Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
7
Kepada Mada yang Menungguku
Romantis
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Ini tahun ketujuh kau pergi, Mada. Dua ribu lima ratus lima puluh hari tanpamu. Bagi orang lain, itu hanya angka. Tujuh tahun. Cukup lama untuk mengganti pemimpin negara, gubernur, bahkan pimpinan kantor tempatku bekerja. Cukup lama untuk membuat wajah-wajah di sekelilingku berubah.

Tetapi tidak cukup lama untuk membuatku terbiasa hidup tanpamu.

Sejak aku mengantarkanmu ke peristirahatan terakhir, di bawah kamboja-kamboja tua yang menggugurkan bunga hampir setiap sore, aku tahu hidupku tidak akan pernah kembali ke titik semula.

Bukan karena matahari kehilangan hangatnya.Bukan juga karena bulan berhenti menjadi indah.

Melainkan karena poros hidupku ikut terkubur bersamamu.

Tujuh tahun lalu, di depan gundukan tanah merah yang masih basah, aku pernah berjanji.

Tunggu aku. Ini bukan perpisahan.Hanya jeda. Suatu hari nanti, jika Tuhan mengizinkan, kita akan bertemu lagi.

Sepanjang penantian itu, aku akan terus meminta kepada Sang Pemilik Kuasa agar tanah kuburmu diluaskan seluas taman surga.

Hari ini aku datang lagi, Mada. Membawa doa yang sama. Membawa rindu yang sama.

Dan membawa sesuatu yang tak pernah kubayangkan akan kubawa ke hadapanmu.

Sebuah permintaan maaf.

Karena setelah tujuh tahun mencoba hidup dengan bayang-bayangmu, aku akhirnya belajar satu hal:

Mencintaimu tidak pernah menjadi masalah. Yang sulit adalah hidup tanpamu.

Aku menunduk menatap nisanmu.

“Dia lelaki baik, Mada.”

Angin sore bergerak pelan di antara daun-daun kamboja.

“Aku tidak mencarimu dalam dirinya. Tidak ada seorang pun yang bisa menggantikanmu.”

Suaraku bergetar.

“Tapi aku lelah berjalan sendirian.”

Untuk pertama kalinya sejak tujuh tahun lalu, aku mengucapkan kalimat yang paling kutakuti.

“Aku akan menikah.”

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi