Angin musim gugur menyapu ladang jagung Wisconsin yang menguning, menghasilkan suara gesekan daun kering yang menyerupai bisikan ribuan mulut tak bergigi. Bernice Worden menarik kerah mantelnya lebih rapat saat ia berdiri di balik meja kasir toko perangkat keras miliknya. Pagi itu, 16 November 1957, keheningan di Plainfield terasa berbeda. Udara membawa bau tanah basah dan sisa pembakaran kayu yang menggantung rendah di langit abu-abu.
Lonceng di atas pintu berdenting. Suara itu tajam, memotong kesunyian yang mencekam. Seorang pria bertubuh kecil dengan topi pemburu berlapis bulu melangkah masuk. Edward, atau yang biasa dipanggil tetangganya sebagai Ed, berjalan dengan langkah menyeret yang canggung. Matanya yang pucat tidak pernah benar-benar menatap mata Bernice, melainkan terpaku pada deretan jeriken minyak tanah di rak belakang.
Bernice merasakan tengkuknya meremang. Ada aroma yang mengikuti pria itu, sebuah bau yang sulit didefinisikan namun sanggup memicu mual. Bau itu seperti daging yang dibiarkan terlalu lama di dalam kantong plastik di bawah terik matahari, bercampur dengan aroma bedak bayi yang kuat dan apek.
Tangan Ed yang kasar dan kotor oleh noda kecokelatan merogoh saku mantelnya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang yang tampak lembap. Saat pria itu tersenyum, bibirnya tertarik ke belakang memperlihatkan deretan gigi kuning yang jarang. Bernice memaksakan sebuah senyuman profesional, meski jemarinya gemetar saat menyerahkan nota penjualan. Pria itu tidak segera pergi. Ia berdiri di sana, mengamati lekuk leher Bernice dengan intensitas yang membuat udara di dalam toko seolah habis tersedot keluar.
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, meninggalkan warna merah tua yang menyerupai luka terbuka di langit Wisconsin. Deputi Sheriff Frank Schley memarkir mobilnya di depan rumah pertanian kayu yang bobrok di ujung jalan setapak yang ditumbuhi semak berduri. Rumah milik keluarga Gein itu berdiri seperti kerangka raksasa yang membusuk di tengah kegelapan.
Pintu depan terkunci rapat, namun jendela samping yang pecah tertutup lembaran plastik yang berkibar tertiup angin. Frank menyalakan senter besarnya. Cahaya kuning itu membelah kegelapan ruang tamu yang dipenuhi tumpukan majalah lama, kaleng makanan berkarat, dan perkakas yang berserakan.
Bau itu menyerang Frank seperti pukulan fisik. Ia menutup hidungnya dengan sapu tangan, namun rasa mual tetap naik ke kerongkongannya. Bau itu bukan sekadar kotoran atau sampah. Itu adalah bau kematian yang telah menetap, meresap ke dalam pori-pori kayu dan serat kain sofa.
Langkahnya bergema di atas lantai kayu yang melengkung. Di sudut ruangan, sebuah benda menarik perhatian cahayanya. Sebuah kap lampu yang berdiri di atas meja kecil. Saat Frank mendekat, ia menyadari tekstur kap lampu itu tidaklah halus. Permukaannya kasar, dengan pori-pori besar dan garis-garis yang menyerupai bekas luka. Di bagian tepinya, terdapat jahitan kasar menggunakan benang hitam tebal yang mengikat potongan-potongan kulit yang tampak seperti berasal dari makhluk berbeda.
Frank menelan ludah. Cahaya senternya beralih ke atas meja makan. Di sana terdapat beberapa mangkuk kayu, namun saat ia menyentuhnya, benda itu terasa dingin dan berminyak. Itu bukan kayu. Itu adalah bagian atas tengkorak manusia yang telah dipapas bersih, bagian dalamnya masih menyisakan noda kecokelatan yang kering.
Tangannya gemetar hebat. Ia mengarahkan senter ke arah dapur. Di sana, di tengah ruangan yang remang-remang, sesuatu tergantung dari balok langit-langit. Sosok itu besar dan putih, tergantung terbalik seperti rusa hasil buruan yang sedang dikuliti. Frank mendekat, kakinya terasa berat seperti terbenam di lumpur.
Objek itu bukan rusa. Itu adalah tubuh seorang wanita yang telah dibuka dari bagian selangkangan hingga ke dada. Kepala dan organ dalamnya hilang, menyisakan rongga kosong yang gelap. Kulitnya yang pucat berkilau di bawah cahaya senter, tampak bersih dan dipersiapkan dengan ketelitian seorang penjagal profesional. Di lantai bawah tubuh itu, sebuah ember plastik menampung tetesan cairan gelap yang sudah mengental.
Frank mundur dengan cepat, namun bahunya menabrak sebuah lemari tua. Pintu lemari itu terbuka sedikit, memperlihatkan isi di dalamnya. Senter Frank menyorot deretan benda yang tergantung di kait besi.
Ada wajah-wajah.
Potongan kulit wajah manusia yang telah diawetkan dengan garam dan bedak, lengkap dengan rambut yang masih menempel. Mata mereka yang kosong seolah menatap Frank dari kegelapan. Di bawahnya, terdapat sebuah rompi yang terbuat dari kulit manusia utuh, lengkap dengan payudara yang masih melekat, dijahit sedemikian rupa hingga menyerupai pakaian wanita yang mengerikan.
Keheningan rumah itu tiba-tiba pecah oleh suara derit pintu di lantai atas. Sebuah langkah kaki yang lambat dan berirama mulai menuruni tangga kayu yang reyot.
Frank mematikan senternya, membiarkan kegelapan total menyelimuti ruangan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut suara itu akan membocorkan posisinya. Di tengah kegelapan, ia bisa mendengar suara napas yang berat dan bersiul kecil dari arah tangga.
Sebuah suara lembut, hampir menyerupai bisikan anak kecil, memecah kesunyian.
Ibu bilang aku harus bersih hari ini. Ibu bilang mereka harus dihukum karena kecantikan mereka.
Langkah kaki itu berhenti tepat di ambang pintu dapur. Frank bisa merasakan kehadiran seseorang di sana. Aroma bedak bayi dan daging busuk kini menjadi sangat kuat, seolah makhluk itu berdiri tepat di belakangnya.
Cahaya bulan yang pucat merembes masuk melalui celah jendela, memperlihatkan siluet seorang pria yang mengenakan topeng wajah wanita yang dijahit kasar. Pria itu memegang sebilah pisau panjang yang berkilau perak. Di bawah sinar bulan, topeng itu tampak hidup, bibir dari kulit mati itu seolah melengkung membentuk senyuman yang abadi.
Frank mencabut pistolnya, namun jemarinya terasa kaku. Kejahatan yang ada di hadapannya bukan sekadar pembunuhan. Ini adalah pengkhianatan terhadap segala hal yang dianggap manusiawi. Di Plainfield, di tengah ladang yang tenang, seorang pria telah menciptakan dunianya sendiri dari sisa-sisa mereka yang hilang, mengubah kematian menjadi sebuah karya seni yang sakit dan abadi.
Pria itu, Ed, memiringkan kepalanya. Ia tidak melihat Frank dalam kegelapan, namun ia mengendus udara seperti binatang pemburu. Ia tertawa kecil, suara yang lebih mirip dengan gesekan ampelas pada kayu.
Ibu, ada tamu lagi.
Detik itu, Frank menyadari bahwa rumah ini bukan sekadar tempat tinggal. Ini adalah sebuah kuil bagi kegilaan, di mana setiap jengkalnya dibangun dari penderitaan dan kulit manusia yang telah kehilangan nama. Dan di luar sana, angin Wisconsin terus berbisik, membawa rahasia yang terkubur di bawah tanah hitam Plainfield ke dalam malam yang tak berujung.