Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
30
Pencuri apes
Komedi

Pak Ali sedang memandangi rumah yang paling mewah di kompleks tempat dia tinggal. Lelaki paruh baya ini sangat takjub melihat bangunannya yang megah seperti istana. Namun, sayangnya rumah ini tidak memiliki CCTV, padahal itu sangat penting. Pak Ali tahu hal itu karena pemiliknya pernah mengatakan dengan jujur secara spontan saat mereka tak sengaja mengobrol di warung kopi gang depan.

Rumah mewah, tapi CCTV nggak ada, masa iya sih?

Pak Ali membatin dalam hatinya, seolah-olah tak percaya dengan ucapan Pak Ratno sang pemilik rumah ini. Karena sangkin penasarannya Pak Ali akhirnya berniat datang untuk singgah. Seakan-akan kedatangan Pak Ali bukan sebuah kebetulan. Pat Ratno membuka gerbang rumahnya sebelum sempat Pak Ali menekan bel.

“Lho, Pak Ali …?” suara Pak Ratno mengejutkannya.

“Eh … Pak Ratno, mau kemana?”

“Mau buang sampah pak. Ada perlu apa ya pak? Tadi saya lihat bapak mau tekan bel rumah saya.” Alisnya berkerut melihat kearah Pak Ali yang sedang berdiri mematung.

“Itu … anu, pak … anu,” jawabnya kikuk terbata-bata.

“Anu apa pak, kok gugup gitu?” Pak Ratno tambah penasaran.

“Cuma mau silaturahmi aja … udah lama Pak Ratno nggak ke depan ngopi sama bapak-bapak komplek.” Ia menjawab sambil menggaruk-garuk kepalanya dan tersenyum kikuk.

“Ya ampun pak, saya pikir entah kenapa. Masuk pak kedalam, ngopi didalam kita. Saya benar-benar sibuk banget soalnya, makanya gak sempat mampir ke warkop depan,” ungkapnya jujur.

Pak Ratno mengajak Pak Ali masuk ke rumahnya. Baru pertama kali ia setakjub ini. Mata Pak Ali menyapu seluruh sudut bangunan megah itu; dari sisi manapun dipandang, semuanya sangat memanjakan mata. Dan benar saja, tidak ada CCTV.

Di atas meja tertata rapi buah-buahan segar. Karena Pak Ali penasaran, dia memegang buah itu. Dia pikir itu buah palsu seperti yang selalu ditampilkan di dalam film-film sinetron orang kaya, ternyata itu memang buah asli. Ia agak malu, karena Pak Ratno tiba-tiba tertawa geli melihat tingkah Pak Ali.

Sepulang dari sana, Pak Ali singgah ke warkop langganannya. Dia bercerita kepada semua teman-temannya bahwa benar di rumah Pak Ratno tidak ada CCTV. Di meja seberang, Agus, sang pemuda pengangguran, tersenyum licik mendengar ocehan Pak Ali yang masih terkagum-kagum dengan kemewahan rumah yang baru saja dia kunjungi.

Pada dini hari pukul 02:00 dia datang ke kediaman Pak Ratno. Walaupun gerbang rumah ini tinggi, dia berhasil masuk dan membobol pintu menggunakan linggis.

“Ternyata semudah ini ya masuk kesini. Kalo gini, tiap hari juga aku sanggup maling kemari hahaha.” Dia tertawa merasa puas.

Baru saja melangkah masuk, matanya langsung tertuju pada amplop bewarna coklat di atas meja. Amplopnya sangat tebal sekali. Agus dapat membayangkan jika didalam itu, pasti uangnya sangat banyak. Tanpa pikir panjang Agus menyambarnya dan langsung memasukkan ke dalam jaketnya.

Namun, sangat disayangkan tiba-tiba ada suara langkah kaki terburu-buru menuruni anak tangga yang tak jauh dari tempat ia berdiri. Mendengar itu jantungnya berdebar sangat kencang, seperti orang yang sedang lari maraton. Langsung saja dia keluar dari rumah dengan lari terbirit-birit. Ia takut ketahuan aksinya.

Wanita paruh baya yang turun dari tangga terkejut melihat pintu rumahnya terbuka lebar.

“Kayaknya aku lupa ngunci pintu,” ucapnya bingung.

Sambil mengunci pintu rumah, dia teringat tujuannya turun ke bawah untuk mengambil amplop coklat yang berisi surat tagihan-tagihan utilitas yang dia koleksi bertahun-tahun untuk disimpan lagi. Tapi nyatanya, amplop coklat itu malah tidak ada di atas meja.

“Bukannya tadi disini ya, kenapa nggak ada. Ya udah la besok aku suruh bapak cek CCTV aja.”

Bu Erni mendongakkan kepalanya keatas tepat kearah lampu hias yang tergantung rapi.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)