Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
5
Mendung Selasar
Drama

Randu terduduk pada serambi dan menatap langit malam yang pekat, tiada bintang-bintang gemerlap ataupun bulan yang menatap. Dirinya seakan menyatu dengan malam, hening tanpa suara, hanya gemuruh dalam dada yang ia rasa.

“Nak, ada apa dikau termenung seorang diri menatap malam?” seorang pria paruh baya menepuk lembut pundak Randu dan ikut duduk di sebelahnya.

“Tak apa Pak. Hanya masalah rindu..” ujar Randu sendu.

“Siapa sosok yang begitu kau rindukan selain mendiang Ibu nak? Pasti kau begitu mencintainya bukan?”

Randu menoleh pada sosok di sampingnya yang tersenyum penuh kerinduan. Bapak yang begitu ia hormati dan sayangi, juga Bapak yang baru saja kehilangan pendamping hidupnya sebulan yang lalu.

“Benar Pak, Randu menyayanginya. Hanya saja aku dan dia tak akan pernah menjadi kita..”

“Hmm.. cukup pelik bukan? Disangka akan bersama namun hanya sementara, semakin ke sini semakin jauh di hati.. mungkin sudah saatnya rindu itu kau alihkan Randu..” ucap Bapak sambil tersenyum sendu.

“Akan Randu usahakan Pak.. jika rindu ini hanya membuatku sepi, maka akan Randu cari rindu yang baru.. seperti bintang yang saat ini hilang dari pandangan, hanya di waktu yang tepat bintang itu akan muncul dan bersinar terang..”

Bapak terkekeh pelan. Sambil merangkul putra semata wayangnya, ia menatap langit dan bersenandung merdu.

“Lalu, apakah Bapak menetap pada satu rindu?” tanya Randu.

“Tentu saja. Bagi Bapak, Ibumu adalah rindu yang tak tergantikan, sebab ialah bintang yang bersinar di hati Bapak untuk selamanya.. kau juga Randu, akan menemukan satu-satunya bintang yang kau rindu sepanjang masa. Hingga kembali lagi bersamanya, seperti Bapak..” ucap Bapak dengan sinar mata bahagia.

“Jadi, apa Bapak sudah bertemu Ibu?” tanya Randu lagi dengan raut yang sedih.

“Belum, namun di angkasa sana sudah Bapak lihat Ibumu yang cantik bagai bidadari tengah menanti Bapak. Jaga dirimu baik-baik Randu anakku.. rindu memang berat, namun ikhlas akan meringankan segalanya..”

Randu menunduk dalam. Bahunya berguncang keras. Air mata yang sedari tadi ia tahan mengucur deras. Dipeluknya tubuh sang ayah yang terbaring nyaman tanpa beban, hanya senyum indah yang menghias wajah pucatnya.

Dengan lembut, Randu mengangkat tangan kurus Bapak dan menciumnya lama,

“Bapak, meski rinduku bertambah.. Randu akan belajar untuk ikhlas, seperti ucap Bapak. Randu harap, Bapak dan Ibu di sana akan bahagia dan selalu merindukan Randu..”

“Bapak.. Ibu.. Randu rindu..”

Seperti menjawab ucap Randu, langit yang cerah perlahan meredup, menurunkan titik-titik rindu dalam balutan rintik gerimis nan sendu.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)