Disukai
0
Dilihat
8
Langit Masih Menunggu Doamu
Religi
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Pukul empat lewat tiga puluh pagi.

Langit masih berwarna gelap ketika azan Subuh berkumandang dari musala kecil di ujung Kampung Sukamaju.

Suara itu tidak terlalu keras.

Namun cukup untuk membangunkan Faris, pemuda berusia dua puluh empat tahun yang sudah beberapa bulan terakhir tinggal sendirian di rumah peninggalan ibunya.

Dengan mata yang masih berat, ia meraih ponsel di samping bantal.

Alarm sudah berbunyi sejak lima menit lalu.

Ia mematikannya.

Lalu kembali memejamkan mata.

"Masih lima menit," gumamnya.

Ketika membuka mata lagi, cahaya matahari telah masuk melalui jendela.

Jam menunjukkan pukul enam lewat sepuluh.

Faris mengusap wajahnya.

Bukan karena terlambat bekerja.

Melainkan karena ia kembali melewatkan salat Subuh berjamaah.

Untuk kesekian kalinya.

---

Dua tahun sebelumnya, hidup Faris sangat berbeda.

Ia bekerja di sebuah perusahaan di kota.

Penghasilannya cukup baik.

Kesibukan membuatnya jarang pulang kampung.

Sampai suatu sore, telepon dari tetangganya datang.

"Ibumu sakit."

Faris pulang secepat mungkin.

Namun ia tetap terlambat.

Ibunya telah mengembuskan napas terakhir beberapa menit sebelum ia tiba.

Peristiwa itu meninggalkan penyesalan yang sulit dijelaskan.

Sejak saat itu, Faris memilih berhenti dari pekerjaannya dan menetap di rumah sederhana peninggalan sang ibu.

Ia membuka usaha fotokopi kecil di dekat pasar.

Usahanya berjalan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun satu hal yang belum berubah adalah kebiasaannya menunda.

Menunda bangun.

Menunda beribadah.

Menunda banyak hal yang sebenarnya bisa dilakukan saat itu juga.

---

Suatu pagi, setelah membuka toko, seorang lelaki tua datang membawa beberapa lembar dokumen.

"Permisi."

"Bisa fotokopi?"

"Tentu, Pak."

Lelaki itu bernama Pak Rahman.

Usianya sekitar enam puluh lima tahun.

Ia dikenal sebagai marbot musala kampung.

Setelah urusan fotokopi selesai, beliau bertanya,

"Kamu anak Bu Salma, ya?"

Faris mengangguk.

"Iya, Pak."

Pak Rahman tersenyum hangat.

"Ibumu dulu hampir tidak pernah terlambat datang ke musala."

Kalimat itu membuat Faris terdiam.

"Beliau sering bilang..."

"'Kalau kita memenuhi panggilan Allah, semoga Allah memudahkan urusan kita.'"

Faris hanya mampu tersenyum tipis.

Ada rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya.

---

Hari-hari berlalu.

Setiap pagi, Pak Rahman selalu melewati toko Faris sepulang dari musala.

Beliau tidak pernah menasihati.

Tidak pernah memaksa.

Hanya selalu menyapa.

"Assalamu'alaikum."

Dan selalu menanyakan kabar.

Lama-kelamaan, Faris merasa malu pada dirinya sendiri.

Orang yang usianya jauh lebih tua justru selalu tampak bersemangat menjalani hari.

Sementara dirinya yang masih muda sering mencari alasan untuk menunda kebaikan.

---

Suatu sore, hujan turun sangat deras.

Seorang anak laki-laki berusia sekitar sebelas tahun berteduh di depan toko.

Bajunya basah kuyup.

Faris mempersilahkannya masuk.

"Namamu siapa?"

"Rafi."

"Rumahmu jauh?"

"Di seberang sungai."

Rafi tersenyum polos.

"Aku habis mengaji."

Faris memberikan segelas teh hangat.

"Rajin sekali."

Rafi menggeleng.

"Ayah bilang, ilmu itu seperti menanam pohon."

"Kalau ditanam sedikit demi sedikit setiap hari, nanti akan tumbuh besar."

