Aroma karbol dan alkohol mengantung tipis di udara, berbaur dengan hawa lembap sisa hujan di luar. Di ruang tunggu baris kedua, deretan kursi besi kelabu berderit setiap kali ada yang bergeser posisi. Saya memandangi nomor antrean di remasan jemari yang mulai berkerut oleh usia. Tujuh puluh tahun hidup, dan dinding-dinding puskesmas ini selalu terasa sama.
Tepat di depan saya, sepasang suami-istri duduk berdampingan. Sang suami duduk dengan punggung tegak lurus, bahunya kokoh di balik kemeja batik yang disetrika rapi. Garis rahangnya tegas, dan rambut putihnya disisir klimis ke belakang. Tidak ada gurat lelah, seolah dia hanya sedang mampir, bukan hendak memeriksakan tubuh yang digerogoti usia.
Sebaliknya, perempuan di sebelahnya tampak melorot. Tubuhnya setengah meringkuk ke kiri, sepasang tangan yang kurus kering memeluk tas kain di pangkuan seerat mungkin, menahan sesuatu yang berdenyut di dalam rongga dadanya. Matanya layu, menatap kosong ke lantai linoleum yang kusam.
"Laki-laki tua itu gagah sekali. Aku suka."
Sebuah bisikan memotong sunyi. Suara itu tipis, mendesis dari baris kursi di sebelah kanan saya.
Saya menoleh pelan. Sepasang muda-mudi duduk di sana, memegang map kuning berlogo dinas kesehatan—jenis map yang biasa dibawa calon pengantin untuk tes kesehatan pra-nikah.
Si lelaki muda mengenakan topi baseball luh berkain kaku yang ditarik rendah hingga menciptakan bayangan di wajahnya yang biasa saja. Kulitnya kusam, tipikal orang yang menghabiskan belasan jam di bawah terik matahari atau debu pabrik.
Namun, perempuan di sampingnya menarik perhatian dengan cara yang berbeda. Garis wajahnya simetris tanpa cela, dengan kulit sewarna porselen dan sepasang mata yang bersinar di bawah pendar lampu neon ruangan. Sebuah kupluk wol rajut dengan logo desainer luar negeri melingkari kepalanya, kontras dengan kesederhanaan ruang tunggu puskesmas ini.
"Aku suka perempuan tua itu. Istrinya," sahut si lelaki muda, suaranya berat dan datar. "Itu perempuan tabah. Hatinya adalah rumah."
Perempuan muda itu mendengus, sudut sialan di bibirnya terangkat. "Apa menariknya perempuan tua keriput macam itu?"
"Kamu cuma melihat tampilan luarnya saja," jawab lelaki muda itu, matanya tetap lurus menatap pasutri lansia di depan kami. "Lihat dalamnya. Hatinya."
"Aku tidak peduli hatinya. Yang penting tampilannya keren."
Jari-jari si lelaki muda yang memegang map kuning mendadak mencengkeram kertas hingga berkerut. "Laki-laki tua itu yang menghisap semua sisa hidup istrinya sampai layu seperti itu. Kamu mau kubuat layu juga?"
Perempuan muda itu mencondongkan tubuh, tatapannya menantang tanpa kedip. "Kamu yang akan kubuat layu."
Keheningan mendadak terasa mencekik, mengalahkan dengung kipas angin di langit-langit.
Lelaki muda itu berdiri dengan satu sentakan kaku. Map kuning di tangannya dijatuhkan begitu saja ke atas kursi besi. Rahangnya mengatup begitu rapat hingga urat lehernya menonjol tegang.
"Ya, sudah," kata lelaki muda itu, suaranya bergetar oleh sesuatu yang dingin. "Besok, laki-laki tua itu akan meninggalkan istrinya selamanya. Kamu ambil saja dia untukmu."
Tanpa menoleh lagi, dia membalikkan badan dan melangkah lebar-lebar menuju pintu keluar, meninggalkan gaung langkah sepatu yang terburu-buru di koridor puskesmas.
Perempuan muda itu terhenyak. Tubuhnya menegang di atas kursi besi, tangannya mengepal di atas pangkuan. Sedetik kemudian, dengan gerakan gusar, dia menyentak lepas kupluk wol dari kepalanya, membiarkan rambutnya terurai kasar.
Lalu, seolah sadar ada yang mengawasi, kepalanya berputar cepat. Matanya langsung mengunci tatapan saya.
Darah saya mendadak berhenti mengalir.
Sepasang matanya yang semula jernih kini berubah warna, memerah pekat seperti darah segar yang baru keluar dari luka. Tatapannya menusuk, dingin, dan penuh kilat kebencian yang tidak manusiawi. Bibirnya perlahan melengkung, memamerkan senyum tipis yang membuat bulu kuduk di tengkuk saya berdiri tegak.
Di dahinya yang polos—tepat di tempat kupluk wol itu terpasang tadi—kulitnya meregang kaku. Dua pucuk runcing berwarna merah gelap, seukuran kelingking dengan ujung sewarna arang yang membara, mencuat perlahan menembus pori-pori kulitnya.
Saya mematung, meremas pinggiran kursi besi puskesmas, melupakan fakta bahwa nomor antrean saya hampir dipanggil.