Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
18
Arsip Nomor 47
Misteri

Nadira selalu percaya bahwa setiap dokumen memiliki cerita.

Sebagai arsiparis di Gedung Arsip Kota Suryamukti, pekerjaannya dipenuhi berkas tua, foto menguning, peta usang, dan surat-surat yang sudah lama kehilangan pemiliknya. Baginya, pekerjaan itu bukan sekadar menyusun dokumen berdasarkan nomor katalog. Ia merasa sedang menjaga ingatan orang-orang yang mungkin telah lama dilupakan.

Suatu Senin pagi, saat menyusun arsip di ruang bawah tanah, Nadira menemukan sebuah map abu-abu tanpa judul.

Di pojok kanan atas hanya tertulis angka kecil.

47.

Tidak ada nama.

Tidak ada tahun.

Tidak ada kode klasifikasi.

Aneh, karena semua arsip resmi selalu memiliki identitas yang jelas.

Ketika ia membuka map itu, isinya hanya satu lembar kertas kosong.

Benar-benar kosong.

"Aneh sekali," gumamnya.

Ia mengembalikan map itu ke rak sementara dan melanjutkan pekerjaan.

Namun sore harinya, map yang sama kembali berada di atas meja kerjanya.

Padahal ia yakin tidak membawanya.

Ia mengira salah satu rekan sedang bercanda.

Tetapi semua pegawai mengaku tidak pernah melihat map tersebut.

Esok paginya, Nadira mencoba memasukkan nomor 47 ke dalam katalog digital.

Tidak ada hasil.

Ia lalu membuka katalog manual sejak lima puluh tahun terakhir.

Tetap tidak ada.

Seolah arsip itu tidak pernah didaftarkan.

Karena menganggap map itu tidak memiliki nilai administrasi, ia memasukkannya ke dalam daftar pemusnahan dokumen tak dikenal.

Seminggu kemudian dokumen itu dihancurkan menggunakan mesin pencacah.

Nadira melihat sendiri lembar kosong itu berubah menjadi serpihan kertas.

Masalahnya dimulai keesokan harinya.

Map abu-abu bernomor 47 kembali tergeletak di mejanya.

Masih utuh.

Masih berisi satu lembar kertas kosong.

Rasa penasaran mengalahkan logika.

Nadira mulai menyelidiki sejarah gedung arsip tersebut.

Bangunan itu dulunya merupakan kantor pemerintahan lama sebelum dialihfungsikan menjadi pusat arsip.

Dalam sebuah foto hitam putih, ia menemukan ruangan yang kini menjadi ruang bawah tanah.

Di sudut foto berdiri seorang pria berkacamata memegang map abu-abu.

Pada pembesaran gambar, tampak jelas angka kecil di pojok map.

Di balik foto tertulis nama fotografer.

Mahesa Wiranta. 1984.

Nadira mencoba mencari data tentang Mahesa.

Tidak ada.

Semua catatan pegawai tahun 1984 lengkap.

Hanya satu nama yang hilang.

Mahesa Wiranta.

Seolah seseorang sengaja menghapus keberadaannya.

Malam itu Nadira tetap tinggal di kantor.

Ia ingin memastikan tidak ada orang yang memindahkan map tersebut.

Tepat pukul sebelas malam, lampu lorong berkedip.

Pendingin ruangan tiba-tiba mati.

Suasana menjadi sunyi.

Dari sela-sela rak terdengar suara langkah kaki.

Pelan.

Teratur.

Tok...

Tok...

Tok...

Nadira mengikuti suara itu hingga ke ruang arsip terdalam.

Tak ada siapa-siapa.

Hanya map nomor 47 yang kini tergeletak di lantai.

Saat diambil, lembar kosong di dalamnya tidak lagi kosong.

Perlahan muncul tulisan seperti tinta yang meresap dari balik kertas.

"Cari Ruang C."

Tulisan itu memudar beberapa detik kemudian.

Kertas kembali kosong.

Keesokan harinya Nadira bertanya kepada kepala arsip.

"Pak, dulu pernah ada Ruang C?"

Pria tua itu mendadak terdiam.

"Siapa yang memberitahumu?"

"Tidak ada. Saya hanya penasaran."

Ia menghela napas panjang.

"Dulu memang ada."

"Sekarang?"

"Ditutup lebih dari tiga puluh tahun lalu."

"Kenapa?"

"Tidak ada penjelasan resmi."

Jawaban itu justru membuat Nadira semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan.

