---

Malam itu, Mahesa menunjukkan ruangan lain yang dipenuhi ratusan gulungan naskah.

"Banyak orang mengira sejarah hanya milik istana."

"Padahal rakyat juga menyimpannya."

Ada catatan para petani.

Catatan para pedagang.

Surat para tabib.

Laporan para pengelana.

Semuanya menjadi kepingan yang saling melengkapi.

Arya menghabiskan semalaman membaca berbagai dokumen itu.

Semakin banyak ia membaca, semakin jelas bahwa sejarah tidak pernah sesederhana yang tertulis dalam satu kitab.

---

Keesokan paginya, seorang prajurit terluka tiba di biara.

Ia adalah utusan dari Benteng Utara.

Dengan napas tersengal ia menyampaikan kabar.

"Komandan Rangga..."

"...gugur saat mempertahankan benteng."

Arya menundukkan kepala.

Dadanya terasa sesak.

"Namun sebelum gugur..."

"...beliau berpesan agar Arya Wening tidak kembali."

"Teruskan tugasmu."

"Itulah kemenangan yang sesungguhnya."

Air mata Arya jatuh tanpa mampu ia bendung.

Ia baru mengenal Rangga beberapa hari.

Namun pengorbanan lelaki itu akan dikenangnya sepanjang hidup.

---

Malam harinya, Arya mengambil keputusan.

Ia tidak akan menyimpan naskah itu hanya untuk dirinya.

Ia akan menyalinnya.

Sebanyak mungkin.

Setiap lembar akan disebarkan ke berbagai perpustakaan, biara, dan balai desa di seluruh wilayah Arunika.

"Kalau satu naskah dibakar..."

"...masih ada puluhan salinan."

Mahesa tersenyum bangga.

"Itulah cara seorang juru tulis melawan."

Bukan dengan pedang.

Melainkan dengan tinta.

Namun mereka belum mengetahui bahwa orang-orang yang menghancurkan prasasti ternyata telah mengetahui keberadaan Arya.

Dan pasukan berkuda kini sedang bergerak menuju biara.

Pertempuran terakhir demi menyelamatkan sejarah Kerajaan Arunika pun tak lagi dapat dihindari.

Embun pagi masih menggantung di ujung dedaunan ketika lonceng kecil di halaman biara berbunyi tiga kali.

Seorang penjaga berlari memasuki perpustakaan dengan napas memburu.

"Guru Mahesa!"

"Mereka datang!"

Dari jendela kayu, Arya melihat puluhan penunggang kuda berhenti di kaki bukit. Panji-panji hitam berkibar diterpa angin. Mereka bukan datang untuk merampas harta.

Mereka datang mencari naskah.

Mahesa Ananta tetap tenang.

Ia menutup gulungan yang sedang dibacanya, lalu menatap Arya.

"Waktunya telah tiba."

---

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Arya.

"Bukan menyelamatkan satu naskah."

"Lalu?"

"Menyelamatkan isinya."

Mahesa membuka sebuah ruangan kecil di belakang perpustakaan.

Di sana telah tersedia meja-meja kayu, tinta, dan lembaran kulit kosong.

Belasan murid biara ternyata sudah bersiap.

"Sejak bertahun-tahun lalu," kata Mahesa, "kami memahami bahwa pengetahuan akan selalu menjadi sasaran mereka yang takut pada kebenaran."

"Itulah sebabnya kami belajar menyalin dengan cepat."

Tanpa menunggu aba-aba, semua orang mulai bekerja.

Arya duduk di meja paling depan.

Tangannya bergerak tanpa henti.

Huruf demi huruf berpindah ke lembaran baru.

Di sampingnya, para murid menyalin halaman berikutnya.

Dalam beberapa jam, satu naskah telah berubah menjadi banyak salinan.

---

Sementara itu, suara langkah kuda semakin dekat.

Pintu gerbang biara digedor berkali-kali.

"Serahkan naskah itu!"

teriak seseorang dari luar.

Tak ada jawaban.

Beberapa saat kemudian terdengar bunyi kayu patah.

Pintu utama berhasil didobrak.

Para penjaga biara berusaha menghalangi mereka tanpa mengangkat senjata tajam.

Biara bukan tempat perang.

Namun mereka juga tidak ingin menyerahkan warisan sejarah begitu saja.

Bramanta berdiri di depan lorong menuju perpustakaan.

Dengan tombak di tangan, ia menahan siapa pun yang mencoba masuk.

"Pergilah!" teriaknya kepada Arya.

"Aku akan menahan mereka."

Arya ingin membantu.

Namun Mahesa menggenggam bahunya.