Ucapan sederhana itu membuat Faris kembali teringat pada ibunya.

Nasihat baik ternyata bisa datang dari siapa saja.

Bahkan dari seorang anak kecil.

---

Malam harinya, Faris membuka lemari tua milik ibunya.

Sudah lama ia tidak menyentuh isi lemari itu.

Di bagian paling bawah, ia menemukan sebuah kotak kayu.

Di dalamnya tersimpan tasbih, sajadah yang mulai pudar warnanya, dan sebuah buku catatan kecil.

Buku itu bukan buku harian.

Melainkan kumpulan doa-doa yang ditulis tangan oleh ibunya.

Di halaman pertama tertulis:

"Semoga Faris selalu menjadi anak yang baik, dijaga langkahnya, dilembutkan hatinya, dan tidak pernah lelah mencari jalan pulang kepada Tuhannya."

Tulisan itu sederhana.

Namun cukup membuat mata Faris berkaca-kaca.

Ia membalik halaman berikutnya.

Hampir setiap lembar berisi doa.

Bukan untuk dirinya sendiri.

Melainkan untuk anaknya.

Untuk tetangga.

Untuk orang-orang yang sedang sakit.

Untuk siapa pun yang sedang menghadapi kesulitan.

Faris menutup buku itu perlahan.

Baru malam itu ia benar-benar memahami.

Ibunya telah pergi.

Namun doa-doanya masih tinggal.

---

Keesokan dini hari, alarm kembali berbunyi.

Pukul empat lewat tiga puluh.

Faris membuka mata.

Kebiasaan lamanya hampir saja membuat ia kembali menarik selimut.

Namun pandangannya jatuh pada buku doa yang kini berada di atas meja.

Ia menarik napas panjang.

Lalu bangkit.

Di luar, udara masih dingin.

Langkahnya terasa berat menuju tempat wudu.

Tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia berhasil berangkat ke musala sebelum azan selesai dikumandangkan.

Pak Rahman yang melihatnya tersenyum tanpa berkata apa-apa.

Senyum itu cukup membuat Faris merasa seperti seseorang yang akhirnya menemukan kembali jalan yang sempat ia lupakan.

Namun Faris belum mengetahui bahwa perubahan besar dalam hidupnya baru saja dimulai.

Dan ujian yang sesungguhnya akan datang ketika ia harus memilih antara mengejar keuntungan dunia atau mempertahankan nilai-nilai yang selama ini diajarkan ibunya.

Sejak hari itu, hidup Faris mulai berubah sedikit demi sedikit.

Bukan perubahan besar yang langsung terlihat oleh semua orang.

Melainkan perubahan kecil yang hanya ia rasakan sendiri.

Ia mulai membiasakan bangun sebelum Subuh.

Kadang masih terlambat.

Kadang masih kalah oleh rasa malas.

Namun setidaknya ia tidak lagi menyerah tanpa berusaha.

Setiap selesai salat berjamaah, Pak Rahman sering mengajaknya duduk sebentar di teras musala.

Mereka berbincang tentang hal-hal sederhana.

Tentang cuaca.

Tentang panen padi warga.

Tentang anak-anak yang belajar mengaji.

Pembicaraan yang tampak biasa itu justru membuat hati Faris terasa lebih tenang dibandingkan saat ia dulu bekerja di kota.

---

Suatu pagi, seorang pria datang ke toko fotokopinya.

Namanya Beni.

Mereka pernah bekerja di perusahaan yang sama.

"Faris!"

"Lama tidak ketemu."

Faris tersenyum.

"Masih di kota?"

"Iya."

"Dan aku datang membawa kabar baik."

Beni lalu menjelaskan bahwa perusahaan tempat mereka dulu bekerja sedang membuka cabang baru.

Gajinya jauh lebih besar dibandingkan penghasilan Faris saat ini.

"Bahkan posisinya lebih tinggi."

"Kalau kamu mau, aku bisa merekomendasikan namamu."

Faris terdiam.

Kesempatan seperti itu tidak datang setiap hari.

"Berapa lama aku harus bekerja di sana?"

"Kontrak awal tiga tahun."

"Dan kemungkinan ditempatkan di luar pulau."

Faris mengangguk pelan.

Di satu sisi, itu adalah kesempatan yang sangat baik.

Di sisi lain, ia baru mulai membangun kembali kehidupannya di kampung.

---

Malamnya, Faris duduk sendirian di teras rumah.

Angin bertiup pelan.

Suara jangkrik terdengar dari kebun belakang.

Pikirannya penuh pertimbangan.

Jika menerima pekerjaan itu, hidupnya mungkin akan jauh lebih mapan.

Namun ia juga harus meninggalkan toko yang baru mulai berkembang.

Meninggalkan musala yang kini menjadi bagian dari rutinitasnya.

Dan meninggalkan rumah yang menyimpan begitu banyak kenangan tentang ibunya.

---

Keesokan harinya, Faris menceritakan tawaran itu kepada Pak Rahman.

Lelaki tua itu mendengarkan dengan saksama.

"Lalu kamu ingin apa?"

"Saya tidak tahu, Pak."

"Saya takut menyesal kalau menolak."

"Dan takut kehilangan arah kalau menerima."

Pak Rahman tersenyum.

"Kadang masalahnya bukan memilih yang paling menguntungkan."

"Tapi memilih yang membuat hati kita lebih dekat kepada kebaikan."

Faris terdiam.

"Apakah Bapak menyuruh saya menolak?"

Pak Rahman menggeleng.

"Tidak."

"Aku hanya menyuruhmu jujur kepada dirimu sendiri."

---

Beberapa hari kemudian, sebuah kejadian membuat Faris semakin banyak berpikir.

Seorang ibu tua datang ke toko fotokopinya.

Ia membawa surat-surat untuk keperluan rumah sakit.

Tangannya gemetar saat mencari uang di dalam dompet.

Setelah dihitung, uangnya ternyata kurang.

"Maaf, Nak."

"Nanti saya kembali lagi."

Faris melihat wajah lelah perempuan itu.

Tanpa berpikir panjang, ia mengembalikan uang yang sudah diterima.

"Tidak usah, Bu."

"Sudah selesai."

Perempuan itu berkali-kali mengucapkan terima kasih.

Setelah ia pergi, Faris duduk diam.

Jumlah uang yang ia gratiskan memang tidak besar.

Namun ada rasa hangat yang sulit dijelaskan.

Rasa yang tidak pernah ia dapatkan saat dulu mengejar target dan bonus di kantor.

---

Sore itu, ia membuka kembali buku doa milik ibunya.

Di salah satu halaman, ia menemukan tulisan yang belum pernah ia baca.

Tulisan itu tampak dibuat bertahun-tahun lalu.

"Ya Allah, jika suatu hari anakku harus memilih jalan hidupnya sendiri, tuntunlah ia agar tidak hanya mencari keberhasilan, tetapi juga keberkahan."

Faris menatap tulisan itu cukup lama.

Ia tidak tahu kapan ibunya menulisnya.

Namun seolah-olah pesan itu ditujukan untuk dirinya saat ini.

---

Hari-hari berikutnya menjadi semakin sibuk.

Toko fotokopi mulai ramai karena musim pendaftaran sekolah.

Faris sering membantu warga mengisi formulir.

Mencetak dokumen.

Mengajari beberapa orang tua menggunakan layanan administrasi daring.

Tanpa disadari, tokonya berubah menjadi tempat yang sering didatangi warga untuk meminta bantuan.

Suatu sore, Rafi datang dengan wajah cerah.

"Kak Faris!"

"Iya?"

"Aku diterima di sekolah yang aku mau."

"Alhamdulillah."

"Terima kasih ya."

Faris tersenyum bingung.

"Aku tidak melakukan apa-apa."

"Melakukan, kok."

"Kakak yang membantu mengisi formulirnya."

Bagi Faris, itu hanya bantuan kecil.

Namun bagi orang lain, ternyata bisa berarti besar.

---

Seminggu kemudian, Beni kembali menelepon.

"Bagaimana keputusanmu?"

Faris menarik napas panjang.

"Aku masih berpikir."

"Jangan terlalu lama."

"Posisinya banyak yang mengincar."

