Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
6
Bahasa Cinta Azra
Romantis

Riyanty dan Azra sudah jadian sejak lama. Tapi ada satu kebiasaan Azra yang tak pernah hilang. Setiap hendak mengatakan sesuatu yang penting, ia selalu membuka kalimat dengan, "By the way, anyway, busway..."

Riyanty sudah hafal. Setelah kalimat aneh itu biasanya akan keluar pertanyaan yang membuat jantungnya berdebar.

"By the way, anyway, busway, kalau nanti kita tua, kamu masih mau jalan sama aku?"

Riyanty menoleh, menatap wajah Ezra, langsung mikir. Mereka sedang duduk di bangku taman yang menghadap danau kecil buatan di tengah kota. Sore itu tidak istimewa, karena bukan untuk merayakan sesuatu, cuma dua orang yang memilih menghabiskan waktu bersama.

"Kamu kenapa tiba-tiba nanya begitu?" katanya.

Azra mengangkat bahu.

"Penasaran aja."

"Kamu tuh kalau penasaran selalu bikin orang deg-degan."

"Berarti aku berhasil."

Riyanty tertawa. Ia menatap permukaan danau yang memantulkan cahaya sore yang teduh. Sejak mengenal Azra, ia belajar bahwa banyak hal penting justru datang dengan cara yang tidak penting. Ya, persis seperti cara Azra menanyakan sesuatu yang serius sering dibungkus candaan. Kekhawatirannya disembunyikan di balik senyuman usai bertanya.

"Masih," jawabnya akhirnya.

"Masih apa?"

"Masih mau jalan sama kamu."

Azra tersenyum puas seperti anak kecil yang baru menemukan uang di saku celananya sendiri setelah sekian lama tersembunyi.

"Syukurlah."

"Tapi kalau kamu jalannya terlalu lambat, aku tinggal."

"Kalau aku jalan terlalu cepat?"

"Aku tarik bajumu."

Mereka tertawa bersama tak memperdulikan orang-orang disekelilingnya.

Sore terus bergerak menuju malam. Orang-orang mulai berjalan pulang. Sepasang lansia berjalan bergandengan tangan di jalur setapak dekat danau.

Mata Azra mengikuti pasangan tua itu.

"Lihat mereka."

Riyanty ikut memandang.

"Mereka lucu ya."

"Iya."

"Mungkin dulu mereka juga pernah pacaran kayak kita."

"Pastilah."

"Mungkin dulu si kakek juga suka ngomong aneh."

Riyanty tersenyum memandang wajah Azra yang tiba-tiba terlihat lucu.

"Kalau si neneknya sabar, mungkin."

Azra terdiam sesaat.

Lalu seperti biasa, ia berkata, "By the way, anyway, busway..."

Riyanty menggeleng pelan.

"Nah kan."

"Kalau suatu hari aku kehilangan semua hal yang aku punya, kamu bakal gimana?"

Pertanyaan itu membuat senyum Riyanty memudar sedikit.

Ia mengenal Azra cukup lama untuk tahu bahwa pertanyaan seperti itu tidak muncul begitu saja. Biasanya ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.

"Kehilangan apa?"

"Kerjaan misalnya."

"Lalu?"

"Tabungan."

"Lalu?"

"Motor."

"Lalu?"

"Ya pokoknya semua."

Riyanty menatap wajah lelaki itu, ada sesuatu yang rapuh di balik sorot matanya.

Terkadang orang yang paling banyak bercanda adalah orang yang paling takut mengungkapkan kekhawatirannya secara langsung.

"Aku pernah suka kamu waktu kamu belum punya apa-apa."

"Aku juga kenal kamu bukan karena kerjaanmu."

"Aku jatuh cinta sama kamu juga bukan karena motormu."

"Aku suka kamu karena kamu Azra, yang sekarang sudah jadi gebetanku."

Tiba-tiba Azra jadi kehilangan jawaban lucunya. Ia hanya memandang danau, menikmati cahaya yang perlahan memudar.

"Terima kasih," katanya pelan.

Riyanty pura-pura tidak mendengar. Kadang-kadang rasa sayang tidak perlu dibalas dengan berpanjang kata, cukup dengan tetap duduk di samping seseorang saat ia sedang takut.

Hubungan mereka tidak selalu penuh momen besar. Justru yang paling sering mereka ingat adalah hal-hal kecil yang kesannya biasa saja.

Azra yang selalu membeli dua es krim lalu menyerahkan rasa favoritnya kepada Riyanty.

Riyanty yang diam-diam menyimpan struk bioskop pertama mereka.

Azra yang mengirim foto kucing random saat jam kerja.

Riyanty yang selalu mengingatkan Azra membawa payung tetapi lupa membawa payungnya sendiri.

Pokoknya hal-hal kecil yang mungkin tidak penting bagi orang lain, namun anehnya, cinta sering tumbuh dari hal-hal seperti itu.

Dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang terus diulang sampai terasa menjadi rumah, tempat ternyaman untuk pulang.

***

Suatu malam mereka berjalan pulang setelah makan bersama, trotoar tidak terlalu ramai. Lampu jalanan memantulkan warna kekuningan yang hangat.

Langkah Azra tiba-tiba melambat.

"By the way, anyway, busway..."

Riyanty tertawa.

"Kamu nggak bisa ngomong normal ya?"

"Nggak."

"Kenapa?"

"Karena kalau ngomong normal aku malu."

Riyanty menoleh, baru kali ini Azra mengakuinya.

"Lanjut."

Azra menarik napas.

"Kalau suatu hari nanti kita udah nikah..."

Riyanty langsung menunduk menahan senyum.

"...dan aku tetap ngomong by the way, anyway, busway, kamu bakal malu nggak?"

Riyanty tertawa sampai harus berhenti berjalan.

Ternyata setelah semua dugaan serius yang muncul di kepalanya, lelaki itu tetap saja menjadi dirinya sendiri.

"Aku nggak malu."

"Serius?"

"Iya."

"Kenapa?"

Riyanty berpikir sebentar.

Karena sebenarnya ia tahu jawabannya sejak lama, karena di dunia ini banyak orang berusaha menjadi orang lain agar dicintai. Sedangkan Azra selalu datang dengan segala keanehan yang ia miliki.

Selalu dengan candaan recehnya, kekhawatiran yang disembunyikan rapat-rapat dan itu ketidaksempurnaannya yang justru jadi menarik. Apalagi dengan kalimat "by the way, anyway, busway" yang entah kenapa tidak pernah membosankan.

"Mungkin karena aku jatuh cinta sama semua hal aneh yang ada di diri kamu."

Azra tersenyum, mereka lalu melanjutkan langkah berdampingan. Seolah tidak sedang menuju ke mana-mana, padahal diam-diam mereka sedang menuju sesuatu yang sama.

Masa depan.

Dan jika suatu hari nanti rambut mereka berubah abu-abu, langkah mereka tak lagi cepat, serta dunia bergerak lebih kencang daripada tubuh mereka, mungkin Azra masih akan menoleh kepada perempuan yang berjalan di sampingnya dan berkata,

"By the way, anyway, busway..."

Lalu Riyanty, yang sudah hafal selama puluhan tahun, akan tersenyum sebelum pertanyaannya selesai.

Kadangkala ada cinta yang tidak dikenali dari kata "aku mencintaimu", tapi dari kalimat-kalimat aneh yang terus diulang oleh seseorang yang menjadi teman hidup kita selamanya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi