Kereta terakhir berhenti dengan suara yang pelan, menyisakan desis uap yang berbaur dengan udara sore kota kecil itu. Rama melangkah turun ke peron yang sepi, sambil menggenggam erat secarik surat yang sudah mulai menguning di sudut-sudutnya. Surat itu ditulis lima belas tahun lalu dengan tinta biru yang mulai pudar, menampilkan tulisan tangan yang masih miring dan berantakan khas anak-anak.
“Kalau kita sudah dewasa, ketemu lagi di bawah pohon flamboyan dekat danau. Janji ya?” Di bagian bawah kertas, tertera sebuah tanda tangan kecil dengan hiasan gambar bunga matahari yang tidak rapi.
Ema.
Rama tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membawa beban kerinduan belasan tahun. “Aku datang, Ema,” bisiknya lirik pada angin yang berembus pelan.
Musim panas kembali menghangatkan kota kecil yang sarat akan kenangan masa kecil mereka. Rama melangkah keluar dari stasiun, menyusuri jalanan yang dulu sering mereka lalui sambil berlarian. Kini, jalan-jalan itu terasa lebih sempit di matanya yang telah dewasa. Warung es serut yang dulu menjadi markas mereka selepas pulang sekolah telah berganti menjadi minimarket modern yang terang benderang. Perubahan demi perubahan merayap di setiap sudut kota, membuat Rama sempat merasa asing.
Namun, ada satu hal yang tidak berubah. Pohon flamboyan itu.
Pohon raksasa itu masih berdiri kokoh di tepi danau yang tenang, menjadi satu-satunya saksi bisu masa kecil mereka yang penuh tawa. Bunganya sedang mekar dengan lebat, menjatuhkan kelopak-kelopak merah menyala ke atas tanah, membentuk karpet alami yang indah. Rama melirik jam tangannya. Jarum jam menunjukkan tepat pukul empat sore, waktu yang sama ketika mereka mengaitkan jari kelingking dan mengikrarkan janji belasan tahun silam.
Rama berjalan mendekat lalu duduk di bangku kayu panjang yang menghadap ke danau. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma tanah dan bunga flamboyan yang khas. Ia mulai menunggu.
Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Hingga satu jam terlampaui tanpa ada tanda-tanda kehadiran seseorang. Matahari di ufuk barat mulai merosot turun, mengubah warna langit menjadi semburat jingga kemerahan. Rama tertawa kecil, menyembunyikan rasa gelisah yang perlahan menyergap dadanya. "Ema memang dari dulu suka telat. Kebiasaan yang tidak pernah berubah," gumamnya, mencoba menghibur diri sendiri.
Angin bertiup sedikit lebih kencang, membuat kelopak-kelopak bunga merah berputar-putar di udara sebelum mendarat di permukaan air danau. Di tengah keheningan itu, terdengar langkah kaki yang lambat di atas reruntuhan daun kering. Rama menoleh dengan cepat, jantungnya berdegup kencang penuh harap. Namun, bukan seorang wanita muda seusianya yang datang. Seorang wanita tua berambut keputihan berjalan perlahan mendekatinya, sambil mendekap seikat bunga lili putih yang kontras di antara merahnya flamboyan.
Wanita tua itu berhenti beberapa langkah di depan Rama, menatap wajahnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu... Rama?" tanyanya dengan suara yang bergetar.
Rama perlahan berdiri dari bangku kayu, rasa bingung mulai merayapi pikirannya. "Iya, saya Rama. Maaf, Ibu siapa?"
Wanita itu tersenyum sedih, guratan lelah tampak jelas di wajahnya. "Kamu benar-benar datang," ucapnya lirih, mengabaikan pertanyaan Rama sejenak. Ia kemudian melangkah mendekati batang pohon flamboyan yang besar lalu meletakkan seikat bunga lili putih itu di sana.
Perasaan tidak enak tiba-tiba menyergap dada Rama. Jantungnya berdegup jauh lebih cepat dari sebelumnya, menciptakan sensasi sesak yang mendadak. "Di mana Ema, Bu? Apa dia menitipkan pesan kalau dia akan datang terlambat?"
Wanita tua itu memandang ke arah danau yang memantulkan cahaya senja, cukup lama ia terdiam sebelum akhirnya membalikkan badan menghadap Rama. "Ema tidak bisa datang, Nak."
Rama mengerutkan dahi, mencoba mencari tawa atau candaan di wajah wanita itu, namun yang ia temukan hanyalah kedukaan yang mendalam. "Kenapa? Apa dia sibuk? Atau dia lupa dengan janji ini?" tanya Rama, suaranya mulai meninggi karena cemas.
"Lima belas tahun lalu... sehari setelah kalian membuat janji di bawah pohon ini... Ema mengalami kecelakaan hebat saat hendak pulang ke rumah," kata wanita itu dengan suara tercekat. "Dia tidak pernah terbangun lagi sejak hari itu."
