Wishna memandang chat-chat yang terus bermunculan di notifikasi smartphone-nya. Menyimak dan menimbang-nimbang apakah ia perlu menimbrung atau tidak. Setiap sesuatu yang datang secara beruntun membuat Wishna memiliki banyak pikiran di otaknya, dan hal itu membuatnya kacau. Karena itulah ia selalu kehilangan timing yang tepat, di kehidupan sosial ataupun pribadinya.
Wishna mengacak rambutnya frustasi. Ia tidak siap. Untuk muncul dan terjun dalam suatu hal secara tiba-tiba membuatnya tak bisa jernih berpikir. Andai aku seperti kebanyakan orang.. pikir Wishna sedih. Dan pada akhirnya, lagi-lagi ia memilih untuk tak acuh dan membiarkan semuanya. Meski ia tahu, disalahpahami akan terus menempel ke depannya.
“Kamu kenapa diam saja? Punya mulut itu kalo bisa dipake. Jangan ngangguk sama nggeleng aja..”
“Fungsinya ada grup chat itu biar apa-apa bisa dibicarain di grup, eh malah sepi seperti ada namun tiada..”
Wishna terdiam. Semua kata-kata itu baginya menyakitkan, namun pikirannya mengatakan bahwa semua itu juga benar. Sudah lelah memakai topeng senyuman, kini ia merasa lelah karena berpikir untuk memakai topeng pribadi yang pintar berbicara dan selalu tanggap. Dan hal itu sangat berat. Baginya yang telah menutup mulut sedari kecil, yang bahkan tak memahami pribadinya dengan baik, rasanya seperti luar biasa lelah, namun ia hanya bisa marah, pada dirinya yang selalu ingin menyerah.
Wishna merasa bersalah. Pada dirinya dan dunia. Ia tahu menutup mulut tak selamanya baik. Ia hanya tak tahu, bagaimana cara mengungkap rasa dengan kata-kata. Karena apa yang terlontar dari mulut seringkali menyakitkan, dingin, dan penuh omong kosong. Semua itu hanya membuatnya lebih sedih.
Satu hal yang pasti, Wishna berusaha tak membenci orang yang membencinya, karena secara tak langsung ia juga menjadi penyebabnya. Ia menerima kebencian itu, karena memang ada kepantasan. Sebab ia pun benci akan dirinya. Wishna mengambil secarik kertas lalu menulis di atasnya,
Tak semua orang bisa mengatakan dengan gamblang apa yang ia rasa..