Setelah telepon ditutup, Faris memandangi langit senja dari depan tokonya.

Di kejauhan, suara anak-anak mengaji mulai terdengar dari musala.

Suara itu mengingatkannya pada banyak hal.

Pada ibunya.

Pada kehidupan sederhana yang mulai ia syukuri.

Pada orang-orang yang selama ini hadir di sekitarnya.

Dan untuk pertama kalinya, ia mulai memahami bahwa tidak semua kesempatan harus dikejar.

Karena terkadang, yang lebih penting adalah memahami untuk apa kesempatan itu digunakan.

Namun keputusan besar itu belum benar-benar diambil.

Dan ujian yang sesungguhnya akan datang ketika keadaan memaksanya memilih lebih cepat dari yang ia bayangkan.

Hari-hari berikutnya berjalan lebih cepat dari biasanya.

Musim pendaftaran sekolah membuat toko fotokopi Faris hampir tidak pernah sepi.

Sejak pagi hingga menjelang malam, warga datang silih berganti.

Ada yang mencetak berkas.

Ada yang meminta bantuan mengisi formulir.

Ada pula yang sekadar bertanya karena tidak memahami proses administrasi secara daring.

Faris melayani semuanya dengan sabar.

Sesekali ia tersenyum sendiri.

Dulu ia mengira pekerjaannya hanya menggandakan kertas.

Kini ia menyadari bahwa pekerjaannya juga membantu banyak orang melewati kesulitan kecil dalam hidup mereka.

---

Suatu siang, Pak Rahman datang dengan langkah yang lebih pelan dari biasanya.

Wajahnya tampak pucat.

"Pak, Bapak sehat?"

Pak Rahman tersenyum tipis.

"Hanya sedikit lelah."

Namun beberapa menit kemudian, beliau tiba-tiba terduduk di kursi depan toko.

Faris segera menghampiri.

Warga sekitar ikut membantu membawa Pak Rahman ke puskesmas.

Syukurlah, kondisinya tidak terlalu serius.

Dokter mengatakan beliau hanya terlalu lelah dan harus lebih banyak beristirahat.

Sebelum pulang, Pak Rahman berkata kepada Faris,

"Kalau nanti aku tidak bisa sering ke musala..."

"...tolong bantu mengurus perpustakaan kecil di sana."

Faris mengangguk.

"Insyaallah, Pak."

---

Musala di kampung memang memiliki sebuah rak sederhana berisi buku-buku agama dan bacaan anak.

Selama ini, Pak Rahman yang merawatnya.

Beberapa buku mulai usang.

Ada yang sampulnya robek.

Ada pula yang hilang karena dipinjam tetapi tidak dikembalikan.

Faris mulai datang lebih sering setelah salat Magrib.

Ia membersihkan rak, menyusun ulang buku, dan mencatat buku-buku yang masih layak dibaca.

Rafi serta beberapa anak kecil ikut membantunya.

"Kak, boleh kita cat raknya?"

"Boleh."

"Asal setelah selesai dibersihkan dulu."

Musala yang semula hanya menjadi tempat singgah kini terasa semakin hidup.

Anak-anak datang bukan hanya untuk mengaji, tetapi juga membaca.

---

Di tengah kesibukan itu, Beni kembali menghubunginya.

"Ini kesempatan terakhir."

"Kalau kamu setuju, minggu depan sudah bisa berangkat."

Faris meminta waktu sehari lagi.

Malam itu ia tidak bisa tidur.

Ia duduk di ruang tamu sambil membuka kembali buku doa milik ibunya.

Di sela-sela halaman, ia menemukan secarik kertas yang sebelumnya terselip.

Tulisan tangan ibunya masih sangat jelas.

"Hidup bukan tentang menjadi orang yang paling tinggi kedudukannya. Hidup adalah tentang menjadi orang yang paling bermanfaat semampunya."

Faris memejamkan mata.

Kalimat itu sederhana.

Namun terasa begitu dalam.

Ia sadar bahwa selama ini ia terlalu sibuk membandingkan hidupnya dengan orang lain.

Padahal ukuran keberhasilan setiap orang tidak selalu sama.