Dengan bantuan denah lama, ia menemukan bekas pintu Ruang C yang kini tertutup tembok.

Di balik rak arsip paling belakang masih terlihat bekas kusennya.

Malam harinya ia kembali membawa senter.

Ia menemukan celah kecil pada tembok yang ternyata hanya ditutup papan tipis.

Setelah dibuka, tampak sebuah ruangan sempit penuh debu.

Di tengah ruangan berdiri satu meja besi.

Di atasnya terdapat mesin ketik tua.

Dan sebuah laci yang terkunci.

Kunci laci ternyata terselip di balik mesin.

Saat dibuka, Nadira menemukan buku catatan.

Halaman pertama bertuliskan nama.

Mahesa Wiranta.

Isi buku itu membuat bulu kuduknya meremang.

Mahesa adalah petugas arsip.

Ia menemukan bukti penyalahgunaan dana pembangunan kota oleh sejumlah pejabat.

Semua dokumen asli disimpan dalam Arsip Nomor 47.

Namun sebelum sempat menyerahkannya kepada penyidik, seluruh berkas disita.

Mahesa menulis bahwa seseorang ingin menghapus semua jejak kasus tersebut.

Kalimat terakhirnya berbunyi,

"Jika catatan ini ditemukan, berarti aku gagal keluar dari gedung ini."

Tidak ada halaman berikutnya.

Nadira segera melapor kepada pihak berwenang.

Namun ketika petugas datang keesokan paginya, Ruang C sudah kosong.

Meja besi masih ada.

Mesin ketik masih ada.

Tetapi buku catatan menghilang.

Begitu pula map nomor 47.

Petugas menganggap Nadira salah melihat.

Ia mulai meragukan dirinya sendiri.

Sampai sebuah kejadian tak terduga terjadi.

Beberapa hari kemudian proses renovasi gedung dimulai.

Saat pekerja membongkar lantai bekas Ruang C, mereka menemukan sebuah peti logam.

Di dalamnya terdapat puluhan dokumen yang masih terbungkus rapi.

Seluruh berkas membuktikan adanya korupsi besar yang terjadi puluhan tahun silam.

Di bagian paling atas terdapat map abu-abu.

Nomor 47.

Kali ini isinya bukan lagi kertas kosong.

Melainkan seluruh bukti yang selama ini hilang.

Kasus lama itu akhirnya dibuka kembali.

Nama-nama yang selama puluhan tahun tersimpan dalam bayangan mulai terungkap.

Namun tidak ada satu pun dokumen yang menjelaskan nasib Mahesa.

Beberapa minggu setelah penemuan itu, gedung arsip kembali beroperasi seperti biasa.

Map nomor 47 resmi dipindahkan ke ruang penyimpanan khusus.

Nadira merasa semuanya telah selesai.

Sampai suatu sore, seorang pria tua datang tanpa membuat janji.

Rambutnya memutih.

Jalannya pelan.

"Apa Anda Nadira?"

"Iya."

Pria itu tersenyum tipis.

"Terima kasih sudah menemukan arsip itu."

"Maaf... kita pernah bertemu?"

Pria itu menggeleng.

"Lima puluh tahun lalu saya bekerja di gedung ini."

"Siapa nama Bapak?"

Ia memandang rak-rak arsip cukup lama sebelum menjawab,

"Nama saya sudah lama dihapus."

Belum sempat Nadira bertanya lagi, pria itu berjalan menuju pintu.

Saat Nadira mengikuti beberapa detik kemudian, lorong sudah kosong.

Tak ada siapa-siapa.

Petugas keamanan mengaku tidak melihat seorang pun keluar dari gedung.

Di meja resepsionis hanya tertinggal sebuah foto hitam putih.

Foto lama ruang arsip.

Di sudutnya berdiri Mahesa Wiranta.

Kali ini ia tidak sendirian.

Di sampingnya ada seorang gadis muda yang tersenyum sambil memegang map bernomor 47.

Wajah gadis itu...

Sangat mirip dengan Nadira.

Padahal foto tersebut diambil puluhan tahun sebelum ia lahir.

Sejak hari itu, Nadira semakin yakin bahwa arsip tidak hanya menyimpan sejarah.

Kadang, arsip juga menyimpan janji yang menunggu seseorang untuk menepatinya, meski harus melintasi puluhan tahun.

Dan di antara ribuan rak yang sunyi, selalu ada rahasia yang tidak pernah benar-benar hilang—hanya menunggu ditemukan oleh orang yang berani membuka halaman berikutnya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Rekomendasi