Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
6
HANTU DI LUMBUNG
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

═════════════════

NEGERI SONOHARU

FLASH FICTION

HANTU DI LUMBUNG

EDISODE I

─────────────────   

REF-INDEX: 011-120-221-331-411

═════════════════

Lumbung itu telah lama berhenti menjadi lumbung. Sekarang ia adalah kubah kegelapan yang atapnya bocor, tempat di mana dinding-dinding kayu yang lapuk masih menyimpan aroma gabah yang sudah basi, dan di mana Pak Darman duduk bersila di antara karung-karung kosong yang perutnya menganga seperti mulut orang kelaparan.

Cahaya yang menerangi wajahnya bukan dari bulan. Bukan dari matahari. Cahaya itu berasal dari sebuah altar kecil di tangannya sebuah ponsel dengan layar retak, yang menyala dengan cahaya kuning pucat, seperti mata reptil yang setengah terbuka di tengah kegelapan.

Ia menatap layar itu. Retakan-retakan menyebar dari sudut kiri atas seperti akar pohon yang merambat di bawah tanah mereka membelah ikon dadu emas menjadi pecahan-pecahan yang masih berdenyut. Denyut itu lembut, teratur, seperti detak jantung yang tidak pernah berhenti. Seperti sesuatu yang hidup.

Pak Darman tidak ingat kapan terakhir kali ia benar-benar melihat matahari. Mungkin tiga bulan lalu, saat ia masih berdiri di ladang yang sekarang telah disita, saat padi-padi masih berwarna emas dan anak-anaknya masih tertawa di antara mereka. Sekarang, satu-satunya cahaya yang ia kenal adalah cahaya kuning pucat dari layar yang retak cahaya yang sakit di mata, yang membuat warna-warna lain memudar, yang membuat wajahnya sendiri tampak seperti tengkorak yang masih bernapas.

Di luar, jangkrik-jangkrik bernyanyi. Mereka bernyanyi dengan cara yang sama seperti ketika ia masih kecil, ketika ayahnya masih hidup, ketika lumbung ini masih penuh dengan karung-karung padi dan tawa. Tapi suara jangkrik itu sekarang terdengar berbeda seperti bisikan yang tidak pernah selesai, seperti sesuatu yang menunggu. Dan di antara suara jangkrik itu, ada suara lain: dengung halus dari mesin ponsel, seperti aliran listrik yang mengalir di bawah kulitnya, seperti sesuatu yang menghisap tanpa pernah kenyang.

Tangannya gemetar. Bukan karena dingin. Udara malam memang dingin, tapi tangannya sudah gemetar sejak lama, sejak sebelum ia menyadari bahwa ia tidak bisa lagi menghentikannya. Gemetar itu berasal dari suatu tempat yang lebih dalam dari perutnya yang kosong, dari dadanya yang terasa seperti karung kosong, dari kepalanya yang dipenuhi suara-suara yang tidak pernah berhenti.

Ia mengangkat tangannya ke depan layar, dan bayangan tangannya jatuh di dinding kayu di belakangnya bayangan yang lebih besar dari dirinya, yang bergoyang-goyang seperti sesuatu yang hidup, seperti monster yang ia sendiri tidak kenali. Bayangan itu menari di dinding lumbung, mengikuti gerakan tangannya yang gemetar, dan untuk sesaat, Pak Darman merasa seperti sedang menatap dua makhluk berbeda: satu yang duduk di sini, dan satu yang menari di dinding, menunggu.

Ia menurunkan tangannya. Cahaya kuning pucat dari layar tetap bersinar, dan di atasnya, ikon dadu emas tetap berdenyut. Denyutnya seperti detak jantung yang terlalu cepat, seperti sesuatu yang sedang memanggil namanya dari dalam layar.

Pak Darman mengingat lumbung ini dulu. Ia mengingat bagaimana sinar matahari emas masuk melalui celah-celah dinding, menciptakan berkas-berkas cahaya yang menerangi debu-debu melayang. Ia mengingat bagaimana karung-karung padi berjejer rapi, hampir menyentuh langit-langit, dan bagaimana aroma gabah yang baru dipanen memenuhi ruangan dengan kehangatan. Ia mengingat tawa anak-anaknya, kaki-kaki kecil mereka yang berlarian di antara karung-karung, tangan-tangan kecil mereka yang membantu mengikat simpul.

Sekarang, lumbung ini gelap. Tidak ada karung. Tidak ada padi. Tidak ada tawa. Yang tersisa hanyalah bau gabah tengik yang bercampur dengan lumpur kering, dan karung-karung kosong yang menganga seperti kuburan-kuburan kecil. Dan di tengah semua itu, Pak Darman duduk, menatap altar kecil di tangannya, menunggu sesuatu yang tidak pernah datang.

Cahaya kuning pucat dari layar terus bersinar, dan perlahan-lahan, ia mulai memakan wajahnya. Ia melihat pantulannya di layar yang retak pipinya yang cekung, tulang rahangnya yang menonjol, matanya yang redup dan kosong. Ia melihat dirinya sendiri, dan untuk sesaat, ia tidak mengenali siapa yang ia lihat.

Di luar, jangkrik-jangkrik terus bernyanyi. Dan di dalam, di antara kegelapan dan cahaya kuning pucat, Pak Darman duduk, menatap ikon dadu emas yang berdenyut, dan membiarkan dirinya perlahan dimakan oleh cahaya itu.

Bersambung.....

Episode 1 selesai.

─────────────────  

Mari kita lanjutkan ke :

Episode 2 "Racun Datang Bertahan".



═════════════════

RAK: 011 - ARSIP: 120 - MAP: 221

─────────────────  

TOURTALESLIGHTS

STATUS: TELAH DIDEKLASIFIKASI

TINGKAT AKSES: PUBLIK

─────────────────  

BERKAS: 331 - FILE: 411 - EPISODE I

KLASIFIKASI: BUKU I KMP -

NEGERI SONOHARU

═════════════════ 

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi