Play Game

PLAY GAME

 

Pagi ini matahari mulai terbit dengan warna keemasan, yang tak jarang membuat murid – murid ku menyipitkan mata nya saat sinar keemasan yang hangat itu menerpa wajah polos mereka, dengan senyum dan tatapan hangat, mereka datang berlarian ke arah ku

Ya, hari ini kami akan mengadakan field trip dari sekolahan menuju Bank Mandiri pusat di jalan Jendral sudirman, Pekanbaru. Mereka akan belajar menabung uang nya di Bank.

Salah satu murid ku yang sedang mengantri untuk di panggil namanya oleh petugas Bank, tiba – tiba melihat ku seperti ketakutan, di tarik nya tangan ini. “Bu Gendis, di sini boleh pakai topeng badut ya..?”  tanya nya polos dengan wajah sedikit pucat. Ku lihat sekeliling ruangan Bank itu, yang ternyata sudah di kawal oleh 6 orang bertopeng badut.

“Nay, ada yang gak beres ini.”  Nay adalah guru pendamping di TK kami. Ia melihat sekeliling dan menatap ku dalam, aku berbisik ke arah nya.  “kamu bawa 6 anak ke arah toilet di ujung sana, pelan – pelan jangan sampai anak – anak jadi ketakutan, nanti sisa nya aku yang bawa.” Ia mengangguk dan melaksanakan apa yang sudah aku perintahkan barusan, ku lihat mereka berhasil sampai ke ujung lorong menuju toilet.

“Sekarang, kita lagi main petak umpet sama petugas Bank nya, tuh lihat sebagian pakai topeng badut kan.” Aku tersenyum ke arah mereka agar mereka tidak panik dan percaya jika ini adalah bagian dari permainan. Mereka tersenyum dan bersemangat. “sekarang, ikutin bu Gendis, kita ngumpet nya di arah sana ya, siap.”  aku membawa mereka menuju lorong ditempat Nay sudah menunggu kami.

Kami berhasil menyusul Nay dan anak yang lain, dengan tetap melanjutkan permainan petak umpet ini, dan benar saja tak lama setelah kami bersembunyi di ruang janitor, terdengar beberapa kali suara tembakan dan teriakan. Sepertinya Bank ini di rampok.

Anak – anak bertanya ke arah ku. “bu, itu suara apa..?”  entah ide darimana langsung saja ku jawab, “itu suara petasan, yang teriak – teriak itu kaget karena tempat sembunyi nya ketahuan, jadi... kita harus berhasil sembunyi disini diam – diam ya, biar gak ketahuan.”

Tiba – tiba ruang janitor tempat kami bersembunyi di ketok dari luar. Aku mengarahkan anak – anak ini untuk tetap diam, dan memberanikan diri untuk membuka pintu itu. Ada lelaki tampan berdiri tepat di depan pintu dan menyarankan ku agar membawa anak – anak keluar dari pintu belakang.

Tanpa pikir panjang, aku segera membawa anak – anak keluar dari pintu belakang. Ternyata disana sudah ramai polisi bersenjata lengkap. “Bu gendis, yaaah.. kita ketahuan deh sama om – om polisi nya.” ternyata sampai kami selamat keluar dari Bank yang sedang di rampok itu, anak – anak masih menganggap ini bagian dari permainan. Tidak ada wajah ketakutan atau trauma pada anak – anak ini.

Pagi ini, aku menonton berita di TV, mendadak segelas susu di tangan ku jatuh ke lantai. Bagaimana tidak, ternyata lelaki tampan yang menyelamatkan aku dan anak – anak pada saat perampokan itu adalah otak pelaku dari perampokan Bank.

9 disukai 3 komentar 6.7K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Lah
motif nya masih tanda tanya yak..? baek hati beneran apa modus doang... hehe...
untung si master berbaik hati
Saran Flash Fiction