---

Keesokan paginya, sebelum membuka toko, Faris berjalan menuju makam ibunya.

Ia membawa bunga melati yang tumbuh di halaman rumah.

Di depan pusara sederhana itu, ia duduk cukup lama.

"Aku belum tahu apakah Ibu bisa mendengar doaku."

"Tapi aku ingin mengucapkan terima kasih."

"Karena doa-doa Ibu ternyata masih menuntunku sampai hari ini."

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Untuk pertama kalinya sejak kepergian sang ibu, ia merasa penyesalannya mulai berubah menjadi rasa syukur.

---

Siang harinya, telepon dari Beni kembali berdering.

Faris mengangkatnya.

"Bagaimana?"

Faris tersenyum pelan.

"Terima kasih atas kesempatannya."

"Tapi..."

"...aku memilih tetap di sini."

Beberapa detik di seberang telepon terasa sunyi.

"Yakin?"

"Insyaallah."

"Semoga kamu tidak menyesal."

"Aku juga berharap begitu."

Setelah telepon berakhir, Faris mengembuskan napas panjang.

Anehnya, ia tidak merasa kehilangan.

Justru ada ketenangan yang perlahan memenuhi hatinya.

---

Sore itu, Pak Rahman datang ke toko.

Faris menceritakan keputusannya.

Pak Rahman tersenyum bangga.

"Kamu sudah memilih."

"Iya, Pak."

"Tapi aku masih takut."

"Takut apa?"

"Takut kalau suatu hari nanti aku merasa salah."

Pak Rahman menepuk bahunya dengan lembut.

"Kalau keputusan itu diiringi doa, ikhtiar, dan niat yang baik..."

"...jangan terlalu sibuk memikirkan penyesalan."

"Lakukan yang terbaik."

"Serahkan hasilnya kepada Allah."

Faris mengangguk pelan.

Ia merasa beban di dadanya mulai terangkat.

Namun ia belum mengetahui bahwa keputusan yang diambilnya itu akan segera membawa perubahan yang tidak pernah ia bayangkan.

Dan perubahan itu bukan hanya untuk dirinya, melainkan juga untuk seluruh kampung tempat ia dibesarkan.

Waktu berjalan tanpa terasa.

Keputusan Faris untuk tetap tinggal di kampung perlahan mengubah arah hidupnya.

Usaha fotokopinya memang tidak membuatnya kaya.

Namun setiap hari selalu ada orang yang datang, bukan hanya untuk mencetak dokumen, tetapi juga meminta bantuan.

Ia membantu siswa mendaftar sekolah.

Membantu petani mencetak berkas kelompok tani.

Membantu para lansia mengurus administrasi kesehatan.

Bahkan, beberapa anak mulai datang membawa tugas sekolah karena tahu Faris akan dengan sabar menjelaskan jika mereka mengalami kesulitan.

Toko kecil itu perlahan berubah menjadi tempat yang penuh manfaat.

---

Sementara itu, kesehatan Pak Rahman belum sepenuhnya pulih.

Beliau mulai menyerahkan banyak tanggung jawab di musala kepada para pemuda kampung.

Faris menjadi salah satu yang paling sering membantu.

Ia mengatur perpustakaan kecil.

Mengajak anak-anak membaca setelah mengaji.

Sesekali membantu membersihkan halaman musala bersama warga.

Semuanya dilakukan tanpa merasa terbebani.

Karena kini ia memahami bahwa berbuat baik tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar.

Hal-hal kecil yang dilakukan dengan tulus pun bisa menjadi amal yang berarti.

---

Beberapa bulan kemudian, datang kabar bahwa sebuah lembaga sosial ingin membantu memperbaiki fasilitas pendidikan di kampung.

Namun mereka membutuhkan seseorang yang bersedia menjadi koordinator.

Pak Kepala Desa langsung mengusulkan nama Faris.

"Aku?" tanya Faris terkejut.

"Kamu yang paling sering membantu warga."

"Tapi aku tidak punya pengalaman."

Pak Rahman tersenyum.

"Pengalaman bisa dipelajari."

"Kejujuran dan kemauan membantu tidak bisa dibeli."

