“Ih… jeruknya wangi banget, ya,” kata si sulung dari belakang kepalaku. Rupanya dia mengintip layar ponselku yang menampilkan sebuah video seorang influencer yang tengah membelah jeruk sunkist.
Awalnya kukira si sulung hanya terlalu imajinatif sampai cuping hidungku bergerak membaui udara yang dipenuhi aroma segar buah berwarna jingga itu.
Segar dan manis. Benar-benar aroma jeruk yang membuat lidah terbayang mengecapnya.
Apa ini?
Apakah ini teknologi baru yang dinamai layar dengan teknologi perisa artifisial itu?
Tidak mungkin. Ponselku ini cuma spek kentang dengan teknologi tahun 2017-an. Mana mungkin bisa mengeluarkan aroma dari tampilan layar.
Tapi, ya, ampun! Baunya semakin nyata.
Potongan jeruk yang jingga segar itu mengeluarkan wangi yang sangat menggoda.
“Wah… ajaib! Kok, bisa, sih, Bu?” tanya si sulung heran sekaligus takjub.
Aku masih mencerna kejadian ini. Apakah clairvoyance itu balik lagi seperti kejadian aroma kentut bertahun-tahun lalu?
“Eh… si adek mana?” tanyaku pada si sulung. Teringat si bungsu yang biasanya heboh teriak-teriak. Langsung ‘ku beranjak dari kamar menuju ruang tengah. Hening adalah pertanda buruk ketika mengasuh seorang toddler.
Mataku berkeliling mencari keberadaan bocah tiga tahun itu.
Di sudut meja. rupanya si bungsu sedang asik mengupas jeruk dan menyesapnya untuk kemudian dilepeh setelah sarinya terkuras.
Ya, ampun!!!
Aku lupa kalau dia dapat MBG jeruk dari posyandu pagi tadi.