"Kalau kau berhenti menulis sekarang..."

"...pengorbanan mereka menjadi sia-sia."

Dengan hati yang berat, Arya kembali menyalin naskah.

Tinta menetes di ujung penanya.

Air mata sesekali jatuh di atas lembaran kulit.

Namun tangannya tidak berhenti.

---

Menjelang sore, semua salinan akhirnya selesai.

Mahesa membagi gulungan-gulungan itu kepada para murid.

"Kalian tahu ke mana harus pergi."

Mereka mengangguk.

Ada yang menuju pegunungan.

Ada yang mengikuti jalur sungai.

Ada pula yang berjalan ke desa-desa terpencil.

Masing-masing membawa satu salinan.

Kini, meskipun satu naskah musnah, isi sejarah itu tidak lagi bisa dihapus sepenuhnya.

---

Ketika para penyerbu berhasil memasuki perpustakaan, mereka hanya menemukan sebuah peti kosong.

Pemimpin mereka marah.

"Di mana naskahnya?"

Arya melangkah maju.

"Sudah terlambat."

"Apa maksudmu?"

"Kalian bisa membakar ruangan ini."

"Kalian bisa menghancurkan batu-batu prasasti."

"Tapi kalian tidak akan mampu membakar ingatan yang telah tersebar."

Wajah pemimpin pasukan berubah muram.

Ia sadar bahwa tujuannya telah gagal.

---

Biara memang mengalami banyak kerusakan hari itu.

Rak-rak buku roboh.

Beberapa gulungan tua ikut terbakar.

Namun sebagian besar naskah berhasil diselamatkan.

Bramanta terluka, tetapi masih hidup.

Ia tersenyum saat melihat Arya.

"Kita berhasil."

Arya mengangguk.

"Bukan kita."

"Semua orang yang percaya bahwa kebenaran harus dijaga."

---

Beberapa bulan kemudian, keadaan Kerajaan Arunika mulai berubah.

Salinan-salinan naskah yang telah disebarkan dibaca oleh banyak kalangan.

Para guru mengajarkannya kepada murid-murid.

Para tetua desa mulai menceritakan kembali kisah tentang lima wilayah yang dahulu memilih bersatu demi kedamaian.

Perlahan, rakyat memahami bahwa sejarah bukan milik satu penguasa.

Sejarah adalah milik semua orang yang pernah hidup, berjuang, dan meninggalkan jejak.

Tekanan dari masyarakat membuat istana akhirnya membentuk dewan pencatat sejarah baru.

Mereka mengumpulkan berbagai sumber, membandingkan catatan dari desa, benteng, biara, hingga para pengelana.

Tidak lagi hanya mengandalkan satu versi.

Arya menjadi salah satu juru tulis dalam dewan tersebut.

Ia tidak bertugas menulis kisah kemenangan seorang raja.

Ia bertugas memastikan setiap peristiwa dicatat dengan jujur, meskipun tidak selalu menyenangkan.

---

Suatu pagi, Arya kembali mengunjungi reruntuhan Benteng Utara.

Prasasti-prasasti yang dahulu dihancurkan mulai disusun kembali oleh para pemahat batu.

Sebagian tulisan memang telah hilang.

Namun berkat salinan yang dibuatnya, banyak bagian berhasil dipahat ulang.

Di halaman benteng berdiri sebuah batu baru.

Bukan untuk mengenang seorang raja.

Bukan pula seorang panglima.

Melainkan semua orang yang menjaga sejarah agar tidak lenyap.

Di bagian bawahnya terukir kalimat yang ditulis Arya sendiri:

"Kerajaan dapat runtuh oleh waktu. Benteng dapat hancur oleh perang. Namun selama masih ada yang bersedia mengingat dan menuliskan kebenaran, sejarah akan selalu menemukan jalan untuk hidup kembali."

Arya memandang langit yang cerah.

Ia teringat Mahapatih Darmakerta, Komandan Rangga, Bramanta, Mahesa Ananta, Ibu Ratri, dan semua orang yang telah berjuang dengan cara mereka masing-masing.

Ada yang bertempur dengan keberanian.

Ada yang bertahan dengan kesabaran.

Ada pula yang melawan dengan tinta.

Saat angin berembus melewati dinding benteng yang telah diperbaiki, Arya menutup buku catatannya.

Ia sadar bahwa tugas seorang juru tulis tidak pernah benar-benar selesai.

Karena setiap hari akan selalu lahir peristiwa baru yang kelak menjadi sejarah.

Dan sejarah yang ditulis dengan kejujuran adalah warisan paling berharga bagi generasi yang akan datang.

TAMAT

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Sejarah
Rekomendasi