Inner Child
"Siapa gadis itu?"
Sedari tadi menatap tajam perutku.
Memasang wajah marah seakan terbakar cemburu.
Padahal bukan darah daging atau putri para sepupu.
Kemudian bocah perempuan berkepang dua mulai berseru
"Sudah siapkah menjadi ibu?"
Menjawab dengan satu kata singkat
"Tentu,"
Bibir mungil lawan bicara seketika mencebik. Terlihat meremehkan juga menyimpan ragu.
"Apakah orang tuanya lupa mengajari sopan santun sampai berani berbuat lancang!"
Aku masih jengkel namun terkejut memandang sepasang mata yang mulai sayu.
"Berjanjilah tidak akan memukul sampai kulit berubah menjadi biru. Berusahalah tidak membentak sampai badan terasa kaku. Dan.... Jangan pernah membandingkan dengan teman seumuran seperti yang dilakukan mama dulu.
Memeluk erat pengganggu yang menempel sepanjang waktu. Ternyata... Dia adalah aku.