═════════════════
NEGERI SONOHARU
FLASH FICTION
SIMPUL YANG KUAT
EDISODE IV
─────────────────
REF-INDEX: 011-120-221-331-414
═════════════════
Pak Darman berdiri.
Lututnya terasa lemas, seperti tidak kuat menahan tubuhnya. Ia telah duduk terlalu lama di lantai lumbung yang lembab, sehingga tulang-tulangnya terasa seperti karung-karung kosong yang ia tinggalkan di sudut. Tapi ia berdiri. Karena ada sesuatu yang harus ia lakukan. Sesuatu yang telah ia tunda terlalu lama.
Ia berjalan ke sudut lumbung, di mana dinding kayu bertemu dengan balok atap yang menghitam oleh usia dan kelembaban. Di sana, tergantung seutas kabel data putih kabel yang sama yang ia gunakan setiap malam untuk mengisi daya ponselnya. Kabel yang telah menghubungkannya dengan dunia maya, dengan dadu emas, dengan semua yang telah merampok segalanya darinya.
Ia mengulurkan tangannya. Jari-jarinya, yang masih gemetar, menyentuh plastik kabel itu. Dingin. Licin. Seperti kulit ular yang tertidur di bawah sinar bulan. Tapi tidak seperti ular, kabel ini tidak akan pernah bangun. Ia hanya benda mati yang telah menjadi saksi bisu dari kehancurannya.
Pak Darman menggenggam kabel itu. Merasakan beratnya. Merasakan lenturnya. Plastik itu terasa asing di tangannya benda yang biasanya ia gunakan untuk mengisi daya, yang biasanya ia hubungkan ke ponsel, kini terasa seperti sesuatu yang lain. Seperti tali. Seperti jerat.
Ia mengingat ayahnya.
Ia mengingat tangan ayahnya tangan yang keriput, yang penuh dengan kapalan, yang tidak pernah berhenti bekerja. Ia mengingat bagaimana ayahnya duduk di lumbung yang sama, puluhan tahun lalu, mengikat karung-karung padi dengan tali rami. Tangannya bergerak cepat dan pasti, tanpa ragu, tanpa gemetar.
"Simpul ini, Nak," kata ayahnya, suaranya parau tapi tegas, seperti kayu tua yang masih kuat. "Untuk mengikat karung. Tapi juga bisa untuk mengikat yang lain. Yang penting, jika kau mengikat, pastikan simpulmu kuat. Agar isinya tidak tumpah."
Pak Darman menarik kabel itu, merentangkannya. Di tangannya, kabel putih itu terlihat seperti tali rami yang digunakan ayahnya dulu. Tapi bukan rami. Ini plastik. Dingin. Licin. Benda dari dunia modern yang ia tidak pernah benar-benar pahami.
"Simpul yang kuat," gumamnya, suaranya serak. "Agar isinya tidak tumpah."
Ia menatap balok atap. Kayu itu hitam, lembab, dengan retakan-retakan kecil di permukaannya. Di celah-celahnya, sarang laba-laba telah tumbuh jaring-jaring tipis yang menggantung seperti kain kafan yang sudah lapuk.
Ia mengikat ujung kabel ke balok atap. Tangannya masih gemetar, tapi ia memaksa mereka untuk bergerak dengan pasti. Ia mengikuti ingatannya, mengikuti gerakan ayahnya yang dulu melingkarkan kabel, menyilangkannya, menariknya. Simpul yang kuat. Simpul yang tidak akan lepas.
"Tarik kuat-kuat, Nak," suara ayahnya berbisik di dalam kepalanya. "Pastikan tidak longgar."
Pak Darman menarik. Kabel itu mengencang. Kayu balok berderit pelan, seperti menahan beban yang tidak seharusnya ia tahan.
Di bawahnya, ponsel berkedip. Cahaya kuning pucat dari layar yang retak bersinar ke atas, menerangi wajahnya dari bawah, menciptakan bayangan yang aneh di tulang pipinya yang menonjol.