Dunia Rama mendadak sunyi seketika. Semua suara di sekitarnya seolah menguap ke udara. Desir angin, kepakan sayap burung, hingga suara riak air danau menghilang, digantikan oleh kesunyian yang memekakkan telinga. Dada Rama terasa seperti dihantam batu besar. "Itu... tidak mungkin. Ibu pasti bercanda. Ema berjanji akan bertemu denganku di sini!" bisik Rama, menyangkal kenyataan pahit yang baru saja menghampirinya.
Wanita tua itu, yang ternyata adalah ibu Ema, mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil yang sudah usang dari dalam tasnya. Ia mengulurkannya kepada Rama. "Ini titipan Ema yang tersimpan di kamarnya. Ibu tahu suatu saat kamu akan kembali ke kota ini untuk menagih janji itu."
Tangan Rama gemetar hebat ketika menerima kotak tersebut. Dengan sisa-sisa kekuatannya, ia membuka tutup kotak perlahan. Di dalamnya, berbaring sebuah gelang dari jalinan benang warna-warni yang dulu mereka buat bersama di teras rumah Ema. Warnanya sudah agak kusam, namun bentuknya masih sangat utuh. Di bawah gelang tersebut, ada secarik kertas kecil bersudut agak koyak. Rama mengambilnya dan mulai membaca tulisan Ema.
“Kalau suatu hari aku nggak bisa datang... jangan marah ya. Aku percaya... janji itu bukan tentang siapa yang datang lebih dulu. Tapi tentang siapa yang tetap mengingat. Kalau nanti kamu dewasa... jangan hidup dalam penyesalan. Tertawalah juga untuk bahagiaku. Karena aku selalu ingin melihat Rama tersenyum.”
Air mata Rama yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh berderai, membasahi permukaan surat kecil itu hingga tintanya sedikit meleber. Rasa bersalah yang teramat sangat langsung mencengkeram hatinya. Selama lima belas tahun ini, di perantauan, ia memendam rasa benci dan kecewa kepada Ema. Ia mengira Ema sengaja menghilang tanpa kabar, pindah kota, dan melupakan janji masa kecil mereka begitu saja. Rama berpikir dirinya adalah pihak yang paling terluka karena ditinggalkan dalam ketidakpastian.
Padahal, kenyataan jauh lebih kejam. Yang melupakan mereka bukanlah hati Ema, melainkan waktu yang direnggut secara paksa.
Matahari benar-benar telah tenggelam di balik cakrawala, meninggalkan garis langit yang perlahan berubah dari jingga menjadi ungu gelap. Rama berdiri mematung di bawah naungan pohon flamboyan yang bergoyang pelan ditiup angin malam yang mulai dingin. Ibu Ema telah pamit pergi beberapa saat lalu, meninggalkan Rama sendirian dengan kenangan yang kini utuh kembali.
"Ema..." Rama menatap ke atas, menembus celah-celah dedaunan flamboyan menuju langit malam yang mulai memunculkan satu dua bintang. "Aku datang. Aku menepati janjiku."
Angin malam kembali bertiup kencang, menggugurkan kelopak-kelopak merah yang tersisa. Kelopak-kelopak itu berterbangan mengelilingi tubuh Rama, seolah menari-nari dalam sebuah ritual penyambutan yang hangat. Untuk sesaat, di antara deru angin yang berbisik, Rama seolah mendengar suara tawa kecil yang sangat akrab di telinganya. Suara tawa yang selalu renyah, suara yang sangat ia rindukan selama belasan tahun ini.
"Rama..."
Rama menolehkan badannya dengan cepat ke belakang, berharap keajaiban datang dan mempertemukan mereka kembali. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada bangku kayu yang kosong dan bayang-bayang senja yang kian memudar.
Meski begitu, entah mengapa, hawa di sekitar Rama terasa begitu hangat dan menenangkan. Perasaan sesak dan amarah yang dipendamnya selama lima belas tahun menguap begitu saja, digantikan oleh kedamaian yang asing namun melegakan. Seolah-olah, sesosok tangan tak terlihat baru saja mengusap kepalanya dengan lembut, membisikkan kata maaf sekaligus salam perpisahan yang manis.
Rama tersenyum di tengah sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya. "Aku menepati janji, Ema," ucapnya mantap.
Di antara dedaunan yang bergoyang pasrah mengikuti angin, selembar kelopak flamboyan berwarna merah cerah jatuh tepat di atas telapak tangan Rama yang terbuka. Ia menatap kelopak itu sejenak, lalu menutup jemarinya, menggenggam kelopak itu dengan perlahan namun erat, menyimpannya dekat dengan hati.
Rama membalikkan badan dan mulai melangkah berjalan pulang, meninggalkan area danau. Ia meninggalkan bangku tua yang kesepian itu, tempat di mana sebuah janji masa kecil akhirnya terpenuhi dengan cara yang tak pernah ia duga.
Pertemuan itu memang tidak pernah terjadi secara fisik. Namun, Rama sadar bahwa janji mereka telah tuntas melalui kenangan yang tidak akan pernah benar-benar pergi. Karena pada akhirnya, ada orang-orang di masa lalu yang tidak lagi bisa kita temui di dunia nyata, namun mereka akan selalu menemukan jalan tersendiri untuk tinggal dan hidup abadi di dalam hati kita.