Dengan bimbingan para tokoh kampung, Faris menerima amanah itu.

Ia belajar mengatur kegiatan, membuat laporan, dan berkomunikasi dengan banyak pihak.

Perlahan, perpustakaan kecil di musala berkembang.

Rak buku bertambah.

Karpet diganti.

Anak-anak kini memiliki tempat membaca yang lebih nyaman.

Melihat mereka duduk berjejer sambil membuka buku, Faris teringat kembali pada doa-doa ibunya.

Mungkin beginilah cara Allah menjawab doa yang dipanjatkan bertahun-tahun lalu.

Bukan dengan jalan yang mudah.

Melainkan dengan jalan yang membuatnya bertumbuh.

---

Suatu sore, Rafi datang membawa sebuah amplop.

"Kak Faris."

"Iya?"

"Aku dapat beasiswa."

"Alhamdulillah."

"Selamat, Rafi."

Anak itu tersenyum lebar.

"Lihat."

Di dalam amplop terdapat surat penerimaan beasiswa.

"Kalau dulu Kakak tidak membantuku mengurus berkas, mungkin aku tidak akan sampai di sini."

Faris mengusap kepala Rafi sambil tersenyum.

"Itu karena kamu belajar dengan sungguh-sungguh."

"Bukan karena Kakak."

Namun jauh di dalam hati, ia merasa bahagia.

Bukan karena dipuji.

Melainkan karena menyaksikan seseorang melangkah menuju masa depan yang lebih baik.

---

Setahun berlalu.

Pada suatu pagi setelah salat Subuh, Faris duduk sendirian di teras musala.

Langit mulai berubah dari gelap menjadi semburat jingga.

Pak Rahman menghampirinya.

"Apa yang sedang kamu pikirkan?"

Faris tersenyum.

"Dulu aku sering merasa hidupku tertinggal."

"Sekarang?"

"Sekarang aku sadar."

"Allah tidak pernah terlambat memberikan jalan."

"Kita saja yang sering terburu-buru menentukan waktunya."

Pak Rahman mengangguk pelan.

"Itulah mengapa sabar selalu berjalan berdampingan dengan ikhtiar."

---

Sebelum pulang, Faris menyempatkan diri mengunjungi makam ibunya.

Ia membersihkan rumput-rumput kecil yang tumbuh di sekitar pusara.

Kemudian ia duduk sambil menengadahkan tangan.

"Bu..."

"Terima kasih."

"Aku belum menjadi anak yang sempurna."

"Mungkin juga tidak akan pernah."

"Tapi aku akan terus berusaha menjadi anak yang Ibu doakan selama ini."

Angin pagi berembus lembut.

Daun-daun di atas pohon kamboja bergoyang perlahan.

Tak ada suara selain desir angin dan lantunan ayat suci dari musala yang masih terdengar samar.

Hati Faris terasa jauh lebih ringan.

---

Hari-hari berikutnya kembali berjalan seperti biasa.

Alarm berbunyi sebelum Subuh.

Kini Faris tidak lagi menekan tombol tunda.

Ia bangun, berwudu, lalu berjalan menuju musala.

Sesekali ia masih merasa lelah.

Masih menghadapi masalah.

Masih memiliki kekhawatiran tentang masa depan.

Namun kini ia tahu ke mana harus kembali ketika hati mulai gelisah.

Kepada doa.

Kepada ikhtiar.

Dan kepada keyakinan bahwa setiap langkah kecil menuju kebaikan tidak pernah sia-sia.

Di depan tokonya kini terpajang sebuah papan kayu kecil bertuliskan:

"Semoga setiap orang yang datang ke tempat ini pulang membawa kemudahan."

Kalimat itu sederhana.

Tetapi Faris tahu, itulah tujuan hidup yang ingin terus ia jaga.

Menjadi seseorang yang, semampunya, dapat memberi manfaat bagi orang lain.

Karena pada akhirnya, bukan seberapa tinggi kita berdiri yang akan dikenang.

Melainkan seberapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan.

Dan di setiap doa yang dipanjatkan dengan tulus, selalu ada harapan yang diam-diam sedang dijaga oleh langit.

TAMAT

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Rekomendasi