Pak Darman menatap ke bawah. Di layar, ikon dadu emas berdenyut. Di bawahnya, sebuah pesan: "Bonus deposit 50%! Hanya berlaku 10 menit lagi! Jangan lewatkan kesempatan emas ini!"
Ia menatap pesan itu. Di dalam kepalanya, ia mendengar suara yang sama yang telah mendorongnya selama tiga bulan terakhir. Suara yang berbisik dengan lembut, seperti teman yang tidak pernah meninggalkannya. "Satu lagi. Pasti kali ini balik."
Tangannya bergerak. Ia hampir turun dari bangku. Hampir meraih ponselnya. Hampir menekan tombol putar sekali lagi hanya sekali lagi, untuk membuktikan bahwa ia tidak sia-sia.
Tapi tangannya berhenti di udara. Gemetar. Bergoyang di antara ponsel dan lehernya.
Ia menatap ladangnya melalui celah dinding lumbung. Sawah-sawah yang basah oleh hujan. Padi-padi yang bergoyang dihembus angin malam. Sawah yang bukan lagi miliknya. Sawah yang telah ia korbankan untuk altar kecil di tangannya.
Ia menatap rumahnya di kejauhan. Rumah sederhana dengan atap bocor dan dinding lapuk. Di dalam rumah itu, Yati tidur. Anak-anaknya tidur. Mereka semua masih percaya bahwa besok akan lebih baik.
Pak Darman tersenyum. Senyum yang pahit. Senyum yang lahir bukan dari kebahagiaan, tapi dari kelegaan. Kelegaan bahwa penderitaan ini akan segera berakhir. Kelegaan bahwa ia tidak perlu lagi memilih antara utang dan kehormatan, antara keluarga dan dadu emas, antara hidup dan mati.
Ia mengambil kabel itu. Merasakan tekstur plastiknya di tangannya. Dingin. Licin. Kuat.
Ia mengikat ujung kabel di lehernya. Simpul yang kuat. Sama seperti yang diajarkan ayahnya.
"Simpul harus kuat, Nak. Agar isinya tidak tumpah."
Tapi semua isinya telah tumpah. Yang tersisa hanyalah kulit kosong tubuh yang sudah tidak berguna, hati yang sudah mati, dan kepala yang tidak bisa lagi memikirkan apa pun selain keheningan.
Pak Darman menatap ponsel yang masih menyala di bawah. Cahaya kuning pucat itu masih bersinar, masih memanggil, masih tidak pernah berhenti. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak mendengarnya. Untuk pertama kalinya, ia mendengar suara lain suara yang lebih tua, lebih hangat, yang datang dari masa lalu yang jauh.
"Nak," suara ayahnya berbisik. "Jika kau mengikat, pastikan simpulmu kuat."
"Simpul ini kuat, Yah," bisik Pak Darman. "Sekuat yang kau ajarkan."
Ia menatap ladangnya sekali lagi. Menatap padi-padi yang bergoyang dihembus angin malam. Menatap bulan yang redup di balik awan. Menatap rumahnya yang gelap di kejauhan.
Ia menatap semua yang pernah ia cintai.
"Maaf," bisiknya. "Maafkan Bapak."
Ia menendang bangku.
Bersambung.....
Episode 4 selesai.
─────────────────
Mari kita lanjutkan ke :
Episode 5 "Kesunyian yang Memekakan".
═════════════════
RAK: 011 - ARSIP: 120 - MAP: 221
─────────────────
TOURTALESLIGHTS
STATUS: TELAH DIDEKLASIFIKASI
TINGKAT AKSES: PUBLIK
─────────────────
BERKAS: 331 - FILE: 414 - EPISODE IV
KLASIFIKASI: BUKU I KMP -
NEGERI SONOHARU
═════════════════